Serunya Rute Pendakian Gunung Latimojong

Masih tidak percaya rasanya kalau kaki ini telah meninggalkan jejaknya di puncak tertinggi Tanah Sulawesi, Puncak Rante Mario. Perjalanan menuju Atap Sulawesi, Gunung Latimojong ini bisa dibilang perjalanan yang tidak sulit namun juga tidak mudah. Kata yang paling tepat untuk menggambarkan perjalanan ini adalah “SERU”.

Mau tau bagaimana serunya rute pendakian Gunung Latimojong? Selamat membaca tulisan berikut:

PERKENALAN DENGAN GUNUNG LATIMOJONG

Gunung Latimojong masuk dalam jajaran 7 summits of Indonesia.
Pic via GNFI

Orang tua dulu bilang, kalau kita mau mendekati seseorang maka kita harus kenali dulu orang tersebut. Kita kenali  dulu sifatnya, makanan kesukaannya, hobinya, orang tuanya, dan banyak hal lainnya. Sama halnya dengan mendaki gunung, untuk dapat mendakinya kita pun harus kenal dulu dengan gunung ini. Kita kenali karakteristik medannya, rute pendakiannya, julukannya, dan beberapa hal penting lainnya.

Dari survey kecil-kecilan yang Daily Voyagers lakukan terhadap beberapa orang pendaki, ternyata masih banyak lho yang belum tau ada gunung yang namanya Latimojong. Namanya saja mereka tidak tahu apalagi lokasi dan informasi detil lainnya. Ekspresi muka dan pertanyaannya nyaris sama ketika Daily Voyagers menceritakan kalau kami baru saja melakukan pendakian Gunung Latimojong. Mukanya bingung dan dilanjutkan dengan pertanyaan, “Gunung dimana tuh?”.

Kegagahan dan keelokan gunung ini ternyata belum semua orang Indonesia sendiri mengetahuinya. Untuk itu mari kita kenalan lebih dalam lagi.

Gunung ini merupakan gunung tertinggi di tanah Sulawesi dengan puncak tertingginya yang bernama Puncak Rante Mario (3478 MDPL). Rante Mario sendiri memiliki 6 saudara lainnya yaitu Buntu Sinaji (2430 MDPL), Buntu Sikolong (2754 MDPL), Buntu Bajaja (2700 MDPL), Buntu Latimojong (2800 MDPL), Rante Kambola (3083 MDPL) dan yang terakhir Buntu Nenemori (3097 MDPL). Lokasinya sendiri berada di Kabupaten Enrekang, Sulawesi Selatan.

Kalau di dunia ada yang namanya “World 7 Summits” alias puncak-puncak tertinggi di dunia, nah di Indonesia juga ada yang namanya “7 Summits of Indonesia” alias puncak-puncak tertinggi di Indonesia dan nama Gunung Latimojong termasuk di dalamnya. Bersama dengan Semeru, Kerinci, Bukit Raya, Bianiya, Rinjani dan Jaya Wijaya, Nama Gunung Latimojong bersanding indah di dalamnya.

Harus diakui popularitas Binaiya, Bukit Raya dan Latimojong memang tidak sepopuler keempat gunung lainnya dalam daftar 7 Summits of Indonesia. Namun hal tersebut bukan berarti gunung ini tidak indah, gunung ini tidak menarik atau gunung ini “tidak penting”. Justru dibalik ketidakpopuleran nama-nama tersebut ditelinga kita, ada sebuah dorongan agar kita lebih banyak membaca dan mencari tahu tentang keindahan mereka dan menyebarkan informasi tersebut kepada banyak orang.

*****

Itu tadi sedikit perkenalan singkat dengan Gunung Latimojong. Yuk sekarang kita masuk ke serunya rute perjalanan dan pendakiannya:

BANDARA→DESA BARAKA (BASE CAMP LEMBAYUNG)

RUmah Pak Dadang yang juga merupakan Base Camp Lembayung

Perjalanan dimulai dari Bandara Sultan Hasanuddin Makassar menuju Desa Baraka, Kabupaten Enrekang, Sulawesi Selatan. Untuk menuju ke sana, kalian bisa menggunakan mobil atau kendaraan sewaan. Kalau kalian dalam jumlah yang cukup banyak kami sarankan kalian menggunakan Elf (Mini Bus).

