Bermain Air di Wael Manahu

Lokasi Wael Manahu

Dari perjalanan mengelilingi sebagian kecil Maluku Tengah dan Kota Ambon selama 6 hari, bisa dibilang perjalanan menuju Wael Manahu merupakan perjalanan terberat sekaligus paling adventurous. Bagaimana tidak, perjalanan menuju Wael Manahu ini mengharuskan kita berjalan kaki kurang lebih selama 30 menit atau kurang lebih 2 Km sebelum tiba di sana. Jadi kalau ditotal, maka kita menghabiskan waktu selama 1 jam hanya untuk berjalan kaki pulang pergi.

Sebelum lebih jauh, Daily Voyagers akan memberitahukan terlebih dahulu apa itu Wael Manahu. Dalam bahasa Maluku, Wael Manahu artinya air yang jatuh dari ketinggian yang luar biasa tinggi.  Yang dimaksud di sini bukanlah air hujan melainkan air yang mengalir dari suatu ketinggian melalui bebatuan. Wael Manahu merupakan sebuah air terjun.

Jalur Mulus menuju Wael Manahu

Umumnya orang mengenalnya dengan nama Air Terjun Ureng. Mudah saja, karena air terjun ini berada di Desa Ureng, Kecamatan Leihitu, Kabupaten Maluku Tengah, Provinisi Maluku. Tapi air terjun ini punya nama yaitu Wael Manahu, jadi biarlah kita memanggilnya sesuai dengan namanya. Tidak heran memang air terjun ini diberi nama seperti itu, air di tempat ini mengalir deras dari ketinggian 30 meter dan langsung terjun bebas secara vertikal dari ketinggian itu.

Yang membuat air terjun ini berbeda dari air terjun, curug dan coban yang lain adalah air terjun ini memiliki 3 tingkatan dimana setiap tingkatnya memiliki wadah penampung air alias kolam yang kedalamannya mencapai 7 – 10 Meter. Jarak dari satu tingkat ke tingkat yang lain pun cukup jauh dan membutuhkan effort lebih untuk mencapainya.

Awalnya, Daily Voyagers pun agak sangsi dalam menyusun itinerary ke objek wisata yang satu ini. Maluku itu sangat terkenal akan wisata baharinya. Birunya laut di Pantai Ngurtafur, betapa toscanya air di Pulau Bair, Eksotisnya kamar laut di Pantai Ora dan nikmatnya ikan Cakalang dari Maluku, Semua orang sudah terdoktrin oleh hal tersebut. Lah kok ini bisa-bisanya ada air terjun di Pulau Ambon?  Jangan-jangan cuma sekedar curahan air dengan volume kecil dari bebatuan yang indahnya pun gak indah-indah banget, itu yang ada di pikiran Daily Voyagers kala itu.

Dengan sedikit terpaksa, kam pun menyelipkan Wael Manahu ke dalam itenerary kami guna memenuhi kuota waktu bermain kami di Pulau Ambon. Namun semua dugaan negatif tersebut sirna kala kami berjalan menyusuri rute dan melihat langsung keindahan dari Wael Manahu ini.

Rute Perjalanan dengan Kendaraan Bermotor

Leihitu memang daerah yang penuh dengan potensi wisata alam. Banyak sekali objek-objek wisata cantik nan menarik di wilayah ini. Nah, perjalanan menuju Desa Ureng kali ini Daily Voyagers mengambil rute dari Bandara Pattimura →Hatu →Lilibooi→Wakasihu →Larike→Ureng (Jalur Barat). Lama perjalanan dari Bandara menuju Desa Ureng kurang lebih 2 jam lamanya.

Perjalanan menuju Desa Ureng sampai bisa ke Air Terjun Ureng ini dibagi menjadi 3 tahap laksana menjalani sebuah hubungan percintaan. Indah di bagian awal, bersakit-sakit dan berjuang di tengah-tengah sebelum akhirnya kita bisa meminang pasangan kita dan mendapatkan keindahan itu kembali. Selama 2 jam pertama ini, voyagers akan memasuki bagian “Indah di awal”. Voyagers akan disuguhi dengan pemandangan pantai yang luar biasa di bagian kiri jalan dan bonus ikan Morea sebelum sampai di Desa Ureng.

Pantai Batu layar

Pantai Batu Suanggi

Dari bandara, Voyagers pertama akan melihat Pantai Batu Kapal yang berada di Lilibooi. Lanjut berikutnya adalah Pantai Huluwa yang ada di Wakasihu. Dari Wakasihu menuju Larike, voyagers akan melihat keindahan Batu Suanggi dan Pantai Batu Layar. Kedua pantai terebut bisa dinikmati gratis tanpa harus membayar. Setibanya di Desa Larike, voyagers bisa mampir sebentar di wisata Kolam Morea, sebuah kolam yang berisi belut yang “dikeramatkan” oleh masyarakat Maluku. Setelah dari Larike, Voyagers akan melewati Asilulu sebelum akhirnya tiba di Ureng.

Jalanan dari Bandara menuju Desa Ureng sudah sangat bagus, dibangun dengan aspal yang sangat mulus. Konon katanya, jalanan ini memang mendapat perhatian yang khusus dari Gubernur terdahulu yaitu Bapak Karel Albert Ralahalu. Bapak Karel merupakan mantan Gubernur yang berasal dari Desa Allang, Leihitu. Sudah barang tentu dia memperhatikan infrastruktur jalan di daerah asalnya.

Pantai Huluwa

Kolam Morea di Larike

Untuk menuju Desa Ureng dari Bandara Pattimura, voyagers bisa menggunakan kendaraan sewaan seperti mobil atau motor. Tidak disarankan menggunakan kendaraan umum karena jarang sekali kendaraan yang lewat di sini meskipun memang ada.

Rute Lanjutan dengan Berjalan Kaki

Air Terjun Ureng

Sekarang adalah bagian “bersakit-sakit dan berjuang”. Setibanya di pinggir jalan raya Ureng, voyagers harus memarkirkan kendaraan voyagers dan melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki. Jalan kaki tahap pertama ini masih enak. Kenapa masih enak? karena jalan yang dilalui masih jalan tanah yang kering dan tidak berbatu. Jalan model seperti ini hanya akan voyagers temui sampai gerbang masuk dimana voyagers akan bertemu petugas penjaga tiket. Dari tempat parkir sampai ke tempat pembayaran tiket masuk Air Terjun Ureng, voyagers masih bisa naik ojeg. Di pinggir jalan raya tadi akan ada warga lokal yang menawarkan jasa ojeg untuk bisa sampai ke tempat pembayaran tiket. Harga untuk jasa ojeg tersebut adalah Rp 5.000 per sekali jalan.

Dari tempat pembelian tiket inilah perjalanan yang sesungguhnya akan dimulai. Voyagers akan membelah hutan yang lebat, ciri khas dari hutan hujan tropis. Pohon -pohon yang tinggi menjulang akan berada di kiri dan kanan kalian. Terdapat beberapa tanaman khas Maluku di hutan ini seperti pohonon Sagu dan pohon Pala yang bisa voagers jumpai di sini. Tanah disini pun sedikit lembab dan rasa-rasanya sinar matahari pun enggan untuk masuk ke jalur ini.

Rute awal dimana kita harus melewati anak sungai

Jalan Berbatu

Setelah beberapa saat berjalan, voyagers akan melewati jalur berliku dan tak jarang sedikit menanjak. Memasuki bagian ini, voyagers juga akan melihat aliran sungai kecil yang airnya berasal dari Air Terjun Wael Manahu ini. Airnya cukup dingin dan bisa langsung diminum lho. Sungai inilah yang akan menuntun kita sampai ke Air Terjun Wale Manahu. Sesekali voyagers akan melihat burung-burung bersandar pada dahan pohon sambil mengamati kita yang lalu lalang di bawahnya. Seolah mereka ingin berkata “Welcome to The Jungle”.

Agak panjang memang jalan yang harus ditempuh untuk sampai di lokasi air terjun ini. Pastilah banyak keluhan yang terlontar kala perjalanan menuju air terjun ureng ini seperti “Duh, jauh amat sih” atau “Lama banget yak, gak nyampe-nyampe”. Namun dibalik beratnya suatu perjalanan, pastilah selalu ada keindahan yang didapat.

Sungai semakin besar dan jalan mulai berbatu

Perjalanan menanjak menuju Air Terjun tingkat 2 dan 3

Setelah 30 menit berjalan, titik terang pun mulai nampak. Suara air yang turun dengan derasnya mulai terdengar dari kejauhan. Saat itulah kita tahu kalau kita sebentar lagi akan sampai. Dan ketika sampai, benar saja kalau Air terjun ini begitu indah. Semua keluhan yang tadi sempat terucap rasanya bisa ditarik kembali dan digantikan dengan pujian terhadap semesta.

Cara Menikmati

Sesaat setelah tiba, kami pun langsung meletakkan barang-barang kami di bagian samping dekat pepohonan. Yang pertama kali dilakukan sudah tentu BERFOTO. Sebelum mulai berbasah-basah ria, alangkah lebih baiknya jika foto bersama terlebih dahulu dengan latar air terjun setinggi 30 Meter.

Seusai berfoto, kita bisa langsung berenang-berenang lucu di kolam yang ada di tingkat pertama ini sembari menikmati air cucuran yang jatuh dari atas. Voyagers harap berhati-hati saat bermain di kolam ini karena kedalaman kolam ini bisa mencapai 7 meter. Kalau ingin menikmati air terjun Ureng tingkat pertama ini dengan cara yang sedikit extreme, voyagers bisa lompat ke dalam kolam dari dinding tebing. Voyagers bisa memanjat dinding tebing yang tingginya kurang lebih 10 meter sebelum akhirnya terjun bebas ke dalam kolam.

Ait Terjun Ureng Tingkat Pertma yang memiliki ketinggian kurang lebih 30 Meter

Di tingkat pertama ini jugalah kita bisa makan makanan yang kita bawa. Alasan utamanya adalah luas wilayah untuk duduk dan beristirahat di tingkat pertama ini lebih luas dibandingkan tingkat kedua dan ketiga.

Untuk menikmati air terjun tingkat 2 & 3, voyagers harus mendaki jalur yang sedikit curam dan sedikit menguras tenaga. Jalur ini merupakan jalur yang bertanah dan berbatu. Dari tingkat 1, kita tidak bisa langsung menuju ke tingkat 2. Terlebih dahulu kita harus mencapai tingkat 3 sebelum akhirnya turun ke air terjun yang ada di tingkat 2. Paling cepat, voyagers bisa tiba di tingkat 3 dalam waktu 10 menit  (Dengan catatan tidak berhenti-berhenti).

Air Terjun tingkat ketiga ini tidak setinggi air terjun tingkat pertama dan besarnya kolam pun jauh lebih kecil. Namun, kedalaman kolam di tingkat ketiga ini juga cukup dalam, jadi tetap berhati-hati ya. Terdapat “Perosotan” alami di tingkat ketiga ini sehingga voyagers bisa meluncur lewat perosotan yang tidak terlalu tinggi ini langsung ke dalam kolam yang seperti Jacuzzi ini.

Air Terjun tingkat ketiga.
Air terjun yang paling kecil dan zona paling aman untuk bermain

Nah, untuk menikmati air terjun tingkat kedua terlebih khusus kolamnya, maka cara satu-satunya adalah dengan terjun bebas alias cliff jumping. Jarak antara kolam yang ada di tingkat ketiga (tempat kita melompat) dengan kolam yang ada di tingkat kedua kurang lebih adalah 12 meter. Daily Voyagers juga awalnya ragu untuk mencoba, namun beberapa anak dari Desa Ureng menyemangati dan memberi contoh. Setelah melakukan lompatan setinggi itu, tidak ada kata yang bisa terucap, hanya teriakan yang keluar sebagai wujud rasa senang yang diiringi dengan rasa syukur dalam hati.

Karena jaraknya yang terlalu tinggi, tidak diizinkan untuk melakukan cliff jumping dari tingkat kedua ke tingkat ketiga. Kalau untuk cliff jumping dari tingkat ketiga menuju ke tingkat kedua sih relatif aman, begitu pula dengan lompatan dari dinding tebing yang dilakukan di tingkat pertama. Sering kali beberapa orang takut untuk melakukan lompatan-lompatan tersebut, namun setelah sekali mencoba, tidak jarang banyak yang ketagihan dan bahkan sampai lupa waktu 🙂

Tarif

Untuk bisa masuk ke tempat ini, tarifnya cukup murah. Voyagers hanya harus merogoh kocek sebesar Rp 5.000 untuk orang dewasa dan Rp 2.000 untuk anak-anak. Namun dibalik murahnya harga tiket tersebut pastilah sedikit fsilitas yang didapatkan.

Saran

  1. Kalau kalian berniat mampir ke sini, gunakanlah sendal gunung. Jangan gunakan sepatu karena kalian akan melewati sungai kecil yang berpotensi membuat kalian basah.
  2. Jangan lupa bawa makanan berat seperti nasi bungkus, ikan colo-colo atau Nasi kuning untuk dimakan di tempat ini. Tidak perlu bawa air minum karena aliran sungai dari Wael Manahu ini bisa langsung diminum airnya.
  3. Bawa pakaian ganti secukupnya karena kalian pasti basah-basahan di sini.
  4. Kamera jangan sampai tertinggal.

Sebagai penutup, maka Daily Voyagers ingin mengatakan bahwa air yang berasal dari Air Terjun ini juga digunakan oleh warga Desa Ureng untuk dikonsumsi. Jadi, tolong jangan nyampah di tempat ini ya agar semua sistem yang sudah tertata dengan rapi di sini tidak rusak, sehingga kedepannya kalian bisa terus menikmati tempat indah ini dan warga Desa Ureng pun tetap bisa menggunakan air yang bersih ini.

Terus jaga alam Indonesia ya.

Happy Traveling 🙂

What I love most about this crazy life is the adventure of it.
–Juliet Binnoche

Comments

comments

Powered by Facebook Comments

Seorang pria yang sedang terus belajar menulis. Alasan menulisnya simple saja, karena "tertampar" oleh kalimat dari Pramoedya yang berbunyi: Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian.