Wisata Bukit Kapur di Tanah Madura

Lokasi Bukit Kapur Arosbaya dan Bukit Jaddih

Lokasi Bukit Kapur Arosbaya dan Bukit Jaddih

Buat voyagers yang lahir di awal taun 90an pasti tau isi dari kotak berwarna hijau atau biru dengan gambar orang menggunakan toga dan tulisan “SARJANA” yang selalu diletakkan di papan tulis. Yup, isinya adalah kapur tulis, ada yang berwarna putih, merah, hijau dan masih banyak lagi warnanya. mungkin kalau anak-anak sekarang di perkotaan sudah tidak menggunakan papan tulis kapur lagi dan sudah digantikan dengan white board atau papan tulis yang menggunakan spidol untuk menulis di atasnya. Kegunaan kapur tidak hanya untuk menulis seperti kapur tulis, kapur memiliki beberapa fungsi seperti sebagai bahan untuk membuat soda api, bahan untuk menurunkan kadar sulfur penurun kadar asam air, dan juga sebagai separator logam mulia. Batu kapur sendiri juga bermanfaat lho untuk dunia bangunan, beberapa fungsinya adalah untuk bahan baku semen, bahan pembuat cat dan bahan pembuat keramik. Kapur sendiri juga ada macamnya lho, ada CaCO3 (Limestone) dan ada juga CaO (quicklime).

Tapi apa voyagers sudah pernah melihat bukit kapur? Tempat dimana kapur-kapur yang mungkin menjadi alat tulis atau bahan bangunan tersebut berasal. Indonesia sangat banyak memiliki bukit kapur terutama di daerah yang dekat dengan laut. Sekitan satu bulan yang lalu tim Daily Voyagers berkesempatan mengunjungi 2 Bukit kapur yang ada di Tanah Madura. Tempat tersebut adalah Bukit Arosbaya dan Bukit Jaddih. Ternyata Kapur juga bisa menjadi objek wisata yang menarik lho. Yuk kita bahas satu per satu dari kedua tempat tersebut.

Bukit Kapur di Tanah Madura

Bukit Kapur di Tanah Madura

  1. Bukit Kapur Arosbaya – Bangkalan
    Bukit kapur ini agak unik dibandingkan yang lain. Keindahan bukit ini terletak pada pola pahatan yang terbentuk rapi akibat explorasi yang dilakukan oleh warga sekitar.  Pola pahatan rapi inilah yang mungkin tidak akan kalian temukan di bukit kapur lainnya, terlihat sangat presisi. Warga disana juga tidak menyangka kalau apa yang mereka lakukan sejak dulu ternyata bisa menjadi sebuah daya tarik tersendiri bagi wisatawan. Sampai sekarang ini proses penambangan masih berlangsung di tempat ini, jadi ketika kita berkunjung ke sini kita juga bisa melihat bagaimana cara warga Arosbaya ini melakukan proses penambangan.
    Cara yang dilakukan juga masih terbilang tradisional, tanpa ada bantuan dari alat berat. Warna bukit disini juga berbeda dengan Bukit Jaddih. Bukit Arosbaya berwarna kecoklatan. Suasana berbeda memang dapat dirasakan saat kita masuk ke tempat wisata ini, seolah kita merasa tidak sedang berada di Indonesia. Kalau saya mengumpamakannya seperti sedang berada di Mountain Wallnya Zion National Park. Bukit-bukit tinggi yang berwarna kecoklatan yang tinggi inilah yang akan berada di sekliling kita. Agak sulit untuk berada di puncak bukit ini karena kita harus memanjat sendiri, belum ada fasilitas untuk sampai ke atas bukit kapur ini. Disini juga terdapat gua-gua kecil yang juga terbentuk karena proses penambangan.

    Warga sekitar sedang melakukan penambangan kapur

    Warga sekitar sedang melakukan penambangan kapur

    View dari salah satu Gua di Bukit Kapur Arosbaya

    View dari salah satu Gua di Bukit Arosbaya

    Untuk yang ingin ke Bukit Kapur Arosbaya, Bukit kapur ini terletak di Desa Berbeluk, Kecamatan Arosbaya, Bangkalan. Letak lokasi Bukit Kapur ini tidak jauh dari Lokasi Wisata Religi “Aermata”. Tidak seperti di Bukit Jaddih yang bisa membawa kendaraan pribadi dan memarkirkan kendaraan tersebut diatas bukit kapur, untuk ke Bukit Kapur Arosbaya ini kita harus memarkirkan kendaraan pribadi di area parkir Wisata Religi Aermata dan kemudian dilanjutkan dengan berjalan kaki kurang lebih 15 menit.

    Bukit Kapur Arosbaya

    Bukit Arosbaya

    Di antara Bukit Kapur

    Di antara Bukit

  2. Bukit Jaddih
    Bukit Jaddih ini kurang lebih berjarak 36 KM dari Jembatan suramadu atau 22 KM dari Bukit Kapur Arosbaya. Berbeda dengan Bukit Kapur Arosbaya yang sudah dijelaskan sebelumnya, penambangan di Bukit Kapur Jaddih ini skalanya lebih besar, jadi jangan heran kalau kalian berkunjung ke sini dan bertemu dengan truk-truk besar dan juga ekskavator. Sebenarnya tempat ini memang difokuskan untuk daerah pertambangan kapur namun baru beberapa waktu kebelakang inilah tempat ini dibuka sebagai tempat wisata. Yang cukup spesial di tempat ini adalah bagian atas bukit, pada bagian ini terdapat padang rumput luas dengan sedikit pepohonan yang tumbuh berjarak. Dari atas ini kita bisa melihat hampir keseluruhan Bukit Kapur Jaddih ini secara jelas dan aktivitas pertambangan yang sedang berlangsung. Di bukit Jaddih ini tidak hanya terdapat pemandangan Bukit Kapur saja tetapi kita juga bisa menikmati Kolam Renang Aeng Guweh Pote Jaddih, begitulah nama kolam renang tersebut.

    Padang rumput Bukit Jaddih

    Padang Savana Bukit Jaddih

    View Bukit Jaddih dari puncak

    View Bukit Jaddih dari puncak

    Untuk pergi ke Bukit Jaddih ini lebih baik menggunakan mobil. Kenapa mobil ? pertama, untuk menghindari debu karena kita akan melewati track yang cukup panjang dengan serbuk-serbuk kapur yang beterbangan dimana-mana. Kedua, lebih aman karena tidak jarang kita akan berpapasan dengan truk-truk besar yang mengangkut hasil tambang kapur tersebut. Apabila membawa kendaraan, kita harus memarkirkan kendaraan tersebut di atas bukit, sudah ada tempat parkir yang letaknya tidak jauh sebelum padang rumput.

    Bukit Jaddih

    Bukit Jaddih

    jaddih2

Itu tadi sedikit tempat wisata bukit kapur yang bisa kita temui di Tanah Madura. Tempat yang awalnya tidak disangka bisa menjadi suatu objek wisata namun sekarang justru cukup booming di kalangan para traveler. Sedikit saran untuk yang ingin bepergian ke tempat-tempat tersebut adalah hindari akhir pekan karena bisa sangat ramai sehingga akan membuat sedikit kesulitan apabila kita ingin mengambil gambar landscape objek-objek tersebut. Selamat mengeksplor Tanah Madura dan tetap ingat untuk menjaga tempat-tempat wisata tersebut.

Jangan-jangan Tuhan menyisipkan harapan bukan pada nasib dan masa depan, melainkan pada momen-momen kini dalam hidup—yang sebentar, tapi menggugah, mungkin indah.
–Goenawan Mohammad

Comments

comments

Powered by Facebook Comments

Seorang pria yang sedang terus belajar menulis. Alasan menulisnya simple saja, karena "tertampar" oleh kalimat dari Pramoedya yang berbunyi: Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian.