Pantai Ora: Pantai Elok di Ujung Utara Seram Utara

Pantai di bumi Indonesia ini luar biasa sekali banyaknya, ada ratusan bahkan ribuan pantai yang ada di tanah ibu pertiwi ini. Salah satu pantai yang berhasil memikat hati adalah pantai di ujung utara Seram Utara yaitu Pantai Ora. Voyagers pasti pernah mendengar atau melihat beberapa gambar yang berseliweran di beberapa sosial media yang menunjukkan betapa indahnya pantai ini kan? Siapa sih yang tidak tergiur untuk berlibur dan menikmati nyiur di tempat ini?

Rute Awal dari Masohi menuju Desa Saleman

Kapal yang digunakan untuk menyebrang dari Tulehu ke Amahai

Namun tunggu dulu, untuk menggapai keindahan itu tidaklah mudah dan tidaklah murah. Untuk bisa ke Pantai Ora, voyagers haruslah melewati perjalanan darat, laut dan udara. Dimulai dari terbang selama kurang lebih 3 jam (dari Jakarta) menuju Bandara Pattimura, Ambon. Dari Bandara Pattimura, voyagers masih harus melanjutkan perjalan selama kurang lebih 1 jam menuju ke Pelabuhan Tulehu dengan Oto (Mobil). Dari Pelabuhan Tulehu, voyagers kemudian harus menyebrang ke Pelabuhan Amahai di Pulau Seram dengan menggunakan kapal cepat (3 jam lamanya).

Setibanya di Pelabuhan Amahai, voyagers masih harus menerobos kota dan hutan selama kurang lebih 2 jam dengan Oto sebelum tiba di Desa Saleman, Desa terakhir sebelum sampai di Pulau Ora. Baru setelah itu voyagers bisa sampai ke Pantai Ora dengan menggunakan Speed (kapal kecil) dari Desa Saleman. Jalan yang dilalui di Seram ini pun tidak semuanya mulus, ada medan-medan tertentu yang berkelok dan jalannya tidaklah rata. Bagaimana? cukup seru dan panjang kan perjalanannya? Baru membacanya saja sudah cukup lelah. Total kurang lebih 9 jam waktu yang voyagers harus habiskan untuk bisa sampai ke pantai ini.

Pemandangan dan Suasana

Pemandangan Pantai Ora

Itu tadi bagian jerih lelahnya, sekarang mari masuk ke bagian indahnya. Setibanya di Pantai Ora, voyagers akan disambut pemandangan cantik khas pantai ini. Pantai dengan air yang jernih dan terumbu karang yang mudah terlihat dengan mata telanjang. Tidak hanya itu, keindahan pantai ini masih ditambah lagi dengan penginapan apung di atas laut yang berpadu dengan panorama pegunungan hijau dan berbalut birunya langit Maluku. Sungguh indah.

Karang-karang masih begitu segar dan kalau voyagers beruntung, setiap malam voyagers bisa melihat beberapa ikan pari yang berenang ke pinggir pantai. Penyu pun berenang bebas melewati dermaga dan kamar laut tanpa takut.

Pantai Ora dengan latar Gunung batu dan hutan yang lebat

Pantai ini begitu tenang dan begitu privat. Ketenangan itu didapatkan karena memang pantai ini jauh dari perkampungan warga. Daily Voyagers rasa hal ini memang menjadi pertimbangan saat tempat ini dibuat. Sedikit berbeda dengan Objek Wisata Sawai (tetangga Pantai Ora) dimana penginapannya menyatu dengan perkampungan warga yang menyebabkan kesan privat-nya hilang. Pantai ini memang benar-benar cocok untuk kamu yang ingin “kabur” dari keramaian kota dan menenangkan diri dengan cara menyatu dengan alam.

Ditambah lagi, setiap orang yang ingin masuk ke wilayah Pantai Ora namun tidak menginap di sini, maka dia harus membayar sebesar Rp 25.000 dan hanya boleh berfoto-foto di sekitar dermaga. Mereka tidak diizinkan untuk masuk sampai ke wilayah dimana tamu menginap. Betul-betul dijaga.

One of the Romantic Places in the World

Tidak hanya itu, Pantai Ora bisa dikatakan sebagai salah satu tempat yang paling romantis di dunia. Nah, buat voyagers yang punya pasangan, coba deh bawa pasangannya ke sini. Dijamin cintanya makin tumbuh subur saat pulang dari tempat ini.

Penginapan

Kamar darat, salah satu tipe penginapan di Pantai Ora. Terlihat seperti rumah namun sebenarnya itu adalah 2 kamar darat

Berenang Lucu tepat langsung di depan tempat kita menginap, Kamar Laut

Penginapan di Pantai Ora ini dikelola oleh Ora Eco Resort, sebuah pihak yang menawarkan kenyamanan untuk menikmati indahnya Pantai Ora dengan harga yang cukup terjangkau. Penginapan ini sudah ada sejak tahun 90an lho, siapa yang sangka. Namun karena kerusuhan yang menimpa Maluku di tahun 1999, maka penginapan ini pun terkena imbasnya dan harus berhenti beroperasi. Barulah sekitar tahun 2004, penginapan ini mulai bangkit kembali dan beroperasi hingga sekarang.

Ada 2 tipe penginapan yang ditawarkan di sini yaitu penginapan laut dan kamar darat. Penginapan Laut sendiri masih dibagi 2 lagi yaitu Kamar Laut dan Rumah Laut. Dari namanya pun sudah mudah di tebak lokasinya. Sangat disayangkan apabila sudah sampai di Pantai Ora namun tidak menginap di kamar laut atau rumah laut. Perbedaan Rumah Laut dan Kamar Laut hanya pada di daya tampung dan luas bangunannya, tapi kalau soal kenikmatan tetaplah sama.

Kamar Laut di Pantai Ora

Penampakan dari interior Rumah Laut

Daily Voyagers tidak menyarankan kalian untuk menginap di kamar darat. Kenapa? karena tak ubahnya penginapan di pinggir pantai pada umumnya. Experience dan excitement yang dirasakan kala menginap di kamar atau rumah laut sungguhlah berbeda.

Kalau voyagers menginap di kamar atau rumah laut, voyagers tidak perlu jauh-jauh mencari spot untuk snorkeling karena di depan penginapannya langsung, voyagers bisa langsung menceburkan diri ke laut dan snorkeling (penginapannya tepat di atas laut). Dimana lagi kita bisa langsung lompat ke laut dari penginapan dan menikmati keindahan karang bawah laut kalau bukan di Ora ini.

Kuliner

Dermaga dan Restoran di atas laut

Makan Malam di Restoran di Atas Laut

Belum lengkap rasanya kalau ke Ora kalau belum mencicipi kuliner laut di sini. Yang spesial adalah Lobster. Tempat penjualan Lobster berjarak kurang lebih 1 kilometer dari Pantai Ora. Voyagers bisa mampir ke tempat ini kala mengunjungi beberapa spot yang ada di sekitar Pantai Ora seperti Pulau 7 atau Pulau Raja. Harga per kilonya kurang lebih Rp 250.000/kilo. Seusai membelinya, voyagers tinggal memberikan lobster-lobster tersebut ke bagian dapur di Ora Eco Resort untuk mereka olah dan hidangkan.

Tidak hanya sampai disitu, tempat makannya pun spesial. Di Ora ini terdapat Restoran Laut, sebuah resto yang dibangun di atas laut agar para tamu bisa makan sembari langsung menikmati pemandangan Laut Seram. Voyagers bisa makan di sini saat waktu sarapan, makan siang, makan malam dan snack time tiba. Nikmat mana lagi yang kita dustakan kala bisa menyantap hidangan Lobster sambil ditemani ikan-ikan yang tepat berada di bawah kita dan pesona laut yang indah?

Lobster Tangkapan di Ora. Pic Via NET

Menikmati Senja

Restoran Laut ini juga merupakan salah satu tempat paling nyaman untuk menikmati sunset di Pantai Ora. Sambil menikmati snack sore, kita bisa duduk sembari melihat matahari yang perlahan kembali ke “rumahnya” untuk beristirahat.

