• Home
  • /
  • Destinasi
  • /
  • Pulau Sembilan, Pulau Unik di Taman Nasional Komodo

Pulau Sembilan, Pulau Unik di Taman Nasional Komodo

Hai Voyagers, Di kesempatan kali ini, lagi dan lagi nih Dailyvoyagers akan membahas soal NTT. Emang gk ada matinya deh bahas potensi wisata di Provinsi yang satu ini. NTT bisa dibilang adalah paket komplit untuk wisata di Indonesia, ada banyak banget wisata di sana. Untuk wisata sejarah contohnya, kita bisa mengunjungi Kampung Adat Bena. Di sana kita bisa melihat sebuah kampung megalitikum yang sudah ada sejak kurang lebih 1200 tahun yang lalu. Kalau mau wisata kuliner, voyagers bisa ke Kupang. Di sana voyagers bisa mencoba Daging Se’i dan juga Jagung Bose.

Untuk wisata gunung, voyagers bisa mencoba mendaki Gunung Rokatenda yang ada di Pulau Palu’e, sebelah utara Pulau Flores. Kalau Wisata Laut? Nah, Kalau wisata lautnya sendiri, tidak perlu disangsikan lagi. Dailyvoyagers bisa bilang NTT adalah salah satu yang terbaik yang ada di Indonesia. Perairan Taman Nasional Komodo adalah salah satu jawabannya. Perairan Taman Nasional ini menjadi surga menyelam bagi para diver yang ada di seluruh dunia.

Pulau Sembilan dari atas. pic via ini

Pemandangan Pulau Sembilan dari Kapal

Sudah pernah dengar nama pulau Sembilan? Itu lho pulau setelah Delapan tapi sebelum Sepuluh?… Okay garing.. gw tau.. lanjut.. Bukan Pulau Sembilan yang kaya akan penyu-nya yang berada di kawasan Kota Baru, Kalimantan Selatan yang akan kita bahas namun Pulau Sembilan yang berada di NTT, lebih tepatnya sebuah pulau unik yang berada di wilayah perairan Taman Nasional Pulau Komodo.

Pulau ini nama sebenarnya adalah Pulau Mangiatan atau lebih sering disebut dengan Pulau Sembilan. Disebut Pulau Sembilan karena pulau ini mirip angka sembilan lho *Ya masa mirip angka 7 sih??*. Padahal bisa juga dibilang pulau ini menyerupai angka 6 kalau dilihat dari sisi sebaliknya. Okay, stop sampai di situ pembahasan soal angka 6 dan 9, mari kita lanjut soal keunikannya.

Bermain Bersama Ubur-ubur di pinggir kolam

Dipinggir aja udah bisa langsung main sama mereka

Yang namanya unik artinya ya spesial, bisa dibilang berbeda dengan yang lainnya. Keunikan yang pertama pulau ini adalah pulau ini kecil dan tidak terbuat dari tanah. Mari kita bahas dari kecilnya dulu, Sekecil apa sih pulau ini? Saking kecilnya kita hanya butuh 7-10 menit untuk mengelilingi pulau ini, mulai dari kita berjalan di ujung atau ekor angka 9 itu sampai kita memutari lingkarannya dan kembali lagi ke ujungya. Kecil banget kan?

Lah, kalau bukan dari tanah lalu terbuat dari apa? daratan yang ada di pulau ini terbuat dari karang-karang yang sudah mati. Karang yang sudah mati pasti warnanya berubah menjadi warna putih. Jadi, pulau ini persis seperti Pulau Gusung yang ada di beberapa daerah hanya saja daratannya terbuat dari karang yang sudah mati dan berbentuk angka sembilan. Buat yang belum tau apa itu Pulau Gusung atau yang biasa juga disebut Pulau Gosong adalah Sebuah pulau yang hanya terbentuk hanya dari Pasir (umumnya pasir putih) tanpa ada apapun di atas pulau tersebut, tidak ada pohon apalagi ibu-ibu yang jualan gorengan. hehe…

Stingless Jellyfish
Kiri: Ubur-ubur Pulau Sembilan
Kanan: Ubur-ubur Kakaban

Gak nyengat lho

Ubur-ubur aja berdua. Kamu?

Keunikan selanjutnya yang tidak akan voyagers temui di manapun adalah di tengah lingkaran angka 9 tersebut terdapat ubur-ubur yang tidak menyengat atau bahasa kerennya Stingless Jellyfish. Gambaran mudahnya untuk memvisualisasikan tempat ini adalah seperti kolam renang berbentuk lingkaran yang di dalamnya ditaro ubur-ubur. Kedalaman maksimum kolam Stingless Jellyfish ini kurang lebih 2 Meter.

Pasti di antara voyagers ada yang komplen, “Ah, klo ubur-ubur yang nggak menyengat sih di Kakaban atau Togean juga ada.” Nah, yang membuat ubur-ubur di sini unik adalah penampilannya yang berbeda. Ubur-ubur disini lebih Parlente dibandingkan ubur-ubur yang disana. Mereka memiliki tentakel yang berwarna biru. Kalau diibaratkan seorang wanita, wanita yang lain di Indonesia rambutnya berwarna hitam nah ubur-ubur disini layaknya wanita yang rambutnya di bleaching terus dikash warna biru. Jadi beda dong? Iya kan? Iya dong.

Ubur-ubur yang berada di sini umumya berada di antara Ganggang juga berada di kolam ini. Tidak sulit untuk menemukan mereka, selain luas kolam yang tidak begitu besar juga jumlah mereka banyak banget. Tidak perlu untuk menggunakan fin untuk berenang atau menyelam di tempat ini, selain tidak diperlukan takutnya nanti kibasan fin tersebut akan menyakiti bahkan membelah mereka, cukup pakai snorkel dan googles saja. Maklum, mereka mahluk yang nggak bisa dikerasin, mirip-miriplah sama hati wanita.

Bermain bersama Ubur-ubur

Love ittt!!!!

Tidak begitu jelas bagaimana proses pulau ini bisa berbentuk seperti angka 9 dan terbuat dari karang-karang mati, ABK yang membawa Dailyvoyagers ketika kami tanya pun tidak tau jawabannya. Pastinya proses tidak berlangsung dengan tiba-tiba dan Stingless Jellyfish yang ada di sini merupakan sebuah anomali. Sebuah anomali layaknya ubur-ubur tak menyengat lainnya, yang terjebak disebuah area sekian lama dan kehilangan kemampuan untuk menyengatnya.

Itu tadi sedikit soal Pulau Mangiatan alias Pulau Sembilan. Untuk kamu yang mau mampir ke Pulau ini biasanya sudah ada dalam paket wisata Hopping Island atau LOB (Living On Boat). Jadi kalau mampir ke Taman Nasional Komodo jangan lupa mampir ke Pulau ini ya. Nyesel kalau gak mampir karena pulau ini keren banget. Untuk info soal wisata LOB-nya sendiri bisa dibaca di sini.

Happy Traveling 🙂

Info

  • Kalau datang ke sini siang-siang pasti panas banget. Karena nggak ada satu pohonpun untuk berlindung dari teriknya panas matahari, buat kamu yang gak kuat panas pastikan kamu memakai pakaian tertutup dari mata kaki sampe leher.
  • Tempat ini cocok banget buat kamu yang mau Tanning 🙂
  • Gunakan alas kaki saat berjalan di Pulau ini karena karang mati yang ada di pulau ini tajem banget, pasti kaki voyagers sakit kalau gak pake alas kaki. Taruhan deh!!
Land is the secure ground of home, the sea is like life, the outside, the unknown.
— Stephen Gardner

Comments

comments

Powered by Facebook Comments

Seorang pria yang sedang terus belajar menulis. Alasan menulisnya simple saja, karena "tertampar" oleh kalimat dari Pramoedya yang berbunyi: Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian.