Batu Suanggi Ambon: Misteri dibalik Batu di Tengah Laut

Harus diakui, cerita yang berkaitan dengan hal mistis atau yang berbau supernatural memang masih menjadi konsumsi dari warga Indonesia. Di perkotaan, di daerah yang sudah maju dan modern sekalipun, masih banyak orang yang percaya kepada hantu atau takhayul. Sebagai contoh, beberapa teman masih takut ditinggal sendirian di rumah pada malam hari. Ketika ditanya kenapa, bukan takut terhadap maling atau pencuri yang menjadi alasannya, namun takut ditemani oleh mahluk yang tak kasat mata.

Lantas bagaimana dengan di daerah, apakah sama? Di daerah, kadar cerita mistisnya jauh lebih kuat dibandingkan di perkotaan. Kepercayaan akan mahluk-mahluk yang memiliki kekuatan gaib dan sering hadir di masyarakat masih cukup mendominasi. Bahkan Daily Voyagers pernah mengalaminya sendiri, ada suatu daerah yang melarang kita untuk bercerita tentang hal yang berbau mistis, takutnya si mahluk tersebut akan datang dan meneror kita yang hadir di situ. Setiap daerah di Indonesia mempunyai cerita mistis dan mitosnya masing-masing.

Ambon pun tak luput, tanah manise ini punya cerita mistisnya sendiri yang juga ‘tidak kalah’ dari daerah-daerah lainnya. Ada satu cerita yang Daily Voyagers dapatkan sendiri ketika baronda ke negeri Wakasihu, Leihitu Barat, Maluku Tengah.

Perjalanan ke Wakasihu

Di suatu hari yang indah, angin berhembus pelan menerjang panasnya kota Ambon, memberikan sedikit kesejukan bagi kami yang sudah cukup kegerahan menunggu datangnya mobil yang kami sewa. Meskipun sudah terbiasa dengan panasnya Jakarta, namun entah kenapa kami masih mengeluh dengan panas yang menghampiri. Seolah kulit ini tak pernah mengenali.

Akhirnya Bung Carlos dan Bung Ucu datang menjemput kami di daerah Belakang Soya, tempat dimana kami bermalam. Dengan segera kami masuk ke dalam mobil tanpa mengucapkan salam terlebih dahulu. Kami sudah tidak kuat, ingin rasanya cepat-cepat badan ini terkena hembusan angin yang keluar dari pendingin udara di dalam mobil. Bung Carlos yang sudah mengetahui kondisi kami pun hanya tersenyum. Guna memastikan kami semua sudah naik, barulah dia masuk dan duduk di kursi kemudi.

Ambon panasssee, dong santai dulu sa baru katong baku bicara” katanya dengan logat Ambonnya yang sangat kental. 5 menit setelah angin surga dari pendingin udara menyesap keringat kami, barulah kami mulai menyapa Bung Carlos dan memperkenalkan diri kami. “Jadi katong mau kemana hari ini?” tanyanya setelah melihat wajah kami kembali ceria. “Tujuan kami banyak om, tapi yang paling akhir itu Air Terjun Ureng.” jawabku yang sudah tidak sabar untuk menjelajah sebagian kecil Ambon.

Jembatan Merah Putih di Ambon

“Oh, sebelum Ureng itu nanti banyak pantai bagus. Katong nanti berhenti sebentar sa untuk lihat-lihat. Seng talalu buru-buru toh?” tanya Bung Carlos. “Seng bung. Bung atur sa. Apa ale bilang beta iko.” jawabku dengan bahasa Ambon yang ala kadarnya.

Mobil pun melaju cepat melewati Jembatan Merah Putih, jembatan yang diresmikan Presiden Jokowi pada tahun 2016. Dengan dibangunnya Jembatan Merah Putih, perjalanan Jazirah Lei Timur di selatan menujuju Jazirah Lei Hitu Maluku Tengah di utara kini menjadi lebih cepat. Tanpa terasa, kami yang tadinya berada di pusat kota Ambon, kini sudah melewati Bandara Pattimura. Dari bandara Pattimura, kami masih berjalan terus melewati Hattu dan juga Liliboi.

Perjalanan begitu menyenangkan, ditemani birunya pantai di sebelah kiri jalan dan ditambah dengan alunan musik Maluku yang diputar keras oleh Bung Carlos, kami pun yang berada di dalam Mobil menjadi semakin terlena. Saking terlenanya, kami tidak sadar kalau kami sudah tiba di destinasi kami yang pertama di Wakasihu yaitu Pantai Huluwa.

Pantai Huluwa, Wakasihu

Pemandangan Pantai Huluwa

Batu Suanggi

Usai bermain sebentar di Pantai Huluwa yang berada di Wakasihu, Bung Carlos kembali menyalakan mobil dan mengarahkannya ke Desa Ureng. Baru sekitar 5 menit berjalan, pemandangan indah di sisi jalan kembali menghentikan laju kami. “Sebuah pemandangan unik yang sangat sayang untuk dilewatkan” kataku dalam hati. Bung Carlos yang seolah sudah paham dengan segera berhenti dan mematikan mesin mobil. “Silahkan turun dan jangan lupa ambil gambar ya.” katanya dengan manise. Perlahan kami pun turun melalui pintu sebelah kiri.

Sebuah batu besar berdiri gagah di tengah laut yang biru tanpa ada penghalang apapun di sebelah kiri dan kanannya. Ombak pun terlihat takut untuk menggangguya. “Itu namanya Batu Suanggi. Gagahee? (gagah kan?)” suara Bung Carlos yang tiba-tiba mengagetkanku. “Iyo bung” timpaku. “Sebenarnya ada cerita yang agak seram dibalik berdirinya batu di tengah laut itu. Kalian mau dengar?” tanya bung Carlos. Tanpa janjian terlebih dahulu, semua kepala kami mengangguk secara bersamaan yang menandakan kami siap mendengar cerita dari Bung Carlos.

Batu Suanggi yang sudah terlihat dari kejauhan

Menatap Batu

Suanggi dalam bahasa orang timur (Maluku, NTT, Papua dan sekitarnya) memiliki arti dukun santet. Gelar ini diberikan kepada seseorang yang dianggap mempunyai ilmu hitam dan suka menggunakan ilmunya untuk berbuat suatu kejahatan, entah itu untuk menyakiti sesorang (memberikan penyakit) atau bahkan sampai membunuhnya.

Di Maluku, Suanggi terkenal dengan ritual tarian di bawah bulan purnama, dengan mempersembahkan seorang bayi sebagai korban pemujaannya. Bayi tersebut lantas akan dibunuh kemudian dimakan untuk menjadi “tenaga” bagi sang Suanggi. Tidak harus selalu bayi, siapapun bisa dijadikan korban persembahannya.

Suatu ketika di Wakasihu, terdengar desas-desus kalau ada seorang wanita yang yang memiliki ilmu hitam alias suanggi. Desas desus tersebut kemudian dibenarkan oleh mereka yang menguasai kemampuan untuk “melihat”, orang Maluku biasa menyebut orang dengan kemampuan tersebut “Mata Terang”. Warga pun berkumpul dan berencana untuk menangkap wanita tersebut karena sudah ada beberapa orang yang meninggal secara tiba-tiba.

Setelah menyusun rencana, wanita yang diberi gelar suanggi itupun ditangkap dan dibunuh. Karena dianggap sebagai kekuatan jahat, jenazah wanita tersebut pun tidak dikubur melainkan dibuang ke laut. Beberapa waktu setelah dibuangnya wanita tersebut ke laut, muncul Batu besar yang berdiri sendiri dengan gagahnya di tengah laut yang ada sampai sekarang ini. Masyarakat setempat percaya kalau batu tersebut adalah jelmaan dari wanita suanggi yang sebenarnya tidak mati, melainkan berubah wujud.

Jadi, Suanggi bukanlah setan yang bergentayangan atau menjelma menjadi manusia melainkan manusia yang melakukan ritual pemujaan kepada setan sehingga mendapat kekuatan (ilmu hitam) dan menggunakan kekuatannya tersebut untuk mengganggu manusia.

Batu Suanggi yang merupakan jelmaan dari dukun santet yang dibunuh

Dibalik keindahannya ternyata tersembunyi cerita yang menyeramkan

Kami pun hanya terdiam mendengar cerita dari Bung Carlos dan bulu kuduk ini perlahan mulai berdiri. Bung Carlos kembali melanjutkan ceritanya yang belum selesai. Ada banyak versi cerita dari keberadaan batu Suanggi ini. Ada yang bilang wanita tersebut dikutuk kemudian menjadi batu, ada pula yang mengatakan kalau wanita tersebut terkena tulah dari kekuatan jahatnya itu sendiri kemudian berubah menjadi batu. Namun pada intinya, semua cerita-cerita yang beredar mengenai batu ini adalah tentang suanggi itu tersebut. “Ya begitulah kira-kira ceritanya” dengan sedikit helaan nafas Bung Carlos mengakhiri ceritanya tersebut.

Memang ilmu hitam di daerah timur masih sangat kuat. Daily Voyagers pernah juga merasakan hal itu sendiri. Waktu kembali ke kampung halaman orang tua di Amarasi, NTT, saya dipesankan oleh orang tua saya untuk tidak bersalaman dengan orang yang saya tidak kenal. Pernah ada suatu kasus, ada seseorang yang berjumpa dengan orang yang bukan berasal dari desa kami. Usai bersalaman, hari besoknya orang tersebut jatuh sakit dan dua hari berselang ia meninggal dunia. Diduga, ia terkena ilmu hitam pasca bersalaman dengan orang yang tidak dikenal tersebut yang merupakan seorang suanggi.

Ya, boleh percaya boleh tidak, namun itulah beberapa cerita yang memang masih terjadi di daerah Maluku dan juga daerah timur lainnya.

Baca juga: Itinerary Jelajah Ambon

Pesan

Kemanapun kalian pergi, mintalah perlindungan kepada sang Tuhan lewat doa-doa yang kalian ucapkan padaNYA. Jangan lupa meminta restu kepada orang-orang terkasih yang ada di sekitar kalian. Dan yang paling terakhir, selalu berbuat baik dimanapun kalian berada 🙂

An idea, like a ghost, must be spoken to a little before it will explain itself.

— Charles Dickens

Comments

comments

Powered by Facebook Comments

Darius Go Reinnamah

Twitter: @dgoreinnamah |
IG: @dgoreinnamah |
FB: dgoreinnamah |
youtube: Darius Alexander Go Reinnamah | http://goreinnamah.com

You may also like...