One Day Trip ke Gunung Batu (Sharing Cost)

Tidak bisa disangkal lagi kalau liburan sudah menjadi semacam kebutuhan bahkan candu bagi para pekerja di Jakarta. Banyaknya tekanan dan tak kunjung habisnya pekerjaan dari atasan membuat otak dan badan ini terkadang kehilangan kestabilan dan berujung pada kelelahan. Obat-obatan dan istirahat di rumah tidak selalu menjadi jalan keluar untuk mengembalikan kondisi otak dan fisik yang kelelahan tersebut, terkadang yg dibutuhkan adalah pelarian sejenak ke tempat yang atmosfernya berbeda bersama beberapa orang teman dan kegiatan tersebut kami namakan “Liburan”. Untuk liburan kali ini Daily Voyagers bersama 11 orang teman memutuskan untuk “kabur” ke Gunung Batu.

Pilihan kali ini kami jatuhkan pada wisata adrenalin dan One Day Trip. Selain karena Padatnya aktivitas, terbatasnya waktu jugalah yang membuat Gunung Batu menjadi pilihan kami (maklum saja kami ini “kuli sibuk” semua). Jaraknya yang tidak jauh dari Jakarta dan waktu yang dihabiskan untuk pergi dan pulang dari destinasi tersebut kurang dari 24 jam merupakan beberapa hal yang masuk dalam pertimbangan kami.

Rute Perjalanan dari Cawang ke Gunung Batu

Gunung Batu ini lokasinya berada di Desa Sukaharja, Sukamakmur, Bogor, Jawa Barat. Hanya membutuhkan waktu kurang lebih 3 jam perjalanan dengan menggunakan mobil dari Jakarta. Jalur yang bisa ditempuh ada 2 yaitu via Citeureup atu via Jonggol. Namun karena beberapa orang sering menyebutnya dengan sebutan Gunung Batu Jonggol, maka via Jonggol-lah jalur yang kami pilih. Kalau ingin lewat Jonggol, maka jalur yang harus voyagers lewati adalah Cawang (karena MePo kami di sana) → Cibubur Junction →Jalur alternatif Cibubur → Jonggol → Kampung Menger → Gunung Batu.

Sesampainya di Kampung Menger, jalanan memang cukup kecil (hanya seukuran elf) dan berkelok-kelok, mirip seperti jalan kampung di daerah gunung lainnya. Kalau ada mobil lain datang dari arah berlawanan, sang supir harus pintar-pintar mencari celah di tepi jalan agar mobil tidak saling bersenggolan dan tetap dapat saling melanjutkan perjalanan. Untungnya jalur di sini sudah beraspal, jadi sedikit memudahkan kendaraan dan supir yang mengemudikannya.

Setibanya di lokasi, voyages akan langsung disambut oleh gerbang bambu yang bertuliskan “Selamat Datang di Wisata Alam Gunung Batu” dengan Gunung Batu itu sendiri sebagai latar belakangnya. Belum adanya perhatian pemerintah serta kepedulian warga yang masih kurang terhadap tempat wisata ini membuat beberapa fasilitas dan infrastruktur jalan hanya dibuat sekenanya saja. Sekitar 5 Meter dari pintu masuk tersebut voyagers bisa memarkirkan kendaraan. Mobil pribadi, elf, sepeda motor semua di parkir di sana. Parkiran ini disebut Parkir Pos 1.

Gunung Batu 2017 Full Squad

Gerbang masuk GUnung Batu (pos 1)

Sebelum memulai pendakian maka ada baiknya kita mengenal sedikit tentang gunung ini. Gunung yang tingginya hanya 875 MDPL ini kalau boleh Daily Voyagers petakan dibagi menjadi 6 titik yaitu Pos 1, Pos 2, Tanjakan Kebo, Shelter 2, Puncak Bayangan dan Puncak Gunung Batu. Jangan mengira gunung yang memiliki tinggi 875 MDPL ini akan didaki dengan mudah, gunung ini memiliki kesulitannya sendiri yang tidak bisa dibandingkan dengan gunung lain.

Apabila cuaca sedang bagus dan bersahabat, maka waktu yang dibutuhkan untuk sampai ke puncak ini adalah 30 menit dari Pos 2 (dengan catatan tanpa banyak berhenti untuk selfie). Namun kalau hujan turun, maka kalikan saja waktu normal tadi dengan angka 2 atau 3, kira-kira itulah total waktu yang akan didapat.

Beberapa titik yang ada di Gunung Batu

Yuk kita mulai perjalanan mengeksplor Gunung Batu ini:

Pos 1

Pos 1 ini hanyalah sebuah parkiran dan warung kopi. Kalau dilihat sekilas dari depan (dari Parkir Pos 1 ini), maka kita pasti bingung bagaimana cara untuk mendaki gunung ini. Medannya yang begitu terjal dan tidak adanya jalan setapak untuk mendaki seperti jalur pendakian pada umumnya pasti membuat kita berpikir keras bagaimana cara untuk bisa sampai ke puncaknya. Tenang saja, bagian depan itu hanyalah bagian pembuka alias sambutan saja, jalur pendakiannya berada di balik bagian depan gunung ini.

Rute Menuju pos 2 dari Pos 1

Tanda Panah merah yang terukir di batu sebagai penunjuk jalan menuju Pos 2

Untuk menuju bagian belakang atau jalur pendakian, perjalanan sudah harus kami mulai dari parkiran mobil ini. Perjalanan menyusuri tanah yang berbatu dan tak jarang berlumpur sejauh kurang lebih 1 Km akan membawa voyagers sampai ke Pos 2. Tidak perlu takut tersasar karena pada jalur berbatu yang voyagers lewati ini voyagers akan melihat tanda panah berwarna merah sebagai penunjuk jalan menuju pos 2.

Pos 2

Di Pos 2 inilah kami didata sekaligus diberi sedikit petuah oleh penjaga sekitar seputar jalur pendakian. Selain sebagai tempat untuk pendaftaran dan pembayaran pendakian, ternyata di pos 2 ini ada tempat parkirnya juga hanya saja dikhususkan untuk sepeda motor. Jadi untuk voyagers yang mau ke sini dengan membawa sepeda motor, parkirnya disini aja ya. Lumayan lho bisa hemat waktu dan tenaga ketimbang harus jalan.

Warung yang juga merupakan Pos 2

Gerbang Masuk pendakian yang tepat berada di depan Pos 2

Di Pos 2 ini juga terdapat kamar mandi umum dan lagi-lagi warung kopi. Fungsi utama Kamar mandi umum ini adalah untuk membilas badan. Kalau hujan turun, jarang sekali ada yang bisa turun dari gunung ini dengan badan yang masih bersih seperti saat sebelum memulai pendakian. Lumpur sudah pasti memenuhi beberapa bagian tubuh.

Jalur mendaki tepat di depan Pos 2. Sebuah gerbang dengan banyak tulisan peringatan dan larangan akan menjadi bagian pembuka dari pendakian yang sebenarnya, setelah perjalanan dari Pos 1 ke Pos 2 ini bisa anggap sebagai sebuah bagian dari pemanasan.

Tanjakan Kebo

Seusai memasuki gerbang, kita akan langsung dihadapkan dengan Tanjakan Kebo. Tanjakan ini sebenarnya tidak terlalu sulit asalkan tidak hujan. Sudut elevasinya yang masih normal masih memungkinkan kita mendaki tanpa menggunakan alat bantu. Sialnya, waktu Daily voyagers dan tim datang ke tempat ini kondisinya sedang hujan. Air dari atas mengucur deras melewati tanjakan ini.

Awal Mula Tanjakan Kebo Sebelum semakin menggila

Tanjakan Kebo masih panjang

Benar saja, kami pun kesulitan untuk menanjak. Jalur yang full tanah kering tersebut seketika berubah menjadi berlumpur. Untungnya di Tanjakan Kebo ini masih ada pepohonan dan rerumputan di bagian kiri dan kanan jalur pendakiannya, jalur itu lah yang kami gunakan untuk lebih memudahkan kami dan alhasil jalur tanah itu pun “sepi pengunjung”, semua melipir ke kiri agar dapat menginjak rerumputan dan berpegangan pada pepohonan.

Semakin mendekati Shelter 2, pepohonan akan semakin sulit ditemukan, yang ada hanyalah rerumputan. Kecermatan saat melangkah sangat diperlukan. Kalau tidak hati-hati melangkah di jalur ini ya siap-siap saja tergelincir dan bibir bisa menghantam tanah. Kalau hujan turun, Sepatu atau sendal gunung pun tidak akan begitu membantu. Bagian permukaan sepatu atau sandal akan dipenuhi oleh tanah yang membuat daya cengkram atau gigitan sendal pun menjadi berkurang.

Istirahat sejenak pasca melalui Tanjakan Kebo

Shelter 2

Shelter 2

Pemandangan dari Shelter 2

Entah mengapa diberi nama langsung Shelter 2. Dimanakah Shelter 1 nya? apa mungkin Daily Voyagers yang kelewatan papan penunjuk informasinya?