Perjalanan Bandara – Baraka memakan waktu kurang lebih 6 jam dan rutenya tidak begitu berat. Jalannya sangat bagus karena jalur trans Sulawesi ini sudah full aspal. Tujuan voyagers di Desa Baraka ini adalah Base Camp Lembayung. Base Camp Lembayung merupakan sebuah pos sekaligus rumah dari seorang bernama Pak Dadang yang dibuat (salah satunya) untuk menampung pendaki yang ingin melakukan pendakian ke atau pasca melakukan pendakian dari Gunung Latimojong.

Di tempat Pak Dadang (Base Camp Lembayung) inilah kita akan menunggu Jeep yang akan mengantarkan kita menuju Desa Karangan, desa terakhir sebelum melakukan pendakian. Di tempat ini pula kita bisa mempersiapkan bawaan kita (packing) sebelum melakukan pendakian. Oh iya, Elf hanya bisa mengantar sampai di sini saja karena rute untuk menuju Desa Karangan sangatlah berat sehingga voyagers harus menyewa sebuah Jeep.

Sebelum tiba di Base Camp Lembayung, voyagers akan melewati Pasar Baraka. Di Pasar Baraka inilah voyagers bisa berbelanja kebutuhan selama pendakian seperti gas, spiritus, bahan makanan, minuman dan juga obat-obatan. Gunakan waktu kalian di sini untuk belanja kebutuhan.

Kalau memang ada kebutuhan yang tidak kalian bawa seperti tenda atau kompor, jangan ragu untuk mengatakannya kepada Pak Dadang. Pak Dadang pasti akan membantu kalian. Di tempat Pak Dadang ini juga kalian bisa mencari teman pendakian apabila kalian belum memiliki teman untuk mendaki.

*Saran: Lebih baik ambil penerbangan paling malam menuju Makassar. Kenapa? Karena setibanya di bandara kita bisa langsung berangkat menuju Desa Baraka dan memanfaatkan waktu perjalanan tersebut untuk tidur di Elf. Saat bangun di pagi hari, kita bisa langsung bersiap untuk melakukan pendakian (berbelanja, packing, mendaki).

BARAKAKARANGAN

Jeep yang digunakan untuk menuju Karangan dari Baraka serta gambaran rute yang akan dilalui

Perjalanan dari Desa Baraka menuju Desa Karangan harus dilakukan dengan menggunakan Jeep, hal ini karena medannya yang sangat parah. Lama perjalanan kurang lebih 2 jam 30 menit. Di 30 menit pertama, jalanan masih cukup bagus dan kemungkinan besar kalian masih bisa tertawa pada bagian ini. Namun 2 jam berikutnya, jangan harap kalian bisa duduk dengan nyaman.

Rute 2 jam selanjutnya voyagers akan dihadapkan dengan jalanan bertanah dan berlumpur. Jalurnya yang naik turun dan juga berliku membuat badan kita tidak akan berhenti bergoncang selama berada di dalam Jeep. Kondisi akan semakin memburuk kalau hujan turun.

Yang bisa menjadi “obat” hanyalah pemandangan sekitar. Jalur yang kita lewati ini adalah sebuah jalur yang dibuat membelah gunung. Hijaunya ladang dan suara burung yang terkadang terdengar akan menemani dan memberi warna pada perjalanan voyagers dari mulai Baraka hingga ke Karangan.

Jeep bisa menampung hingga 14 orang (ditambah carrier yang kita bawa). Tapi voyagers perlu ingat kalau harga berbanding terbalik dengan kenyamanan. Semakin banyak orang yang naik jeep maka akan semakin murah biaya patungannya namun semakin tidak nyaman voyagers di dalam jeep. Voyagers akan duduk berhimpit-himpitan dan tak jarang saling pangku agar bisa muat, tapi disitulah letak keseruannya.

*Saran: Misalkan kalian kurang orang dan butuh teman untuk patungan jeep (mengingat harga sewanya yang tidak murah). Kalian bisa menunggu atau mengkonsultasikannya dengan Pak Dadang. Barangkali dia punya informasi mengenai pendaki lainnya yang ingin mendaki Gunung Latimojong juga.

DESA KARANGAN→POS 1 (BUNTU KACILING)

Dari kiri ke kanan:
1. Spanduk selamat datang di desa Karangan
2. Pos pendaftaran pendakian
3. Kartu Pendakian
4,5,6,7. Perjalanan menuju Pos 1.
8. Tanda Pos 1
9. Pemandangan dari Pos 1
10. Warga di Desa Karangan

Setibanya di Desa Karangan, ada 2 hal yang bisa kalian lakukan yaitu memutuskan untuk langsung melakukan pendakian atau beristirahat terlebih dahulu di Desa Karangan. Untuk yang memutuskan beristirahat terlebih dahulu di Desa Karangan, kalian bisa menginap di salah satu rumah warga di sana yang bernama Ambe Simen. Kalian bisa menginap di sana satu malam sembari memulihkan stamina baru kemudian melanjutkan perjalanan esok hari. Tidak ada biaya khusus untuk menumpang di sana, berilah keluarga tersebut se-rela-nya kalian saja.

Bagi yang memutuskan untuk langsung lanjut melakukan pendakian, alangkah baiknya makan terlebih dahulu di warung makan yang ada di Desa Karangan. Perjalanan dengan jeep tadi pastilah menguras tenaga. Setelah makan, voyagers bisa langsung menuju ke Pos Pendakian untuk melakukan pendaftaran. Biaya yang diperukan untuk melakukan pendakian adalah Rp 10.000/orang. Simpan baik-baik kartu yang voyagers dapat saat melakukan pendaftaran tersebut karena kartu tersebut harus voyagers kembalikan saat turun nanti.

Perjalanan dari Desa karangan menuju Pos 1 kurang lebih memakan waktu 1 jam 30 menit dengan tempo perjalanan yang normal (tidak terlalu cepat). Voyagers akan melewati ladang-ladang warga yang umumnya ditanami Kopi atau Bawang Merah. Jalanan masih cukup bagus dan sebagian jalan sudah di semen karena jalur ini juga digunakan kendaraan (motor) warga yang ingin menuju ke daerah perkebunannya.

Sepanjang perjalanan dari Desa Karangan ke Pos 1, voyagers akan melihat beberapa aliran air dari mata air pegunungan yang membasahi jalan.  Pohon-pohon besar hanya terlihat di kejauhan dan track pendakiannya pun belum begitu terjal. Sebagai penanda kalau kita telah tiba di Pos 1 adalah adanya sebuah piring bertuliskan “Pos 1” yang dipaku pada sebuah batang kayu yang sengaja diletakkan di sebuah lahan terbuka.

Pos 1 ini merupakan pos terakhir dimana kita bisa melihat awan bebas tanpa terhalang pohon-pohon besar. Pemandangan seperti ini baru bisa kita nikmati kembali nanti kala kita sudah mencapai pos 7. Bentuk Pos 1 ini memang seperti sebuah gunung kecil, itulah sebab tempat ini dinamakan Buntu (gunung) Kaciling (kecil).

POS 1 (BUNTU KACILING)→ POS 2 (GUA SARUNG PA’PAK)

Dari Kiri ke Kanan:
1. Pos 1
2. Perjalanan meuju Pos 2
3. Jembatan pos 2
4. Perjalanan dari Pos 1 ke Pos 2
5,6,7. Pos 2 (Gua)
8. Sumber air di Pos 2

Dari Pos 1 ke Pos 2, jalur akan semakin mengecil dan kiri kanan voyagers kini mulai ditutupi oleh pohon-pohon yang tinggi besar. Langit pun mulai tertutupi oleh kelebatan pohon-pohon tersebut. Jalanan kini sudah benar-benar tanah dengan beberapa akar pohon besar yang menyembul keluar dari dalamnya.

Untuk menuju pos 2 ini voyagers akan melewati sebuah jaur dimana voyagers harus melipir di sebelah kanan jalan karena dibagian sebelah kiri merupakan jurang yang cukup dalam. Saat melipir inilah disarankan kalian berpegangan pada akar-akar pohon yang menyembul keluar tadi.

