• Home
  • /
  • Kuliner
  • /
  • Berkunjung ke Ambon, Ini Oleh-oleh yang Bisa Kalian Bawa Pulang (Bagian 1)

Berkunjung ke Ambon, Ini Oleh-oleh yang Bisa Kalian Bawa Pulang (Bagian 1)

Berkunjung ke Ambon, belum lengkap rasanya kalau belum membawa pulang oleh-oleh khas tanah ini. Oleh-oleh memang kerap dijadikan sebagai bukti penunjang kalau kita sudah benar-benar mengunjungi suatu daerah.

Lalu apa aja sih oleh-oleh dari Ambon yang bisa kita berikan kepada diri sendiri dan orang yang kita sayang? Jawabannya BANYAK BANGET.

Untuk membuat tulisan mengenai oleh-oleh khas Ambon ini lebih nyaman untuk dibaca, saya akan membaginya menjadi 2 bagian yaitu oleh-oleh berupa makanan dan oleh-oleh berupa non-makanan.

Berikut ini tulisan pertama berupa daftar oleh-oleh berupa makanan yang bisa kalian bawa pulang dari Ambon:

Sagu Tumbu

Kalau ini Sagu Tumbu ukuran besar, bentuknya seperti kue serut kenari. Satu bungkusnya isi 5.

Seperti namanya, oleh-oleh yang satu ini berbahan utama Sagu. Bersama dengan Kenari dan juga Gula Merah Saparua, sagu yang sudah berbentuk tepung (halus) ini akan ditumbuk dengan menggunakan lesung selama beberapa waktu hingga semua bahannya tercampur.

Setelah dirasa cukup, olahan sagu tersebut akan diangkat dari lesung dan diletakkan di dalam wadah lain. Pada tahap ini, bentuknya masih tidak karuan layaknya awal hubungan kita. Namun setelah di-packing, Sagu Tumbu bentuknya akan menjadi rapi dan manis seperti hubungan kita sekarang *apasih mblo*.

Untuk packaging-nya, Sagu Tumbu yang berwarna coklat kemerahan dengan aroma yang menggoda itu akan diambil sedikit demi sedikit dan diletakkan di atas tangan untuk digulung hingga berbentuk seperti pensil atau sedotan.

Usai membentuk pensil atau sedotan tersebut, sagu tumbu lantas dibungkus menyerupai permen dengan menggunakan kertas minyak yang biasanya berwarna merah. Alasan penggunaan kertas minyak sebab buah Kenari yang ditumbuk tadi menghasilkan minyak. Agar minyak itu tidak keluar saat dibungkus, maka digunakanlah kertas minyak sebagai penutupnya.

Tempat Pembelian: Pasar Mardika

Harga: Rp 10.000/bungkus (isi 12)

Halua Kenari

Halua Kenari

Halua Kenari merupakan kudapan manis yang berbahan dasar Kenari. Ada yang tahu dari mana rasa manis itu didapat? Ya, betul. Rasa manis itu datang dari paras cantikmu yang merona kala aku memandangmu *tsaahh*. Biar tidak penasaran, saya beritahu cara pembuatannya ya.

Pertama, kenari yang sudah direndam semalaman akan dikupas kulitnya. Kenari yang sudah terkupas tersebut kemudian akan dipecah menjadi bagian yang lebih kecil dan dicuci hingga bersih sebelum akhirnya digoreng. Hanya dibutuhkan waktu kurang lebih 25-30 menit untuk membuat kenari yang digoreng menjadi matang.

Selanjutnya, gula aren yang akan digunakan sebagai bahan perekat kenari haruslah dicairkan. Caranya mudah, cukup masak gula aren + air dengan menggunakan api kecil. Ketika gula aren sudah cair dan mendidih, segera masukkan kenari goreng tadi ke dalamnya dan aduk hingga tercampur merata.

Proses selanjutnya adalah membentuk adonan kenari selagi hangat. Kenapa harus ketika masih hangat? Sebab pada periode tersebutlah adonan kenari masih mudah untuk dibentuk sesuai yang kita inginkan. Kalau sudah dingin, adonan akan mengeras dan sulit untuk dibentuk.

Umumnya adonan Halua Kenari dibentuk bulat seperti bola dan dimasukkan ke dalam plastik sebelum dijual.

Jadi sekarang sudah tahu kan rasa manis itu datang dari mana?

Tempat Pembelian: Pasar Mardika

Harga: Rp 15.000/bungkus (isi 8)

Roti Kering Kenari

Roti Kering Kenari

Masih seputar olahan kenari. Kali ini kenari dipadupadankan dengan renyahnya roti tawar kering yang diberikan sedikit taburan gula di atasnya. Sebelum masuk ke bagian review mengenai rasa, terlebih dahulu saya akan coba memberitahu cara membuatnya.

Proses pembuatan Roti Kering Kenari terbilang cukup mudah. Pertama, siapkan bahan-bahan yang diperlukan seperti roti tawar yang sudah dipotong kecil, susu kental manis, kuning telur, kenari yang sudah dicacah, margarin dan gula.

Kalau sudah, oleskan kedua sisi permukaan roti dengan margarin. Di bagian yang terpisah, campurkan susu kental manis secukupnya dengan kuning telur. Aduk sampai merata dan kemudian oleskan hasil campuran kedua bahan tersebut di bagian atas dari permukaan roti yang sudah dioleskan margarin tadi.

Berikutnya, taburkan cacahan kenari di bagian atas olesan susu kental manis tadi. Kalian juga boleh mencampurkan gula bersamaan dengan kenari. Taburan gula ini sifatnya opsional ya. Kalau kalian rasa roti kenari ini sudah cukup manis dengan tanpa gula, ya tidak usah kalian tambahkan.

Di bagian terakhir, panggang roti tadi hingga berwarna kecoklatan. Jika sudah, angkat roti kering kenari tersebut dan kini panganan khas Maluku ini sudah siap disantap. Roti kering kenari cocok menjadi teman untuk kamu dan aku saat ngopi atau ngeteh.

Berdasarkan pengalaman, roti kering kenari ini jadi favorit oleh-oleh khas Ambon lho. Usut punya usut, rasanya yang gurih dan renyah serta tahan lama (kuat disimpan hingga 1 bulan) menjadi alasan roti kering ini begitu disukai.

Tempat Pembelian: Pasar Mardika

Harga: Rp 15.000/bungkus (isi 6 Potong)

Bagea

Bagea

Sudah bosan dengan kenari? Jangan dulu. Sebab masih ada kue kecil yang menarik dari Ambon bernama Bagea. Berbahan dasar tepung sagu dan kenari, kue berbentuk bulat yang kaya akan rempah ini memang khas dari tanah Maluku.

Ada yang penasaran bagaimana cara membuat Bagea? Caranya cukup simple. Persiapkan terlebih dahulu bahan yang diperlukan yaitu tepung sagu, gula, kenari yang sudah dicacah, kacang tanah yang sudah disangrai dan dihaluskan, telur, soda kue, minyak sayur, cengkeh dan kayu manis.

Pertama-tama, aduk gula dan telur dalam wadah hingga kental. Jika sudah, masukkan kacang kenari, tepung sagu, kenari, kacang tanah, minyak sayur, soda kue, cengkeh dan kayu manis. Aduk kembali hingga adonan kalis.

Untuk membuatnya berbentuk bulat, angkat adonan dengan menggunakan sendok dan bentuk satu per satu menjadi lingkaran. Taruh dan susun bagea di atas loyang lalu masukkan ke dalam oven dengan suhu 160 derajat selama setengah jam.

Tidak seperti Halua Kenari atau Roti Kering Kenari yang renyah, bagea ini cenderung keras (seperti perlakuan mantan kamu ke kamu). Buat yang tidak terbiasa makan ini pasti kesulitan sebab memang makanan ini agak sulit untuk dikunyah. Bagea pas sekali disandingkan dengan kopi dan menjadi teman untuk menghabiskan sore hari.

Tempat Pembelian: Pasar Mardika

Harga: Rp 20.000/bungkus

Kacang Kenari

Kacang Kenari yang sudah dikeringkan

Selain dibentuk menjadi berbagai macam jenis makanan seperti yang saya sebutkan di atas, ternyata kenari ini juga enak untuk dimakan sendiri lho (tanpa campuran apapun).

Cara mengolah kenari mentah yang paling pas menurut saya adalah dengan direbus. Sebelum direbus, terlebih dahulu kenari dijemur hingga benar-benar kering. Setelah itu barulah kenari direbus dan dikupas untuk disantap.  Tidak perlu bumbu apapun saat merebus, cukup kenari + air saja.

“Konsumsi kenari itu bagus untuk kesehatan lho.” Ujar salah seorang penjual yang secara tidak langsung meminta saya untuk membeli kenari dagangannya. Saya yang tidak percaya pun langsung googling untuk membuktikan kebenaran ucapannya.

Ternyata eh ternyata, omongan si penjual itu benar lho. Kacang kenari masuk dalam jenis biji-bijian yang kaya akan asam lemak tak jenuh serta memiliki kadar asam lemak jenuh yang rendah. Mengkonsumsi kenari secara rutin mampu melindungi jantung dan mengurangi resiko penyakit jantung koroner.

Kacang kenari dijual dalam berbagai ukuran,  tapi umumnya yang paling sering dijual adalah ukuran ½ kg dan 1 kg.

Tempat Pembelian: Pasar Mardika

Harga: Rp 50.000 untuk ukuran ½ Kg

Kue Serut

Kue Serut Kenari

Nah, akhirnya masuk juga pada bagian oleh-oleh favorit saya yaitu Kue Serut. Ada 2 macam Kue Serut yang dijual di pasar yaitu Kue Serut Kelapa dan Kue Serut Kenari. Kalau diminta untuk memilih, tentu saja saya akan memilih yang Kenari dong.

Yang paling saya suka kala menyantap kudapan yang berwarna coklat dan bentuknya besar seperti cerutu ini adalah rasa kayu manis yang begitu kentara. Begitu digigit dan menyentuh lidah, rasa kayu manisnya akan menyebar ke seluruh penjuru rongga mulut.

Bahan dasar pembuatannya hampir sama seperti Bagea yaitu dengan tepung sagu, kenari dan kayu manis, hanya saja saya tidak tahu proses apa yang membedakan sehingga keduanya begitu lain. Kalau dibandingkan dengan bagea, Kue Serut ini lebih lembut dan lebih mudah untuk dimakan.

Tempat Pembelian: Pasar Mardika

Harga: Rp 15.000 – Rp 20.000/bungkus

Sagu Lempeng

Sagu Lempeng

Oleh-oleh berupa makanan di Ambon memang tidak jauh dari bahan dasar Tepung Sagu atau Kenari. Seperti Sagu Lempeng ini contohnya, dari namanya pun kalian sudah pasti bisa menerkanya. Sagu Lempeng merupakan sagu keras berbentuk seperti lempengan emas yang dihasilkan dari memanaskan tepung sagu halus di atas vorna.

Vorna sendiri adalah cetakan untuk sagu lempeng yang berbahan dasar dari tanah liat, bentuknya persis seperti cetakan Kue Pancong kalau di Jakarta.

Cara membuatnya cukup mudah namun diperlukan kehati-hatian. Pertama, panaskan vorna kosong dengan menggunakan kayu bakar hingga benar-benar panas (±20 menit). Setelah itu angkat dan perlahan-lahan masukkan tepung sagu ke atas lubang yang tersedia pada vorna. Saat sudah terisi penuh, tutup bagian atas vorna dengan kayu dan biarkan tepung sagu mengeras baru kemudian congkel keluar sagu lempeng dari dalam vorna.

Sagu lempeng ini sangat keras (lebih keras dari Bagea) dan tidak bisa dimakan begitu saja. Kalau tidak percaya silahkan coba, saya yakin gigi kalian pasti patah. Ada cara khusus untuk menikmati sagu lempeng yaitu dengan merendamnya di dalam teh/kopi panas yang tersaji di dalam gelas. Ketika diletakkan di dalam teh/kopi panas, Sagu lempeng akan menyatu dengan air dan berubah menjadi seperti agar-agar. Saat itulah Sagu Lempeng bisa disantap.

Masyarakat Ambon biasanya makan sagu lempeng ini di pagi atau sore hari dan wajib bersama teh/kopi panas. Oh ya, Sagu lempeng ini selain keras juga awet lho. Ia bisa disimpan di suhu normal hingga berbulan-bulan tanpa takut berjamur. Makanya sagu lempeng ini cocok banget untuk dijadikan oleh-oleh.

Tempat Pembelian: Pasar Mardika

Harga: Rp 10.000/bungkus (Ukuran 1 vorna)

Pisang Tongka Langit

Wujud Pisang Tongka Langit

Pisang Tongka Langit merupakan pisang spesial dari tanah Maluku. Konon katanya, di Indonesia, pisang ini hanya bisa tumbuh di tanah Maluku saja lho. Diberi nama Tongka Langit sebab tandan pisang akan mengarah ke atas (ke langit) saat berbuah seperti layaknya tongkat yang menghadap ke langit (Tandan pisang lain umumnya akan mengarah ke bawah saat berbuah).

Pisang Tongka Langit ini ukurannya sangat besar dan warna kulitnya oranye keungu-unguan. Buahnya pun juga berwarna oranye meskipun tidak sepekat seperti warna kulitnya. Kandungan Beta Karoten yang sangat tinggi pada Pisang Tongka Langit membuat pisang ini dijuluki sebagai pisang obat.

Cara memakannya ada 2 cara yaitu dengan mengupas langsung kulitnya dan memakan buahnya atau kalian bisa mengukusnya terlebih dahulu.

Pisang Tongka Langit ini tumbuh subur di dataran Seram dan sebagian kecil Ambon (Tidak semua daerah di Ambon bisa ditanami pisang ini). Oh ya, pisang ini bukan pisang Ambon ya. (Untuk mengetahui perbedaan Pisang Tongka Langit dan Pisang Ambon, kalian bisa membaca artikel berikut: Pisang Tongka Langit, Pisang Unik dari Tanah Maluku).

Tempat Pembelian: Pasar Mardika

Harga: Rp 25.000 – Rp 30.000/sisir

Sagu Gula

Pembuatan Sagu Gula

Seperti halnya Sagu Lempeng, bentuk dan rupa Sagu Gula ini sama. Bahkan cara membuatnya pun sama. Lantas apa yang membedakan? Yang membedakan ialah pemberian Gula di dalam sagu dan cara memakannya.

Saat meletakkan sagu gula di atas vorna panas, di bagian tengah sagu gula akan diletakkan Gula Merah Saparua. Sagu Gula yang baru diangkat dari vorna panas bisa langsung dimakan tanpa harus merendamnya di dalam teh (memang lebih enak dimakan saat hangat). Mungkin penempatan gula di dalam sagu inilah yang membuat sagu gula tidak akan sekeras sagu lempeng meskipun sudah didiamkan beberapa waktu.

Rasa Sagu Gula ini manis namun tidak terlalu manis. Manisnya pas seperti kamu, tidak kurang dan tidak lebih.

Tempat Pembelian: Pasar Mardika atau di sekitar pantai

Harga: Rp 10.000/1 vorna

Bumbu Rujak Natsepa

Rujak Natsepa

Kalau berkunjung ke Ambon, jangan lupa mampir ke Pantai Natsepa. Selain panorama pantainya yang cantik, Natsepa juga memiliki kekayaan kuliner berupa rujak.

Rujak merupakan makanan yang akrab di mulut orang Indonesia. Campuran berbagai buah yang dijadikan satu dan diberi bumbu kacang ini sering dijadikan makanan bersama saat sedang ngumpul atau ngerumpi, baik itu di rumah atau di kantor.

Namun ada yang spesial dari Rujak Natsepa yang tidak bisa kalian jumpai pada rujak-rujak lainnya. Apakah itu? BUMBU-nya. Kalau bumbu rujak pada umumnya hanya menggunakan gula merah dan kacang tanah, pada Rujak Natsepa ada 1 tambahan elemen lagi yaitu buah Pala.

Penggunaan buah Pala pada bumbu Rujak Natsepa menambah cita rasa pada rujak ini. Rasa asam manis dan aroma rempah menjadi lebih kuat dengan penambahan buah Pala ini.

Untuk mengurangi rasa rindu akan rujak Natsepa sepulangnya nanti dari Ambon, kalian bisa membeli hanya bumbu rujaknya saja untuk dibawa pulang. Bumbu Rujak Natsepa ini bisa bertahan hingga 1 minggu lho sebelum akhirnya rusak.

Tempat Pembelian: Pantai Natsepa

Harga: Rp 25.000/bungkus

Pasar Mardika

Itu tadi beberapa oleh-oleh berupa makanan yang bisa kalian bawa sepulangnya jalan-jalan dari Ambon. Ada yang sudah pernah kamu coba?

Kebanyakan dari oleh-oleh tersebut bisa kalian temukan di Pasar Mardika, Kota Ambon. Yang saya suka dari belanja di pasar adalah harganya yang lebih murah dari sentra oleh-oleh dan bisa ditawar. Selain itu, keramahan khas masyarakat Ambon bisa saya temukan di pasar ini

Masih ada lagi beberapa jenis oleh-oleh yang akan saya bahas di postingan selanjutnya. Ditunggu ya 🙂

Happy Traveling

Good Food is Good Mood.
— Anonymous

Comments

comments

Powered by Facebook Comments

Seorang pria yang sedang terus belajar menulis. Alasan menulisnya simple saja, karena "tertampar" oleh kalimat dari Pramoedya yang berbunyi: Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian.