Berkunjung ke Dinas Kebudayaan & Pariwisata Belitung Timur

Disela-sela kunjungan Daily Voyagers ke Belitung selama 4 hari 3 malam, kami menyempatkan untuk mengunjungi Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Belitung Timur. Awalnya kami pun agak malas untuk mengunjungi tempat ini karena kami menganggap kalau tempat ini akan sama saja dengan dinas pariwisata yang lain dan akan berakhir dengan sebuah kebosanan. Namun driver yang membawa kami mampu meyakinkan kalau tempat ini berbeda, terutama buat kami yang ingin mendapatkan banyak info atau cerita mengenai Belitung Timur. Singkat cerita mampirlah kami ke sana.

Berkunjung ke Dinas Pariwisata Belitung Timur

Selama tur singkat di Disbudpar Belitung Timur kami ditemani oleh seorang guide yang memang sudah disediakan oleh pihak Disbudpar. Guide inilah yang akan menjelaskan secara sistematis semua hal yang dia tahu mengenai Belitung terlebih khusus Belitung Timur.

Sistematis di sini maksudnya adalah guide akan menjelaskan sesuai dengan urutan benda atau gambar yang sudah diletakkan secara teratur di dalam gedung Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Belitung Timur ini. Namun hal tersebut tidaklah baku, disela-sela penjelasannya kita bisa tetap bertanya tentang banyak hal, bahkan yang diluar topik sekalipun. Guide yang ada di sini semuanya anak muda sehingga penjelasannya pun menggunakan bahasa anak muda dan interaksinya sungguh menyenangkan.

Lalu ada apa saja sih di Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Belitung Timur ini? Berikut ini penjelasannya:

SEGMEN SUMBER DAYA ALAM

  1. Timah

    Timah mentah yang masih dalam bentuk batuan (atas) dan pasir (bawah).
    Pic via gnfi (atas) & Geology (bawah)

    Belitung itu terkenal sekali akan timahnya. Di bagian pertama dari tur Disbudpar ini voyagers akan diperkenalkan dengan timah yang menjadi komoditi utama dari Belitung. Sang Guide akan mengeluarkan toples berisi timah dari dalam lemari kaca. Dia akan menunjukkan timah yang masih mentah dan timah yang sudah dilebur, kita akan dipersilahkan untuk memegangnya.
    Timah yang masih mentah itu warnanya hitam dan bentuknya masih seperti pasir dan ada juga yang bentuknya batuan. Meskipun terlihat seperti pasir namun masa jenis dari timah ini lebih besar dari pasir biasa, itulah yang membedakan. Sedangkan timah yang sudah dilebur maka warnanya akan berubah menjadi putih atau silver. Timah-timah yang sudah dilebur ini biasanya akan diekspor ke Korea, Singapura atau beberapa negara penghasil barang-barang elektronik.

  2. Lada

    Gambar atas: Jenis-jenis Lada (via jagapati)
    Gambar bawah: Guide yang sedang menunjukkan lada Belitung Timur kepada kami

    Masih di tempat yang sama, di depan lemari kaca. Setelah menunjukkan timah, guide akan mengambil lada yang sudah disimpan selama 5 tahun. Sama seperti timah, kita pun diizinkan untuk memegangnya. Tidak hanya memegangnya, bahkan kalau voyagers mau voyagers bisa mencicipinya juga. Wangi dari lada ini sangat khas dan aromanya yang kuat akan langsung tercium ketika toples tersebut dibuka.
    Lada Belitung Timur ini terkenal akan ketahanannya. Voyagers bisa menyimpannya sampai kurang lebih 10 tahun lamanya dan kondisinya masih akan tetap bagus.

  3. Kopi

    Museum Kopi mini.
    pic via Kompas

    Selanjutnya voyagers akan dibawa ke Museum Kopi Mini. Manggar, ibu kota Kabupaten Belitung Timur, merupakan kota dengan julukan KOTA 1001 WARUNG KOPI. Kalau voyagers mampir ke Manggar, voyagers pasti bisa melihat banyak warung kopi “bertebaran” di pinggir jalan. Pada tahun 2009, Belitung Timur ini berhasil memecahkan rekor MURI sebagai tempat untuk minum kopi serentak dengan peserta terbanyak yaitu 17.070 orang.
    Di tempat ini juga voyagers akan ditunjukkan bentuk asli dari Kopi Belitung. Kalau kopi-kopi yang voyagers lihat selama di Belitung (timur), baik di sentra oleh-oleh atau warung-warung kopi, umumnya mereka menggunakan kopi yang didatangkan langsung dari Lampung.
    Kenapa seperti itu? Karena Belitung Timur sendiri belum mampu memenuhi permintaan pasar yang ada di Belitung Timur sendiri, oleh sebab itu didatangkanlah kopi dari Lampung. Jadi di tempat inilah voyagers akan diperkenalkan pada kemasan Kopi Belitung yang asli.

SEGMEN HEWAN

Setelah puas dibawa untuk mengenal beberapa hasil alam yang menjadi andalan Belitung Timur, sekarang kita beranjak ke hewan-hewan yang menjadi “unggulan” di Belitung timur ini.

  1. Buaya

    The Bon-Bon

    Beranjak ke ruangan semi outdoor, pertama kali voyagers akan diajak untuk melihat buaya muara yang diletakkan di dalam kolam dengan kawat atau teralis sebagai penutupnya. Buaya ini namanya Bon-Bon, berjeniskelamin jantan dan diusianya yang baru 5 tahun panjangnya sudah mencapai kurang lebih 3 meter. Katanya, usia buaya muara itu bisa sampai 100 tahun dan panjangnya bisa mencapai 10-11 meter.
    Sejarahnya Bon-Bon bisa sampai di tempat ini adalah saat usianya kurang lebih masih 3 bulan, dia terperangkap di jaring nelayan yang ada di sungai. Nelayan tersebut kemudian membawa Bon-Bon ke dinas ini dan sejak saat itulah Bon-Bon dipelihara sampai sekarang.
    Bon-Bon ini diberi makan setiap 4-5 hari sekali. Kalau waktu berkunjungnya pas, voyagers bisa secara langsung memberi makan si Bon-Bon. Karena Bon-Bon adalah buaya peliharaan, treatment yang diberikan kepadanya pun spesial juga. Bon-Bon hanya diberi makan ayam potong yang sudah bebas dari darah dan bulu. Tujuannya adalah untuk menjaga kebersihan mulut dari Bon-Bon.
    Buaya muara memang banyak sekali di Belitung ini, jadi perlu sedikit waspada kalau bermain-main di sungai. Seperti halnya di film Laskar Pelangi ketika Lintang berangkat menuju sekolah kemudian bertemu buaya, begitulah realita yang ada di Belitung. Warga Belitung sedikit “dipaksa” untuk akrab dengan hewan yang satu ini.

  2. Tarsius

    The Mon-Mon

    Beranjak ke hewan selanjutnya yaitu Tarsius. Tarsius ini adalah primata terkecil. Di Disbudpar Belitung Timur ini, Tarsius bernama Mon-Mon ini diletakkan dalam sebuah kerangkeng dengan pohon kecil yang berada di dalamnya sebagai tempat untuk dia bergelantungan.
    Keistimewaan dari Tarsius adalah dia bisa memutar lehernya sampai 180º. Voyagers bisa menguji fakta tersebut di tempat ini. Keunikan lainnya adalah ukuran mata Tarsius yang sangat besar, bahkan ukuran matanya itu lebih besar daripada ukuran otaknya. Selain saat tidur, Tarsius hanya akan menutup matanya ketika makan. Tidak seperti primata lainnya yang makan buah-buahan, Tarsius ini makannya serangga. Pihak Disbudpar  Belitung Timur sudah menyiapkan beberapa serangga agar voyagers bisa memberi makan Mon-Mon ini.
    Kebanyakan orang hanya tau kalau Tarsius itu adanya di Sulawesi, padahal tidak. Tarsius ini adalah hewan endemik dari Belitung. Tarsius yang ada di Sulawesi adalah Tarsius tarsier sedangkan yang ada di Belitung adalah Tarsius bangkanus saltator. Warga Belitung biasa menyebut mereka dengan sebutan Pelilean.
    Salah satu yang bisa kita (manusia) pelajari dari Tarsius adalah KESETIAAN. Mon-Mon ini hanya diletakkan sendiri di kandang ini. Kenapa begitu? Karena kita tidak bisa memasangkan Tarsius, dia sendirilah yang akan mencari pasangannya sendiri.
    Hewan ini menjunjung tinggi azas monogami. Ketika dia sudah menemukan pasangannya, pasangan tersebutlah yang akan menjadi pendampingnya seumur hidup. Salah satu dari mereka tidak akan pernah selingkuh. Ketika salah satu diantara mereka mati, yang masih hidup tidak akan mencari pasangan lain. Bahkan saking setianya, pasangannya juga akan ikut mati tidak lama setelahnya.

  3. Kura-kura Air Tawar

    The Pon-Pon

    Hewan ketiga adalah Kura-kura air tawar RAKSASA. Kura-kura air tawar raksasa ini diletakkan di dalam kolam yang lokasinya berada di antar kolam Bon-Bon dan kandang Mon-Mon. Namanya juga cukup unik, sama seperti kedua sahabatnya, berakhiran “on”. Kura-kura ini dipanggil Komandan Klepon atau yang biasa dikenal dengan Pon-Pon.
    Dari ketiga hewan yang dipelihara disini, usia Pon-Pon adalah yang tertua yaitu 20 tahun. Dan kalau terus sehat walafiat, maka usia kura-kura itu bisa mencapai 100 tahun. Kura-kura berwarna hitam ini disebut raksasa karena ukurannya yang memang abmormal. Ukuran Pon-Pon itu 1,5x lebih besar dari Bola Rugby, yang merupakan ukuran yang “tidak biasa” dari Kura-kura air tawar. Mungkin ada, tapi sangat jarang.
    Pon-Pon merupakan hewan yang paling tidak kesepian di sini karena dia ditemani oleh 7 anaknya, tidak seperti Mon-Mon dan Bon-Bon yang harus hidup sendiri di kandangnya.

SEGMEN BUDAYA

  1. Barang Kapal Tenggelam

    Belitung sebagai Jalur perdagangan

    Saat memasuki ruang Budaya, voyagers akan melihat muatan barang kapal tenggelam. Jadi, Belitung itu dulunya merupakan salah satu jalur perdagangan bahari dunia, banyak kapal yang berlalu-lalang di Belitung ini. Dari beberapa kapal yang tenggelam, ditemukanlah benda-benda tersebut yang diperkirakan usinya sudah 13 abad peninggalan dari jaman Dinasti Tang dan Dinasti Sung.
    Ada sedikit cerita dari dari sang Guide yang cukup kesal didengar mengenai barang-barang kapal tenggelam ini. Jadi ada beberapa warga Perancis yang menyelam di daerah Belitung untuk mencari benda-benda ini. Namun usaha mereka dipergoki oleh polisi air dan benda-benda peninggalan sejarah tersebut dititipkan di sini. Ternyata, tidak semuanya berhasil diselamatkan, ada beberapa barang yang ternyata sudah berhasil dibawa keluar negeri untuk diperdagangkan.

  2. Pernikahan

    Pelaminan adat Belitung beserta makan Bedulang

    Beralih ke objek selanjutnya, voyagers bisa melihat Pelaminan Melayu Belitung. Voyagers bisa berfoto di pelaminan ini. Di Pelaminan ini voyagers bisa melihat perlengkapan pernikahan dalam Adat Belitung mulai dari baju pengantin, makanan yang dihidangkan, dekorasi pelaminan sampai cerita mengenai prosesi pernikahan yang sudah dirangkum. Tidak jauh berbeda dengan daerah Sumatera lain (karena masih satu rumpun Melayu), jadi nuansa pernikahan di Belitung ini masih didominasi oleh warna merah dan emas.
    Kabar sukacita bagi para pria adalah di Belitung ini perempuanlah yang akan”membeli” laki-laki, bukan sebaliknya. Enak kan jadi lelaki di Belitung? Nah, buruan deh kalian para pria datang ke Belitung ini. Siapa tau jodoh kalian memang di sini.
    Dalam prosesi mulai dari lamaran hingga pernikahan, ada momen dimana kedua keluarga akan makan bersama. Makan bersama ala Belitung ini diberi nama Makan Bedulang. Makan Bedulang adalah makan bersama-sama dengan lauk pauk yang diletakkan di dalam dulang yang ditutup tudung saji. Makan Bedulang ini ingin mengajarkan tentang saling menghormati dan budaya berbagi. Dalam Makan Bedulang, orang yang lebih tua akan dipersilahkan untuk mengambil makanan terlebih dahulu baru kemudian disusul oleh yang muda.

  3. Antu

    Gambar Kiri: Penantang melawan Antu Bubu (pic via budayabeltim)
    Gambar kanan: Bubu, alat untuk menangkap ikan dari bambu (pic via pariwisatabelitong)

    Bagian ini sedikit mistis, namanya Antu Bubu. Antu adalah Hantu sedangkan Bubu adalah alat tradisional untuk menangkap ikan yang terbuat dari bambu. Jadi Antu Bubu adalah sebuah permainan seperti jelangkung dimana pawang akan memanggil arwah roh halus untuk masuk ke dalam Bubu tersebut dan sang peserta yang menantang akan mencoba untuk “menaklukkan” bubu tersebut.
    Permainan ini cukup simple.  Bubu akan dibungkus dengan kain kafan kemudian dipeluk oleh si penantang. Saat Bubu sudah terisi oleh roh halus, bubu dapat melawan balik si Peserta yang mencoba menyerangnya. Tujuan dari permainan ini adalah si Penantang harus menghancurkan Bubu tersebut.
    Permainan ini harus dimainkan di atas pasir karena saat permainan dimulai, tidak jarang peserta akan dibawa berguling-guling oleh Bubu. Konon, Bubu yang sudah terisi oleh roh halus ini beratnya bisa mencapai ratusan kilo, itulah mengapa Bubu menjadi sangat berat dan sulit untuk ditaklukkan.
    Kalau jaman dulu, tujuan dimainkannya Antu Bubu ini adalah untuk menguji kesaktian seseorang. Kalau si Penantang berhasil menaklukkan Antu Bubu maka bisa dibilang “ilmu” yang dimiliki oleh penantang tersebut sudah cukup tinggi. Namun kalau kalah, maka si Penantang harus memperbaiki “ilmu” yang dia pelajari. Kalau sekarang, permainan ini dilakukan sebagai atraksi budaya.
    Efek dari permainan ini bagi si Penantang hanyalah kecapean dan yang paling parah adalah kerasukan. Apabila sudah kerasukan, sang pawanglah yang akan mengobatinya. Permainan ini aman untuk ditonton karena tidak menyebabkan penontonnya kerasukan, lain halnya dengan Kuda Lumping.

  4. Beripat

    Budaya Beripat.
    gambar atas, pic via visitbangkabelitung
    Gambar bawah, pic via satu-indonesia

    Beripat merupakan sebuah kesenian dari Belitung yang digunakan sebagai ajang untuk menguji kejantanan pria. Cara bermainnya adalah kedua pria akan saling dihadapkan dan mereka akan baku pukul dengan menggunakan rotan. Kesenian ini mirip dengan Perang Pandan yang ada di Bali, Tari Caci yang ada di Flores dan Pukul Manyapu yang ada di Maluku.
    Beripat diambil dari kata ripat yang artinya memukul. Permainan ini akan diiringi oleh alunan gong yang didendangkan. Cara menilai siapa yang menang ketika bertanding cukuplah mudah, juri hanya perlu melihat badan siapa yang memiliki bekas luka paling sedikit, itulah yang jadi pemenangnya.
    Dulu di Belitung, kalau ada seorang wanita yang disukai oleh 2 pria atau lebih, maka orang tua dari si wanita akan mengadakan beripat dan pria yang menang dalam Beripat ini boleh mempersunting wanita tersebut. Tujuan lain dari permainan ini selain untuk uji kejantanan adalah untuk mempererat hubungan antar kampung karena memang permainan ini biasanya dimainkan oleh 2 kampung.

MERCHANDISE

Pada bagian akhir, kita akan dibawa ke Tourist Information Center. Bangunan ini terpisah dari gedung tempat Mon-Mon, Pon-Pon dan Bon-Bon berada, namun masih dalam satu kawasan (dekat). Seperti yang sudah kita tahu, salah satu tujuan dibentuknya Disbudpar Belitung Timur adalah untuk mempromosikan wisata daerah Belitung Timur. Tujuan promosi adalah untuk menarik wistawan agar mengunjungi Belitung Timur dan membeli benda-benda yang berbau Belitung Timur.

Jadi, bisa dikatakan kalau Tourist Information Center ini adalah tempat jualannya. Disini voyagers bisa membeli kaos-kaos dengan desain kreatif yang bertemakan Belitung Timur, harganya terjangkau lho. Voyagers juga bisa membeli oleh-oleh seperti minuman Jeruk Kunci kemasan, Kopi Asli Belitung, minyak kayu putih dan beberapa oleh-oleh lainnya di sini.

Di dalam gedung ini juga diletakkan beberapa background 3D dari objek-objek wisata yang ada di Belitung Timur sehingga ketika kita berfoto di sini, seolah-olah kita memang mengunjungi tempat tersebut padahal sebenarnya tidak. Untuk berfoto dengan backgorund ini tidak dipungut biaya sepeserpun.

Tourist Information Center dan beberapa background 3D yang ada di dalamnya

Saat hendak membayar belanjaan di kasir, voyagers akan melihat sebuah kotak. Kotak tersebut adalah kotak sumbangan sukarela untuk Guide yang sudah mendampingi kita berkeliling dan menjelaskan banyak hal tentang Belitung Timur.

Itu tadi kurang lebih uraian singkat mengenai kunjungan ke Disbudpar Belitung Timur. Sekarang voyagers jadi tahu kan ada apa saja di sana? Bila dibandingkan dengan disbudpar milik saudaranya, Kabupaten Belitung, Disbudpar Belitung Timur ini memang jauh lebih atraktif, kreatif dan inovatif. Mereka menjadikan kantor ini juga sebagai salah satu destinasi wisata.

Yang patut diacungi jempol lagi adalah tempat ini tetap buka meskipun diakhir pekan. Jarang sekali ada dinas yang mau buka pada hari Sabtu dan Minggu. Karena salah satu kunci kesuksesan dari pariwisata suatu daerah tidak lepas dari usaha dan peran Pemerintah Daerahnya sendiri. Two Thumbs up!!!

Ingat ya, kalau ke Belitung Timur jangan lupa mampir ke sini.

Aufwiedersehen 🙂

See the world. It’s more fantastic than any dream made or paid for in factories. Ask for no guarantees, ask for no security
— Ray Bradbury

Comments

comments

Powered by Facebook Comments

Darius Go Reinnamah

Twitter: @dgoreinnamah |
IG: @dgoreinnamah |
FB: dgoreinnamah |
youtube: Darius Alexander Go Reinnamah | http://goreinnamah.com

You may also like...