Perjalanan dari Pos 1 ke Pos 2 memakan waktu kurang lebih 2 jam. Sebuah penanda kalau kita sudah semakin dekat dengan pos 2 adalah semakin jelasnya suara aliran air yang kita dengar karena pos 2 ini letaknya memang tepat di pinggir aliran air. Terdapat jembatan besar yang akan membantu kita untuk menyeberangi aliran air yang cukup deras tersebut.

Perjalanan menuju pos 2 ini akan sedikit menanjak dan lebih banyak menurun karena pos 2 ini letaknya berada di lembah. Tepat di depan jembatan yang Daily Voyagers sebutkan tadilah terdapat sebuah tempat yang menyerupai sebuah gua, itulah pos 2.

*INFO: Di Pos 2 ini voyagers bisa bermalam dengan atau tanpa membangun tenda. Apabila ingin bermalam dengan tanpa menggunakan tenda, voyagers hanya perlu membentangkan matras kemudian tidur di atasnya dengan berbalut sleeping bag. Gua tersebut akan melindungi voyagers dari hujan yang turun.

POS 2 (GUA SARUNG PA’PAK)→POS 3 (LANTANG NASE)

Perjalanan menuju Pos3 yang berat

Rute pendakian dari Pos 2 menuju ke Pos 3 merupakan rute terpendek yang ada di Gunung Latimojong ini. Hal itu dibuktikan dengan waktu tempuhnya yang kurang lebih hanya 55 menit. Namun jangan kira perjalanan menuju pos 3 ini akan berjalan dengan mudah. Meskipun jalur terpendek namun sudut elevasinya merupakan yang paling tinggi. Kemiringannya bisa mencapai kurang lebih 80º.

Untuk menuju Pos 3 ini voyagers dituntut untuk memiliki kaki dan tangan yang cukup kuat. Dengan bantuan akar-akar pohon, voyagers akan menggunakannya sebagai sarana pegangan untuk bisa sampai ke atas. Kalau voyagers beruntung, voyagers bisa berpegangan pada tali webbing yang sudah dibentangkan oleh pendaki sebelumnya.

Pos 3 merupakan sebuah tanah yang cukup lapang dengan pohonn-pohon besar yang mengelilinginya. Bisa juga digunakan sebai tempat untuk camping namun cukup jarang orang yang berkemah di sini kalu tidak karena benar-benar terpaksa. Salah satu alasannya adalah tidak ada sumber air di pos 3 ini. Setelah di Pos 2, sumber air baru akan ditemukan lagi di Pos 5.

Papan biru dengan tulisan “Pos 3” berwarna merah merupakan tanda kalau kita sudah tiba di pos ini.

*INFO: Jalur ini benar-benar terjal dan akan sangat sulit dilalui ketika hujan turun. Berhati-hatilah dan gunakan akar agai pegangan untuk menarik dirimu smpai tiba di Pos 3.

POS 3 (LANTANG NASE)→POS 4 (BUNTU LEBU)

Dari kiri ke kanan:
1&2. Pos 3
3,4,5. Pos 4

Sudut kemiringan dari rute pendakian Pos 3 menuju Pos 4 kini lebih mereda dibandingkan dari Pos 2 ke Pos 3. Meskipun begitu, jalur ini bisa dikatakan masih cukup terjal juga. Kabar gembira lainnya adalah dari Pos 3 ke Pos 4 ini banyak bonusnya alias “jalur datar”, tidak melulu menanjak. Ya meskipun tidak panjang namun cukup untuk menjadi “hadiah” bagi para pendaki.

Sama halnya dengan pos 3, Pos 4 ini juga bisa dijadikan tempat untuk mendirikan tenda. Tanah lapang di sini pun juga lebih besar. Namun, lagi-lagi tempat ini umumnya hanya dijadkan tempat istirahat sementara oleh para pendaki. Papan hitam dengan tulisan “Pos 4” berwarna biru yang terpaku di badan sebuah pohon menjadi petunjuk keberadaan pos ini.

Lama perjalanan kurang lebih 1 jam dan di pos 4 ini voyagers juga mulai akan melihat beberapa pepohonan mulai ditumbuhi oleh lumut.

POS 4 (BUNTU LEBU)→POS 5 (SOLOH TAMAH)

Dari kiri ke kanan:
1. Camping ground Pos 5
2. Pohon yang menyerupai Huruf A
3. Papan “dilarang mengotori air” pos 5
4. Papan penunjuk Pos 5.
5. Sumber air di Pos 5

Perjalanan dari Pos 4 ke Pos 5 memakan waktu kurang lebih 2 jam. Rute ini tidak beda jauh dengan rute dari Pos 3 ke Pos 4. Yang cukup mistis di sini adalah voyagers akan melewati sebuah pohon yang berbentuk seperti huruf “A”. Lubang antara kaki-kaki pohon yang menyerupai huruf “A” tersebut dipercaya sebagai gerbang dunia lain. Mitosnya, melalui lubang tersebutlah mahluk-mahluk halus datang ke dunia manusia ini.

Setibanya di Pos 5, voyagers akan melihat banyak tenda di tempat ini karena memang tempat ini adalah camping ground. Pos 5 ini bisa menampung lebih dari 10 tenda ukuran besar. Kalau ingin bermalam, pos ini merupakan salah satu pos yang paling ideal untuk membuka tenda.

Seperti yang sudah Daily Voyagers jelaskan tadi, di Pos ini terdapat mata air hanya saja lokasinya tidak terlalu dekat seperti yang ada di pos 2. Untuk mengambil air kita harus berjalan kurang lebih 10 menit lamanya. Rute pengambilan airnya sendiri tidak bisa dikatakan mudah, banyak pohon tumbang yang menutupi jalur tersebut. Kita harus sangat berhati-hati untuk melewati jalur tersebut karena kalau sampai terpeleset sedikit maka resikonya jatuh ke jurang yang ada di sisi kiri jalan menuju sumber air tersebut.

*INFO: Dikarenakan rute pengambilan airnya yang cukup sulit, disarankan voyagers untuk mengambil air saat siang atau sore hari. Kenapa? Karena kalau sudah malam hari maka rutenya menjadi sulit untuk terlihat dan akan sangat berbahaya apabila memaksakan diri. Sekali mengambil air pun kalau bisa langsung banyak (5-6 botol sekaligus) sehingga tidak harus bolak-balik.

POS 5 (SOLOH TAMAH)→POS 6 (BUNTU LATIMOJONG)

Pemandangan langit dari Pos 6

Pendakian Pos 5 menuju Pos 6 Hampir mirip dengan Pos 2 menuju Pos 3, jalurnya cukup menanjak. Perjalanan memakan waktu kurang lebih 1 jam 30 menit. Di pos 6 ini, kita sudah bisa melihat langit dengan bebasnya, tidak ada pepohonan yang menutupi atapnya, langit terlihat jelas dari sini.

Semakin banyak pohon atau tanaman yang dihinggapi oleh lumut di pos 6, ya kita memang sudah akan memasuki kawasan hutan lumut.

POS 6 (BUNTU LATIMOJONG)→POS 7 (KOLONG BUNTU)

Dari kiri ke kanan:
1 & 2. Hutan Lumut
3. mata air pos 7
4. Pemandangan dari Pos 7
5&6. Pos 7

Nah, di perjalanan dari Pos 6 ke Pos 7 ini kita akan melewati sesuatu yang spesial yaitu hutan lumut. Hutan lumut yang seperti ini kemungkinan hanya bisa kalian temui di Gunung Latimojong ini, tidak di gunung lain. Beberapa batang pohon mulai ditutupi oleh lumut yang bentuknya menggendut menyerupai sarang lebah. Situasi seperti ini membuat kita seolah berada dalam cerita Alice in Wonderland.

Pohonnya yang besar dan seringnya kabut yang menutupi puncak gunung ini membuat udara di sini menjadi cukup lembab, itulah alasan mengapa lumut tumbuh subur di sini. Dari atas pos 6 ini kita bisa melihat pegunungan Latimojong yang membentang dengan luas dari barat hingga ke timur.

Perjalanan dari Pos 6 menuju Pos 7 sendiri memakan waktu kurang lebih 2 jam. Setibanya di Pos 7 kita akan melihat tanah yang cukup besar yang merupakan camping ground. Tempat berkemah di pos 7 ini lebih besar dari yang ada di Pos 2 namun lebih kecil bila dibandingkan dengan yang ada di Pos 5. Letak sumber airnya pun tidak sesulit yang ada di Pos 5.

POS 7 (KOLONG BUNTU)→PUNCAK RANTE MARIO

Dari kanan ke kiri
1. Batu bersusun
2. Tanah lapang menuju puncak rantemario
3. istirahat di perjalanan menuju Puncak
4,5,6. Puncak Rantemario
7. Lapangan setelah gerbang

Di Pos 7 ini kita akan melihat sebuah prasasti yang bertuliskan nama salah seorang pendaki yang meninggal kala melakukan pendakian di gunung ini. Menanjak sedikit dari prasasti tersebut kita akan sampai di Gerbang menuju Puncak. Gerbang menuju puncak ini ditandai oleh pohon yang benar-benar sudah ditutupi lumut di seluruh bagiannya yang membuat pohon ini terlihat seperti layaknya sebuah monster.

Melewati pohon tersebut, voyagers akan melihat lapangan yang cukup luas. Mulai dari lapangan itulah Daily Voyagers merasa kalau gravitasi di tempat itu berbeda dengan pos-pos lainnya. Dari mana kami merasa kalau itu berbeda? Dari banyaknya batuan yang bersusun tinggi hasil karya para pendaki yang mungkin beristirahat sejenak di tempat ini.

Pernahkah voyagers menyusun batu ke atas secara acak tanpa terjatuh sehingga membentuk sebuah menara kecil? Nah, di area sepanjang lapangan ini hingga Puncak Rante Mario voyagers bisa melakukannya dengan sangat mudah. Dengan mudahnya batu-batu tersebut akan tersusun ke atas kala kita meletakkan satu batu di atas batu yang lainnya. Waktu Daily Voyagers mencoba melakukan susun batu tersebut di Pos 5, proses tersebut gagal. Namun ketika dilakukan di area ini, tanpa harus bersusah payah hal tersebut dapat dilakukan.

Pendakian menuju puncak ini track-nya cukup landai, hanya saja jalurnya cukup panjang. Kita akan disuguhkan dengan  pemandangan “puncak di balik puncak”. Maksudnya adalah voyagers akan menyangka kalau puncak tersebut adalah puncak Rante Mario padahal bukan, dan di balik puncak tersebut ternyata masih ada puncak yang lebih tinggi lagi.

Puncak Rante Mario ditandai dengan batu berbentuk balok yang cukup besar yang diletakkan di atas batu tertinggi di Puncak Rante Mario. Dengan berfoto di batu yang bertuliskan “Rante Mario 3478 MDPL” inilah berarti kita sudah sampai di Atap Sulawesi, titik tertinggi tanah Celebes.

Itu tadi sedikit gambaran bagaimana rute yang harus kalian lalui kalau ingin melakukan pendakian ke Gunung Latimojong. Untuk melihat full itinerary menuju Gunung Latimojong, kalian bisa membacanya DI SINI.

Semoga Informasi di atas dapat membantu ya :

Happy Traveling 🙂

Biaya

  1. Sewa Elf (Bandara →Baraka→Toraja→Bandara): Rp 3.600.000
  2. Sewa Jeep (Baraka →Karangan→Baraka): Rp 1.800.000
  3. Pendakian: Rp 10.000/orang

Camping Ground

Camping Ground + lokasi sumber air berada di Pos 2, 5 dan 7

Kontak

  1. Pak Dadang (Base Camp Lembayung) →081354976976
  2. Sewa Elf →082332933272
  3. Bapak Ira Jeep Latimojong→085394710092
  4. Bapak Iwan Jeep Latimojong→082194186773

Alternatif Pendakian

Alternatif Pendakian

We’ve climbed the mighty mountain. I see the valley below, and it’s a valley of peace.
— George W. Bush

Comments

comments

Powered by Facebook Comments

Darius Go Reinnamah

Twitter: @dgoreinnamah |
IG: @dgoreinnamah |
FB: dgoreinnamah |
youtube: Darius Alexander Go Reinnamah | http://goreinnamah.com

You may also like...