Mengapa Maskapai & Jam Penerbangan Harus Sama Saat Sharedcost?

Pernahkah kalian berangkat ke suatu daerah untuk melakukan sharedcost trip di satu hari yang sama tapi maskapai dan jam penerbangannya berbeda dengan beberapa teman yang lain? Saya pernah dan ada satu pengalaman yang kurang menyenangkan dari peristiwa tersebut.

Kalau umumnya rombongan sharedcost trip akan memilih maskapai dan jam penerbangan yang sama ketika berangkat, namun tidak dengan saya waktu itu. Jadi begini ceritanya, suatu hari saya ingin pergi ke daerah di timur Indonesia dengan 3 orang teman. Sebut saja 3 orang tersebut adalah A, B, dan C. Itinerary sudah kami susun dengan sangat baik dari jauh-jauh hari. Kami sudah tahu mau kemana saja setiap harinya, menginap dimana dan restoran-restoran enak apa saja yang harus kami kunjungi.

Setelah itinerary tersusun, kami pun langsung membeli tiket. Pembelian pertama dilakukan oleh A yang disusul berikutnya oleh saya. Katakanlah saya dan A membeli tiket penerbangan Biru yang akan berangkat pada 17 Agustus 2018 pukul 13:00 WITA. Melihat kami sudah membeli tiket, C dan D pun ikut membeli. Hanya saja C dan D membeli tiket penerbangan maskapai lain, sebut saja penerbangan Merah.  Harinya sama, namun waktu penerbangannya 30 menit lebih lambat dari penerbangan saya dan A.



Alasan C membeli tiket penerbangan Merah adalah karena penerbangan Merah harganya lebih murah Rp 300.000. Lumayan banget kan Rp 300.000 kalau dipakai buat beli Tempe Mendoan. Si D, yang melihat si C membeli penerbangan dengan maskapai yang berbeda pun sedikit bingung. Namun karena tak ingin membiarkan si C berangkat seorang diri, si D pun membeli tiket dengan maskapai dan waktu penerbangan yang sama dengan si C.

Sampai di sini belum ada masalah apapun, semuanya masih berjalan dengan lancar. Perbedaan waktu yang hanya 30 menit pun tidak jadi masalah. Toh kalau hanya 30 menit, saya dan A bisa menunggu di bandara sambil julid di Instagram. 30 menit dipakai untuk julid pastinya tidak akan terasa.

Mahkluk yang bernama “MASALAH” itu Datang

Hari yang ditunggu akhirnya datang. Tepat tanggal 17 Agustus 2018 pukul 13:00 WITA, pesawat yang saya dan A gunakan untuk melakukan sharedcost trip berangkat sesuai jadwal. Selama perjalanan, bayangan akan perjalanan-perjalanan indah yang akan kami lakukan selama beberapa hari ke depan terus menghantui, bahkan ketika kami tertidur saat penerbangan berlangsung.

1 jam setelah pesawat mengudara, sang pilot pun memberikan instruksi melalui pengeras suara agar kami bersiap-siap karena sebentar lagi pesawat yang saya dan A tumpangi akan mendarat di bandara tujuan. Mendengar suara itu, saya sebenarnya kesal dan senang. Kesal karena tidur saya sedikit terganggu, namun senang karena sharedcost trip kami akan segera dimulai. Dengan penuh kehati-hatian, sang pilot pun mendaratkan pesawat yang sedang ia kemudikan.

Hal pertama yang saya lakukan ketika tiba di bandara yang dituju adalah berjalan ke arah area pengambilan barang. Sambil menunggu barang yang saya letakkan di bagasi saya datang, saya pun segera menyalakan telepon genggam yang sedari tadi saya matikan. Alangkah terkejutnya saya ketika sebuah notifikasi WhatsApp masuk dan saya membukanya. Pesan WhatsApp itu berasal dari C dan berbunyi, “Duh, penerbangan gue delayed nih. Belum tahu juga kapan pesawatnya akan diberangkatkan.”


Membaca pesan tersebut, perasaan saya pun langsung kacau balau. Mood yang tadinya happy langsung berubah total menjadi kesal. Mau marah tapi nggak tahu mau marah sama siapa, dan kalau sudah marah pun pesawatnya belum tentu berangkat.

Melihat raut wajah yang berubah saat sedang membaca pesan dari telepon selular saya, si B pun menghampiri dan menanyakan pada saya apa yang terjadi. Tanpa berbicara panjang lebar, saya memberikan telepon genggam saya pada si B dengan tampilan pesan dari si C yang sudah terbuka. Membaca pesan itu, si B pun ikutan kesal juga. Saya dan B pun akhirnya saling mengumpat dan menyalahkan si C atas peristiwa ini.

Sebenarnya si C tidak bisa disalahkan sepenuhnya atas peristiwa ini, namun daripada tidak ada yang bisa disalahkan dan dimaki-maki untuk menyalurkan kekesalan kami, ya si C aja deh yang kami salah-salahin di bandara itu. Seharusnya kami buka instagram dan julid-in netizen setibanya di bandara, namun karena peristiwa ini kami jadinya ngomongin si C deh. *pelampiasan*

Singkat cerita, pesawat si C pun berangkat 3 jam kemudian. Ya, 3 jam. Rencana perjalanan yang kami susun pun berantakan. Tidak terlalu berantakan sih sebenarnya, tapi tetap saja kesal karena harus merombak susunan acara yang diakibatkan oleh peristiwa yang seharusnya tidak perlu terjadi. Menunggu dalam kurun waktu yang lama dan mengawali perjalanan dengan perasaan bete itu nggak enak. Beneran deh, nggak enak.


Pelajaran

Think before Doing

Sebenarnya apa sih yang ingin saya bagikan dari potongan cerita tadi? Jawabannya adalah pertimbangkan banyak hal ketika memutuskan sesuatu (bukan hanya dalam soal membeli tiket). Boleh-boleh saja membeli tiket penerbangan dengan maskapai dan jam penerbangan yang berbeda. Hanya saja pastikan kalau hal tersebut tidak akan mengganggu perjalanan kelompok kalian, tidak akan merusak rencana perjalanan kalian (misalnya membeli 1 hari lebih awal dibandingkan yang lain).

Memang ada banyak faktor yang terkadang membuat kita tidak bisa berada dalam maskapai dan penerbangan yang sama, seperti sudah penuhnya seat yang tersedia, harga yang terlampau mahal, atau beberapa alasan yang lain. Kalau sudah menghadapi situasi yang seperti itu, jangan lupa dibicarakan kembali agar tidak ada kekecewaan dan omongan di belakang saat trip-nya berjalan.

Untuk contoh kasus yang saya berikan, jangan karena harga tiket yang hanya selisih sedikit, urusan malah jadi runyam. Uang bisa dicari tapi “waktu” dan kebersamaan itu sulit dicari dan jauh lebih mahal. Jangan terlalu pelit jadi orang. Pengambilan keputusan itu penting sebab akan ada Domino Effect yang terjadi dibalik setiap keputusan yang kalian ambil, yang mana itu akan berakhir dengan sedih atau dengan bahagia.

Lalu diperlukan juga sikap “asyik aja”. Maksudnya bagaimana? Jika suatu hal yang tidak diinginkan terjadi (di luar rencana), ya asyik-in aja. Terlalu lama kesal atau marah atas kondisi “buruk” yang terjadi juga tidak ada gunanya, tidak akan membuat semuanya kembali normal. Maafkanlah semua, tertawakanlah masalahmu, atur ulang perjalananmu dan lanjutkanlah dengan senyum dan semangat yang baru.

*****

Itu tadi sedikit pengalaman dari sharedcost trip saya. Kalian punya pengalaman yang sama atau bahkan lebih seru?

Tersesat Bersama-sama Jauh Lebih Seru daripada Tersesat Sendiri

Comments

comments

Powered by Facebook Comments

Darius Go Reinnamah

Seorang pria yang sedang terus belajar menulis. Alasan menulisnya simple saja, karena "tertampar" oleh kalimat dari Pramoedya yang berbunyi: Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian.