Cerita Dibalik Lucunya Nama dan Indahnya Pulau Lengkuas

Langit cerah ditemani oleh kumpulan awan putih yang menyerupai panganan gulali menyertai perjalanan Hopping Island Daily Voyagers di Kabupaten Belitung. Laut Biru dan besarnya batu-batu granit yang tersusun acak namun rapi di beberapa pulau menambah indah lukisan alam yang digoreskan oleh Sang Tuhan. Hati pun tak bisa lagi menahan kesenangan ini kala kapal bermesin yang kami tumpangi mulai merapatkan diri ke salah satu pulau dari rangkaian Hopping Island kami, Pulau Lengkuas.

Pulau Lengkuas merupakan salah satu pulau paling terkenal yang ada di Belitung. Kebanyakan orang akan langsung tau lokasi dari pulau ini kala kita menyebutkan namanya. Namun tidak banyak orang yang tau kenapa pulau yang terkenal dengan Mercusuar-nya ini diberi nama Pulau Lengkuas. Kenapa namanya bukan Pulau Mercusuar, kan ikon dari pulau ini Mercusuar-nya? Apa ada budidaya Lengkuas yang dialakukan di pulau ini?

Pertanyaan seperti itu juga sempat mampir di pikiran Daily Voyagers, namun pertanyaan tersebut kini sudah tidak lagi mengganggu pikiran Daily Voyagers setelah kami tau alasan dibalik pemberian nama Pulau Lengkuas ini. Setelah tau, justru Daily Voyagers kini selalu tersenyum sendiri ketika mendengar nama pulau ini. Voyagers juga ingin tau kenapa pualu ini diberi nama Pulau Lengkuas? Yuk kita tilik sejarahnya.

Sejarah Nama Pulau Lengkuas

Setiap nama pasti ada sejarahnya, begitu pula dengan Pulau Lengkuas. Tapi tahukah voyagers kalau pulau terjauh atau pulau paling terluar dalam rangkaian Hopping Island ini mempunyai cerita yang lucu dibalik namanya? Seperti yang sudah tadi Daily Voyagers jelaskan, Mercusuar dan Pulau Lengkuas ini tidak bisa dipisahkan. Dari mercusuar inilah nama Lengkuas ini berasal dan percaya tidak percaya, Lengkuas di sini tidak ada kaitannya dengan tanaman lengkuas. Kok bisa?

Pada abad ke 17, sekitar tahun 1817, Pulau Belitung diserahkan oleh Inggris kepada Belanda melalui Surat Keputusan Komisaris Jenderal Kerajaan Inggris (17 April 1817). Pulau Belitung sejak dulunya memang sudah menjadi lalu lintas perdagangan dan menjadi tempat singgahnya beberapa kaum pedagang. Dengan padatnya aktivitas perdagangan di pulau ini dan kala itu suasananya masih dalam suasan penjajahan, maka pada tahun 1882 Belanda membangun mercusuar di pulau ini. Tujuannya tidak lain dan tidak bukan adalah untuk mengawasi kapal yang mondar mandir di perairan Belitung.

Mercusuar Lengkuas

Penampakan dari udara

Kalau nama yang tertera di mercusuar itu sendiri adalah “Vervaardigd Door L.I. Enthoven & Co Fabrikanten Te Gravenhage” atau kalau di-Indonesiakan artinya adalah menara ini dibangun oleh L.I. Enthoven Co, perusahaan yang terletak di Belanda. Orang-orang lebih mengenalnya dengan nama Mercusuar L.I. Enthoven.

Nah, Orang Indonesia jaman dulu itu umumnya buta huruf dan tidak mampu berbicara bahasa Belanda bahkan Inggris, begitu pula dengan mereka yang ada di Belitung. FYI, sebelum dijajah oleh Belanda, Belitung sempat berada di bawah kekuasaan Kerajaan Inggris selama beberapa tahun. Sulit bagi mereka untuk mengucapkan kata “L.I. Enthoven”, apalagi untuk meyebutkan nama pulau tersebut dengan “Pulau L.I Enthoven”.

Untuk mempermudahanya, maka pulau ini diberi nama Mercusuar, hanya saja dalam bahasa Inggris, sehingga namanya menjadi Pulau Lighthouse. Kalau ingin digunakan perbandingan, nasib kata Lighthouse ini tidak ada beda dengan kata septic tank dan kata Buitenzorg. Kata-kata tersebut rupanya cukup sulit untuk diucapkan oleh lidah orang Indonesia jaman dulu. Septic Tank lebih dikenal & lebih gampang diucapkan Sepiteng dan Buitenzorg lebih gampang diucapkan dengan Ontosoroh.

Mercusuar yang sudah berusia lebih dari 200 tahun

Meskipun sudah dipermudah menjadi Lighthouse,ternyata orang dulu masih juga sulit mengucapkan kata tersebut. Jadi agar lidah mereka tidak terlilit dan tidak kerepotan saat mengucapkan kata Lighthouse, maka diplesetkanlah kata Lighthouse tersebut menjadi Lengkuas. Ya, masih cukup masuk akal ya, LIGHTHOUSE = LENGKUAS.

Jadi kurang lebih seperti itulah kenapa pulau ini diberi nama Pulau Lengkuas 🙂

Keindahan Pulau Lengkuas

Sebagai informasi tambahan, Mercusuar di Pulau ini masih aktif lho meskipun lalu lintas kapal di Belitung tidak sepadat seperti jaman penjajahan kolonial Belanda dulu. Keindahan Pulau Lengkuas sendiri sebenarnya paling enak dinikmati dari atas mercusuar ini. Dari atas mercusuar inilah kita bisa melihat indahnya pemandangan pulau-pulau di sekitar Pulau Lengkuas dan dari atas sini  pula voyagers bisa melihat pohon-pohon kelapa dan gradasi warna biru laut yang menampakkan dirinya dengan jelas dan tanpa malu-malu.

Namun, konflik kepentingan yang terjadi antara pihak penjaga mercusuar dan beberapa warga Belitung membuat mercusuar ini tidak boleh lagi dimasuki, kita kini hanya bisa menikmatinya dari luar saja. Mercusuar ini masih ditutup sampai terakhir kali Daily Voyagers ke sini yaitu sekitar Juni 2017. Sungguh disayangkan periwstiwa ini harus terjadi.

Pemandangan dari Atas Pulau Lengkuas.
Pic via Wikipedia

The view

Spot Batuan Granit

Tidak perlu bersedih karena keindahan Pulau Lengkuas tidak hanya terletak pada mercusuarnya saja, Lagi pula akan sulit rasanya untuk bersedih di tempat secantik dan senyaman ini. Spot lainnya, kalau dari tempat memarkirkan kapal, Daily Voyagers sangat suka dengan spot batu-bati granit yang ada di kanan Mercusuar. Batu-batu granit besar memang menjadi ciri khas dari pantai-panti di Belitung. Batu-batu granit berukuran hingga 10x badan manusia di Pulau ini seolah menyembul dari dalam tanah. Kita bisa mendaki batu-batu tersebut dan berfoto dengan latar sebuah aliran air yang mengarah ke laut dan terkadang ada beberapa burung laut yang beterbangan di atasnya.

Masih di spot batuan granit tersebut, ada sebuah tempat yang diberi nama Telaga Bidadari. Spot ini merupakan sebuah kolam kecil yang akan terisi ketika air laut sedang pasang, ya seperti sebuah telaga namun ini versi mini. Umumnya air aut akan mengisi kekosongan di tempat ini saat sore hari, sedangkan siang hari air laut di sini pergi sebentar entah kemana.

Ilusi Kamera

Telaga Bidadari saat tidak ada air

Saat bermain di sekitar batuan granit ini, voyagers disarankan harus berhati-hati. Yang datang berkunjung ke tempat ini bukan hanya kita manusia, tapi ada juga mahluk lainnya seperti biawak dan jenis kadal lainnya. Jadi, jangan lupa untuk berbagi tempat dengan mereka ya.

🙂

Underwater

Bicara pulau dan pantai, maka tidak adil rasanya kalau kita tidak membahas juga soal lautnya. Warna air laut di sekitar Pulau Lengkuas ini tidak usah diragukan lagi kedahsyatannya. Warna biru lautnya mampu menentramkan hati yang luka, mengobati perasaan yang lara bahkan mengubah dukacita menjadi sukacita. Itu baru melihat warna air lautnya saja lho, coba bayangkan kalau voyagers bisa diving atau snorkeling di sana,

Kaau tadi kita sudah membahas keindahan yang ada di atas laut, mari sekarang kita masuk pada bagian bawah laut. Kondisi karang yang ada di Pulau Belitung umumnya masih sangat segar dan cukup terjaga, termasuk juga yang ada di sekitar Pulau Lengkuas. berbagai jenis Hard Coral masih berdiri gagah di bawah latu Belitung. Masih dari arah diparkirnya kapal, maka spot snorkeling yang umumnya dikunjungi oleh para wisatawan adalah yang berada di sebelah kiri Pulau Lengkuas.

Karang-karang segar di Pulau Lengkuas

Freediving di Pulau LEngkuas

Keuntungan sekaligus kerugian dari Spot snorkeling atau freediving dengan ribuan karang mempesona yang dimiliki Pulau Lengkuas ini adalah letaknya yag tidak begitu dalam, kurang lebih hanya 2-3 meter. Keuntungannya adalah kita tidak perlu effort lebih untuk melihat mahluk-mahluk cantik tersebut (cukup dari permukaan) dan kerugiannya adalah sangat dekat dengan kerusakan karena cukup mudah terjangkau oleh manusia.

Harus diakui bahwa kerusakaan laut sebagian besar dibuat oleh manusia. Untuk itu, untuk tetap menjaga kesehatan karang-karang di sini maka tidak disarankan menggunakan Fins ketika berada di spot ini karena takutnya fins tersebut akan menyentuh karang dan merusaknya. Cukuplah menggunakan googles dan Life Vest saja. Kalaupun harus menggunakan fims, pergunakanlah dengan sanga hati-hati. Arus di sini juga cukup tenang, jadi tanpa fins sekalipun kita tidak perlu takut akan terbawa arus.

Kalau karangnya bagus dan segar, pastinya juga banyak ikan di tempat tersebut. Ya memang benar, ikan-ikan dengan berbagai bentuk, warna dan ukuran ada di spot snorkeling Pulau Lengkuas ini (Laut di sekitar Pulau Lengkuas). Mereka dengan penuh keceriaan akan muncul dan menampakkan diri pada kita. Ada juga beberapa jenis ikan yang tidak malu untuk menghampiri dan meliuk-liuk dengan lincahnya disekitar manusia. Pokoknya kalau sudah sampai di sini, jangan lupa abadikan momen kamu dengan kamera underwater ya.

Katanya, di depan Pulau Lengkuas ini juga terdapat wreck Indomarine lho.

****

Itu tadi sedikit cerita mengenai sejarah nama Pulau Lenguas beserta keindahannya. Sampai berjumpa dipostingan Belitung selanjutnya ya.

Tschüss 🙂

We live on a placid island of ignorance in the midst of black seas of infinity. And it was not meant that we should voyage far.

— H.P. Lovecraft

Comments

comments

Powered by Facebook Comments

Darius Go Reinnamah

Twitter: @dgoreinnamah | IG: @dgoreinnamah | FB: dgoreinnamah | youtube: Darius Alexander Go Reinnamah | http://goreinnamah.com

You may also like...