• Home
  • /
  • Trip
  • /
  • Travel Itinerary Tapale’uk Belu – Kupang 4 Hari 3 Malam

Travel Itinerary Tapale’uk Belu – Kupang 4 Hari 3 Malam

Usai berhasil menginjakkan kaki di Tanah Alor, kini waktunya untuk melanjutkan perjalanan menyeberangi laut menuju Belu. Untuk yang belum tahu mengenai Belu, saya akan coba menjelaskannya terlebih dahulu ya. Belu merupakan salah satu kabupaten yang ada di Nusa Tenggara Timur dengan ibu kotanya yang bernama Atambua. Yang membuat Belu ini begitu spesial adalah kabupaten ini berbatasan langsung dengan negara tetangga yang dulunya merupakan bagian dari Republik Indonesia, Timor Leste.

Lalu, apa saja yang bisa kita nikmati dan pelajari dari kabupaten Belu ini? Berikut ini saya bagikan hal-hal yang saya lakukan selama berada di Belu:

*Tulisan ini merupakan tulisan lanjutan dari postingan sebelumnya dan menjadi bagian penutup dari rangkaian perjalanan 11 Hari menjelajah Kupang, Alor dan Belu.

Hari Pertama

Dari atas (kiri ke kanan):
1. Tanda dan gerbang perbatasan
2. Motaain Indonesia dan Parkiran Air Terjun Mauhalek
3. Air Terjun Mauhalek

Waktu (WITA)Deskripsi
06:00Tiba di Pelabuhan Teluk Gurita
06:00 - 07:00Perjalanan ke Intan Hotel yang ada di Atambua
07:00 - 11:00Sarapan, Check in dan istirahat
11:00 - 11:30Perjalanan menuju Perbatasan Indonesia - Timor Leste
11:30 - 12:30Foto di depan gerbang Masuk Indonesia (Tidak memasuki area Timor Leste)
12:30 - 14:00Perjalanan menuju Air Terjun Mauhalek
14:00 - 15:00Fot-foto dan main air di Mauhalek
15:00 - 15:20Perjalanan ke Fulan Fehan
15:20 - 16:00Foto-foto dan bermain bersama kuda di Fulan Fehan
16:00 - 16:10Perjalanan ke Benteng 7 Lapis
16:10 - 16:55Foto-foto di Benteng 7 Lapis
16:55 - 18:10Perjalanan kembali ke Hotel Intan di Atambua
18:10 - 20:00Mandi dan Istirahat sebentar
20:00 - 20:10Perjalanan ke Pasar Senggol di Alun-alun kota Atambua
20:10 - 21:00Makan Malam
21:00 - 21:10Kembali ke penginapan
21:10Acara bebas dan istirahat

Bermalam di kapal merupakan salah satu cara jitu untuk menghemat pengeluaran. Usai mengubah rencana, yang seharusnya kami berangkat menuju Pulau Pantar, akhirnya pagi itu kami berlabuh di Pulau Timor, lebih tepatnya di Pelabuhan Teluk Gurita di Belu. Karena benar-benar trip dadakan, pagi itu kami tidak tahu mau kemana. Lalu tiba-tiba seorang laki-laki menghampiri kami dan bertanya, “Mau kemana kakak? Ayo, naik oto ini sa untuk pi Atambua (ayo naik mobil ini saja untuk ke Atambua).”

Tidak punya pilihan, kami pun naik mobil bak terbuka yang disulap menjadi angkutan umum tersebut. Selama perjalanan, yang kami lakukan hanyalah googling penginapan murah di tengah kota dengan sinyal internet yang timbul tenggelam, dan akhirnya kami mendapat sebuah nama yaitu Hotel Intan. Kami beruntung sekali sebab supir dari angkutan umum yang kami tumpangi tersebut mau mengantar kami langsung ke hotel tersebut.

Setibanya di hotel dan memilih kamar, kami pun merebahkan badan sejenak. Tidur di bangku penumpang di kapal feri semalaman ternyata belum cukup untuk kami. Sebelum merebahkan badan, tak lupa kami meminta tolong pada pihak hotel untuk mencarikan kami mobil + supir untuk mengantar kami berkeliling Belu selama kurang lebih 2 hari.

Ketika kami bangun, pihak hotel memberitahu kalau mobil dan supir sudah siap. Kami pun segera bergegas dan pasrah mau dibawa kemana saja oleh sang supir. Tiba di Belu, kurang lengkap rasanya kalau tidak mengunjungi daerah perbatasan di Motaain atau yang biasa dikenal dengan sebutan PLBN (Pos Lintas Batas lNegara) Motaain. Dibawalah kami ke sana oleh sang supir yang bernama Ardi.

Sialnya, setibanya kami di sana, ternyata belum memasuki waktu “bermain”. Kami pun akhirnya tidak bisa memasuki wilayah antara Indonesia – Timor Leste dan hanya berfoto sebentar di Monumen Batas Wilayah Indonesia (belum memasuki wilayah Timor Leste). Dari sana, kami melanjutkan perjalanan yang cukup jauh dengan rute yang cukup menanjak menuju Air Terjun Mauhalek di Raiulun, Lasiholat.

Sesampainya di parkiran, Tulisan I Love Mauhalek Waterfall dengan warna huruf yang bervariasi menyambut kami. Air terjun ini rasanya memang sudah benar-benar dipersiapkan sebagai daerah tujuan wisata. Hal itu tidak hanya terlihat dari tulisan I Love Mauhalek tadi, tetapi juga tangga turun menuju air terjun yang cukup rapi. Suara air yang sudah terdengar sedari kami turun mobil membuat kami ingin cepat sampai di sana.

Dari Atas (kiri – kanan):
1. Fulan Fehan
2. Benteng Lapis 7
3. Jajanan kecil pasar Senggol dan pemandangan Gunung Lakaan

Buat saya, Air Terjun Mauhalek ini sedikit spesial karena terdiri dari beberapa tingkatan dengan debit air yang tersebar membentuk pola yang unik. Berfoto di tingkatan terbawah dengan sudut pengambilan dari atas tangga merupakan hal yang sulit untuk ditolak.

Dari bermain air di Mauhalek, kami melanjutkan perjalanan menuju wilayah pegunungan. Tujuan berikutnya bernama Fulan Fehan. Kalau kalian pernah melihat padang belantara dengan kuda-kuda yang belarian di atasnya dan deretan bukit sebagai latarnya, seperti itulah kurang lebih Fulan Fehan. Kabut-kabut tipis terkadang hadir menambah keindahannya. Tak mampu menolak kecantikan Fulan Fehan, saya pun berusaha mencoba bermain bersama puluhan kuda di sana dan berakhir dengan merebahkan badan di atas rerumputan akibat kelelahan mengejar kuda.

Saat sedang asyik beristirahat, Ardi, supir kami, mengajak kami untuk menuju ke sebuah benteng peninggalan Kerajaan Dirun yang bernama Benteng Ranu Hitu atau biasa dikenal dengan Benteng 7 Lapis. Letaknya masih di wilayah Fulan Fehan, tidak jauh dari padang belantara, kurang lebih hanya 10 menit saja. Diberi nama 7 lapis sebab memang terdapat 7 benteng yang melapisi daerah inti dari benteng pertahanan tersebut. Di bagian intinya, terdapat sebuah lingkaran yang biasa digunakan raja-raja untuk rapat atau meletakkan kepala musuh.

Kami tidak terlalu lama menghabiskan waktu di Benteng 7 Lapis sebab aura mistis di tempat itu terlalu terasa. Akhirnya kami pun segera kembali ke mobil dan memutuskan untuk menyudahi petualangan kami di sana. Dari Fulan Fehan, kami kembali ke penginapan di Atambua untuk beristirhat sejenak dan mandi.

Usai membasuh badan yang kotor akibat main di luar seharian, kami pergi ke Pasar Senggol yang letaknya di sebelah lapangan utama kota Atambua, tidak jauh dari penginapan kami di Hotel Intan. Pasar Senggol merupakan pasar makanan, mulai dari makanan kecil hingga makanan berat, yang hanya buka pada malam hari saja di kota Atambua. Martabak, Bakso, Nasi Goreng,  Babi Rica, Kue Cucur, semua tersedia di Pasar Senggol.

Menutup hari dengan kulineran merupakan pilihan yang tepat.

CATATAN:

  • Waktu “bermain” di wilayah perbatasan adalah pukul 15:00 – 16:00 WITA. Sebelum memasuki waktu tersebut, pengunjung yang ingin memasuki wilayah perbatasan harus membawa paspor.
  • Fulan Fehan berada di Kaki Gunung Lakaan dan udaranya sangat dingin. Bila ingin ke sana, jangan lupa bawa jaket yang tebal.
  • Bila kalian ingin mengambil gambar dari kuda-kuda yang ada di Fulan Fehan, jangan lupa untuk membawa lensa tele.
  • Sebelum masuk ke dalam Benteng 7 Lapis, jangan lupa meletakkan uang di pintu masuk pertama (nominalnya bebas).

Hari Kedua

Dari Atas (kiri ke kanan):
1. Pantai Faularan dan Tambak di Tuamese
2. Kolam Susuk
3. Bukit Tuamese

Waktu (WITA)Deskripsi
07:00 - 09:00Bangun pagi dan Mandi
09:00 - 09:15Perjalanan ke Warung Padang Beringin
09:15 - 09:50Sarapan
10:00 - 11:00Perjalanan menuju Tuamese
11:00 - 13:00Menikmati Tuamese dan istirahat
13:00 - 14:00Perjalanan menuju Kolam Susuk
14:00 - 14:10Menikmati keindahan Kolam Susuk
14:10 - 14:20Perjalanan menuju Teluk Gurita
14:20 - 15:00Menikmati Pemandangan Teluk Gurita
15:00 - 15:20Perjalanan ke PLBN Motaain
15:20 - 16:00Menjelajah perbatasan RI - Timor Leste
16:00 - 16:46Perjalanan ke Desa Matabesi
16:46 - 17:30Jelajah Desa Matabesi
17:30 - 17:40Perjalanan ke Pasar Senggol di Alun-alun kota Atambua
18:00 - 18:45Makan Malam
18:45 - 18:55Kembali ke penginapan
18:55Acara bebas dan istirahat

Ketika waktu menunjukkan pukul 09:00 WITA, kami dengan cepat langsung menuju ke rumah makan paling enak dan paling lengkap yang ada di Atambua, yaitu Rumah Makan Padang Beringin. Letaknya tidak jauh dari Tugu Selamat Datang. Semua orang di Atambua pasti tahu rumah makan yang satu ini.

Setelah perut terisi, kami berkendara agak jauh menuju Bukit Tuamese yang berada di wilayah TTU (Timor Tengah Utara). Kalau boleh disamakan, Bukit Tuamese ini mungkin mirip seperti bukit di Pulau Padar. Hanya saja, kalau di Pulau Padar itu bukitnya bersanding dengan laut, di Tuamese ini bukitnya bersanding dengan tambak. Namun itulah yang membuat view di Bukit Tuamese ini menjadi semakin spesial.

Semakin tinggi daratan yang bisa didaki di Bukit Tuamese, maka akan semakin spektakuler pemandangan yang bisa kita lihat. Berpindah dari Bukit Tuamese, kami bergerak ke arah utara menuju Kolam Susuk. Kolam ini merupakan kolam luas yang dijadikan sebagai Tambak Ikan Bandeng. Sayangnya, ketika kami ke sana, air sedang surut karena sedang memasuki musim kemarau.

Tidak jauh dari Kolam Susuk, kita bisa menjumpai bukit dengan pemandangan lautnya yang memesona. Tempat cantik tersebut namanya adalah Pantai Teluk Gurita. Sebenarnya kami sudah pernah ke Pantai Teluk Gurita, ketika pertama kali tiba di Belu. Namun waktu itu kecantikannya belum terlihat, sebab matahari belum menampakkan diri untuk menerangi pantai yang memesona ini. Kini kecantikan Pnatai Teluk Gurita terlihat jelas kala kami datang siang itu.

Dari Atas (Kiri ke kanan):
1. Pantai Teluk Gurita
2. Batas Negara Timor Leste
3. Desa Matabesi, Belu

Mengingat kami harus segera ke Motaain untuk berkunjung ke Timor Leste pukul 15:00 WITA, kami pun tidak bisa berlama-lama di Pantai Teluk Gurita ini. Dari Pantai Teluk Gurita di Kakuluk Mesak, kami bergegas menuju ke PLBN Motaain. Selama perjalanan menuju Motaain, kalian akan melewati 2 pantai indah yaitu Pantai Sukaerlaran dan Pantai Pasir Putih Atapupu. Setibanya di PLBN Motaain, petugas imigrasi langsung tersenyum dan mempersilakan kami untuk melintas.

Jeda waktu setengah jam yang disediakan oleh pihak imigrasi pun kami gunakan dengan baik untuk menyeberang ke Timor Leste dan berfoto di perbatasan. Sebenarnya tidak ada apa-apa di perbatasan, hanya ada 2 pos penjagaan dari masing-masing negara yang cukup ketat. Namun perasaan seru dan pengalaman baru ketika melintasi batas negara itulah yang membuat pos perbatasan ini begitu spesial bagi kami.

Puas mengunjungi perbatasan, kami melanjutkan perjalanan ke Desa Matabesi. Desa ini merupakan desa adat yang baru saja diresmikan menjadi salah satu destinasi wisata di Belu. Kearifan lokal di tempat ini masih benar-benar terjaga dan bahkan listrik pun belum menyentuh desa ini. Selama beberapa menit kami berfoto di sana dan berbincang dengan orang-orang di sana dan juga dengan supir kami yang ternyata juga berasal dari desa tersebut.

Dari Atas:
1. Tempat membel minuman keras di perbatasan Timor Leste dengan harga murah
2. Pos Batas Indonesia
3. Desa Matabesi

Setelah mendapat banyak dokumentasi dan pengetahuan dari Desa Matabesi, kami langsung menuju ke Pasar Senggol. Kami datang terlalu malam kemarin dan hal itu menyebabkan beberapa makanan sudah habis. Tak ingin kehabisan lagi, kami pun datang lebih awal.

Sama seperti hari sebelumnya, usai makan malam, kami pun kembali ke penginapan untuk beristirahat

CATATAN

  • Buat kalian yang ingin menikmati sunset di Belu, pergilah ke Pantai Teluk Gurita dan nikmatilah sunset terindah di Belu.
  • Di perbatasan, tepatnya dekat dengan Pos Timor Leste, terdapat sebuah mini market yang menjual berbagai minuman keras dengan harga murah. Untuk kamu yang ingin berbelanja minuman, pergilah dan belanjalah di sana (menerima uang rupiah).

Hari Ketiga

Fronteira Garden dan Gereja Katedral Santa Imaculata Atambua. Gambar oleh Banggawan

Waktu (WITA)Deskripsi
07:00 - 08:00Bangun pagi dan Sarapan
08:00 - 08:15Jalan kaki ke Katedral Atambua
08:15 - 10:00Melihat anak-anak bernyanyi di Katedral dan mendokumentasikan moment di sana
10:00 - 10:30Perjalanan ke Fronteira Garden
10:30 - 11:00Main di Fronteira Garden
11:00 - 11:30Perjalanan kembali ke penginapan
11:30 - 12:00Perjalanan ke Bandara AA. Bere Tallo
13:00 - 13:45Penerbangan dari Atambua ke Kupang
14:30 - 15:00TIba di Kupang dan dilanjutkan dengan perjalanan ke penginapan di Darma Loka
15:00 - 16:00Taruh barang dan beristirahat sejenak
16:00 - 16:30Perjalanan ke Cafe Tebing di Tenau
16:30 - 17:00Makan siang yang kesorean
17:00 - 17:15Perjalanan ke Bil's Resto, Tenau
17:15 - 20:00Menikmati senja dan dilanjutkan dengan makan malam
20:00 - 20:30Perjalanan ke Oncus Fruit Dessert
20:30 - 21:00Menikmati hidangan pencuci mulut di Oncus
21:00Kembali ke penginapan dan acara bebas

Hari ini merupakan hari terakir kami di Belu. Sebelum terbang menuju Kupang dari Atambua pada pukul 13:00 WITA, kami pun menyempatkan diri untuk mengunjungi beberapa tempat yang ada di kota Atambua. Tujuan pertama kami adalah Gereja Katedral Santa Maria Immaculata Atambua. Berjalan 10 menit dari penginapan, kami pun sampai di gereja katolik ini.

Kami begitu beruntung sebab ketika kami memasuki area gereja, ratusan anak terlihat sedang latihan paduan suara. Kunjungan kami kali ini menjadi ramai oleh suara-suara merdu dari anak-anak gereja. Yang saya suka dari gereja ini adalah pemakaian kaca mozaik pada beberapa bagian dindingnya. Ketika cahaya matahari menyinari kaca patri tersebut, suasana dalam gereja pun mendadak menjadi indah penuh warna. Kursi-kursi kayu tua nan kokoh juga terlihat mengisi bagian dalam gereja.

Dari gereja, kami beranjak menuju Fronteira Gardenpa. Taman ini merupakan sebuah taman yang dibangun oleh Pemprov NTT sebagai kawasan hijau di Kota Atambua. Taman ini cocok sekali dipakai oleh anak muda untuk berkumpul, keluarga untuk bermain atau sekedar membunuh waktu di sore hari. Di taman in tersedia beberapa pondok yang bisa digunakan untuk beristirahat, wahana permainan seperti perosotan dan ayunan, lapangan yang luas serta jogging track.

Perjalanan mulai dari penginapan ke Gereja Katedral, lalu dilanjutkan menuju ke Fronteira Garden, hingga kembali lagi ke penginapan, semua kami tempuh dengan berjalan kaki. Tepat pukul 12:00 WITA, Ardi membawa kami ke bandara A.A. Bere Tallo untuk menjemput penerbangan kami menuju Bandara El Tari di Kupang.

Dari Atas (kiri ke kanan):
1. Bandara Atambua
2. Cafe Tebing
3. Bil’s Resto

Setibanya di Kupang, kami hanya mampir sejenak di penginapan lalu tancap gas ke Cafe Tebing di Tenau. Tidak makan siang dan ditambah dengan tidak mendapat konsumsi ketika naik pesawat menuju Kupang, membuat kami tidak bisa lama-lama di penginapan dengan keadaan perut lapar.

Seperti namanya, cafe ini memang letaknya di tebing, mirip seperti Cafe Rock di Jimbaran, Bali, hanya saja ini versi murahnya. Kami tidak terlalu lama di Cafe Tebing sebab ada beberapa hal yang membuat kami cukup tidak betah. Kemudian pindahlah kami dari Cafe Tebing menuju Resto Bukit Intan Lestari atau yang biasa dikenal dengan Bil’s Resto. Di restoran yang berada di atas bukit inilah kami menikmati lembayung senja yang begitu memanjakan mata. Makanan di Bil’s Resto ini juga enak dan yang paling penting harganya masuk akal banget 🙂

Mencari hidangan pencuci mulut, kami pun berpindah ke Oncus Fruit Dessert. Lokasinya berada di kota Kupang. Awalnya kami pikir tempatnya cukup besar, tapi ternyata tidak. Meskipun kecil, namun Oncus ini menyediakan hidangan penutup yang variatif, enak dan menyehatkan. Untuk mengetahui apa saja sajian yang bisa kalian nikmati di Oncus, silahkan liat di DI SINI ya. Harganya juga murah lho

Itulah akhir perjalanan di hari itu. Usai dari Oncus, kami pun kembali ke penginapan untuk beristirahat.

CATATAN

  • Kalau menurut saya, lebih baik naik pesawat menuju Kupang dari Atambua. Kenapa? Lebih cepat dan murah.
  • Tidak ada izin khusus untuk masuk ke dalam Gereja Katedral Atambua. Namun perhatikanlah perilaku dan cara berpakaian ketika ingin masuk ke dalam gereja. sopanlah dalam kedua aspek tersebut.
  • Untuk menuju ke Cafe Tebing, Oncus, dan Bil’s Resto, silahkan gunakan aplikasi penunjuk arah pada smartphone kalian karena ketiganya sudah terdaftar.

Hari Keempat

Dari Atas:
1. Air Terjun Oenesu
2. Ibu Soekiran

Waktu (WITA)Deskripsi
06:00 - 07:00Bangun pagi dan Ngopi
07:00 - 07:30Perjalanan ke Goa Kristal, Bolok
07:30 - 08:45Main air di Goa Kristal
08:45 - 09:10Perjalanan ke Air Terjun Oenesu
09:10 - 10:00Main air di Air Terjun Oenesu
10:00 - 10:30Perjalanan ke Pusat Oleh-oleh Ibu Soekiran
10:30 - 11:00Belanja oleh-oleh
11:00 - 11:15Perjalanan ke Bandara
13:00Adios NTT

Hari terakhir ini, kami benar-benar berpacu dengan waktu. Boarding pukul 12:15 WITA membuat kami harus berangkat dari pagi untuk bisa mengunjungi beberapa spot wisata dan juga membeli oleh-oleh. Tepat pukul 07:00 WITA, kami memacu kendaraan menuju Goa Kristal yang ada di Bolok. Yang menyenangkan dari berangkat pagi-pagi ke suatu objek wisata di akhir pekan adalah tempat tesebut masih sepi.

Tepat seperti dugaan kami, sesampainya kami di sana, Goa Kristal sepi banget. Hanya kami bertiga yang mebuat tersebut menjadi ramai. Bahkan anak-anak yang biasa meminta uang parkir kendaraan pun belum terlihat. Dengan penuh hati-hati kami memasuki goa yang gelap itu. Agar kami tidak kesepian, Tuhan menemani kami melalui Burung Walet yang terbang masuk dan keluar goa sesuka hatinya.

Usai sesi fotografi di dalam goa, kami pun melanjutkannya dengan man air sebentar sebelum pergi ke destinasi berikutnya. Sekitar 45 menit setelah bermain air di Goa Kristal, kami pun sudah ada berada di Air Terjun Oenesu. Setelah selesai main air, kini kami main air lagi, hebat kan? Itulah mengapa kami tidak mengawali hari ini dengan mandi.

Beningnya Goa Kristal

Ini contoh dessert di Oncus. Pic via oncus

Sama seperti ketika kami tiba di Goa Kristal, di Air Terjun Oenesu ini pun masih sepi. Lagi-lagi kamilah yang membuat tempat ini ramai. beberapa langkah setelah menuruni anak tangga, deburan air yang tadinya hanya terdengar pun kini menjadi terlihat. Meskpun sedang memasuki musim kemarau, tapi debit airnya masih cukup banyak.

Kami tidak bisa terlalu lama karena kami ditekan oleh waktu. Selesai main air seikhlasnya dan foto-foto semampunya, kami pun bertolak menuju Sentra Oleh-oleh Khas NTT Bu Soekiran. Tempat oleh-oleh yang satu ini sudah sangat terkenal dan untuk kalian yang ingin membeli oleh-oleh buat orang di rumah saat berkunjung ke Kupang, mampirlah ke sini. Bu Soekiran menyediakan beberapa oleh-oleh populer seperti se’i sapi, se’i ikan, abon, kopi, gula keping, keripik jagung dan masih banyak lagi.

Terima kasih Kupang, Belu dan Alor yang sudah begitu menerima kami dengan baik. Terima kasih untuk keramahannya yang luar biasa. Selesai berbelanja, kami pun langsung menuju bandara untuk bersiap menyambut penerbangan kami menuju Jakarta. Adios Kupang.

CATATAN:

  • Buat kalian yang ingin ke Oenesu, tapi tidak bermain air (hanya foto-foto), bawalah obat nyamuk oles sebab nyamuk di Oenesu cukup banyak, ganas, haus darah dan ukurannya besar banget.
  • Bu Soekiran hanya menyediakan makanan halal. Kalau mau bawa Se’i Babi sebagai oleh-oleh, kalian bisa ke Aroma.
  • Untuk informasi mengenai Goa Kristal di Bolok, kalian bisa membacanya DI SINI.
  • Informasi mengenai Air Terjun Oenesu bisa kalian baca DI SINI.

*****

Yap, itulah sedikit sharing mengenai itinerary saya ketika menjelajah Belu – Kupang. Semoga berguna untuk kalian ya dan tulisan ini sekaligus menjadi akhir dari bagian penjelajahan Alor – Belu – Kupang selama 11 hari yang sudah saya lakukan.

Info Tambahan 

  1. Umumnya warung makan di Atambua baru buka jam 09:00 WITA.
  2. Ada Se’i Babi yang enak dekat Hotel Intan, Atambua namanya Bintang Kejora.
  3. Buat kalian yang ingin ke Perbatasan Indonesia – Timor Leste, kalian juga bisa mampir ke  rumah Joni si pemanjat tiang bendera 17an karena rumahnya tidak jauh dari sana.
  4. Selama di Kupang, kami menggunakan mobil sewaan untukberkeliling (lepas kunci)
  5. Selama menjelajah Belu, lebih baik menggunakan supir orang lokal, sebab beberapa spot medannya cukup sulit dan tidak ada di aplikasi penunjuk arah.
  6. Dalam bahasa Kupang,Tapale’uk memiliki arti jalan-jalan.

Kontak

  1. Sewa Mobil Kupang → 081337772292 (Telepon & WA)
  2. Sewa Mobil + Supir Belu (Ardi) →082236404943 (Telepon & SMS)

Rincian Biaya Tapale’uk Belu – Kupang ini bisa dibaca DI SINI

Success is a journey, not a destination. 
— Ben Sweetland

Comments

comments

Powered by Facebook Comments

Seorang pria yang sedang terus belajar menulis. Alasan menulisnya simple saja, karena "tertampar" oleh kalimat dari Pramoedya yang berbunyi: Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian.