Mencicipi Es Krim Legendaris Bernuansa Sejarah di Ragusa Es Italia

Secara perlahan kaki ini melangkah di trotoar yang berada di depan Mahkamah Agung. Dengan lembutnya kaki ini mengayun melewati batu demi batu yang tersusun di atasnya. Angin sesekali berhembus pelan ke arah yang berlawanan dengan langkah kami, menyentuh dan membelai bagian tubuh ini yang tak terlindungi oleh kain. Panas yang cukup menyengat saat itu tak menyurutkan niat saya, Billy dan Helena untuk berjalan kaki. Trotoar di kota memang cukup besar dan nyaman untuk kami para pejalan.

Satu gedung akhirnya terlewati, kini kami berada di depan Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri). Langkah pun kami percepat dengan tak lupa mengatur tempo nafas. Di sebelah kanan kami, atau tepatnya di seberang gedung kemendagri, sebuah tugu yang berbentuk bak obor dengan lidah apinya yang menyala berwarna emas sempat mengalihkan perhatian kami. Itulah Monas, monumen kebanggaan orang Jakarta (bahkan Indonesia). Hanya sekilas kami menengok ke arah kanan untuk melihat gagahnya monumen itu berdiri, setelah itu pandangan kembali kami arahkan ke depan dan melanjutkan perjalanan.

Di sebuah persimpangan, kami berbelok ke arah kiri mengikuti kemana trotoar itu mengarah. Di sebelah kiri jalan, kini terdapat beberapa ruko yang menjual beraneka sajian. Kaki kami berhenti melangkah tepat di sebuah bangunan tua di sebelah Masjid Istiqlal, bangunan tua yang coba dipoles agar terlihat sedikit kekinian. Namun hal tersebut tak bisa menyembunyikan usia dan aura tuanya. Di depan bangunan tersebut tertulis RAGUSA ES ITALIA.

Ragusa Es Italia

Lokasi Parkir tidak terlalu besar di tempat ini

Nuansa Ragusa

Kami pun segera masuk ke dalam bangunan toko es krim tersebut. Dibalik pintu utamanya yang berwarna biru, terdapat satu ruangan besar yang menjadi bagian utama dari bangunan ini. Di sinilah pelanggan bisa memesan lalu duduk menikmati es krim Ragusa berbagai rasa.

Beberapa meja rotan berbentuk bundar tersusun rapi di bagian kiri dan kanan ruangan. Bagian tengah dibiarkan kosong sebagai akses jalan. 4 kursi rotan diletakkan di samping setiap meja rotan. Kurang lebih ada 10 – 11 meja di dalam ruangan itu kalau saya tidak salah hitung. Ruangannya memiliki jarak antara lanta dan langit-langit yang cukup tinggi sehingga

Di dinding bangunan terdapat banyak pigura yang menggantung. Tidak hanya foto-foto menu es krim Ragusa yang ada di dalam pigura-pigura yang menggantung itu. Di antaranya terdapat juga beberapa penghargaan dari berbagai pihak, salah satunya dari MURI (Museum Rekor Indonesia) sebagai toko es krim tertua dan masih buka hingga sekarang. Ada juga beberapa diorama yang diletakkan di antara foto-foto itu.

Pemandangan Ragusa dari luar

Pemandangan dari dalam

Sebelah kiri itu kasirnya. Tepat di sebelah kiri adalah lokasi penyajiannya

Mengintip Ragusa dari luar

Namun yang menarik perhatian saya bukan itu, melainkan foto-foto Ragusa jaman dahulu. Beberapa pigura berukuran besar berisikan foto-foto Ragusa tahun 1930an. 1932 adalah tahun pertama toko ini membuka gerainya di Pasar Gambir.

Nuansa sejarah begitu terasa dalam foto-foto tersebut dan kalau dilihat dari gambarnya, Ragusa menjadi toko yang cukup favorit di jaman penjajahan dulu. Ada juga foto Luigia dan Vicenzo Ragusa, dua tokoh pendiri dari toko es krim ini, beserta keluarganya yang lain seperti Pascuale dan Fransisco.

Salah satu bukti sejarah: Cafe Ragusa pada tahun 1930an di Gambir

Foto Ragusa Bersaudara dan penghargaan dari MURI

Bagus ya Cafenya jaman dulu

Foto Keluarga Ragusa Lainnya

Pilihan Menu Ragusa

Tepukan pundak yang dilakukan oleh Billy menyadarkan saya dari lamunan sejarah masa lampau yang timbul dari mengamati foto-foto yang ada. “Ayo ke kasir, kita pesan es krimnya. Mulut perlu yang sejuk-sejuk nih.” Ucap Billy sedikit emosi. Kami pun segera menuju kasir dan salah seorang pelayan memberikan menunya kepada kami, kemudian ia berlalu untuk melayani pelanggan lainnya.

Secara garis besar, ada 4 jenis es krim yang ditawarkan oleh Ragusa yaitu

  • Regular Flavored
    • Mocca – Rp 15.000
    • Vanilla – Rp 15.000
    • Chocolate – Rp 15.000
    • Strawberry – Rp 15.000
    • Nougat – Rp 20.000
  • Premium Flavored
    • Durian – Rp 20.000
    • Raisin – Rp 20.000
  • Mixed Flavored
    • Coupe de Maison – Rp 20.000
    • Special Mix – Rp 25.000
  • Fancy Flavored
    • Chocolate Sundae – Rp 25.000
    • Tutti Frutti – Rp 30.000
    • Casatta Siciliana – Rp 30.000
    • Banana Split – Rp 35.000
    • Spaghetti Ice Cream – Rp 35.000

Inilah Tampilan Tutti Fruti

Bentuk Cassata Siciliana

Coupe de Maison

Kami pun dibuat pusing oleh pilihan menu yang ada. Semuanya terlihat enak dan semuanya ingin kami coba. Namun kurang bijak rasanya kalau memesan terlalu banyak. Bagaimana kalau tidak habis? Mubazir dong. Setelah berunding selama 5 menit, akhirnya kami memilih 3 menu yang berbeda agar kami bisa mencicipi kepunyaan satu sama lain. Billy memilih Chocolate Sundae, Helena menjatuhkan pilihan pada Special Mix dan saya tidak bisa menolak keindahan nama dari Spaghetti Ice Cream. “Seperti apa ya bentuk dan rasanya?” Tanya saya dalam hati ketika memilih pilihan tersebut.

Dari memilih menu kami beranjak ke kasir untuk melakukan pembayaran. Ya begitulah memang proses pemesanan di sini. Pilih →Bayar→Tunggu Es krimnya di sebelah kasir→Bawa sendiri ke meja dimana kami duduk. Billy pun menyodorkan diri untuk menunggu es krimnya hingga jadi. Saya dan Helena dengan gesit langsung mengamankan kursi yang kosong dan duduk di sana.

Es Krim sedang dibuat oleh Salah Satu Pelayan

Ragusa tidak menggunakan AC, hanya ada beberapa kipas angin di dalamnya

Rasa

Billy pun akhirnya datang dengan membawa ketiga menu yang sudah jadi. Dari ketiganya, Spaghetti Ice Cream milik saya lah yang ukurannya paling besar (sesuai dengan harganya). Saya akan coba memberikan review terhadap 3 es krim yang saya cicipi.

Untuk Chocolate dengan taburan susu dan kacang di atasnya, saya cukup suka karena teksturnya tidak terlalu kasar dan rasanya tidak terlalu manis. Special Mixed sendiri terdiri dari 3 varian rasa vanilla, Strawberry, dan satu lagi saya lupa namanya (warnanya hijau). Ketiga rasanya sama-sama enak, sama-sama membuat lidah bergetar.

Nah, untuk yang terakhir, si Spaghetti Ice Cream. Rasanya enak banget dan teksturnya lembut banget. Es krimnya berwarna putih dan disajikan dengan bentuk yang menyerupai spaghetti. Taburan sukade dan kacang di atasnya menambah cita rasa dari es krim ini. Oh iya, menurut saya porsi Spaghetti Ice Cream ini untuk 2 orang lho. Namun karena saya makannya banyak, jadinya saya lahap sendiri 🙂

Es Krim yang Kami Pesan

Duh, maaf ya komentarnya cuma begitu. Soal makanan, komentar saya memang cuma 2, enak dan enak banget. Saya memang begitu anaknya. Kalau ditanya kurang apa dari ketiga es krim tadi, jawabanya “kurang banyak”. Hahaha.  Kalau dari beberapa omongan orang, kalian wajib mencoba rasa durian dan Tutti Frutti. Katanya 2 varian rasa itu enak banget.

Keunggulan lain dari es krim Ragusa adalah semua dibuat dari susu sapi dan tidak menggunakan bahan pengawet. Jadi bisa dibilang sangat aman untuk dikonsumsi. Dulunya ada 20 gerai es krim Ragusa, namun yang sanggup bertahan hingga kini hanya yang ada di jalan veteran ini. Di sinilah pembuatan serta penyajian berlangsung. Jadi bisa saya katakan what you’ll get is fresh from the oven.

Chocolate Sundae

Special Mix

Spaghetti Ice Cream

*****

Usai semuanya sudah habis, kami pun segera pergi sebab sudah banyak orang lain yang mengantri untuk duduk dan mencicipi es krim legendaris ini. Terima kasih Ragusa sudah mampu bertahan hingga sekarang dan memberikan es krim yang sangat otentik buatan kalian.

Nama Ragusa Es Italia ini mungkin memang jarang terdengar, sebab toko es krim ini memang tidak pernah mengiklankan dirinya di pinggir jalan, media sosial atau media televisi. Berita mengenai keberadaannya hanya ada lewat mulut-mulut yang sudah merasakannya, lalu membagikannya lewat perkataan atau gambar yang berseliweran di sosial media.

Kalau kalian masih ragu soal rasa, sepertinya usia Ragusa Es Krim Italia yang sudah mencapai 86 tahun, atau hanya lebih muda 7 tahun dari Perdana Menteri Malaysia saat ini, Mahatir Muhammad, sudah mampu menjawabnya. Tidak mungkin Ragusa masih bisa bertahan sampai sekarang kalau rasanya tidak enak.

Jadi sekarang sudah tahu kan kalau mau makan es krim di Jakarta harus pergi kemana?

Tambahan

  • Yang saya tidak suka, Es krim di sini disajikan dengan menggunakan styrofoam atau gelas plastik yang sekali pakai buang. Bila bicara soal praktis, memang praktis, tapi dampaknya tidak baik bagi lingkungan.
  • Tempatnya tidak terlalu besar dan selalu ramai. Menunggu 10-15 menit untuk mendapatkan bangku adalah hal yang cukup wajar. Perlu diingat, kalau sudah selesai makan segeralah keluar. Jangan ngobrol di sana sebab banyak orang lain yang juga mau duduk untuk makan.
  • Selain es krim, ada minuma juga yang ditawarkan seperti Iced Lemon Tea, Orange Juice, Cola Float, dll.
  • Menurut pengalaman beberapa orang yang bisa kalian baca di googleenci yang menjadi kasir itu sangat amat jutek dan galak. Jadi persiapkan diri kalian ya. Kalau saya sih kemarin tidak merasakan kejutekan dan kegalakkan dari enci tersebut.
  • Di depan Ragusa, terdapat beberapa penjuala makanan lainnya seperti kue cubit dan sate.

Penilaian

Dari skala 0 – 100 dimana 0 adalah yang paling buruk dan 100 adalah nilai terbaik, berikut ini adalah penilaian dari saya:

Alamat

Jl. Veteran I No.10, RT.4/RW.2, Gambir, Kota Jakarta Pusat, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 10110

Buka setiap hari dari pukul 10:00 – 22:00 WIB

My love for ice cream emerged at an early age – and has never left! 
–Ginger Rogers

Comments

comments

Powered by Facebook Comments

Darius Go Reinnamah

Seorang pria yang sedang terus belajar menulis. Alasan menulisnya simple saja, karena "tertampar" oleh kalimat dari Pramoedya yang berbunyi: Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian.