Cerita Dibalik Hangatnya Rumah Ambe Simen

Matahari saat itu sudah mulai kehilangan terangnya, ia bersiap-siap untuk beristirahat setelah melaksanakan tugasnya dari pagi hingga sore hari. Tanda yang diberikan oleh matahari itu pula yang membuat kami, rombongan dari Jakarta dan Surabaya yang hendak mendaki Gunung Latimojong, sadar kalau kami harus bergegas untuk bermalam di Desa Karangan. Kaki kami pun secara perlahan kami langkahkan menuju Rumah Ambe Simen.

Ambe Simen? Istilah apa lagi itu? Ambe atau yang biasa dikenal juga dengan mbe’ adalah sebuah sebutan, bukan hanya untuk ayah tetapi juga untuk pria yang usianya sebaya atau lebih tua dari orang tua kita. Sedangkan Simen merupakan sebuah nama. Ambe Simen adalah pria paruh baya yang baik hati dari Desa Karangan yang membuka rumahnya bagi para pendaki yang mau beristirahat atau bermalam, baik untuk melakukan pendakian atau pasca melakukan pendakian Gunung Latimojong. Di rumah beliaulah kami bermalam.

Suasana Dusun Karangan sebelum senja

Suasana kebersamaan di Dusun Karangan, dimana menonton Televisi pun masih bersamaan

Sungguh sayang, malam itu kami tidak bisa langsung bertemu dengan Ambe Simen. Sejauh ini kami hanya bisa membayangkannya lewat cerita beberapa orang. Dia dan dua orang anaknya sedang membawa beberapa rombongan pendaki. Guide, itulah salah satu pekerjaan dari Ambe Simen dan anak-anaknya selain sebagai petani kopi dan petani bawang. Meskipun tanpa kehadiran Ambe, anggota keluarganya yang lain tetap dengan sukacita menerima dan menyambut kami. Istri Ambe Simen pun tanpa berbasa-basi langsung mempersilahkan kami memilih tempat untuk kami beristirahat.

Saat kami sedang merapikan barang-barang bawaan kami, Kopi dan teh panas langsung disuguhkan di hadapan kami oleh istrinya. Aktifitas kami terhenti dan secara otomatis semua indera pengelihatan kami mengarah ke kopi dan teh tersebut setelah sebelumnya indera penciuman kami yang terpanggil terlebih dahulu oleh aromanya. Kehadiran Kopi dan teh panas di tengah udara Desa Karangan yang dingin saat itu memang benar-benar membantu. Bukan hanya badan, namun suasana pun ikut menjadi hangat karena kehadirannya.

Kami pun berbincang sebentar dengan keluarga Ambe Simen. Betapa baiknya keluarga ini mau menampung kami, orang-orang yang baru pertama kali mereka lihat. Setelah berbincang sebentar, mereka pun pamit undur diri untuk melakukan beberapa pekerjaan yang belum terselesaikan malam itu. Beberapa dari kami pun kembali melanjutkan merapikan carrier dan isinya untuk pendakian esok pagi. Beberapa orang lainnya memutuskan untuk lanjut mandi, namun nampaknya niat tersebut segera diurungkan pasca mereka merasakan dinginnya air di Desa Karangan yang bagaikan es. Padahal baru ujung kuku yang menyentuhnya, namun dinginnya sudah mampu merasuk ke seluruh tubuh.

Memasuki rumah Ambe Simen

suasana di dalam rumah Ambe Simen

Tidur pun nampaknya menjadi pilihan akhir. Kami ber-12 mulai masuk ke dalam kantong tidur, merebahkan badan kemudian perlahan-lahan mejamkan mata dan mencoba beristirahat. Tak lama setelah beberapa dari kami terlelap, rombongan lainnya pun datang. Tujuan dan jumlah mereka kurang lebih sama dengan rombongan kami. Rasa kantuk yang yang sudah menyerang kami begitu kuat membuat kami tidak terlalu menggubris kehadiran mereka. Kami hanya bergeser seadanya saja, bergerak untuk mememberikan mereka ruang namun dengan mata yang tetap terpejam.

Rumah itu sekarang penuh dengan para pendaki. Keluarga Ambe Simen pun malam itu (terpaksa) tidur bersama kami. Rasanya, sesekali dari mereka terbangun karena dengkuran kami, dengkuran yang cukup keras yang bahkan mampu menggetarkan dinding rumah yang terbuat dari kayu solid ini. Percuma juga rasanya mereka menggerutu, lebih baik dinikmati dan menganggapnya sebagai sebuah simponi.

Malam pun berlalu dan hanya Bulan yang terjaga kala itu.

****

Bukan suara kokok ayam, bukan juga suara gonggongan anjing-anjing penjaga yang membangunkan kami. Sinar matahari yang melewati celah-celah dinding kayu tanpa sadar telah membelai wajah kami dan kami pun terbangun. Matahari sudah kembali bertugas dan menggantikan sang Bulan yang kini beristirahat.

Sehangat mentari pagi, seperti itulah senyuman dari anggota keluarga Ambe Simen kepada kami. Senyuman yang mengiringi diantarnya kopi dan teh panas ke tengah-tengah kami oleh istri Ambe Simen. Maklum, pagi hari di Desa Karangan memang dingin adanya, kopi dan teh panas adalah salah dua yang mampu meredamnya. Dengan teratur, kami pun antri untuk bisa mencicipi sajian minuman panas tersebut.

Kami, 12 orang dari Jakarta dan Surabaya, sudah siap berangkat pasca menyeruput kopi dan teh tersebut. Saat ingin berangkat untuk melakukan pendakian, kami ditahan oleh salah satu anak Ambe Simen. “Sarapan dulu agar tidak lapar nanti saat melakukan pendakian”, begitu kurang lebih  kalimat yang menahan kami. Dengan sukacita, kami menunda keberangkatan kami & menyantap sarapan yang sudah disediakan oleh keluarga ini.

Perut sudah terisi, semangat sudah tak mengendur lagi, Carrier dan “Peralatan perang” sudah rapi, kami pun pamit undur diri. Dengan doa dan berkat dari keluarga Ambe Simen, kami melangkahkan kaki keluar dari rumah panggung ini dan memulai pendakian menuju Atap Sulawesi.

Pasca Pendakian

Salah satu tempat dimana signal Handphone tidak malu-malu untuk menampakkan keberadaannya adalah di Pos 1. Dari Pos ini kami menelpon seorang teman yang sudah lebih dahulu turun dan sampai di rumah Ambe Simen kembali. Maksud hati ingin menanyakan kabar, kami justru ditawari bantuan. “Capek gak? Kalau Capek nanti biar dijemput pake motor sama Rafi, anaknya Ambe Simen di Pos 1”, begitu katanya. Tanpa ragu, kami pun meng-iya-kan tawaran tersebut.

Dengan motor bebek yang sudah dimodifikasi menyerupai motor trail, Rafi dan 1 orang temannya datang menjemput 2 orang dari kami, rombongan terakhir saat itu. 4 orang lainnya memutuskan tetap berjalan kaki sampai di rumah Ambe Simen. Perjalanan menuruni bukit dengan menggunakan motor trail merupakan pengalaman yang wajib kalian coba. Pengalaman yang seru sekaligus menakutkan, asyik sekaligus mendebarkan. Bagaimana tidak, kalau salah sedikit saja dalam mengendalikan laju motor, bisa-bisa kami masuk jurang yang ada di kiri atau kanan kami.

suasana setelah turun gunung

Ambe bersama anaknya yang paling kecil

Lumayan, perjalanan dengan motor tersebut menghemat waktu sampai 1 jam. Biaya Ojeg Latimojong ini adalah Rp 50.000. Dengan motor tersebut, kami dibawa langsung hingga ke bagian bawah rumah panggung Ambe Simen. Sesampainya di rumah itu, Ambe Simen yang kali ini langsung datang menyambut. Dia mengawali pertemuan kali itu dengan meminta maaf karena tidak bisa langsung bertemu dengan kami di hari pertama kami tiba. Dia mengaku kalau sedang membawa tamu dan baru kemarin selesai melaksanakan tugasnya.

Akhirnya kami bertemu dengan Ambe Simen, sosok baik dibalik rumah yang sering digunakan untuk “menampung” para pendaki. Orangnya tidak terlalu tinggi, rahangnya sedikit kotak, rambut gondrongnya persis seperti Steven Tyler di jaman Aerosmith berjaya dulu. Bersama Ambe Simen, Rafi dan Gunawan (adik Rafi) kami pun berbagi cerita, tidak lupa ditemani teh dan kopi hitam hangat.

Ternyata, saat pendakian kemarin kami bertemu dengan Gunawan, hanya saja kami tidak mengetahui kalau dia anak dari Ambe. Dengan hangatnya Ambe pun bertanya bagaimana kesan kami saat mendaki Gunung Latimojong. Menurut cerita Ambe, keluarganya lah (beberapa generasi sebelumnya) yang membuka jalur pendakian gunung ini. Gunung ini sudah tak asing baginya, sudah seperti bagian dari dirinya. Ambe Simen juga bercerita kalau sudah membiasakan anak-anaknya mendaki gunung ini sedari mereka masih muda. Seperti Rafi contohnya, Rafi sudah membawa pendaki (sampai ke puncak) sejak umur 8 tahun. 8 tahun? Waktu kita berada di usia tersebut, mungkin kita masih sibuk bermain playstation di rumah.

Efek pendakian Gunung Latimojong ternyata membuat kaki dan badan kami cukup pegal, kami mengeluhkan hal tersebut pada Ambe Simen. Ternyata Rafi ini jago sekali pijat, tanpa ragu dia pun menawarkan diri untuk memijat beberapa orang dari kami. Secara bergantian dan dengan sabarnya dia memijat mulai dari tangan, punggung, paha sampai ke bagian kaki. Tanpa diberi tahu, seolah dia sudah tahu bagian mana saja yang terasa sangat sakit dan perlu ditangani.

Ambe yang sedang memotong rotan

Proses pembuatan gelang rotan yang dilakukan Rafi

Seusai memijat Rafi pun bertanya, “sudah punya gelang rotan belum?”. Dari raut wajah kami yang kebingungan mendengar pertanyaannya, dia sudah tau kalau kami belum punya. Rafi dan Ambe Simen lalu memotong beberapa rotan menjadi beberapa bagian kecil untuk dibuatkan gelang. Yang membuat gelang rotan ini spesial adalah gelang ini langsung dianyam diatas pergelangan tangan kita, jadi besarnya gelang sudah pasti pas dengan tangan kami masing-masing.

“Kalau kita bertemu sebelum pendakian, gelang ini akan saya buatkan sebelum pendakian. Gunanya agar kalian selamat selama pendakian dan kalian diterima baik di atas sana.”, ucap Ambe Simen. “Namun, berhubung kita baru bertemu sekarang, gelang rotan ini sebagai cinderamata buat kalian. Dengan gelang ini, kalian sudh resmi mampir ke Latimojong”, tambahnya. Sialnya saat itu adalah persediaan rotan sedang menipis, sehingga tidak semua dari kami bisa mendapatkan gelang tersebut. Untuk mengakalinya, maka dibuatlah cincin yang ukurannya lebih kecil dan lebih sedikit penggunaan rotannya.

Perbincangan hangat yang terjadi membuat kita lupa kalau hari itu sudah malam. Perut yang sudah lapar dan beberapa kali berbunyi pun tidak terlalu kami gubris karena perbincangan yang terjadi terlalu asyik untuk ditangguhkan. Dari dapur, wangi masakan tiba-tiba menusuk hidung kami. Tidak lama kemudian, istri Ambe Simen yang dibantu oleh anak perempuannya membawa sepanci sayur bercampur daging untuk kami makan. Inilah sumber kenikmatan itu. “Ayo makan dulu, diisi perutnya biar tidak sakit”, ucap istri Ambe. Kalimat tersebut seolah menjadi trigger untuk kami bergerak mengambil piring dan nasi.

Usai makan, satu per satu dari kami memutuskan untuk tidur. Kami harus beristirahat karena pagi-pagi benar kami harus kembali ke Baraka.

dan malam itu berlalu dengan tentramnya.

****

Rumah Ambe yang langsung sepi dan bersih pasca kepulangan kami

Perjalanan pulang ditemani seorang anak dari Desa Karangan

Pagi hari pun tiba, hari dimana kami harus meninggalkan Desa Karangan untuk kembali ke Baraka dan melanjutkan perjalanan ke Toraja. Dengan perasaan senang dan bercampur sedih kami pun berpamitan pada keluarga Ambe Simen. Senang karena kami akan menuju destinasi baru, sedih karena harus meninggalkan keluarga yang baik ini.

Lewat kesederhanaanya, keluarga ini mengajarkan kami banyak hal mulai dari kekeluargaan, tolong menolong tanpa pamrih dan berbagi senyuman serta kehangatan. Sebelum benar-benar pergi, Ambe berpesan kepada kami, “Kalau ada kesempatan, jangan lupa mampir kembali ke sini ya”. Dengan anggukan kepala kami menjawab pesan Ambe Simen tersebut.

Terima kasih banyak Ambe Simen untuk tumpangannya, untuk semua hidangannya dan keramahan yang sudah kalian berikan. Semoga kiranya Tuhan selalu memberkatimu dan keluargamu dengan kesehatan, hasil bumi yang melimpah dan kebaikan. Sampai jumpa Ambe Simen

Tabik

Happiness is having a large, loving, caring, close-knit family in another city
— George Burns

 

Comments

comments

Powered by Facebook Comments

Darius Go Reinnamah

Twitter: @dgoreinnamah |
IG: @dgoreinnamah |
FB: dgoreinnamah |
youtube: Darius Alexander Go Reinnamah | http://goreinnamah.com

You may also like...