Shelter 2 merupakan sebuah tanah lapang yang cukup besar yang bisa digunakan untuk mendirikan tenda. Tempat ini cocok untuk beristirahat sejenak untuk voyagers yang kelelahan saat mendaki. Makan nasi bungkus sambil ditemani pemandangan yang indah merupakan kombinasi yang luar biasa.

Camping Area di Shelter 2

View dari tempat ini memang sudah lumayan membuat kita happy, namun tunggu hingga voyagers mencapai puncaknya. Di sisi sebelah kanan kita bisa melihat beberapa gunung dan pemukiman warga yang dibangun diantara persawahan. Kayaknya, pemandangan dari atas sini pada malam hari itu oke juga deh.

Nah, dari sini kalau kita terus melihat ke arah depan maka akan tampak sebuah puncak. Kelihatannya memang itu seperti puncak dari gunung itu, namun siapa sangka kalau ternyata puncak itu adalah puncak tipuan alias puncak bayangan. Di balik puncak bayangan tersebutlah puncak sejati dari Gunung Batu ini berada.

Puncak Bayangan 1 & 2

Memasuki jalur pendakian menuju Puncak Bayangan, medan mulai menjadi lebih gila. Jalur berubah dari yang tadinya hanya tanah menjadi tanah yang berbatu, yang tadinya lebar berubah menjadi menyempit. Sudut elevasinya pun naik drastis, hal tersebut mengakibatkan perlu adanya bantuan untuk mencapai puncak bayangan tersebut dan kali ini naiknya haruslah satu per satu.

Webbing, ya itulah tali yang membantu kami untuk mencapai puncak bayangan. Dengan berpegangan pada tali yang sudah diikat pada batu di ujungnya tersebutlah kami berpegangan. Fisik yang kuat sangat dibutuhkan pada fase ini. Tangan yang kuat diperlukan untuk mencengkeram tali dan otot kaki yang prima diperlukan untuk menahan badan agar tidak jatuh sembari melangkah naik.

Puncak Bayangan 1. Keren kan view-nya??

dengan bantuan Webbing seorang pendaki berusaha naik ke Puncak Bayangan 2

Yang ngeselinnya lagi, puncak bayangan di gunung ini tidak hanya ada satu melainkan dua. Jangan girang dulu ketika sudah sampai di ujung puncak bayangan ini dan melihat satu puncak lagi yang berada di depan mata. Karena puncak yang di depan itu bukanlah puncak sejati melainkan puncak bayangan 2. Sudah terlambat kalau mau menyerah sekarang, perjalanan yang dilakukan sudah terlampau jauh dan tinggal sedikit lagi untuk bisa menggapai Puncak. Ayo Semangat!!!!!

Perjalanan ke puncak bayangan 2 itu sedikit sulit di bagian akhirnya. Batu yang cukup besar menjadi penghalang kami kali ini, lagi-lagi Webbing adalah solusinya. Dengan berpegangan pada tali tersebut kami harus berpindah dari satu sisi batu ke sisi batu yang lainnya. Beruntung sekali ada orang yang sudah mendaki gunung ini dan menyiapkan tali tersebut agar pendaki-pendaki lainnya lebih mudah saat melakukan pendakian.

Perjalanan Menuju Puncak Bayangan 2

Pemandangan Puncak Gunung Bat dari Puncak Bayangan 2

Sesampainya di puncak bayangan 2, benar saja kalau pemandangannya luar biasa. Kalau melihat ke depan maka akan terlihat puncak sejati dengan tanda berupa sebuah kayu yang tertancap di tanah di mana ada sebuah bendera merah putih yang sudah terkoyak terikat di bagian ujungnya. Sedangkan kalau melihat kembali ke belakang, kita bisa melihat masa lalu dengan beberapa kenangan lucu, getir dan pahit di dalamnya. Yang dimaksud di sini bukan kenangan bersama mantan lho ya, melainkan kenangan akan perjuangan hebat yang sudah kita lakukan untuk bisa sampai ke titik ini. Praise The Lord!!

Puncak Sejati Gunung Batu

Meskipun puncak sejati sudah bisa terlihat dari puncak bayangan 2, jangan dibayangkan kalau perjalanan akan berjalan mudah. Setelah berjalan beberapa puluh meter ke depan, kita masih harus melalui sebuah turunan dan sebuah tanjakan.

Tanjakan kali ini bisa dibilang tidak begitu sulit bagi yang sudah terbiasa mendaki. Voyagers yang sudah biasa mendaki dapat melalui tanjakan terakhir ini dengan tanpa bantuan karena meskipun cukup menanjak namun bebatuannya cukup bersahabat untuk dipijak. Sedangkan untuk kalian yang belum terbiasa mendaki, tenang saja. Webbing sudah siap sedia untuk membantu kalian menggapai puncak 875 MDPL ini.

Selangkah lagi menggapai puncak

Ini dia puncak Gunung Batu

Sesampainya di puncak, bendera merah putih suda menyambut kita. Perasaan letih dan lelahpun rasanya terbayar sudah.. Tidak hanya bendera merah putih, namun ada panji-panji lainnya yang juga tertancap di sana, mungkin itu peninggalan beberapa pendaki yang sudah dulu sampai di tempat ini.

Selain panji-panji, ada juga sebuah prasasti yang terletak di bawah panji-panji tersebut. Sebuah prasasti untuk mengenang seorang pendaki yang terjatuh dari gunung ini saat melakukan pendakian. Meskipun hanya 1 saja yang terpampang disitu, ternyata sudah ada 2 orang yang jatuh dari gunung ini dan berujung dengan meninggal dunia. Itulah mengapa kita harus selalu awas dalam melakukan pendakian, tidak boleh bercanda berlebihan dan tidak boleh menganggap enteng atau sombong.

Semacam prasasti untuk mengenang pendaki yang terjatuh dari gunung ini dan meninggal

Pemandangan dari Puncak Gunung Batu

Luas puncak ini memang tidak begitu besar, tapi kalau soal pemandangan maka tidak perlu ditanyakan seperti apa indahnya. Pemandangan paling indah dari suatu gunung pastilah selalu dari bagian puncaknya. Dari atas sini kita bisa melihat anak sungai yang berkelok-kelok, kabut yang datang dan pergi sesuka hati, pos 1 dan juga gunung-gunung lain yang ada diseberang gunung ini. Sungguh pemandangan yang sangat amat memanjakan mata.


Itulah tadi sedikit cerita soal One Day Trip ke Gunung Batu dan detil dari tiap pos nya. Perjalanan menuruni Gunung Batu ini tidak kalah serunya dari pendakiannya lho, apalagi kalau hujan. Rasanya seperti ingin langsung  meluncur duduk dibandingkan harus berjalan karena rute turunnya yang sangat licin. Belum asyik kalau belum jatuh terpeleset di jalur pendakian ini.

Dibalik setiap keindahan foto di gunung ini pasti selalu ada penderitaan penuh keceriaan yang tidah terbantahkan. Namun itulah yang menjadi bumbu penyedap dari perjalanan ini. Tetap utamakan keselamatan ya guys 🙂

Perjalanan Turun dari Puncak Gunung Batu pasca hujan

Happy Traveling 🙂

Saran

  1. Sebelum sampai di Gunung Batu, ada baiknya belanja cemilan, air dan makanan berat di sekitar Jonggol untuk nanti dimakan di Shelter 2 atau di puncak atau bahkan saat turun. Di Pos 1 dan 2 memang ada warung kopi namun makanan yang ditawarkan hanyalah gorengan dan mie instan.
  2. Jangan ragu untuk mengaktikfkan GPS (Gunakan Penduduk Sekitar alias Nanyaaaaa), karena kalau percaya 100% pada GPS (dalam arti yang sebenarnya) kemungkinan besar bisa nyasar.

Info

  1. Tarif Parkir
    Jenis KendaraanTarif
    Sepeda MotorRp 15.000
    Mobil Rp 30.000
    Mini BusRp 50.000

    *Parkir disini 24 jam jadi bisa banget untuk voyagers yang ingin melihat sunrise dan datang pagi-pagi buta.
  2. Biaya Sharing

    Biaya Sharing

    *Yang merah tidak jadi ikut dan DP Rp 100.000 nya hangus sedangkan Rp 50.000 nya dikembalikan
    *Biaya pendakian Rp 5000 per orangnya. Kalau pada gambar di atas tertera total Rp 50.000, itu karena yang mendaki hanya 10 orang.

  3.  Kami menyewa Elf di @sewaelfjakarta

Video

Saksikan keseruan perjalanan kami mendaki Gunung Batu dalam video berikut

 If all difficulties were known at the outset of a long journey, most of us would never start out at all.

–Dan Rather

Comments

comments

Powered by Facebook Comments

Darius Go Reinnamah

Twitter: @dgoreinnamah | IG: @dgoreinnamah | FB: dgoreinnamah | youtube: Darius Alexander Go Reinnamah | http://goreinnamah.com

You may also like...