Jelajah Rammang-Rammang

Hembusan angin Mamiri yang bertiup lembut kali ini membawa Daily Voyagers jauh sampai ke Rammang-Rammang. Daily voyagers percaya masih banyak diantara kita warga Indonesia (termasuk voyagers) yang belum tau apa itu Rammang-rammang, di mana itu lokasinya dan ada apa aja di sana. Tapi kiranya, kata “Angin Mamiri” bisa menjadi sedikit petunjuk soal dimana keberadaan Rammang-Rammang.

Siapa yang menyangka kalau Rammang-Rammang (bukan remang-remang lho ya) ini berada Desa Salenrang, Kecamatan Bontoa, Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan? Kata Rammang-Rammang sendiri diambil dari bahasa setempat (Bahasa Makassar) yang berarti awan atau kabut. Nama tersebut diambil karena tempat ini memang dipenuhi oleh awan atau kabut setiap pagi. Hal yang paling terkenal dari Rammang-Rammang adalah kawasan Pegunungan Kapurnya atau yang biasa dikenal dengan istilah Karst Rammang-Rammang.

RUte Bandara – Rammang-Rammang

Terbesar kedua di dunia

Sebagai warga Indonesia kita harus bangga karena pegunungan kapur (karst) yang terbentuk secara alami ini merupakan pegunungan kapur terbesar kedua di dunia setelah pegunungan kapur yang berada di Guilin, Cina. Luas pegunungan kapur Rammang-rammang ini kurang lebih 45.000 hektar, sebuah tempat yang cukup luas untuk ukuran “Taman Bermain”.

Nah, untuk menikmati keindahan karst Rammang-rammang, voyagers harus terlebih dahulu datang ke Dermaga Rammang-rammang atau yang biasa dikenal juga dengan nama Dermaga Salenrang, itulah titik awal untuk mengeksplorasi objek wisata alam yang ada di tempat ini.

Untuk mencapai Dermaga Rammang-rammang, dari Bandara Sultan Hassanudin, voyagers bisa menuju ke jalan raya utama untuk mencari angkutan umum. Dari sana voyagers bisa naik angkot jurusan Pangkep dan turun di pertigaan Semen Bosowa. Setelah turun voyagers hanya perlu berjalan sedikit ke arah kanan dan tidak jauh dari situ voyagers akan bertemu dengan gardu PLN,  dekat gardu PLN itulah lokasi wisata Rammang-Rammang (Dermaga Salenrang) berada, tepat di bawah jembatan.

Pemandangan Karst dari Sungai Pute

Untuk berkeliling pegunungan kapur ini voyagers harus menyusuri sebuah aliran sungai, sebuah sungai yang membelah pegunungan kapur ini menjadi 2 bagian. Melalui sungai itulah voyagers akan dibawa berkeliling ke beberapa destinasi yang ada di Rammang-rammang ini. Untuk itu, voyagers harus menggunakan sebuah perahu. Perahu motor tersebut bisa voyagers sewa di dermaga Rammang-rammang ini. Harga sewa perahu motor ini bervariasi, tergantung dari banyaknya penumpang.

Sebelum bersiap berangkat, voyagers juga bisa menyewa sebuah topi dengan harga Rp 5.000/topi untuk melindungi bagian kepala voyagers dari panasnya sinar matahari yang menyengat. Destinasi pertama yang kita lalui adalah Sungai Pute.

Sungai Pute

Sungai Pute adalah sungai yang membelah pegunungan kapur Rammang-Rammang. Pute sendiri diambil dari bahasa makassar yang berarti putih. Sungai inilah yang menjadi jalan utama yang akan membawa voyagers ke destinasi-destinasi yang ada di seputar kawasan Karst Rammang-Rammang.

Saat baru memulai perjalanan dari Dermaga Salenrang, jangan heran kalau di tengah sungai banyak bebatuan besar yang menyembul ke atas. Bebatuan besar ini jugalah yang membuat perjalanan semakin lebih seru karena perahu harus berjalan berbelok-belok untuk menghindarinya.

Perjalanan melewati Goa

Perahu Motor yang digunakan untuk menyusuri Sungai Pute

Selama perjalanan menyusuri sungai ini voyagers akan merasakan sejuknya udara di atas perahu, hijaunya pemandangan di sekitar serta Karst yang tinggi menjulang yang berada di kiri dan atau kanan kapal. Hijaunya pemandangan di sepanjang Sungai Pute ini didominasi oleh pohon nipah dan mangrove. Tak jarang juga voyagers akan melihat rumah tradisional warga yang terselip diantara padatnya pepohonan nipah tersebut, letaknya biasanya di tepian sungai.

Sungai Pute ini berarus tenang dan berair dangkal kok jadi voyagers tidak perlu khawatir ya. Di bagian awal sungai atau di dermaga Salenrang, sungai ini cukup lebar, namun mendekati bagian akhir maka sungai ini akan semakin menyempit dan hal tersebut menandakan voyagers akan tiba di lokasi atau spot wisata pertama yaitu Kampung Berua.

Perjalanan Awal di Sungai Pute

Rumah tradisional yang ada di tepian sungai Pute

Kampung Berua

Perjalanan membelah bukit batu sebelum tiba di Kampung Berua

Selamat datang di Kampung Berua

Sebelum menyandarkan perahu motor di Dermaga Kampung Berua, voyagers akan merasakan sensasi seru melewati tengah-tengah tebing batu yang menjulang tinggi. Seru banget bisa melewati aliran sungai yang semakin mengecil dan diapit oleh 2 bukit batu yang besar. Jarak dari Dermaga Rammang-rammang ke Kampung Berua ini via Sungai Pute kurang lebih 1,5 Km.

Turun dari perahu motor voyagers akan langsung disambut oleh sawah yang hijau, sapi, penangkaran ikan dan kalau beruntung voyagers juga akan melihat kumpulan itik yang berlalu-lalang dengan barisan yang rapi. Ada surau dan juga beberapa rumah warga di tempat ini namun jumlahnya tidaklah banyak. Yang membuat Kampung Berua ini spesial adalah lokasinya yang dikelilingi oleh gugusan pegunungan Karst yang benar-benar tinggi.

Salah satu rumah warga yang ada di Kampung Berua

Surau berlatar belakang Karst

Ada sebuah spot bagus untuk menikmati panorama Kampung Berua, letaknya di atas bukit. Voyagers harus melewati hamparan sawah sebelum akhirnya mendaki tumpukan batu kapur. Dari atas inilah voyagers bisa melihat keseluruhan Kampung Berua. Pemandangan yang tidak akan voyagers temui di tempat lain.

Konon, tempat ini adalah tempat yang kece untuk berburu Milky Way. Nah, buat voyagers yang hobi fotografi, tempat ini cocok banget nih buat kalian. Untuk melaksanakan hal tersebut, voyagers bisa menginap di rumah warga yang ada di kampung ini. Namun tidak ada listrik di tempat ini pada malam hari. Hal itu disebabkan karena kampung ini hanya mengandalkan solar panel pemberian pemerintah sebagai sumber listriknya.

Sambutan dari Kampung Berua

Pemandangan umum yang akan voyagers temui di Kampung Berua

Selepas menikmati keindahan Kampung Berua, kita akan kembali menaiki kapal yang tersandar di Dermaga Kampung Berua. Dari situ kita akan melanjutkan ke destinasi berikutnya yaitu Telaga Bidadari.

Telaga Bidadari

Telaga Bidadari

di dermaga ini lah perahu motor akan berhenti dan dari tempat inilah kita harus trekking menuju Telaga Bidadari

Sebelum kembali ke Dermaga Salenrang, terlebih dahulu kita akan mampir ke sebuah Telaga. Setelah kurang lebih 15 menit perjalanan dari Kampung Berua, perahu akan berlabuh di bagian kiri sungai yang terdapat sebuah papan yang bertuliskan “Telaga Bidadari”. Letak Telaga Bidadari tidaklah persis di tepi sungai tersebut,

Dari tempat itu voyagers harus turun dari perahu dan melanjutkan perjalanan sejauh kurang lebih 1 Km sebelum mencapai lokasi Telaga Bidadari. setelah kurang lebih 500 meter perjalanan, voyagers akan melewati jalur berbatu dan sebuah jembatan kecil yang terbuat dari bambu. Jalur trekking menuju telaga ini bisa dibilang tidak terlalu sulit karena jalan mendaki lalu menurun hanya ditemui sesaat sebelum mencapai telaga bidadari.

Jembatan untuk menuju ke Telaga Bidadari

Lokasi Telaga bidadari dilihat dari atas

Di tempat ini voyagers bisa berendam dan merasakan sensasi mandi bak seorang bidadari. Menurut mitos setempat, barang siapa yang belum memiliki jodoh alias seret jodoh, maka akan segera mendapat jodoh setelah mandi di tempat ini. Jadi yang udah punya jodoh jangan berharap dapet jodoh lagi ya.

Tempat ini diberi nama Telaga Bidadari karena katanya sering muncul pelangi dari Telaga Bidadari ini. Salah satu keunikan lain dari Telaga Bidadari ini terletak pada airnya. Kalau umumnya air di telaga lain akan mengering saat musim kemarau, namun tidak dengan Telaga Bidadari ini. Air yang terletak di Telaga ini justru lebih banyak volumenya pada saat musim kemarau dibandingkan saat musim hujan. unik kan?

Foto sebelum berendam di Telaga Bidadari. (biar enteng jodoh)


Seusai bermain di Telaga Bidadari, kita akan kembali ke Dermaga Salenrang. Namun sebelum pulang, voyagers bisa mampir ke Restoran Rammang-ramamng yang berada di dekat dermaga. Voyagers harus mencoba menu Nasi Goreng Rammang-rammang di restoran tersebut, ayamnya spesial banget.

Itulah tadi beberapa keindahan yang ada di Rammang-Rammang. Sebenarnya masih banyak lagi keindahan yang berada di kawasan ini seperti Taman Hutan Batu, Gua Telapak Tangan, Gua Pasaung dan Gua Bulu’ Barakka’. Namun karena keterbatasan waktu, Daily Voyagers belum sempat untuk mampir ke tempat-tempat tersebut. Mungkin kalau nanti voyagers mampir ke tempat ini, kalian bisa mengeksplor tempat-tempat tersebut dan menceritakannya kepada kami di kolom komentar.

Selamat berjalan-jalan dan jangan lupa untuk terus menjaga objek wisata yang kamu kunjungi.

Happy Traveling voyagers 🙂

Informasi:

  1. Harga Sewa Perahu Motor
    Jumlah OrangHarga Sewa
    1-4 orangRp 200.000/Perahu
    5-7 orangRp 250.000/Perahu
    8-10 orang lebihRp 300.000/Perahu
  2. Jumlah perahu yang beroperasi di Dermaga satu (Salenrang) dibatasi sampai 45 perahu. Selain dari 45 tersebut di atas maka tidak diperkenankan untuk parkir baik di Dermaga satu atau Dermaga dua.
  3. Dermaga satu adalah sebutan untuk Dermaga Salenrang sedangkan Dermaga dua adalah sebutan untuk dermaga yang berbatasan langsung dengan jalan Desa.
  4. Tidak ada batasan resmi berapa lama kita bisa berada di suatu spot saat menggunakan perahu motor.
  5. Biaya masuk Rammang-Rammang Rp 2.500/orang.
  6. Biaya parkir mobil Rp 10.000/mobil.

Baca juga Trip ke Makassar & Toraja.

Travel far enough, you meet yourself

–David Mitchell

Comments

comments

Powered by Facebook Comments

Darius Go Reinnamah

Twitter: @dgoreinnamah | IG: @dgoreinnamah | FB: dgoreinnamah | youtube: Darius Alexander Go Reinnamah | http://goreinnamah.com

You may also like...