Pelayanan

Tempat yang spesial maka pelayanannya pun harus spesial juga. Kalau voyagers membayangkan orang Maluku itu galak, suara keras, menyeramkan, maka mulai sekarang voyagers harus membuang pikiran itu jauh-jauh. Mereka punya kulit boleh hitam tapi mereka punya senyum dan tawa paling manis. Mereka punya suara paling keras tapi kalau sudah menyanyi suara mereka itu paling merdu.

Pelayan disini semua murah senyum, setiap bertemu tamu maka mereka pasti akan melemparkan senyum mereka yang paling manis. Kerja mereka pun cepat, jadi kalau ada permintaan tambahan seperti extra bed, mereka akan dengan sigap mengantarkan kasur tersebut ke kamar. Mereka juga asyik diajak ngobrol dan bercerita.

Two thumbs up untuk pelayanan di Ora ini.

Destinasi Wisata

Untuk menemani keindahan Pantai Ora, terdapat beberapa destinasi menawan lainnya yang bisa kita kunjungi di sekitar Pantai Ora. Tebing hatu Pia dan Pantai Air Belanda salah satu contohnya.  Dua destinasi tersebut sudah termasuk dalam paket wisata kala kita menginap di Ora Eco Resort, jadi kita tidak perlu merogoh kocek tambahan untuk bosa mengunjungi 2 tempat tersebut.

Tebing Hatu Pia terkenal dengan hijau airnya dan tebing tinggi yang menambah keindahan objek wisata ini. Sedangkan Pantai Air Belanda terkenal dengan airnya yang dingin dan segar.

Tebing Batu Hatu Pia

Underwater Pulau 7

Ada lagi tempat wisata lainnya seperti Pulau Tujuh, Pulau Kelelawar, Sungai Salawai dan Pulau Raja. Di Sungai Salawai ini, voyagers bisa melihat bagaimana warga Maluku membuat Sagu, salah satu makanan pokok orang Maluku. Hanya saja untuk mengunjungi tempat-tempat tersebut maka voyagers harus merogoh kocek tambahan. Pembayaran untuk destinasi wisata tambahan tersebut bisa dibayarkan saat voyagers berada di Ora, jadi tidak perlu transfer sebelum keberangkatan.

Pulau tujuh memiliki underwater yang luar biasa. Voyagers pasti takjub melihat kehidupan bawah laut di sekitar pulau ini.

Untuk Detailnya voyagers bisa lihat DISINI.

Biaya

Kalau tadi Daily Voyagers bilang bahwa tidaklah murah menuju Ora, itu benar adanya. (rincian biaya) .Salah satu strategi untuk menghemat biaya ke Ora adalah dengan menelpon langsung pihak Ora Eco Resort dan mengambil langsung paket yang mereka tawarkan tanpa melalui pihak ketiga lainnya seperti agen tour and travel.

Harga rata-rata tiket pesawat menuju Ambon Adalah Rp 2 juta. Bahkan bisa mencapai 3 juta sekali jalan kalau peak season tiba. maka itu rencanakanlah perjalananmu dengan baik. Perhatikan jadwal perjalanan kapal cepat dari Ambon ke Pulau Seram untuk menunjang penyusunan rencana perjalanan kamu ke tempat ini

Itu tadi sedikit informasi mengenai Pantai Ora, salah satu surga wisata di Indonesia. Keindahan, ketenangan, kenyamanan, semua berkolaborasi jadi satu di Pantai Ora ini. Buat kalian yang mau ke sini, Daily Voyagers yakin kalian tidak akan menyesal.

Happy Traveling Guys 🙂

The real voyage of discovery consists not in seeking new landscapes, but in having new eyes.
— Marcel Proust

Comments

comments

Powered by Facebook Comments

Darius Go Reinnamah

Seorang pria yang sedang terus belajar menulis. Alasan menulisnya simple saja, karena "tertampar" oleh kalimat dari Pramoedya yang berbunyi: Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian.