Freediving Bukan Hanya Soal Menyelam, tapi Ada Pelajaran Hidup di Dalamnya

Relaxation phase – one full breath – breath hold – recovery breath, kurang lebih itulah satu siklus bernafas dalam olahraga freediving, olahraga yang sedang aku geluti dalam 2 tahun terakhir ini, olahraga yang sudah membawaku melihat indahnya lautan Indonesia dan bertemu dengan makhluk-makhluk bawah laut yang menggemaskan.

Buat yang belum kenal dengan olahraga ini, aku akan memperkenalkan sedikit. Dalam sebuah keluarga yang bernama menyelam, freediving ini masih bersaudara dengan scuba diving. Freediving adalah sang kakak dan scuba diving adalah sang adik. Meskipun freediving ini adalah sang kakak alias lahir terlebih dahulu, hal tersebut tidak membuat dirinya menjadi lebih populer (di Indonesia). Justru sang adiklah yang gaungnya lebih dikenal. Mungkin paradigma kalau freediving itu olahraga yang ekstrim membuatnya tidak terlalu dilirik.

Perbedaan mendasar antara kedua bersaudara tersebut terletak pada “nafas”. Karena freediving tidak menggunakan alat bantu nafas seperti scuba diving, maka freediver akan menahan nafas mereka selama proses penyelaman. Sedangkan scuba diving, karena menggunakan alat bantu nafas berupa tabung yang berisi oksigen, maka dia tidak diajarkan menahan nafasnya selama di bawah air, mereka harus terus bernafas guna mencegah pecahnya paru-paru.

Inilah freediving, olah raga yang dilakukan dengan tanpa menggunakan alat bantu nafas.

inilah scuba diving, olahraga menyelam yang dibantu dengan tabung oksigen untuk bernafas. pic via padi.com

Freediving murni menggunakan kekuatan tubuh dan pikiran. Dengan ditambah teknik yang benar, bisa aku pastikan kalau freediving ini merupakan olahraga yang aman dan menyenangkan. Meskipun tidak lebih populer dan kelihatannya jauh lebih sulit, namun hati ini sudah tertambat pada freediving.

“Wah, berarti tahan nafasnya harus lama dong. Berapa menit tuh bisa bertahan di bawah air?”

Menyelamnya sudah berapa dalam? Beneran bisa tuh menyelam dalam tanpa menggunakan alat bantu nafas?”

Itulah 2 pertanyaan paling sering ditanyakan oleh orang awam kepadaku dan aku selalu menjawabnya dengan jawaban “tidak ada yang tidak mungkin.

Air bukanlah dunia baru bagi manusia. Sejak di dalam rahim ibu, kita sudah akrab dengan air yang mengelilingi kita. Jadi bisa dikatakan kalau semua manusia adalah natural freediver.

Mengikuti Sertifikasi Freediving

Berbekal sebuah tiket pesawat yang sudah aku pesan 1 bulan sebelumnya, Agustus 2017 lalu aku terbang ke Pulau Dewata, Bali, pulau indah dengan pesonanya yang tidak pernah memudar. Freediving kali ini membawaku ke sebuah spot menyelam terbaik di Bali Timur yang bernama Amed. Tidak untuk rekreasi, kali ini bebannya sedikit lebih tinggi yaitu sertifikasi.

Bukan tanpa alasan Amed dipilih sebagai tempat penyelenggaraan sertifikasi oleh Mike, instruktur sekaligus founder dari Apnea Culture, sebuah sekolah freediving yang berbasis di Jakarta. Visibility yang baik, ombak yang relatif tenang serta pemandangannya yang bagus menjadi beberapa pertimbangan yang menjadikan tempat ini dipilih sebagai lokasi penyelaman.

Pantai Amed dengan Gunung Agung sebagai latarnya

Setelah kurang lebih 2 tahun belajar hanya dari sedikit literatur di internet dan berbekal melihat beberapa video di Youtube, akhirnya aku memutuskan untuk mengambil sertifikasi. Aku ingin mengevaluasi apakah teknik freediving yang sudah aku pelajari selama ini sudah benar dan juga untuk memastikan bagaimana cara untuk menyelam dengan aman dan nyaman.

Ujian untuk sertifikasi dibagi ke dalam 3 bagian: ujian tertulis, ujian kolam dan ujian laut. Karena aku sudah menyelesaikan ujian kolam di Jakarta, maka pada kesempatan kali ini aku hanya harus menyelesaikan ujian tertulis dan ujian laut saja. Ujian tertulis sama halnya seperti ujian sekolah, kita akan diberikan kertas berisi daftar pertanyaan seputar freediving dan kita harus menjawab semua pertanyaan tersebut. Kalau yang penasaran seperti apa ujian kolam itu, aku akan memberikan salah contoh dari sekian banyak hal yang diujikan, namanya static apnea.

Static artinya diam sedangkan apnea artinya tidak bernafas. Jadi static apnea adalah sebuah disiplin ilmu dimana kamu harus menahan nafas di bawah air selama mungkin dalam kondisi diam alias tidak perlu berenang. Pada tingkatan sertifikasi kali ini, aku baru dikatakan lulus setelah aku bisa menahan nafas selama minimal 2 menit. Tidak susah kan?

Sebelum memulai ujian, kami para murid yang akan mengikuti sertifkasi tersebut dikumpulkan di sebuah rumah makan. Total murid saat itu adalah 12 orang dengan didampingi oleh 3 instruktur. Selain untuk makan, tujuan utamanya adalah untuk saling mengakrabkan diri. Diharapkan dengan sambil makan maka suasana perkenalan akan menjadi lebih cair.

Setelah selesai makan, tiba-tiba Mike, instruktur kami berkata, “Mulai dari kamu yang di ujung sana, coba dong kasih tau ke saya dan semua teman-teman di sini alasan kamu mengikuti sertifikasi ini. Atau pertanyaan yang lebih mudahnya, kenapa kamu mau belajar freediving.

Secara bergantian tiap murid menjawab kenapa mereka mau belajar freediving. Berasal dari kepala yang berbeda, jawaban yang keluar pun sangat beragam. Salah seorang murid wanita menjelaskan kalau dia belajar freediving karena ingin tahu perbedaannya dengan scuba diving, bukan untuk membandingkan lebih enak yang mana tetapi ingin merasakan sensasi pada masing-masing kegiatan. Freediving dan scuba diving memang bukan untuk dibandingkan karena keduanya memiliki tujuan yang berbeda. 

Ada juga yang belajar freediving karena alasan yang cukup sepele buatku yaitu dia kepincut dengan foto keren temannya di instagram saat melakukan freedive. Tidak mau rasa cemburu itu semakin besar, dia pun memutuskan untuk belajar freediving.

Dari sekian banyak alasan yang dikemukakan, aku takjub pada satu alasan, yaitu untuk melawan rasa takut. Ada salah seorang peserta yang belajar freediving karena ingin melawan rasa takutnya terhadap air, terhadap kedalaman. Dia mau mendorong dirinya sampai sejauh itu, melawan salah satu ketakutan terbesarnya dan buat aku itu adalah hal yang luar biasa. Ia mengaku berenang pun dia tidak bisa, apalagi freediving. Dia tidak ingin ketakutannya terus mendominasi atas dirinya, dengan kemauannya ini dia ingin bisa mengalahkan ketakutannya tersebut.

Hasil Akhir

Ujian berlangsung selama 4 hari dan hasilnya hanya 3 dari 12 orang tersebut yang lolos sertifikasi. Aku tidak masuk ke dalam bagian 3 orang tersebut. Masih ada poin dalam ujian laut yang tidak bisa aku capai yaitu menyelam hingga kedalaman 16 meter.

Hal yang sedikit mengagetkan datang dari murid yang aku ceritakan ingin melawan rasa takutnya tadi. Meskipun aku dan dia sama-sama tidak lulus, tapi dia berhasil menyelam hingga kedalaman 15,2 meter, lebih jauh dari aku yang hanya mampu mencapai kedalaman 14,8 meter. Dia memang tidak lulus sertifikasi tapi buatku pencapaiannya sudah menjadi sebuah inspirasi.

Tidak lulus sertifikasi tidak membuat aku berkecil hati. Ini bukanlah akhir dari segalanya. Justru dari kegagalan ini aku harus introspeksi dan lebih giat lagi berlatih, aku masih bisa menyempurnakan kekuranganku di kesempatan berikutnya. Dari proses sertifikasi ini aku belajar dan menemukan banyak hal yang lebih penting, hal-hal yang bahkan bisa aku aplikasikan dalam kehidupan sehari-hari:

1. Relax

Buatlah dirimu se-relax mungkin baik sebelum dan saat melakukan penyelaman.
Pic via m.dominico

Salah satu syarat untuk melakukan olahraga ini adalah kita harus relax. Santai mulai dari ujung kaki hingga ujung kepala, mulai dari fisik hingga pikiran. “Yuk kita santai agar saraf tidak tegang, yuk kita santai agar otot tidak kejang.” Petikan lirik lagu Rhoma Irama tersebut benar-benar menjadi pegangan para freediver.

Di freediving kita belajar untuk memindai seluruh anggota tubuh kita. Kita mencari bagian mana yang tegang dan setelah ketemu maka kita harus meregangkan bagian tersebut. Karena otot yang tegang akan berpengaruh pada banyak hal. Dengan otot yang tegang maka proses ekualisasi bisa terganggu, konsumsi oksigen yang digunakan tubuh semakin banyak dan waktu penyelaman pun akan menjadi berkurang yang akhirnya berdampak pada performa menyelam yang tidak maksimal.

Setiap pertambahan kedalaman 10 meter maka tekanan yang dirasakan akan semakin besar. Di tengah tekanan yang semakin besar itulah kita harus tetap relax. Budaya relax dalam tekanan yang diajarkan dalam freediving ini terbawa sampai kehidupan sehari-hari. Secara tidak sadar hal tersebut meningkatkan kemampuan mental dan membantuku untuk tetap tenang dalam kondisi yang penuh tekanan sekalipun.

2. Komunikasi dan Percaya

Dalam freediving kamu tidak diperbolehkan menyelam seorang diri, harus ada buddy yang mendampingi kamu.

Olahraga freediving ini tidak boleh dilakukan oleh seorang diri, itu merupakan aturan dasar. Kamu harus punya minimal 1 partner yang bisa mendampingi kamu yang biasa kami sebut dengan istilah Buddy. Kepada buddy inilah kamu akan menjelaskan semua hal yang akan kamu lakukan ketika menyelam seperti mau turun ke kedalaman berapa, apa yang mau kamu lakukan di bawah sana, berapa waktu rata-rata dive time kamu, dan beberapa detail lainnya.

Buddy inilah yang akan menjaga kamu selama menyelam hingga kamu tiba kembali ke permukaan. Dia yang akan melihat kondisi kamu dan mulai bertindak apabila dia melihat ada tanda-tanda yang tidak beres dari dive kamu. Bisa dikatakan separuh nyawa kamu akan kamu percayakan kepadanya. Itulah mengapa komunikasi yang baik sangat perlu dilakukan, berikanlah info se-detail mungkin kepadanya.

Dari sini aku tahu betapa pentingnya komunikasi yang baik guna mencegah hal-hal yang tidak kita inginkan. Aku juga belajar untuk percaya kepada orang lain. Ketika menjadi seorang buddy bagi orang lain, aku pun belajar untuk bertanggung jawab terhadap apa yang sudah dipercayakan kepadaku.

3. Keluarga♥

Keluarga baru, Keluarga yang banyak membantuku belajar, tidak hanya tentang freediving tapi juga tentang hidup.
pic via m.dominico

Komunikasi kami tidak berakhir begitu saja setelah ujian. Guna mempererat hubungan dan mempermudah komunikasi, kami para murid yang baru saja melaksanakan ujian disatukan dalam satu wadah bersama murid Apnea Culture lainnya yang sudah terlebih dahulu mengikuti ujian (dan lulus ujian).

Aku tidak suka menyebutnya dengan istilah koneksi, aku lebih suka menyebutnya dengan istilah keluarga. Dari freediving ini aku menemukan keluarga baru, keluarga Apnea Culture. Keluarga dimana aku bisa berbagi banyak hal, tidak hanya seputar freediving tapi juga hal lainnya. Keluarga yang saling menguatkan dan menopang ketika ada salah satu anggotanya yang tertimpa duka. Keluarga yang saling berbahagia ketika ada salah satu anggotanya yang mendapat berita suka.

Dari freediving ini aku belajar, kamu tidak harus punya hubungan darah untuk menjadi bagian dari sebuah keluarga, kamu tidak harus lahir dari rahim seorang ibu yang sama untuk disebut saudara.

Dimanapun ujian berikutnya akan diselenggarakan, aku siap untuk mengikutinya. Kini aku tidak perlu pusing lagi untuk mencari tiket pesawat ke kota tujuan dimana aku akan menuntaskan sertifikasi ini. Melalui aplikasi Skyscanner, aku bisa melihat harga tiket pesawat yang ditawarkan oleh berbagai macam maskapai dari bermacam situs penjual tiket pesawat yang ada di dunia. Aku bisa dengan mudah melihat maskapai mana yang menawarkan harga tiket pesawat termurah.

Cara menggunakan aplikasi Skyscanner cukup mudah, kita hanya perlu mengikuti langkah berikut dan dalam hitungan kurang dari 5 menit maka tiket pesawat sudah berada dalam genggaman. Dengan Skyscanner, kini perjalananku menjadi semakin mudah. Terima kasih Skyscanner.

Cara memesan tiket pesawat melalui aplikasi Skyscanner

freediving mengajarkanku untuk mendorong diri melewati batas kemampuanku, melewati batas yang bahkan tak pernah terpikirkan olehku.

Comments

comments

Powered by Facebook Comments

Darius Go Reinnamah

Twitter: @dgoreinnamah |
IG: @dgoreinnamah |
FB: dgoreinnamah |
youtube: Darius Alexander Go Reinnamah | http://goreinnamah.com

You may also like...