Semarak Natal di Kampung Cingkes

Kampung Cingkes – Tanggal 25 Desember merupakan hari yang berbahagia bagi hampir seluruh umat Kristiani di seluruh dunia, termasuk di Indonesia, karena tanggal ini diperingati sebagai hari kelahiran Yesus Kristus sang Juruselamat dunia. Tanggal di kalender berubah merah, kantor diliburkan dan umat Kristiani diberi kesempatan untuk beribadah dan merayakannya.

Saya pun tak ketinggalan untuk merayakan hari penuh sukacita tersebut. Natal kali ini saya habiskan di kampung halaman mama di Kampung Cingkes, kecamatan Dolok Silau, Kabupaten Simalungun, Sumatera Utara. 99% penduduk kampung ini beragama Kristen dan natal merupakan perayaan terbesar kedua setelah Pesta Kebun yang diadakan setiap bulan ketiga.

Sedari pagi suasana sukacita sudah nampak di kampung ini. Para wanita sudah bersolek dan keluar rumah dengan kebaya paling cantiknya lengkap dengan Uis Gara yang tergantung indah di pundaknya. Kaum lelaki seolah tidak mau kalah, mereka pun keluar dengan menggunakan jas atau batik terbaiknya. Tidak perlu baru, yang penting rapi karena natal bukan soal baju yang baru namun hati yang baru untuk menerima kehadiranNya.

Wanita dengan Kebaya dan Uis Garanya. Kalau dalam Batak Toba disebut dengan ulos

Penyambut tamu wanita dengan Tudung di kepalanya dan penyambut tamu laki-laki dengan bulang-bulang di kepalanya

Anak-anak kecil terlihat sudah berlarian kesana kemari mencari teman sebayanya. Nini dan Bulang (nenek dan kakek) terlihat berjalan dengan tetap tidak bisa lepas dari sirih yang terus dikunyah. Semua sudah siap untuk tujuan yang sama yaitu ibadah dan perayaan Natal.

Ibadah natal di kampung cingkes ini cukup unik karena tidak dilaksanakan di gereja melainkan di Jambur (semacam gedung serba guna). Maklum saja, kalau natal seperti ini jemaat akan ramai sekali. Selain menjadi perayaan lahirnya Yesus Kristus, natal juga digunakan sebagai ajang untuk kumpul keluarga. Sanak saudara yang bekerja, sekolah atau kuliah di luar Cingkes akan datang dan berkumpul bersama pada moment ini.

Ditambah lagi mereka yang jarang gereja di hari minggu akan muncul ke permukaan bak kapal selam yang telah lama berada di bawah laut pada ibadah 25 desember ini. Itulah alasan dipilihnya jambur (yang lebih luas) ketimbang gereja sebagai tempat untuk ibadah dan perayaan natal. Meskipun terjadi pemindahan, namun hal tersebut tidaklah mengurangi esensi ibadah sama sekali.

Jambur, tempat pelaksanaan ibadah. Terlihat beberapa jemaat saling menyapa dan bersalaman sebelum ibadah di mulai

Ibadahnya ya duduk begini di atas tikar

Setibanya di pintu masuk jambur, penyambut tamu laki-laki & perempuan sudah siap dengan pakaian adat khas Karo. Si wanita tampil cantik dengan tudung di atas kepalanya dan si laki-laki dengan bulang-bulangnya. “Mejuah-juah”, salam khas Karo itu mereka teriakkan dengan diiringi jabatan tangan kepada setiap jemaat yang hendak masuk ke dalam jambur untuk beribadah.

Nuansa merah hijau terlihat di setiap sudut jambur dan yang paling meriah tentu ada di atas panggung tempat dimana mimbar berada. Musik-musik natal mengalun merdu mengiringi kedatangan jemaat sebelum ibadah dimulai.

Penggunaan kursi ditiadakan. Semua jemaat duduk bersama di atas tikar yang dibentangkan di sepanjang Jambur. Terlihat sebelum duduk, para jemaat saling bersalaman dan mengucapkan selamat natal satu sama lain.

Tepat pukul 09:00 WIB ibadah natal dimulai. Ratusan jemaat mulai tenang serta mempersiapkan hati dan pikiran untuk beribadah. Dari wajah-wajah mereka saya bisa melihat ada kesukaan besar di natal ini.

Baca juga: Jangan janji dengan Ambon

Petugas persembahan usai malaksanakan pelayanannya

Tata Ibadah dalam Bahasa Karo

Meskipun darah Karo mengalir ditubuh ini, namun saya sama sekali tidak bisa berbahasa karo. Alhasil sepanjang ibadah saya hanya kebingungan karena ibadah berlangsung dalam Bahasa Karo. Mulai dari nyanyian kidung jemaat, pembacaan alkitab, khotbah pendeta sampai kesaksian pujian, semua menggunakan Bahasa Karo.

Rasa-rasanya hanya saya yang kebingungan saat itu. Namun entah mengapa, saya bisa menikmati kebingungan itu. Sesekali saya bertanya pada mama tentang apa yang dikatakan oleh pendeta dan dengan sabarnya mama mengartikan semua yang saya tanyakan kedalam bahasa indonesia. Pada intinya, dalam khotbahnya pendeta berpesan hendaknya natal ini menyatukan kita yang hidup dalam keberagaman. Sedikit menyesal juga dulu tidak mau belajar bahasa karo.

Inilah Pakaian Kebanggan orang Karo

Nini (Sebutan nenek dalam bahasa karo) yang terlihat ikut hadir dalam ibadah natal

Selain pada penggunaan bahasa dan juga pakaian, nuansa kedaerahan dalam ibadah ini terlihat pada saat memasuki prosesi persembahan. Kalau biasanya gereja menggunakan tanggul khusus persembahan, di kesempatan kali ini tanggul tersebut digantikan dengan bakul nasi dari bambu. Bakul tersebut diedarkan mulai dari baris paling depan dan kedalamnyalah jemaat memasukkan uang persembahan.

Ibadah berlangsung penuh hikmat selama kurang lebih 2 jam. Setelah berkat dicurahkan yang disusul dengan menyanyikan lagu “Amin.. Amin.. Amin” ibadah natal pun selesai.

Makan Bersama

Selesai ibadah, acara dilanjutkan dengan perayaan. Namun sebelum memasuki perayaan, terlebih dahulu acara dimulai dengan kata sambutan oleh Kepala Desa. Ucapan selamat natal dan selamat menyongsong tahun baru 2018 keluar mengakhiri kata sambutannya yang diiringi gemuruh tepuk tangan dari para jemaat.

Acara yang ditunggu pun akhirnya datang juga yaitu acara makan bersama. Acara makan bersama di kampung ini cukup unik karena setiap keluarga diwajibkan membawa nasi, air minum dan alat makan sendiri. Terjawab sudah kebingungan saya dari awal ibadah melihat ibu-ibu membawa alat makan yang cukup lengkap.

Kumpulan Majelis yang makan bersama di atas panggung

jemaat yang terlihat sedang makan bersama

Lantas sayur dan lauknya dari mana? Sayur dan lauknya berasal dari urunan warga yang dalam hal ini diakomodasi oleh pihak gereja GBKP (Gerja Batak Karo Protestan) Runggun Cingkes. Sayur yang disediakan adalah sayur labu, sedangkan lauknya ada daging ayam, ikan dan daging babi.

Sebelum lauk pauk dibagikan dan acara makan dimulai, tiap warga akan duduk melingkar bersama anggota keluarganya masing-masing. Untuk majelis gereja, mereka diharuskan memisahkan diri dari keluarga dan makan di atas panggung bersama anggota majelis lainnya. Doa makan dipimpin oleh majelis yang sudah ditunjuk untuk bertugas.

Proses distribusi sayur dan lauk dengan menggunakan ember

Orang Karo di Kampung Cingkes ini makannya nasi merah lho

Saya tertawa geli melihat proses ditribusi lauk di sini. Media yang digunakan untuk menampung lauk adalah ember, ya ember yang biasa saya gunakan untuk merendam pakaian. Karena jemaat yang sangat banyak dan guna mendukung efektivitas pendistribusian makanan, maka dipilihlah ember yang volumenya cukup besar ini sebagai medianya. Menurut mama, hal ini merupakan hal yang biasa dikampung ini. Namun buat saya, makan dari ember ini adalah hal yang baru.

Berhubung perut juga sudah lapar, saya kesampingkanlah rasa geli dari ember tadi. Dengan lahap saya menyantap nasi dan lauk yang sudah dibagikan tadi. Terlihat juga jemaat yang lainnya hanyut dalam kebersamaan pada acara makan bersama ini dan sesekali senda gurau terselip disela makan mereka.

Lomba Antar Sektor

Paduan Suara oleh salah satu sektor dari GBKP Runggun Cingkes

Usai kegiatan makan bersama, jemaat diberikan waktu sejenak untuk membiarkan makanan itu benar-benar turun. Setelah dirasa cukup, acara dilanjutkan dengan lomba antar sektor. Sektor merupakan pembagian jemaat berdasarkan wilayah tempat tinggal guna mempermudah proses pelayanan gereja. Di GBKP Runggun Cingkes ini terdapat kurang lebih 10 sektor.

Setiap sektor diberi kesempatan untuk menampilkan 1 kebolehan di atas panggung yang nantinya akan dinilai oleh 2 orang juri. Antusiasme dari tiap sektor begitu nampak dalam lomba ini. Berbagai macam kreativitas ditampilkan seperti paduan suara dan juga acapella.

Hadiah bukanlah menjadi tujuan utama. Saling mengakrabkan diri antar jemaat dan antar sektor, serta ikut ambil bagian dalam menyemarakkan natal, itulah tujuan utama lomba ini diadakan. Kalau bicara soal pemenang, maka semua adalah pemenang karena mereka sudah memberikan yang terbaik dari yang mereka punya.

Penutup

Acara ditutup dengan pemberian perhatian kepada Emeritus dan juga janda-janda. Kepada Emeritus diberikan kenang-kenangan atas jerih lelah  pelayanan yang sudah mereka lakukan selama ini. Karena pelayanan yang mereka lakukan maka jemaat ini bisa bertumbuh hingga sekarang.

Sedangkan untuk janda-janda, mereka diberikan sembako dan juga hadiah lain guna membantu keseharian mereka. Sudah sepatutnya kita membantu para janda-janda sebab itulah perintah Tuhan.

***

Begitulah ibadah dan perayaan Natal di kampung Cingkes ini berlangsung meriah penuh kesederhanaan dan kebersamaan khas pedesaan. Tidak ada jarak, baik itu jemaat dengan jemaat atau jemaat dengan majelis gereja. Semua melebur menjadi satu tubuh.

Akhir kata, selamat natal 2017 bagi yang merayakan dan selamat menyongsong  tahun baru 2018 dengan penuh pengharapan.

Mejuah-juah

Christmas is a season not only of rejoicing but of reflection.

— Winston Churchill

Comments

comments

Powered by Facebook Comments

Darius Go Reinnamah

Seorang pria yang sedang terus belajar menulis. Alasan menulisnya simple saja, karena "tertampar" oleh kalimat dari Pramoedya yang berbunyi: Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian.