• Home
  • /
  • Destinasi
  • /
  • One Day Trip ke Padalarang – Tebing Masigit & Stone Garden

One Day Trip ke Padalarang – Tebing Masigit & Stone Garden

Kembali pada kesempatan kali ini Daily Voyagers ingin menceritakan, membagikan dan mencurahkan tentang weekend getaway yang kali ini kami lakukan pada 18 Februari 2017. Karena Weekend Getaway ini bertajuk One Day Trip alias trip sehari doang *Maklumlah ya buruh upahan, liburnya susah*, maka daerah yang menjadi destinasi kami kali ini adalah Padalarang, destinasi yang tidak begitu jauh dari jakarta.  Lalu ada apa aja sih di Padalarang? Di Padalarang itu banyak banget tempat untuk melakukan aktivitas ekstrim dan kesempatan kemarin kami berhasil mengunjungi 2 tempat yaitu Tebing Masigit dan juga Stone Garden (Karena lokasinya sebelahan).

Berikut ini akan kami bagikan info selengkap-lengkapnya mulai dari cara kami ke sana, estimasi waktu dan biaya, pengalaman kami di sana serta alternatif transportasi yang bisa kalian pilih. Berikut ini kisahnya:

How to Get There

Pada kesempatan itu, Tim Daily Voyagers yang beranggotakan 3 orang memilih untuk menggunakan moda transportasi umum dan pilihan jatuh kepada sebuah travel yang berlokasi di wilayah Bintaro. Kami memilih waktu keberangkatan paling pagi yaitu pukul 05:00 WIB dengan pertimbangan agar tidak macet. Perjalanan Jakarta – Bandung dapat ditempuh dalam waktu 3 Jam (Kalau tidak ada halangan dan rintangan yang menghadang ya).  Sebenarnya End Point dari travel ini adalah Dipati Ukur, namun untuk menghemat waktu maka kami minta diturunkan di depan Hotel Vio Pasteur.

Dari Pasteur, kami memutuskan untuk menggunakan jasa Taksi Online karena kita tidak tahu angkutan umum konvensional yang bisa membawa kami ke Padalarang *Sebenarnya sih kami cari praktisnya juga*. Perjalanan Pasteur – Padalarang menghabiskan waktu ± 50 Menit dengan kecepatan cukup santai. Setelah melalui 2 gerbang tol dan disapa oleh berbagai pabrik Marmer di kiri dan kanan jalan, tibalah kami di jalan yang bertanah dan berbatu yang memang rute yang harus dilalui untuk menuju ke Tebing Masigit dan Stone Garden.

Biaya untuk Taksi Online tersebut adalah Rp 93.000,- , dan kami meminta supir tersebut untuk menunggu karena kami pikir kami tidak akan menghabiskan waktu terlalu lama. Namun setelah menimbang-nimbang, kami memutuskan untuk menyewa mobil tersebut untuk sekalian kami gunakan untuk kembali ke Bandung  dan supir ini setuju. Biaya Sewanya adalah Rp 350.000 + 50.000 (untuk Bensin) + 100rb (untuk Tips). Lama Sewanya adalah 12 Jam dan terhitung sejak saat kami tiba di Tebing Masigit (Sekitar Pukul 10:00 WIB).

Tebing Masigit

Saat memasuki area ini, kita akan “dipalak” sebesar Rp 10.000. Kenapa saya bilang dipalak? karena memang posnya tidak jelas dan tidak ada tiket apapun, voyagers akan dipaksa bayar sebesar itu oleh beberapa orang untuk satu kendaraan (Gak tau ya kalau voyagers ke sana, pungli semacam ini masih ada atau tidak). Voyagers akan berhenti di sebuah pertigaan dimana terdapat warung kelontong, di sana ada spanduk bertuliskan “Hammocking Tebing Masigit”.  Di Belakang warung inilah Tebing Masigit berada dan di depan warung inilah kendaraan yang kamu bawa harus diparkir. Setibanya di sana kamu akan disambut oleh Kang Doddy.

Kang Doddy adalah salah seorang pengelola jasa Hammocking di Tebing Masigit ini, ia mengelolanya bersama beberapa temannya yang memang sudah profesional. Soal keamanan dan kenyamanan tidak perlu diragukan lagi, jam terbang mereka sudah cukup lama dalam dunia Mountain Climbing alias manjat memanjat. Peralatan yang mereka gunakan juga cukup lengkap. Suguhan utama dan yang paling terkenal dari Tebing Masigit ini yaitu Hammocking-nya akan mereka sajikan dengan baik.

Tracking sebelum sampai ke Puncak Masigit

Hammock sedang disiapkan oleh crew dari Kang Doddy

Namun sebelum bisa menikmati Hammocking di atas Tebing Masigit ini, voyagers haruslah mendaki medan yang cukup terjal selama kurang lebih 10 -15 menit lamanya. Setibanya di puncak, voyagers akan disambut oleh indahnya pemandangan perbukitan di Padalarang dan Stone Garden pun terlihat dari atas sini. Sembari kita menikmati pemandangan tersebut maka beberapa crew dari Kang Doddy akan sibuk membentangkan Hammock. Hammock akan dibentangkan diantara dua tebing yang kurang lebih tingginya adalah 80 M (Ini bukan dihitung berdasarkan MDPL ya tapi ketinggian tebing dari dasar tanah).

Setelah Hammock siap, maka kita akan dipersilakan untuk naik. Tapi sebelum itu, peralatan keamanan akan dipasangkan di badan kita (seperti Harnest, tali pengaman dan Karabiner) guna memastikan keamanan kita saat berada di atas Hammock. Titik kesulitan utama terletak pada saat menuju ke atas hammock dan saat hendak turun dari Hammock. Meskipun sudah dituntun, didampingi dan diberi instruksi oleh orang-orang profesional, tetap saja rasa takut datang menghantui. Sulit sekali rasanya untuk menghilangkan pikiran “Gimana ya Kalau nanti jatuh dari Hammock?” saat ingin naik ke dan turun dari Hammock.

Berduaan di atas Hammock

Tidak dibutuhkan kemampuan khusus untuk bisa Hammocking di tempat ini. Yang dibutuhkan hanyalah KEBERANIAN dan mengikuti instruksi yang diberikan. Kalau kamu sudah bisa mengalahkan rasa takutmu maka kegiatan ini tak ubahnya seperti menaiki sebuah ayunan. Kamu rasanya ingin berlama-lama di atas Hammock dan tidak ingin turun. Paling enak sih berduaan ya di atas Hammock ini, bersama pacar atau suami/istri. Kamu bisa membunuh waktu dengan cara bernostalgia sembari ditemani pemandangan indah dan hembusan angin yang sesekali datang untuk menyejukkanmu. Serahkan saja Handphone atau kamera kalian kepada crew dari Kang Doddy, biar mereka yang mengambil dokumentasi. Mereka tahu semua angle yang bagus untuk mengabadikan moment kita di atas sana.

Salam dari Ketinggian

Gimana? Bagus kan?

Dibalik namanya ternyata Masigit ini menyimpan cerita. Masigit sendiri berasal dari Kata Masjid. Kata Kang Doddy, Suara Adzan dari berbagai sudut di Padalarang akan terdengar dari puncak ini dan hanya di puncak ini dapat terdengar dengan sangat jelas.

Menurut cerita Kang Doddy juga, dulunya tempat ini terendam air laut, persis kondisinya seperti Leang-Leang yang ada di Maros, Sulawesi Selatan, sehingga kalau dilihat dengan saksama maka tyipical batunya tidaklah jauh berberda. Dari Puncak tebing Masigit ini kita bisa juga melihat Gunung Hawu, Tebing 90, dan juga Tebing 45. Di ketiga tempat yang Daily voyagers disebutkan tadi, kita juga bisa melakukan Hammocking, hanya saja effort dan keberanian yang diperlukan adalah 2x nya dari Tebing Masigit ini.

Lady on the Cliff

yakin gk mau berduaan di sini?

Jadi, tertarik untuk mencoba?

Stone Garden

Setelah seru-seruan di Tebing Masigit, maka kegiatan selanjutnya adalah bersantai di Stone Garden. Tidak perlu waktu lama untuk menuju ke Stone Garden dari Tebing Masigit ini, hanya 5 menit saja. Biaya masuk lokasi wisata ini adalah Rp 5.000/orang dan biaya parkir adalah Rp 5.000/mobil. Biaya masuk tersbeut adalah untuk kalian yang mau sekedar main-main saja, namun kalau mau Foto Prewedding atau Syuting maka tarif yang dikenakan akan berbeda. Biaya untuk foto Preweding kalau tidak salah adalah Rp 300.000 sedangkan untuk syuting bisa mencapai jutaan rupiah.

Saat mau memasuki kawasan  ini, setelah melewati pos pemeriksaan tiket, kita akan disambut dengan tulisan putih kecil pada salah satu dinding batu yang bertuliskan Stone Garden Geopark. Stone Garden merupakan sebuah taman seluas kurang lebih 2 hektar yang isinya adalah bebatuan. Bebatuan ini bukan sembarang batu melainkan Karst atau batu endapan yang terbentuk di dasar lautan dan akibat proses geologi akhirnya endapan tersebut terangkat ke permukaan. Itulah mengapa ada kata Geopark di belakangnya.

Stone Garden Geopark

Karena tidak baik laki-laki hanya seorang diri saja

Jangan heran kalau kita disambut oleh banyak monyet di Stone Garden ini, mereka memang bagian dari ekosistem stone Garden ini (jenis monyet ekor panjang). Monyet-monyet tersebut tidak terlalu agresif seperti yang ada di Uluwatu, yang suka mengambil barang-barang yang dikenakan pengunjung, jadi kalian tidak usah terlalu cemas. Di lahan seluas 2 hektar ini, terdapat berbagai jenis batu dengan berbagai ukuran yang membuat kita seolah seperti kembali ke film kartun jaman dulu  dimana Fred, Wilma, Barney Rubble dan Betty Puing menghiasi masa kecil kita di layar televisi.

Tak heran tempat ini sering dipakai untuk foto prewedding atau menjadi objek untuk sekedar di upload di instagram, berfoto disini dengan pengambilan angle yang pas membuat kita manusia modern namun seolah-olah hidup di jaman pra sejarah. Selain Prewedding, aktivitas lain yang tak kalah seru di sini adalah camping. Terdapat daerah yang cukup luas untuk kamu bisa menggelar tenda dan bersantai di sana.  Daily voyages kurang tahu berapa biaya yang harus dikeluarkan untuk izin camping di sini *kemarin lupa tanya*

Lahan selus 2 hektar yang berisi bebatuan Karst

Puncak Panyawangan

Dari sekian banyak batu, terdapat satu Batu yang paling besar dan merupakan titik puncak dari Stone Garden ini. Namanya adalah Puncak Panyawangan. Puncak ini akan terlihat jelas saat kita sudah memasuki kawasan Stone Garden. Untuk naik ke tempat ini, kita harus berjalan memutari bagian muka dari Batu besar ini dan berhati-hati karena tidak ada tangga untuk bisa naik ke atas sini alias usaha sendiri dengan kekuatan tangan yang kita miliki.

Di Stone Garden ini terdapat failitas yang lebih lengkap dibanding Tebing Masigit. Sebelum masuk utama dari Stone Garden voyagers bisa menemukan  tempat parkir, mushola, toilet dan beberapa warung makan. Nah untuk voyagers yang mau preweding, di bagian dalam taman terdapat bilik yang bisa digunakan untuk mengganti pakaian dan ada juga saung yang bisa digunakan untuk bersantai atau merias wajah.

Bukit Batu di Stone Garden

Jangan cuma berdua kalau ke sini, nanti gk ada yang fotoin

Sudut elevasi di Stone Garden ini tidak sekejam Tebing Masigit kok, jadi tidak terlalu sulit untuk main ke sini. Sudi mampir?

Extra Info

  1. Jangan menggunakan mobil ceper apabila mau ke tempat ini karena jalan masuk ke Tebing Masigit & Stone Garden ini sangat rusak (tanah berbatu) dan bergelombang.
  2. Gunakan sendal atau sepatu gunung kalau main ke tempat ini.
  3. Kalau menggunakan jasa taksi online, lebih baik disewa sekalian karena sulit untuk menemukan taksi online dari Padalarang untuk menuju kembali ke Bandung.
  4. Mas Doddy tidak menerima aktivitas dadakan, Jadi untuk bisa hammocking di Tebing Masigit maka kita harus sudah membuat janji sebelumnya (Paling Tidak seminggu sebelumnya).
  5. Ada juga jasa Fotografer Professional yang bisa disewa melalui Kang Doddy, biayanya 700rb seharian. Tapi menurut Daily Voyagers sih tidak terlalu perlu, cukup serahkan kamera kamu kepada crew nya mas Dhody, mereka juga tau kok angle mana aja yang bagus.
  6. Aktivitas Hammocking ini juga bisa dilakukan malam hari lho, silahkan bikin janji aja langsung.
  7. Apabila terjadi hujan, maka aktivitas hammocking akan langsung dibatalkan dan kita bisa menjadwal ulang untuk melakukan kegiatan ini.
  8. Untuk lebih menekan biaya, voyagers bisa membawa kendaraan pribadi dari Jakarta.
  9. Bawa Air Mineral yang cukup karena aktivitas di kedua tempat tersebut cukup melelahkan.
  10. Apabila tidak tahu jalan, jangan ragu untuk membuka GMaps dan ketikkan kata kunci “Stone Garden”. Aplikasi tersebut akan mengarahkan kamu tepat sampai di Stone Garden.
  11. Bawa kacamata dan juga sun block.
  12. Belum tentu semua supir taksi online mau mengantar hingga area parkir Stone Garden karena memang jalannya cukup rusak. Kemarin kami beruntung banget dapet taksi online yang supirnya doyan traveling juga.

Itinerary

Rincian Perjalanan One Day Trip Padalarang

Rincian Biaya

Rincian Biaya One Day Trip Ke Padalarang _Tebing Masigit dan Stone Garden

Biaya di atas belum termasuk Sarapan, Makan Siang dan pembelian air mineral.

Untuk yang mau sarapan sebelum ke Tebing Masigit, bisa mampir KESINI.

Kontak

Hammocking Tebing Masigit: Doddy – 087825494489

Sewa Mobil + Supir: Aris – 08122155309

Foto bersama Kang Doddy (Kedua dari Kiri) dan rekannya (Paling kanan)

A people without the knowledge of their past history, origin and culture is like a tree without roots.
— Marcus Garvey

Comments

comments

Powered by Facebook Comments

Seorang pria yang sedang terus belajar menulis. Alasan menulisnya simple saja, karena "tertampar" oleh kalimat dari Pramoedya yang berbunyi: Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian.