Kisah Hidup Pak One & Mawar yang Saling Menghidupkan

Halo, kalau di postingan kemarin saya sudah bercerita bagaimana saya bisa bertemu Mawar si Dugong di Alor, kurang lengkap rasanya kalau saya belum menceritakan proses bertemunya Mawar dengan Pak One. Kisah pertemuan 2 makhluk beda dunia ini sungguh luar biasa dan bagaimana keduanya bisa saling menghidupkan juga terlalu sayang kalau tidak saya tuliskan.

Saya percaya kalau kita bisa belajar darimana saja, dari siapa saja dan dimana saja, dan inilah kisah inspiratif dan pembelajaran yang saya dapat dari Pak One dan juga Mawar.

Masa Lalu Pak One

Pak Onesimus Laa. Gambar via ini

Siapa yang menyangka kalau seorang Onesimus Laa, nama jelas dari Pak One, dulunya pernah tinggal di Jakarta pada tahun 1982 dan berprofesi sebagai penjaga lahan dan juga preman. Beliau ini dulunya adalah anak buah dari Hercules, salah satu mantan preman paling ditakuti di Indonesia. Bersama dengan Hercules, sudah banyak kisah kelam yang ia lalui, mulai dari saling ribut antar gang, mabuk-mabukan, dan menghilangkan orang.

“Dulu kalau ada yang berani usik tanah yang saya jaga di daerah Taman Anggrek, itu pasti kita kasih pelajaran. Kita kasih mati kalau perlu. Dulu itu saya pegang leher orang macam pegang leher ayam, mudah sekali saya patahkan.” Jelas Pak One.

Kehidupan di Jakarta yang keras selama beberapa tahun membuat Pak One menjadi semakin keras pula. Ia melupakan keluarganya di Alor dan terlena dengan uang yang ditawarkan oleh ibu kota. Pak One mengaku kalau dulu ia gampang sekali mendapatkan uang, cukup menakuti orang atau menemani Hercules, ia bisa dapat banyak uang. Namun pada akhirnya uang yang banyak itu hilang begitu saja, tak jelas habisnya kemana. Sampai akhirnya ia memutuskan untuk berhenti dari kehidupan yang membuat dirinya kosong dan kembali ke Alor.

Konservasi Mangrove & Perubahan Kehidupan

Pak Onesimus sedang menanam Mangrove. Pic via ini

Saat memutuskan kembali ke Alor sekitar akhir 90an, Pak One tiba di tanah kelahirannya dengan hanya memegang uang sebesar Rp 300.000 saja. Seperti yang ia katakan, uang berjuta-juta selama ia bekerja di Jakarta lenyap begitu saja entah kemana. Begitulah kalau “uang panas”, tidak akan pernah bisa disimpan. Setibanya di Alor, dia berjanji pada dirinya sendiri, istri dan juga 2 anaknya kalau ia tidak akan pergi merantau lagi dan akan mengubah hidupnya. Ia ingin bekerja secara benar dan berjanji untuk menjaga tanah kelahirannya, Alor.

Pada tahun 2002, Pak One mulai konservasi laut. Diawali dari dirinya sendiri, ia menanam mangrove di sekitar Pulau Sikka dan Pantai Mali. Ia tahu tanah kelahirannya ini begitu diberkati oleh Tuhan dengan kekayaan lautnya yang dahsyat, itulah sebabnya, selain mengambil hasil alam dari laut tersebut, ia pun harus juga menjaganya dan ia memilih untuk menanam mangrove.

Usahanya begitu berat, selain karena ia hanya melakukannya seorang diri, Pak One pun mendapat penolakan dari istrinya. Pada tahun tersebut, Pak One bukanlah orang kaya secara materi. Uang yang ia punya seharusnya ia gunakan untuk menghidupi keluarganya, terutama untuk menyekolahkan anak-anaknya, tetapi ia lebih memilih menggunakannya untuk menanam Mangrove.

Ia meyakinkan istrinya kalau usaha yang ia lakukan tidak akan sia-sia dan Tuhan akan melihat usaha setiap anak-anakNya. Selain untuk menjaga Pulau Sikka dan Pantai Mali dari abrasi, mangrove ini berfungsi juga berfungsi untuk mencegah intrusi laut (rembesnya air laut ke tanah dan membuat air tanah menjadi payau), penyaring limbah organik yang terbawa ke pantai secara alami, dan yang paling penting adalah menstabilkan daerah pesisir.

Perjumpaan Dengan Mawar

Ini dia Mawar

Usaha Pak Onesimus ternyata lambat laun membuahkan hasil. Para warga yang merasakan manfaat dari tanaman mangrove pun mulai membantu Pak One, bahkan istrinya pun kini mendukung yang dilakukan Pak One. Hingga pada tahun 2007, ketika ia sedang menuju Pulau Sikka dengan kapal tradisional miliknya, tiba-tiba saja ada seekor Dugong yang mengkutinya. Hingga ia kembali ke Pantai Mali, Dugong tersebut mengantar Pak One kembali sebelum akhirnya dugong itu pulang ke kediamannya di balik Pulau Sikka.

Kejadian tersebut berlangsung selama beberapa kali, hingga Pak One sadar kalau memang ia ditakdirkan untuk hidup bersama dengan Dugong yang ia beri nama Mawar ini. Sejak saat itu, ia mulai merawat Mawar, memperhatikan Mawar layaknya anggota keluarganya sendiri. Kalau pendapat saya pribadi, usaha menanam mangrove yang Pak One lakukan menyebabkan padang Lamun menjadi terjaga. Lamun merupakan tanaman seperti rumput laut yang merupakan makanan dari Dugong. Lamun-lamun ini memang tumbuh di dasar laut yang berpasir di sekitar Pulau Sikka.

Hingga tahun 2018 ini, persahabatan Pak One dan Mawar sudah berlangsung selama 11 tahun. Mulai dari usia Mawar masih 7 tahun, hinggi kini sudah menginjak 18 tahun. Bahkan saking akrabnya Mawar dengan Pak One, Mawar pun membawa serta pasanganya dan memperkenalkannya dengan Pak One. Ia memberi nama si Cantik untuk si dugong betina. Mawar dan si Cantik sudah menghasilkan seekor dugong mungil lainnya. Namun sampai sejauh ini, si Cantik dan anaknya belum mau bertemu dengan para wisatawan yang datang. Mereka berdua hanya mau bertemu dengan Pak One.

Pak Onesimus dan Mawar

Kehadiran Mawar memang membawa rejeki bagi Pak One. Mawar pun segera menjadi daya tarik wisata Alor dan berkat bantuan Pak One, penelitian terhadap Dugong pun menjadi lebih mudah untuk dilakukan. Ketenaran wisata dugong ini pun semakin meningkat sejak DAAI TV mengangkat kisahnya pada tahun 2009. Buat kalian yang mau tahu bagaimana caranya untuk melihat Mawar ketika berkunjung ke Alor, kalian bisa membacanya pada postingan INI.

Pak One pun bersaksi kalau dia tidak pernah membiayai anak-anaknya sekolah sejak SD – SMA. Namun sejak kedatangan Mawar, ia mendapatkan berkat yang cukup berlimpah karena berhasil mengantarkan tamu untuk melihat si Dugong. Dengan uang yang ia dapat dari Mawar ini, ia tetap menjalankan misinya untuk menanam mangrove di pinggir pantai dan juga ia bisa bertanya kepada anaknya, “Kalian mau kuliah dimana?”

Kedua anaknya kini sudah selesai kuliah, dan percaya tidak percya, dari Dugong ini sudah lahir 2 orang sarjana asal Alor, yang berkuliah bukan di Alor atau di Kupang, tapi di Jakarta.

Kesaksian Pak One Bagaimana Mawar Menyelamatkannya

Akhir tahun 2016, anak pertamanya yang sudah lulus kuliah dan kembali ke Alor pun mau menikah. Undangan sudah disebar untuk 300 KK. Dari 300 KK ini pastinya yang datang minimal 2 orang dari setiap keluarga, belum lagi kalau membawa anak. Diperkirakan tamu yang datang bisa mencapai 1000 orang. Kalian tahu sendiri kan kalau pernikahan di kampung tidak bisa diadakan sederhana dan hanya mengundang segelintir orang?

2 minggu sebelum hari H, uang untuk melaksanakan pesta masih belum ada. Ditambah lagi anak kedua Pak One masih berkuliah semester 4 di Jakarta. Mau dapat uang dari mana untuk membiayai anak menikah? Lalu tiba-tiba ada seorang pria yang datang kepada Pak One sembari membawa TOR (Term of Reference). Pria itu berkata kalau ia dan dan beberapa orang rekannya (kurang lebih 40 orang) dari salah satu badan milik pemerintah ingin melakukan penelitian terhadap Dugong.

Rumah Pak Onesimus

diorama Mawar di rumah Pak Onesimus. pic via Monika Haryanto

Setelah membaca TOR tersebut, Pak One pun menyanggupinya dengan syarat semua orang harus mengkuti omongannya. “Pokoknya kalian harus ikuti setiap omongan saya. Tidak ada yang tidur di Hotel. Semua menginap di rumah saya. Makan di sini, briefing di sini, dan tidur pun di sini. Jika saya tidur di tanah, kalian tidur di tanah. Saya tidur di lantai, kalian tidur di lantai. Saya makan singkong, kalian juga makan singkong. Bisa tidak kalian seperti itu?” tanya Pak One dengan Tegas.

“Pokoknya selama dugong itu ada, Bapak omong apa kita ikut. Apapun kata Pak One pasti kami turuti, tidak akan ada yang kami langgar.” Jawab pria yang menjadi perwakilan teman-temannya itu.

“Berapa lama teman kamu akan datang dan berapa lama penelitian ini akan dilakukan?” Tanya Pak Onesimus.

“Mereka akan datang dalam 2 hari kalau bapak setuju dan penelitian akan dilakukan selama 1 minggu.” Jawab pria itu.

“Okay. segera setelah mereka tiba, bawa mereka dan semua barangnya ke rumah saya.” Pinta Pak One. Sebelum pergi, pria itu pun memberikan sedikit uang bagi Pak One dengan pesan untuk ibu (istri Pak One) belanja makan untuk mereka selama penelitian di lakukan.

Singkat cerita, penelitian selama 1 minggu itu berjalan dengan lancar. Mereka bisa bertemu dengan Mawar dan mengamatinya. Di hari terakhir, rombongan peneliti tersebut pamit undur diri karena tugas mereka sudah selesai. Sebelum pamit, salah seorang dari tim peneliti itu datang menghampiri Pak One sambil membawa kwitansi untuk ditanda tangan. Hati Pak One dibuat dag..dig..dug saat ingin menandatanganinya. Sebelum menandatanganinya, Pak One melihat nominal yang ada di kwitansi tersebut dan ketika mengetahui jumlahnya, air mata bahagia Pak One langsung jatuh dengan sendirinya. Nominal yang ia terima adalah 15 juta dan uang sebesar itu lebih dari cukup untuk menggelar pesta di kampung.

Warisan dari Pak One

Pantai Mali

Keindahan inilah yangbisa diwariskan Pak Onesimus

Pak One percaya kalau manusia mati tidak akan membawa apa-apa, tapi ia percaya kalau manusia yang mati itu bisa meninggalkan apa-apa. Dan hal yang ia ingin tinggalkan ketika meninggal nanti adalah alam yang sehat, alam yang bisa menghidupi keturunan-keturunan berikutnya. Untuk itulah dia tidak pernah bosan untuk menyerukan dan memberi contoh bagaimana menjaga alam, khususnya laut.

Setiap anak-anak pulang sekolah di sore hari, ia pasti berusaha untuk membawa mereka ke laut. Pak One akan memperkenalkan mereka dengan mangrove, ikan-ikan di laut dan juga Mawar. Ia akan mengajarkan anak-anak bagaimana caranya menanam mangrove dan cara berinteraksi dengan Mawar. Usianya sekarang 58 tahun dan Mawar 18 tahun. Kalau Mawar terus dijaga, maka usianya bisa mencapai 70 tahun dan ketika Mawar bisa mencapai usia itu, pasti Pak Onesimus sudah tidak ada. Lalu siapa yang akan menjaganya? Ya, anak-anak itu.

Pak One juga “mendongengkan” kenapa mereka harus menjaga laut dari sekarang. Jaman Pak One kecil dulu, orang tuanya menangkap ikan cukup dengan pergi ke pinggir pantai. Kini, para Nelayan harus pegi ke tempat yang cukup jauh dari garis pantai untuk menangkap ikan. Kalau sekarang tidak dijaga, lantas generasi ke depan mau cari ikan dimana? Pak One tidak menjelaskan pada anak-anak dengan cara menakut-nakuti, tapi ia memberi gambaran jelas mengenai apa yang akan terjadi kalau tidak dijaga.

Pak One juga menunjukkan salah satu tindakan tegas yaitu tidak menjual Pulau Sikka dengan harga berapapun dan kepada siapapun. Ya, Pulau Sikka adalah pulau tidak berpenghuni milik Pak Onesimus. Laut tempat Mawar menetap berada di balik Pulau Sikka dan pulau inilah yang akan ia wariskan. Sudah banyak orang yang menawar, baik itu orang lokal atau asing, untuk membeli Pulau Sikka namun Pak One berpegang teguh kalau ia tidak akan menjual 1 cm pun pulau tersebut.

Ngomong-ngomong, uang yang Pak Onesimus hasilkan dari Mawar itu tidak ia pergunakan sendiri lho ya. Ia juga membagiaknnya untuk anak-anak yang ingin sekolah tapi tidak mamu, para janda dan fakir miskin, dan orang-orang lain yang membutuhkannya. Bahkan tak jarang anak-anak yang saya ceritakan tadi juga diberikan uang jajan oleh Pak Onesimus.

******

Terima kasih banyak Pak Onesimus untuk kisahmu dan Mawar yang inspiratif. Mungkin engkau bukan sosok yang berpendidikan tinggi tapi dedikasimu untuk Indonesia, khususnya Alor patut dihargai. Pemikiranmu sungguh simple, “jika kamu menjaga alam maka alam pun akan memberikan yang terbaik buat kamu.”

Saya juga percaya kalau setiap orang baik punya bisa punya masa lalu yang buruk dan setiap pendosa bisa punya masa depan yang baik. Terima kasih engkau sudah bertindak seperti namamu. (Dalam bahasa Yunani, Onesimus artinya BERGUNA)

Every moment is an organizing opportunity, every person a potential activist, every minute a chance to change the world.
— Dolores Huerta

Comments

comments

Powered by Facebook Comments

Darius Go Reinnamah

Seorang pria yang sedang terus belajar menulis. Alasan menulisnya simple saja, karena "tertampar" oleh kalimat dari Pramoedya yang berbunyi: Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian.