Menyapa Indahnya Ngobaran dan Ngerenehan

Gunung Kidul, salah satu kabupaten yang berada di Daerah Istimewa Jogjakarta ini menyimpan banyak sekali pesona wisata khususnya wisata air. Sebut saja Goa Pindul, nama itu sudah pasti terdengar akrab di telinga para voyagers sekalian. Namun bagaimana dengan Ngerenehan dan Ngobaran? apakah terdengar akrab juga? atau cenderung terdengar asing?

Ngerenehan dan Ngobaran merupakan 2 Pantai yang bersebelahan yang berada di Desa Kanigoro, Kabupaten Gunung Kidul. Jaraknya kurang lebih 50 KM dari pusat kota Jogjakarta. Nama mereka terkesan baru karena memang belum terlalu banyak orang yang menghabiskan waktu untuk menikmati keindahan alam tempat ini, padahal pantai ini sudah ada sejak lama lho, bahkan sudah terkenal sejak jaman Majapahit.

Jalan menuju Pantai Ngobaran dari pusat kot Jogjakarta

Agar voyagers menjadi sedikit familiar dengan kedua Pantai tersebut, yuk kita bahas satu per satu:

Pantai Ngobaran

Hamparan pasir putih di sisi tebing yang menjulang, membuat Pantai Ngobaran menjadi salah satu destinasi wisata “baru” yang mampu mengambil hati para penikmat pantai. Keanggunan pantai ini terletak pada view dari atas tebing-tebingnya. Pemandangan laut yang lepas dengan garis horizonnya terlihat dengan jelas disusul deburan ombak yang sesekali menghajar bagian bawah tebing.

Di pinggir-pinggir tebing terdapat beberapa bangunan pura yang membuat suasana hindu begitu kental di sini. Keberadaan pura-pura ini lah yang membuat voyagers seolah seperti sedang berada di Tanah Lot, Bali. Pura yang paling besar dan masih berdiri dengan sangat kokoh bernama Pura Segara Wukir.

Pura Segara Wukir

Gerbang Menuju Pelataran

Berjalan sedikit dari Pura Segara Wukir, di sebelah kiri kita akan bertemu dengan sebuah pelataran dengan gerbangnya yang “dijaga” oleh 2 patung hanoman di masing-masing sisinya. Setelah memasuki gerbang, patung ganesha bertuliskan “Bhaktiku untuk Ibu Pertiwi” sudah menyambut kita. Selain patung ganesha tersebut, terdapat banyak sekali patung di pelataran ini dengan tulisan jawa sebagai pesannya.

Pelataran ini ternyata menyimpan sejarah yang cukup menyedihkan, sebuah sejarah dibalik nama Pantai Ngobaran. Di tempat inilah Prabu Brawijaya V, Raja Majapahit Terakhir membakar dirinya sendiri. Hal itu dilakukannya karena Prabu Brawijaya V menolak untuk berperang melawan anaknya sendiri, Raden Patah. Kobaran Api yang membakar tubuh Prabu Brawijaya V di tempat ini lah yang membuat pantai ini dinamakan Ngobaran (dari kata Kobaran). Peristiwa sejarah tersebut dikuatkan dengan hadirnya batu simbolis yang berada di tengah pelataran yang bertuliskan “……. Kamuksan Prabu Brawijaya V, Raja Majapahit VII”

Bhaktiku untuk Ibu Pertiwi

Batu Ikrar Ksatrya

Kembali ke keindahan pemandangan di Pantai Ngobaran, spot pertama untuk menikmati pemandangan Pantai Ngobaran ada di Pelataran ini, tepatnya di Patung Garuda Wisnu Kencana. Spot ini berada di bagian terluar dari pelataran yang membuat kita bisa dengan jelas melihat tebing yang berbaris dengan ombaknya yang terkadang cukup deras dibagian bawah tebing.

Spot kedua untuk menikmati pemandangan Pantai Ngobaran berada sedikit berada di atas pelataran, berjalan sedikit menanjak selama kurang lebih 5 menit kita akan tiba di sebuah tempat seperti pura namun sudah tidak terawat. Masuk saja ke dalam tempat itu dan kita akan berada di titik tertinggi di Pantai Ngobaran. Dari atas sini, kita bisa melihat tidak hanya tebing dan pantai namun juga hijaunya pepohonan yang menutupi Desa Kanigoro.

Spot Garuda Wisnu Kencana. Salah Satu Spot paling indah untuk menikmati Pantai Ngobaran

Spot Kedua untuk menikmati Pantai Ngobaran dari Atas bukit

Lalu bagaimana kalau voyagers ingin bermain pasir atau menikmati bermain air di Pantai Ngobaran secara langsung? Voyagers bisa menuju pantai yang berada di bagian bawah pelataran. Di Sebelah spot Garuda Wisnu Kencana terdapat sebuah tangga turun untuk langsung menuju ke Pantai. Namun, seringkali terjadi pasang di spot ini dan kalau sedang pasang maka voyagers tidak akan bisa turun ke tempat ini karena ombaknya sangat kencang. Selanjutnya voyagers juga bisa mencoba spot yang ada di dekat Pura Segara Wukir. Turun sedikit dari Pura tersebut voyagers langsung bisa bermain di pantai.

Yang perlu menjadi perhatian adalah kedua tempat tersebut ombaknya cukup kuat, jadi pastikan voyagers tidak bermain terlalu jauh dari bibir pantai. Letakkan juga beberapa barang penting yang dibawa agak jauh dari bibir pantai demi mencegah tersapunya barang-barang tersebut oleh ombak saat kita sedang asik bermain.

Pemandangan Ngobaran dari atas

Yuk main air Yukkk

Satu hal lagi yang tidak boleh dilewatkan di Pantai Ngobaran adalah sunset-nya. melihat momen tenggelamnya matahari dibalik lautan akan melengkapi kunjungan voyagers ke pantai ini. Untuk yang ingin menikmati sunset di sini, disarankan sudah berada di tempat ini pada pukul 17.30 WIB ya.

Tempat Pemujaan

Senja di Ngobaran

Pantai Ngerenehan

Tidak jauh dari Pantai Ngobaran, ada satu pantai lagi yang patut untuk voyagers kunjungi yaitu Pantai Ngerenehan. Berbeda dengan Pantai Ngobaran, Pantai Ngerenehan ini berada di antara 2 bukit karang yang besar dan terletak dalam teluk sehingga membuat ombak di Pantai ini cenderung lebih kecil bila dibandingkan dengan Pantai Ngobaran.

Voyagers bisa mendaki kedua bukit tersebut dan melihat view yang berbeda dari atas sana. Lengkungan garis pantai yang terbentuk di antara kedua bukit tersebut menambah keeksotisan tempat ini. Dari tempat ini jugalah gradasi warna biru laut akan terlihat lebih jelas dan hembusan angin pantai akan membuat voyagers rasanya ingin berlama-lama untuk duduk beristirahat di atas sana.

VIew dari salah satu bukit di Ngerenehan
pic via prastowo.net

Pantai Ngerenehan dari Atas.
Pic via Wisataku.net

Seperti layaknya corak kehidupan di pantai pada umumnya, penduduk di sini umumnya bekerja sebagai nelayan. Pagi-pagi sekali, para nelayan akan berangkat untuk melaut dan siang hari mereka akan pulang dan menyandarkan perahunya di pantai sambil membawa hasil tangkapan. Pada saat seperti itu, voyagers akan melihat puluhan perahu nelayan yang berbaris rapi.

Selesai menyandarkan kapal maka hewan laut tersebut akan dibawa ke tempat pelelangan ikan, beberapa hasil tangkapan nelayan tadi langsung dijual di sini. Voyagers bisa menemukan banyak ikan dan hewan laut segar lainnya dijual di tempat ini. Selain bisa dibeli untuk dibawa pulang (dengan harga yang murah tentunya), ada juga tempat makan di sekitar Pantai Ngerenehan yang menjual hewan-hewan laut segar tersebut untuk langsung dimasak dan disajikan disana.

Puluhan perahu nelayan yang terbaris rapi

Yuk dipilih ikannya dipilih. pict: ariadiprana

Belum lengkap rasanya kalau sudah menikmati indahnya pemandangan dan nikmatnya masakan laut di Pantai Ngerenehan ini namun tidak mengetahui kenapa pantai ini diberi nama Pantai Ngerenehan.

Sejarah nama pantai Ngerenehan tidak terlepas dari peristiwa sejarah yang terjadi di Pantai Ngobaran. Nama Pantai ini diberikan oleh Raden Patah saat berusaha mencari ayahnya, Prabu Brawijaya yang menolak untuk memeluk agama Islam. Saat tidak berhasil menemukan ayahnya tersebutlah Raden Patah mengajak para petinggi Kerajaan Demak untuk bermusyawarah. Saat peristiwa tersebut muncullah kata “Pangrena” yang berarti sebuah ajakan yang berasal dari kata “Reneh” yang kemudian diubah oleh warga sekitar menjadi “Ngerenehan” yang artinya “Marilah Kesini”. (Sumber: Njogja).

Bermain di Pantai Ngerenehan

Keceriaan Anak-anak lokal bermain di Pantai Ngerenehan

Untuk bermain di sekitar pantai berpasir putih ini, voyagers tetap diminta untuk berhati-hati karena meskipun ombaknya tidak besar namun karang-karang yang berada di pesisir pantai cukup keras dan tajam. Voyagers juga bisa berkumpul bersama anak-anak sekitar yang tidak malu untuk untuk diajak bermain, berfoto atau sekedar diajak berbincang,

Itu tadi sedikit tentang Pantai Ngobaran dan Ngerenehan. Ingat ya, kalau mampir ke Jogja apalagi ke daerah Gunung Kidul, jangan lupa menyempatkan diri untuk mampir ke Pantai ini. Voyagers dijamin tidak akan kecewa.

Happy Traveling Guys!!!

Once in a month, go to the beautiful beach with the one that you love

Just Info

  • Tidak terlalu sulit untuk mencapai tempat ini karena papan penunjuk jalan menuju tempat ini sudah cukup jelas.
  • Jalan menuju ke pantai ini cukup kecil, berkelok-kelok dan naik turun. Untuk voyagers yang menyupir kendaraan sendiri diminta untuk berhati-hati.
  • Paling enak menuju ke pantai ini dengan menggunakan kendaraan pribadi atau kendaraan sewaan.
  • Hanya dikenakan biaya retribusi sebesar Rp 10.000 untuk masuk ke kedua pantai tersebut.
We make a living by what we get, but we make a life by what we give.
–Winston Churchill

Comments

comments

Powered by Facebook Comments

Seorang pria yang sedang terus belajar menulis. Alasan menulisnya simple saja, karena "tertampar" oleh kalimat dari Pramoedya yang berbunyi: Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian.