• Home
  • /
  • Trip
  • /
  • Travel Itinerary Ronda-ronda Ambon & Kei Kecil 7 Hari 6 Malam

Travel Itinerary Ronda-ronda Ambon & Kei Kecil 7 Hari 6 Malam

Pada pertengahan bulan April (10-16 April 2018), Daily Voyagers bersama 5 orang teman kembali lagi ke Tanah Manise. Setelah 1 tahun sebelumnya kami bermain di Pantai Ora, Seram dan sebagian pula Ambon (itinerary-nya bisa dilihat di sini), kali ini destinasi kami agak sedikit bergeser ke arah Tenggara yaitu Kei Kecil dan juga melengkapi beberapa destinasi di Ambon yang sempat tertunda.

Pengalaman menjelajah sebagian kecil Tanah Maluku ini menjadi salah satu pengalaman traveling paling seru yang pernah saya alami. Jauhnya destinasi bukan menjadi persoalan sebab setimpal dengan keindahan yang diberikan. Keramahan orang-orang di sana juga membuat saya rindu pada daerah Maluku.

Seperti sebuah kutipan Bahasa Inggris yang mengatakan “Happiness only real when shared”, berikut ini Daily Voyagers bagikan sedikit cerita dan itinerary yang kami lakukan selama menginjakkan kaki di Maluku Tenggara dan Ambon.

Ambon & Kei Kecil

Hari Pertama

kiri ke kanan (dari paling atas):
1. Pemandian Air Panas Tulehu
2. Jembatan Merah Putih
3. Pemandian Air Panas Tulehu
4. Nasi Kuning Depan Masjid Al-Fattah
5. Bandara Langgur, Kei.
6. Rujak Natsepa
7. Mama Manuputty sedang buat Rujak
8. Pantai Natsepa

Waktu (WIT)Deskripsi
07:00Tiba di Bandara Pattimura
07:00 - 07:30Perjalanan ke Jembatan Merah Putih
07:30 - 08:00Foto-foto di Jembatan Merah Putih
08:30 - 08:45Perjalanan ke kota Ambon untuk Sarapan
08:45 - 09:30Sarapan Nasi Kuning di depan Masjid Raya Al Fattah
09:30 - 10:05Perjalanan ke Pemandian Air Panas di Tulehu
10:05 - 11:05Mandi di Pemandian Air Panas Hatuasa
11:05 - 11:30Perjalanan ke Pantai Natsepa
11:30 - 13:00Bersantai dan Makan rujak di Pantai Natsepa
13:00 - 13:50Perjalanan kembali ke Bandara
13:50 - 16:00Check in dan menunggu penerbangan
16:00 - 18:00Penerbangan dari Pattimura ke Langgur
18:00 - 18:30Perjalanan dari Langgur ke Villa Monica
18:30Makan Malam dan Acara Bebas

Setelah penerbangan selama kurang lebih 7 jam dari Jakarta, akhirnya pukul 07:00 WIT,p saya dan beberapa orang teman tiba di bandara Pattimura, Ambon (CGK→UPG→AMQ). Kondisi pagi itu sangat cerah. Langit biru yang ditemani awan putih menyapa kami dengan penuh keriangan. Dikarenakan penerbangan menuju Pulau Kei baru akan berangkat pada pukul 16:00 WIT, kami pun memutuskan untuk membunuh waktu dengan berkeliling ke beberapa spot di Ambon dengan menggunakan mobil sewaan.

Tujuan pertama yang ditetapkan adalah Pemandian Air Panas di Tulehu. Namun kurang bijak rasanya apabila kami harus berendam dengan kondisi perut yang masih lapar. Suara dari dalam perut ini harus terlebih dulu diredam. Akhirnya diputuskan kalau sebelum ke Tulehu, kami akan mencari sarapan di kota dan pilihan pun jatuh kepada Nasi Kuning di depan Masjid Raya Al Fattah.

Perjalanan menuju Masjid Raya di kota Ambon pastilah melewati Jembatan Merah Putih. Sungguh sayang bila tidak berhenti sebentar di atas jembatan kebanggan masyarakat Ambon ini dan mengabadikan momen di sana. Beruntungnya, kondisi Ambon yang cerah saat itu membuat kami bisa merealisasikan keinginan tersebut. Usai berfoto di Jembatan Merah Putih, kendaraan langsung kami pacu menuju ke TKP, tanpa mampir-mampir ke tempat lainnya.

Setibanya di seberang Masjid Raya, seorang ibu berkerudung yang ditemani anak perempuannya langsung menyapa kami dengan senyum manis dari balik meja dagangannya. Tidak pakai lama, kami pun langsung memesan nasi kuning dengan lauk yang berbeda-beda. Selain karena nasi kuning di sini rasanya enak dan penjualnya yang ramah, harganya yang murah menjadi alasan kami memilih tempat ini *maklum, pengiritan*

Hati senang, lapar hilang dan kini waktunya kembali bajalang (berjalan). 35 menit adalah waktu yang kami butuhkan untuk bisa tiba di TulehuTerdapat 2 kolam air panas di Tulehu ini, satu yang menggunakan pompa dan satu lagi kolam alami (air keluar sendiri dari dalam tanah). Tidaklah sulit bagi kami memutuskan untuk mandi di kolam yang mana. Keseharian di kota yang kerap menggunakan pompa air membuat kami lebih memilih kolam alami di Pemandian Air Panas Hatuasa.

Pemandian Air Panas Hatuasa ini memiliki 3 kolam dengan level panas yang berbeda-beda. Kolam pertama, yang paling dekat dengan pintu masuk, merupakan kolam dengan level panas yang high. Kolam kedua dan ketiga dengan level panas medium dan low letaknya sedikit lebih ke dalam dengan posisi yang bersebelahan. Sekitar 45 menit kami habiskan untuk berendam di kolam medium dan low secara bergantian, sisanya kami gunakan untuk bilas dan berbincang sebentar dengan penjaga pemandian.

Suasana pemandian yang nyaman sebenarnya membuat kami ingin berlama-lama di sana. Namun karena kami harus ke tempat lain dan kembali lagi ke bandara, kami pun pamit undur diri dari tempat tersebut. Destinasi selanjutnya adalah ngemil-ngemil cantik di Pantai Natsepa. Selain pantainya yang memesona, Natsepa terkenal pula akan rujaknya. Rujak inilah yang menjadi cemilan kami siang itu.

Rujak Natsepa berbeda dengan rujak pada umumnya. Ya, rujak di sini menggunakan campuran buah Pala pada bumbunya sehingga menambah cita rasa dan menjadi ciri dari rujak ini. Kalau penggunaan buahnya sih terbilang sama. Tidak ada yang bisa menandingi nikmatnya menyantap rujak ditemani pemandangan Pantai Natsepa yang bersih dengan airnya yang jernih.

Dari Natsepa kami langsung kembali ke bandara. Sebenarnya masih banyak waktu untuk bisa mengunjungi satu spot lagi, hanya saja kami lebih memilih untuk tiba lebih awal dan menghabiskan lebih banyak waktu di bandara.

Penerbangan ke Langgur mengalami delay sekitar 15 menit. Perubahan kondisi cuaca di jalur udara menuju Langgur menjadi penyebab mundurnya jadwal penerbangan. Setelah dirasa cukup aman, penerbangan pun kembali bisa dilangsungkan.

Sesampainya di Bandar Udara Karel Satsuitubun, Kei Kecil, mobil jemputan dari penginapan yang kami sewa selama 3 hari ke depan sudah tiba. Dengan gesit sang supir mengangkat barang-barang bawaan kami yang super heboh ke atas mobil. Dikarenakan hari yang sudah mulai beranjak malam, kami tidak bisa mampir kemana-mana lagi. Perjalanan pun langsung dilanjutkan ke penginapan Villa Monica di daerah Pasir Panjang.

Hari Kedua

Kiri ke Kanan (Dari Atas):
1 & 2. Bukit Masbait
3. Jembatan Kabupaten Kota Tual
4. Pemandangan Watdeg dar Rumah Makan Saraba
5. Pantai Ngurbloat
6. Goa Hawang
7. Kolam Pemandian Evu
8. Pantai Ngurbloat
9. Mata Air Evu
10. Goa Hawang

Waktu (WIT)Deskripsi
06:00 - 07:00Bangun Tidur dan Sarapan
07:00 - 08:00Main-main di Pantai Ngurbloat
08:00 - 08:30Perjalanan ke Pemandian Evu
08:30 - 11:30 Main Air di Pemandian Evu
11:30 - 12:00Ngopi-ngopi dan nyemil
12:00 - 12:30Perjalanan ke Goa Hawang
12:30 - 14:00Main di Goa Hawang
14:00 - 15:00Perjalanan ke Langgur
15:00 - 16:30Makan Siang yang kesorean
16:30 - 17:00Perjalanan ke Bukit Masbait
17:00 - 17:15Perjalanan ke Puncak Masbait
17:15 - 17:45Menikmati Senja di Puncak Kelanit
17:45 - 18:00 Perjalanan ke Pantai Ngurbloat
18:00 - 19:00Menikmati senja di Pantai Ngurbloat
19:00Kembali ke penginapan, makan malam dan acara bebas

Sesuai janji yang disepakati malam sebelumnya, mobil untuk mengantar kami mengelilingi Kei Kecil akan tiba di penginapan pukul 08:00 WIT.  Kami yang terlalu bersemangat untuk menjelajah Kei hari itu sudah selesai mandi dan sarapan jam 07:00 WIT. Sisa waktu 1 jam ini pun kami manfaatkan untuk bermain sebentar ke Pantai Ngurbloat yang jaraknya hanya 5 menit dari penginapan kami di Villa Monica. Pantai ini sebetulnya bagus dinikmati kala sunset. Tapi tak apalah, wajah pantai ini di pagi hari pun tetap menarik untuk diabadikan.

Tepat jam 08:00 WIT, mobil yang menjemput kami pun datang. Dari Pantai Ngurbloat kami langsung bertolak menuju Pemandian Evu yang jaraknya kurang lebih 23 KM. Salah banget memang kami pagi itu. Sudah tahu ingin main air tapi kenapa kami harus mandi? Buang-buang air bersih saja. Penyesalan memang selalu datang di akhir.

Sesampainya di Desa Evu, kolam berukuran besar langsung terlihat di depan mata kami. Setelah meletakkan barang-barang di pondok yang ada di pinggir kolam dan berganti pakaian, kami pun langsung menceburkan diri ke dalam kolam Evu ini. Berasal dari sumber mata air yang mengalir membuat kolam dengan kedalaman 2 meter ini sangat jernih. Ikan-ikan pun banyak terlihat di dalam kolam ini.

Kami menghabiskan cukup banyak waktu di Desa Evu ini sebab kami tidak hanya bermain di kolamnya saja, kami juga mengunjungi langsung sumber mata airnya yang berada di atas bukit. Dengan ditemani salah seorang warga setempat, kami menembus hutan guna melihat sumber mata airnya. Perjalanan dari sumber mata air sampai kembali ke Kolam Evu ini bisa dibilang pengalaman yang seru. Kami harus melewati sungai dengan arus yang deras tapi jernihnya minta ampun.

Kolam Evu ini adalah titik akhir arus air yang mengalir dari sumber mata air tersebut sebelum akhirnya bermuara di laut. Tepat sebelum Kolam Pemandian Evu ini terdapat sebuah kolam penampung yang digunakan oleh PDAM. Usut punya usut ternyata Evu ini adalah jantung bagi Maluku Tenggara, sebab dari sinilah distribusi air di seluruh Maluku Tenggara berasal. Hebat kan? Air di sini memang sangat jernih dan berlimpah. Menurut warga, air di sini tidak pernah kering meskipun kemarau panjang datang melanda.

Dari Kolam Pemandian Evu kami pindah ke Goa Hawang yang letaknya tidak begitu jauh.  Goa Hawang merupakan sebuah goa dengan banyak stalaktit dan stalakmit yang berisikan air super jernih. Keindahan goa ini akan semakin terlihat ketika cahaya matahari tepat masuk dan menghantam permukaan air. Beningnya air yang seperti kristal akan terlihat jelas dalam pandangan. Air di kolam ini merupakan air tawar dan percaya tidak percaya, air kolam ini berasal dari sumber mata air di kolam pemandian Evu yang terhubung oleh sungai bawah tanah lho.

Sudah bermain air di 2 tempat yang sungguh indah, kami  pun kembali ke kota untuk mencari makan siang yang bisa dibilang kesorean. Di Kei Kecil ini tidak banyak warung makan seperti di pulau Jawa. Untuk mendapatkan banyak pilihan makanan, maka kami harus pergi ke kota. Warung Saraba yang terletak di Tual, dekat Taman Kabupaten, menjadi opsi terbaik bagi kami. Tempat makan ini cukup nyaman karena letaknya di pinggir laut. Pemandangan Watdeg, kampung warna-warni di seberangnya, dan aktivitas perahu nelayan yang berlalu-lalang di bawah jembatan menjadi panorama dan atraksi gratis untuk kami.

Hari semakin sore, dari Warung Saraba kami mengubah tujuan kami ke Bukit Masbait atau biasa dikenal juga dengan Bukit Kelanit. Tempat ini merupakan tempat untuk wisata rohani bagi umat Katolik. Terdapat 14 diorama Jalan Salib yang kalau diikuti satu per satu akan menuntun kita hingga puncak Bukit Masbait. Di puncaknya, di titik tertinggi Pulau Kei Kecil inilah terdapat sebuah patung Yesus dengan posisi tangan yang memberkati seluruh Pulau Kei.

Tidak ingin kehabisan waktu sunset, kami pun segera turun dari Bukit Masbait dan memacu kencang kendaraan ke Pantai Ngurbloat. Sebenarnya di Bukit Masbait juga bisa menikmati sunset, hanya saja prosesi matahari tenggelam ini lebih indah bila dinikmati di Pantai Ngurbloat. Di pantai yang juga dikenal dengan nama Pasir Panjang ini, pandangan ke arah matahari terbenam tidak terhalang apapun. Secara jelas kita bisa melihat matahari bersembunyi di balik Horizon.

Puas menikmati indahnya proses matahari beristirahat, kami pun kembali ke penginapan Villa Monica. Hati menjadi senang karena sesampainya kami di sana makan malam sudah tersaji di atas meja. Usai makan malam, setiap individu bebas untuk melakukan kegiatan yang diinginkan.

Hari Ketiga

Kiri ke Kanan (dari Atas):
1 & 2. Pantai Ngursarnadan
3 & 4. Pulau Adranan
5 & 6. Pulau Bair
7. Pantai Ohoidertawun
8. Dula

Waktu (WIT)Deskripsi
06:00 - 07:00Bangun Tidur dan Sarapan
07:00 - 08:00Packing untuk ke laut
08:00 - 08:30Perjalanan ke Dula
08:30 - 09:30Perjalanan dari Dula ke Pulau Bair
09:30 - 13:00Snorkeling, Foto-foto, Main di Pulau Bair
13:00 - 13:30Perjalanan ke Pulau Adranan
13:30 - 16:00Makan siang, foto-foto dan Main di Pulau Adranan
16:00 - 16:30Perjalanan kembali ke Dula
16:30 - 17:00Perjalanan ke Pantai Ohoidertawun
17:00 - 17:15Main di Pantai Ohoidertawun
17:15 - 17:30Perjalanan ke Pantai Ngursarnadan
17:30 - 18:30menghabiskan senja di Pantai Ngursarnadan
18:30 - 18:45Perjalanan kembali Ke Vila Monica
18:45Mandi, Makan Malam dan Acara bebas

Semakin hari kami semakin bersemangat untuk bangun pagi. Kami menantikan kejutan berikutnya yang akan diberikan oleh Pulau Kei Kecil ini. Destinasi pertama di hari ketiga ini adalah Pulau Bair yang berada sedikit di utara. Saya pikir untuk menuju Pulau Bair bisa menggunakan perahu motor melalui Pantai Ngurbloat, ternyata tidak. Kami harus pergi dahulu ke Dula dengan mobil dan dari sana baru dilanjutkan dengan perahu motor.

Cuaca sangat bersahabat hari itu. Ombak pun seakan mendukung perjalanan kami menuju Pulau Bair dengan pergerakannya yang tenang. Kira-kira dalam waktu 1 jam, perahu yang kami gunakan sudah tiba di Pulau Bair. Penjelajahan kami mulai dari bagian belakang pulau.

Muis, salah satu awak perahu, membawa kami ke tempat yang begitu tenang. Bisa dibilang tempat itu seperti Laguna. Untuk mencapainya, kami harus berenang di antara tembok karang sejauh 300 meter. Perjalanan menuju laguna ini tidak begitu berat karena kami hanya bergerak mengikuti arus. Cahaya matahari yang turun dari atas memberikan efek kemilau pada air laut Pulau Bair yang berwarna tosca. Sesampainya di laguna, keheningan langsung menyapa kami. Suasananya yang tenang membuat kami bisa bersantai sejenak di Laguna.

Perjalanan kembali menuju perahu jauh lebih berat. Dibutuhkan tenaga ekstra untuk berenang melawan arus air. Muis yang sudah terbiasa terlihat begitu santai, sedangkan kami yang jarang berolahraga terlihat begitu payah melawan arus air. Tiba di perahu, kami langsung berangkat menuju Lorong Patah Hati. Di tempat ini kami menghabiskan waktu untuk berfoto.

Puas berfoto di Lorong Patah Hati, perahu diarahkan ke bagian dermaga depan. Perahu disandarkan dan kami dipersilahkan untuk menikmati Pulau Bair dengan cara yang kami suka. Ada yang bermain drone, ada yang membuat video slow motion dan ada juga yang tertidur mengapung di atas laut pulau Bair. Kalau kalian beruntung, kalian bisa berjumpa dengan rombongan Burung Bangau di dermaga ini.

Rangkaian kegiatan di Pulau Bair ditutup dengan memanjat salah satu batu karang dan berfoto dari atasnya. Sahih sudah kami mengunjungi Pulau Bair ini.

Usai beraktivitas di atas Pulau Bair dengan mataharinya yang ‘tidak santai’, kami pun menderita kelaparan dan kehausan. Muis yang sudah paham dengan kondisi kami segera membawa kami ke Pulau Adranan, salah satu pulau yang berdampingan dengan Dula Laut. Di pulau yang juga tidak berpenghuni inilah kami makan siang.

Makan siang sudah kami bawa dari penginapan sebab tidak ada yang berjualan di atas pulau-pulau di utara Kei Kecil ini. Energi sudah kembali terisi dan siap untuk kami habiskan untuk bermain di Pantai Adranan pasca makan siang. Pulau ini memiliki pasir putih yang cukup halus. Gradasi warna biru laut di depan garis pantai sungguh mengundang kami untuk berenang dan berfoto.

Hari sudah semakin sore dan Muis pun mengajak kami kembali ke Dula. Sebuah ajakan yang secara implisit ingin menjelaskan kalau waktu kebersamaan dengannya sudah hampir habis. Apakah kami sudah merasa puas bermain air hari itu? Jawabannya BELUM. Supir kami saat itu, Bung Ongen, mengarahkan kemudinya menuju Pantai Ohoidertawun.

Tak lama kami menghabiskan waktu di Ohoidertawun. Dari sana kami beranjak menuju Pantai Ngursarnadan di Ohoililir. Pantai ini masih satu garis pantai dengan Pantai Ngurbloat, namun karena sudah berbeda kampung, maka pantai ini diberi nama Pantai Ngursarnadan sebagai semacam penanda daerah.

Karena masih satu garis pantai, tentu saja pemandangan sunset di sini sama indahnya dengan pemandangan di Pantai Ngurbloat. Bermain pasir putih yang begitu halus di pinggir pantai menjadi kegiatan yang wajib dilakukan. Menurut saya, pasir pantai di Ngurbloat dan Ngursarnadan merupakan pasir terhalus yang ada di Pulau Kei. Sambil asyik bermain pasir dan air, sang surya perlahan pamit undur diri dari tugasnya hari itu.

Dengan berakhirnya tugas sang surya, berakhir pula perjalanan kami hari itu. Dari Ohoililir kami kembali ke Ngilngof, Desa dimana penginapan Villa Monica berada. Malam itu kami harus tidur cepat karena keesokan hari kami harus berangkat agak pagi menuju Pantai Ngurtavur.

Hari Keempat

Kiri ke Kanan (dari atas):
1. Gereja Santa Maria Ngilngof
2. Pantai Ngurtavur
3. Spot Snorkeling 1
4. Pantai Ngilngof
5. Pantai Ngurtavur
6. Spot Snorkeling 2
7. Ohoiew Resort
8. Pantai Ohoiew
9 & 10. Pantai Ngurbloat

Waktu (WIT)Deskripsi
05:00 - 06:00Bangun Tidur dan Sarapan
06:00 - 06:30Perjalanan ke Pantai Ngilngof
06:30 - 07:30Perjalanan ke Pantai Ngurtavur
07:30 - 09:30Main air dan Foto-foto di Pantai Ngurtavur
09:30 - 09:45Perjalanan ke Spot Snorkeling Pertama
09:45 - 11:00Snorkeling di Spot Pertama
11:00 - 11:15Perjalanan ke spot Snorkeling kedua
11:15 - 12:30Snorkeling di Spot kedua
12:30 - 12:45Perjalanan ke Ohoiew Island
12:45 - 14:15 Makan siang dan main-main di Pulau Ohoiew
14:15 - 14:45Perjalanan ke Pantai Ngurbloat
14:45 - 15:00Perjalanan ke Vila Monica & Taruh Barang
15:00 - 16:00Istirahat
16:00 - 16:30Perjalanan ke Pantai Ngingof
16:30 - 17:30Main di Pantai Ngilngof dan Gereja Santa Maria Ngilngof
17:30 - 18:00Perjalanan ke Pantai Ngurbloat
18:00 - 20:00Menikmati Senja dan ngopi bareng warga
20:00Kembali ke Vila Monica, makan malam dan acara bebas

Menurut nelayan di Ngilngof, waktu terbaik untuk mengunjungi Pantai Ngurtavur pada musim ini adalah di pagi hari, sekitar pukul 07:00 – 09:00 WIT. Pada jam tersebutlah air belum pasang sehingga pasir-pasir putih halus masih muncul ke permukaan dan membentuk pulau cantik yang bernama Ngurtavur. Keuntungan lainnya berangkat di pagi hari adalah matahari tidak terlalu menyengat.

Pagi, sekitar pukul 06:00 WIT, kami sudah berjalan kaki menuju Pantai Ngilngof dari penginpan Villa Monica yang jaraknya kurang lebih 1 KM. Di pantai inilah perahu motor yang akan kami gunakan telah bersandar. Namun karena pagi hari Pantai Ngilngof airnya surut, maka setibanya di bibir pantai, kami masih harus berjalan sedikit lagi ke tengah laut sembari membawa peralatan snorkeling yang agak berat *Gak Ngeluh kok ini*.

Kurang lebih 1 jam perjalanan kami tempuh untuk bisa mencapai Pantai Ngurtavur. Setibanya di sana, kondisi pulau persis seperti yang dijelaskan oleh nelayan di Ngilngof, air masih surut dan pasir putih menyembul di atas air. Kami pun menghabiskan banyak waktu di atas pantai berpasir halus tersebut. Berlari, guling-guling, membuat tulisan di atas pasir dan aktivitas seru lainnya. Tarif masuk pantai ini cukup mahal yaitu Rp 200.000 per rombongan.

Merasa puas bermain di pulau yang tak berpenghuni tersebut, kami pun pindah ke spot selanjutnya yaitu spot snorkeling pertama. Perjalanan menuju spot snorkeling pertama ± 15 menit lamanya dan perahu diarahkan menuju ke arah Ngilngof. Beningnya air dan banyaknya karang yang mulai terlihat dari atas perahu menjadi kode bagi saya kalau sebentar lagi kapal akan berhenti dan membiarkan kami mengeksplor kekayaan bawah laut milik Pulau Kei.

Benar saja, ketika perahu berhenti, rombongan ikan kecil sudah menyapa kami dan seolah mempersilakan kami untuk turun. Untuk snorkeling di Kei, kita tidak memerlukan fins atau life vest. Kenapa begitu? Sebab posisi karang itu hanya berada 3 meter dari permukaan air dan air laut yang asin secara otomatis akan membuat badan mengapung.

Saya begitu terkagum melihat kondisi karang di Kei yang masih sangat segar dan kondisinya sangat amat banyak. Semoga saja pengunjung lainya dan juga warga Kei tetap mampu menjaga laut di sini agar tetap sehat dan lestari.

Dari spot snorkeling pertama kami pindah ke spot kedua. Bagaimana kondisi dan pemandangan di spot kedua? Sama saja, sama bagusnya. Bahkan kalau boleh dibilang, pemandangan karang di spot kedua ini jauh lebih berwarna. Lokasi spot snorkeling kedua ini tidak jauh dari Ohoiew Island, pulau privat dengan sebuah resort di atasnya.

Kelelahan setelah menjelajahi sedikit keindahan bawah laut di spot kedua, kami pun kembali ke perahu dan bergegas menepi ke Pulau Ohoiew. Di salah satu pondok yang ada di Pulau Ohoiew inilah kami menumpang untuk makan siang. Makanan sudah dipersiapkan sejak pagi oleh Mama Tita, caretaker Villa Monica, sehingga kami hanya perlu membawanya saja.

Usai makan siang, kami menghabiskan waktu sejenak di pulau ini sebelum akhirnya diantar kembali ke dermaga Pantai Ngurbloat. Dikarenakan kondisi cuaca yang tidak begitu bagus, siang itu kami gunakan untuk beristirahat di penginapan.

Terbangun setelah terlelap kurang lebih 2 jam, saya kembali lagi ke Desa Ngilngof. Kali ini tanpa teman-teman saya karena mereka masih asyik tidur. Tujuan utama di Ngilngof adalah untuk menyambangi Gereja Santa Maria Ngilngof dan setelah itu membunuh senja di pantainya. Gereja Santa Maria Ngilngof merupakan gereja terbesar di Kei Kecil, besarnya mengalahkan Gereja Katedral yang ada di Tual. Sayangnya, gereja ini belum 100% rampung sehingga kecantikannya belum nampak seutuhnya.

Dari Gereja saya beralih ke rumah salah seorang warga yang letaknya di depan pantai. Setiap kali traveling, saya memang selalu menyempatkan waktu untuk berbincang dengan warga sekitar. Jadi waktu saya tidak melulu digunakan untuk mengunjungi tempat wisata, tetapi juga ngobrol-ngobrol untuk mendapatkan cerita yang mungkin tidak bisa kita dapatkan dimanapun (di Internet sekalipun).

Berbincang sambil ditemani roti keju, teh manis dan pantai yang sejuk membuat saya lupa waktu. Tak terasa hari sudah berganti malam dan saya pun harus kembali ke penginapan untuk makan malam. Itulah aktivitas terakhir saya hari itu sebelum ditutup dengan makan malam dan tidur.

Hari Kelima

Kiri ke Kanan (dari atas):
1 & 2. Morea Air Waiselaka
3. Ikan di Imperial Restaurant
4. Makan besar di Imperial
5. Pantai Liang
6 & 7. Benteng Fort Amsterdam
8. Pantai Liang

Waktu (WIT)Deskripsi
03:00 - 04:00Bangun Tidur dan Sarapan
04:00 - 04:30Perjalanan ke Bandara Karel Satsuitubun
04:30 - 06:00Menunggu Penerbangan
06:00 - 08:00Perjalanan ke Bandara Pattimura
08:00 - 09:30 Perjalanan ke Benteng Fort Amsterdam
09:30 - 10:30Menjelajah Fort Amsterdam dan bersantai di Pantai Hila
10:30 - 10:40Perjalanan ke Masjid Wapauwe
10:40 - 11:30Jelajah Masjid Wapauwe
11:30 - 12:30Perjalanan ke Pantai Lubang Buaya
12:30 - 14:00Ngemil siang dan main-main di Pantai Lubang Buaya
14:00 - 14:30Perjalanan ke Pantai Liang
14:30 - 16:00Ngemil, Foto-foto dan bersantai di Pantai Liang
16:00 - 16:15Perjalanan ke Waai
16:15 - 17:30Main bersama Morea di Mata Air Waiselaka
17:30 - 18:30Perjalanan kembali ke Kota Ambon
18:30 - 20:00Makan malam
20:00 - 20:15Perjalanan ke penginapan
20:15Acara Bebas

Penerbangan pukul 06:00 WIT mengharuskan kami untuk bangun jam 03:00 WIT. Ya, sepagi itulah kami harus bersiap dan pamit undur diri dari Pulau Kei yang memesona ini. Terima kasih untuk keramahan dan destinasi-destinasinya yang luar biasa. Sampai bertemu di kesempatan berikutnya.

Pesawat yang kami tumpangi terbang dengan mulus hingga Ambon. Setibanya di Bandara Pattimura, kami bergegas menuju destinasi pertama kami hari itu. Kami tidak ingin menghabiskan waktu untuk meletakkan barang di penginapan terlebih dahulu karena waktu dan cuaca yang bagus adalah hal yang sangat berharga. Satu setengah jam perjalanan dengan mobil dan akhirnya kami tiba di Benteng Fort Amsterdam di Hila.

Benteng ini merupakan benteng tertua di Maluku dan diberi nama seperti salah satu kota terbesar di Belanda. Awalnya, bangunan ini merupakan gudang rempah milik Portugis. Namun sejak kedatangan Belanda, Portugis diusir dan benteng ini diambil alih. Karena memang bukan dibangun untuk benteng pertahanan, Fort Rotterdam pun hanya memiliki 2 Bastion saja (benteng umumnya memiliki 4 Bastion).

Tak punya terlalu banyak waktu, dari Benteng Fort Rotterdam kami mengarahkan kendaraan ke Masjid Wapauwe di Kaitetu. Jaraknya kurang lebih hanya 500 meter saja dari Benteng Fort Rotterdam. Masjid yang memiliki arti “di bawah pohon mangga” (Wapa: mangga, Uwe: bawah) ini merupakan masjid tertua di Maluku yang dibangun tahun 1414. Awalnya Masjid dibangun di Gunung Wawane, namun tahun 1664 secara misterius Masjid ini berpindah sendiri dari Tehala ke Kaitetu ini dan berdiri gagah hingga sekarang.

Selesai mengunjungi Masjid Wapauwe, kami kembali melanjutkan perjalanan. Tujuan berikutnya adalah Pantai Lubang Buaya Morella. Pantai ini bisa dibilang salah satu pantai yang cocok untuk kamu yang suka kegiatan diving, baik itu scuba diving ataupun freediving. Selain tidak memerlukan bantuan kapal sebagai sarana transportasi untuk menyelam, Lubang Buaya juga menawarkan pemandangan bawah laut yang menawan. Di sekitar pantai ini terdapat banyak pondok yang bisa kalian sewa dan juga warung makan. Puas menyelam, kita tinggal memesan makanan di warung makan tersebut.

Kami tidak terlalu lama di Pantai Lubang Buaya sebab hari semakin sore. Perjalanan lantas dilanjutkan ke Pantai Liang. Untuk yang belum tahu Pantai Liang, pantai ini merupakan pantai paling cantik di Indonesia tahun 1990 versi PBB. Sampai sekarang pun pantai ini masih tetap cantik. Kilauan warna biru dari laut yang ditimbulkan akibat sinar matahari yang menyentuh permukaan air sungguh menghipnotis kami untuk berlama-lama di sini.

Dari Pantai Liang ini terlihat 3 pulau tetangga yaitu Pulau Haruku, Pulau Saparua dan juga Pulau Seram. Tepat di sebelah pantai Liang ini terdapat dermaga penyeberangan untuk kapal angkut. Bagi kamu yang ingin menyeberang ke Seram Barat, Dermaga di Liang inilah tempatnya.

Tak ingin berlama-lama di Pantai Liang karena masih ada destinasi terakhir yang harus dikunjungi, kami pun berjalan meninggalkan pantai cantik ini. Dari Liang kami lanjut ke Waai yang jaraknya kurang lebih hanya 15 menit saja. Ada apa sih di Waai? Di sana terdapat belut rakasasa yang hanya ada di Maluku, namanya Morea. Kami ingin menutup sore dengan bermain bersama belut ini.

Untuk memancing keluar Morea dari persembunyiannya di balik batu yang ada di pinggir sungai, sang pawang harus menjentikkan jari ke permukaan air sembari memegang telur mentah yang menjadi makanan Morea di sini. Usai mendengar suara jentikan dan bau amis dari telur, Morea akan keluar dan pengunjung pun bisa memegang hewan yang kulitnya sangat licin ini. Mereka tidaklah galak dan cenderung ramah. Bermain bersama Morea merupakan salah satu kegiatan yang wajib kalian coba saat berkunjung ke Ambon.

Sesaat sebelum matahari terbenam, kami mohon diri dari Waai untuk pergi ke penginapan yang ada di Ambon. Badan rasanya sudah ingin segera direbahkan akibat aktivitas panjang hari ini. Namun tidak baik apabila kembali ke penginapan dengan kondisi perut yang belum terisi. Akhirnya sebelum kembali, kami mampir di Imperial Resto untuk makan besar.  Alasan kami memilih Imperial Resto karena katanya Jokowi makan di sini waktu kunjungannya ke Ambon kemarin. *ahaha, receh ya alasannya*. Makan besar itu menjadi kegiatan terakhir kami di hari kelima.

Hari Keenam

Kiri ke Kanan (dari atas):
1 & 2. Hutumuri
3. Gong Perdamaian
4. Patung Pattimura
5 & 6. Pantai Pintu Kota
7 & 8. Museum Siwalima
9. Lapangan Merdeka

Waktu (WIT)Deskripsi
06:00 - 08:00Bangun tidur dan Sarapan
08:00 - 08:45Perjalanan ke Pantai Pintu Kota
08:45 - 09:45Main di Pantai Pintu Kota
09:45 - 10:15Perjalanan ke Museum Siwalima
10:15 - 12:00Jelajah Museum Siwalima
12:00 - 13:00Makan siang
13:00 - 14:00Perjalanan ke Hutumuri
14:00 - 16:00Main-main di Pantai dan Makan durian di kampung Hutumuri
16:00 - 17:00Perjalanan kembali ke kota Ambon
17:00 - 18:00 Foto-foto di Gong Perdamaian, Patung Pattimura dan Lapangan Merdeka
18:00 - 19:30Makan malam
19:30Acara Bebas

Inilah hari pertama kami bangun di kota Ambon. Jazirah Ambon kali ini diawali dengan berkendara ke selatan Ambon dengan tujuan Pantai Pintu Kota. Orang tua dulu bilang, belum sah pergi ke Ambon kalau belum mampir ke pantai ini. Diberi nama “Pintu Kota” sebab terdapat sebuah lubang besar pada salah satu karang yang menyerupai sebuah pintu.

Beranjak dari Pantai Pintu Kota, kami lalu menuju ke daerah Amahusu. Di tempat ini terdapat sebuah museum bernama Siwalima. Siwa berarti sembilan, sedangkan Lima berasal dari kata Patalima yang menunjukkan 5 kerajaan di wilayah utara Maluku (sumber: wikipedia). Museum Siwalima ini terbagi atas 3 bagian yaitu Museum Pakaian Adat Indonesia, Museum Budaya dan Sejarah Maluku dan yang paling akhir adalah Museum Kelautan.

Yang paling menarik dari Museum Siwalima menurut saya adalah Museum Kelautan. Di bagian museum ini terdapat 3 kerangka Paus ukuran raksasa yang pernah terdampar di Maluku. Kerangka-kerangka tersebut merupakan sumbangan dari LIPI (Lembaga Ilmu Penelitian Indonesia). Ada juga bangkai dari buaya muara bernama Tete yang pernah memangsa 10 orang di daerah pesisir Pulau Buru.

Setelah mendapatkan banyak pengetahuan di Museum Siwalima, kami melanjutkan perjalanan jauh ke Timur Ambon dengan tujuan Desa Hutumuri. Kali ini tujuannya adalah menyantap durian. Seperti diketahui, Hutumuri merupakan salah satu desa penghasil Durian terbesar di Ambon. 2 minggu lalu, di desa ini baru saja diadakan Festival Makan Durian Internasional yang dihadiri oleh wisatawan dari mancanegara. Kalau sedang berlimpah, satu buah durian dihargai hanya Rp 1.000, Murah banget kan?

Selain Durian, Hutumuri juga memiliki pantai yang cantik. Makan Durian di pinggir pantai tentu menjadi kegiatan yang sulit untuk ditolak. Selain makan, agenda kami adalah untuk mengenal Baileo (Rumah adat orang Maluku) dan adat budaya masyarakat sana. Sungguh penuh ilmu perjalanan kami di hari keenam ini.

Puas makan, menggali ilmu dan belajar di Hutumuri, kami pun pulang ke Ambon. Karena hari ini hari terakhir di Ambon sebelum esok hari kembali ke kota asal, maka hari ini benar-benar kami habiskan untuk berjalan-jalan. Di kota Ambon, kami berfoto di salah satu landmark kota ini yaitu Gong Perdamaian. Di seberang Gong Perdamaian terdapat Lapangan Merdeka dimana di salah satu sisinya terdapat tulisan Ambon Manise dengan ukuran besar.

Masih di kawasan yang sama, lebih tepatnya di belakang tulisan Ambon Manise, terdapat Patung Kapten Pattimura. Letaknya persis di belakang Lapangan Merdeka. Selesai berfoto di 3 tempat berbeda namun masih di kawasan yang sama tersebut, kami pun makan malam dengan menu Nasi Kuning sebelum akhirnya pulang kembali ke penginapan untuk berkemas.

Hari Ketujuh

kiri ke kanan (dari atas):
1. Petak 10
Sisanya: Oleh-oleh Pasar Mardika

Waktu (WIT)Deskripsi
06:00 - 08:00Bangun tidur dan Sarapan
08:00 - 08:15Jalan kaki ke Petak 10
08:15 - 09:15Belanja Oleh-oleh
09:45 - 10:15Naik Angkot Ke Pasar Mardika
10:15 - 11:15Belanja Oleh-oleh
11:15 - 11:30Perjalanan kembali ke Penginapan
11:30 - 12:15Perjalanan kembali ke Bandara
12:15 - 14:15Makan siang di Bandara
14:55Penerbangan kembali ke Jakarta

Tidak terasa ternyata hari ini adalah hari terakhir liburan di Tanah Maluku. Karena sudah cukup puas berjalan-jalan, kesempatan yang cukup singkat ini kami gunakan untuk belanja oleh-oleh. Ada 2 tempat yang menjadi rekomendasi kami untuk membeli oleh-oleh.

Yang pertama adalah Petak 10. Tempat ini merupakan sentra oleh-oleh yang sudah ada sejak tahun 1965. Lokasinya ada di Jl. Dr. Tamaela, Nusaniwe. Toko ini cukup lengkap karena menyediakan semua oleh-oleh mulai dari makanan, minuman, pakaian hingga asesoris lainnya. Hanya saja harganya jauh lebih mahal bila dibandingkan dengan di pasar. Apabila ingin berbelanja oleh-oleh di Petak 10, saya sarankan beli saja kaos khas Maluku. Di Petak 10 ini banyak sekali kaos dengan motif khas Maluku dan harganya masih terjangkau. Kualitas bajunya pun sangat bagus.

Untuk belanja oleh-oleh yang kedua, saya sarankan untuk belanja di Pasar Mardika. Di sini kamu bisa menemukan banyak makanan dengan harga murah seperti Pisang TongkalangitSagu Tumbu, Minyak Kayu putih dan makanan murah lainnya. Namanya pasar, tentulah kita bisa melakukan tawar menawar di sini.

Dengan membawa oleh-oleh yang kami jinjing di tangan kiri dan kanan, kami berangkat menuju bandara dengan perasaan senang dan sedih yang bercampur. Senang karena bisa menghabiskan liburan di tanah yang indah ini. Sedih karena kami harus berpisah dan entah kapan bisa kembali lagi ke sini.

Terima kasih Ambon.

Catatan

  • Untuk menuju Ke Kei, kita pasti transit terlebih dahulu di Ambon.
  • Karena Bandara Langgur merupakan bandara kecil, pesawat yang digunakan adalah jenis ATR.
  • Selama melakukan aktivitas di laut atau pantai, kami membawa peralatan sendiri seperti mask, snorkel, fins dan vest.
  • Selama mengunjungi destinasi pantai di Kei, umumnya akan ada pondok yang bisa kita tempati untuk meletakkan barang. Nah, pondok itu tidak gratis. Jadi jangan kaget kalau tiba-tiba ada orang yang menarik biaya sewa pondok.
  • Jangan gunakan operator telepon selain Te*****el.
  • Selalu sedia uang receh logam (Jaga-jaga kalau diminta oleh warga untuk melakukan ritual seperti di Kolam Pemandian Evu).
  • Mobil yang kami gunakan selama di Pulau Kei berasala dari penginapan Villa Monica. Semua diurus Mama Tita (pengelola Villa Monica).
  • Di Ngurtavur sebenarnya ada penjual kelapa. Sayangnya ketika kami datang, penjualnya tidak ada. Mungkin kami datangya kepagian.

Tips

  • Bila tidak ingin menghabiskan terlalu banyak waktu di Ambon pada hari pertama, kalian bisa melakukan pemberangkatan dari Jakarta pada pukul 08:00 WIB (dengan Garuda) atau 06:00 WIB (dengan Batik). Jadi setibanya di Ambon pukul 13:55 WIT atau pukul 11:35 WIT, kita hanya perlu menunggu di Bandara untuk melanjutkan penerbangan ke Langgur.
  • Untuk penerbangan ke Kei, tidak disarankan menggunakan maskapai “Macan”. Bukannya saya memiliki sentimen khusus, hanya saja berdasarkan pengalaman, maskapai ini sering membatalkan penerbangan dan menggantinya dengan penerbangan di keesokan harinya.
  • Saat tiba di Bandara Langgur, lebih baik dijemput menggunakan mobil angkot sebab barang bawaan pasti cukup banyak. Keesokan harinya, barulah keliling Pulau Kei dengan menggunakan mobil sewaan seperti Avanza atau Innova.
  • Bukit Masbait sebenarnya paling cocok untuk menikmati Sunrise. Namun karena kami bukanlah sunrise hunter alias tidak bisa bangun pagi, maka kami berkunjung ke destinasi ini pada waktu sore hari. Apabila kalian ingin mengunjungi Bukit Masbait pada saat matahari terbit, kalian bisa memasukannya ke dalam itin hari ketiga, sebelum berangkat ke Pulau Bair. Sebagai ganti hari kedua, dari Goa Hawang kalian bisa mampir ke Pantai Madwaer dan Pantai Ohoidertutu.
  • Siapkan banyak air dan juga sunblock karena Pantai di Maluku Tenggara itu panas banget.
  • Karena tidak banyak warung makan di Kei Kecil (umumnya hanya berada di Kota), disarankan untuk sarapan sebelum beraktivitas dan membawa nasi kotak sebagai bekal makan siang. Itulah yang selalu kami lakukan selama melakukan perjalanan di Kei.
  • Waktu yang baik untuk berkunjung ke Kei (menurut orang Kei) adalah pada bulan September – Oktober. Kenapa? Karena pada bulan tersebut kita bisa melihat rombongan Burung Bangau di Pulau Ngav dan juga Ngurtavur.
  • Kalau ingin menginap di Villa Monica Seperti kami, silahkan booking dari jauh-jauh hari karena penginapan ini merupakan salah satu penginapan favorit wisatawan mancanegara (takutnya penuh).
  • Sewa kapal untuk island hopping di Kei itu agak mahal, jadi kalau bisa perginya rombongan (6-7 orang) agar biaya patungan menjadi lebih murah.
  • Untuk kalian yang mau main di Ambon pada hari pertama tanpa harus membawa barang bawaan yang banyak, kalian bisa langsung meneruskan bagasi ke Langgur (Kei) sehingga kalian hanya perlu membawa barang yang diperlukan dalam backpack selama bermain di Ambon. Bagasi sudah masuk ke penerbangan berikutnya (Pengalaman naik Garuda).

Kontak

  1. Sewa Mobil Ambon 1 (Pak Carlos) → 085243643838
  2. Sewa Mobil Ambon 2 (Bung Fery) → 08114791770
  3. Penginapan Villa Monica, Kei (Mama Tita) → 081283009432

Terima Kasih

  1. @verasumargo
  2. @helenapaays
  3. @aruphadhatu
  4. @anda_m_yanni
  5. @eviechristina

Rincian Biaya bisa dilihat DI SINI

Travel far enough, you meet yourself
-David Mitchell

Comments

comments

Powered by Facebook Comments

Seorang pria yang sedang terus belajar menulis. Alasan menulisnya simple saja, karena "tertampar" oleh kalimat dari Pramoedya yang berbunyi: Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian.