Kolam Tembeling: Keindahan yang Kini Tinggal Kenangan

Kenyataan tak selalu berjalan sesuai dengan keinginan, kira-kira begitulah yang saya rasakan kala mengunjungi Kolam Tembeling di Nusa Penida, Bali. Keindahannya yang muncul pada mesin pencarian membuat saya memasukkannya ke dalam daftar tempat yang wajib saya kunjungi ketika saya berada di pulau yang bersaudara dengan Nusa Ceningan dan Nusa Lembongan ini. Namun keindahan itu ternyata tinggallah kenangan.

Pagi itu langit begitu cerah, matahari terbit lebih cepat di daerah Indonesia bagian tengah. Sinarnya yang terang menerobos masuk ke dalam kamar saya di penginapan Echo Alam Lodge dan sukses membangunkan saya dari kelelapan. Saat melihat jam, ternyata waktu sudah menunjukkan pukul 05:30 WITA. Saya, Billy dan Randy bergegas untuk berangkat ke Desa Batu Madeg, Banjar Salak, Nusa Penida. Tujuan kami tidak lain adalah untuk bermain di Kolam Tembeling.

Kolam Tembeling merupakan sebuah kolam alami berukuran besar dimana para pengunjungnya bisa berenang di dalamnya. Air yang berada di kolam tersebut berasal dari mata air yang keluar dari dinding tebing, mengalir, lalu tertampung di kolam tersebut. Masyarakat sekitar biasa menyebutnya dengan Natural pool of Tembeling. Konon mata air ini tidak sengaja ditemukan oleh seorang ibu yang sedang hamil ketika mengejar sapinya yang kabur. Itulah mengapa tempat ini dinamakan Tembeling (Beling dalam bahasa Bali artinya hamil).

Rute dari Echo Alam Lodge menuju Tembeling

Batu Tulis

Sejak malam, sebelum kami mulai tidur, kami sudah menyusun rencana untuk bisa mengunjungi tempat tersebut. Kendaraan berupa motor untuk menuju ke sana sudah kami persiapkan, jalur yang akan kami lewati sudah kami tegaskan dan jam bangun pun sudah kami tentukan. Semuanya sudah kami rencanakan. Bahkan saking antusias dan senangnya kami akan bermain air, kami meniatkan diri ke spot tersebut dengan daki yang masih menempel di badan (belum mandi).

Tepat jam 06:00 WIB, setelah melakukan sedikit persiapan, kami berangkat menuju Tembeling.Kami berangkat pagi-pagi benar karena kami ingin jadi orang pertama yang mandi di kolam tersebut hari itu. Kami ingin bermain & berfoto dengan tanpa ada gangguan dari orang lain. Selama di perjalanan, kami sudah membayangkan akan betapa dinginnya air di sana. Di dalam kepala kami masing-masing juga sudah tersimpan gaya apa saja yang akan kami lakukan untuk loncat ke dalam kolam tersebut. Sukacita benar-benar terpancar dari wajah kami.

Dengan kecepatan normal kami memacu si kuda besi sesuai dengan arahan dari Google Maps. 80% perjalanan menuju Tembeling bisa dibilang sangat lancar. Meskipun agak berkelok-kelok namun kondisi jalan sudah dalam keadaan teraspal dengan rapi. Namun keadaan jalan mulai berubah ketika kami bertemu dengan sebuah tembok yang bertuliskan ‘Welcome to the Natural Spring Baths and Tembeling Beach” yang berwarna merah dengan latar belakang berwarna biru yang mulai memudar.

Ya kira-kira seperti inilah kondisi jalan menuju Tembeling

20% sisa perjalanan menuju Tembeling jalannya cukup hancur

Mulai dari “batu tulis” tersebut, jalan kian menurun tajam. Jalanan yang tadinya beraspal mulai digantikan dengan tanah yang berbatu. Jurang-jurang menganga di kiri dan atau kanan jalan. Untung saja malam kemarin cerah sehingga tanah pagi itu cukup kering untuk dilewati. Sehabis jalur menurun, muncul jalur yang menanjak. Begitu terus jalur yang harus kami lewati. Diperlukan kemampuan mengendarai motor yang handal untuk melewati jalur akhir ini. Keseruan semakin bertambah karena kami harus menyusuri hutan yang sepi tanpa ada seorang pun warga yang lewat.

Kejadian lucu pun sempat menghiasi perjalanan kami menuju Tembeling. Karena badan saya dan Billy yang terlalu berat, tidak jarang Billy yang saya bonceng harus turun agar motor matic ini mampu untuk menanjak. Suatu kali saya memaksakan untuk menanjak tanpa Billy turun dari motor dan asap pun keluar dari mesin motor kami. Setelah peristiwa itu, kami tidak pernah mencobanya lagi dan Billy selalu turun setiap kali jalan menanjak atau menurun tajam.

Pura Hyang Pancuhan menjadi tanda kalau kami sudah sampai Tembeling. Total waktu yang kami butuhkan untuk sampai di sini adalah 50 menit atau 16 menit lebih lambat dari waktu yang diperkirakan oleh Gmaps. Dengan segera kami memarkirkan kendaraan kami di depan Pura tersebut. Kami sangat senang karena hanya kendaraan kami yang ada di parkiran tersebut. Itu tandanya kami adalah orang pertama yang sampai di sana hari itu.

Pura Hyang Pancuhan yang menjadi tanda kalau kamu sebentar lagi akan sampai di kolam.

Jalan menurun yang harus dilalui dari Pura Hyang Pancuhan

Pura Taman Panca Gangga

Keceriaan kami dengan cepat menghilang setelah kami tahu kalau ternyata kami masih harus menuruni anak tangga yang sangat banyak untuk tiba di Kolam Alami Tembeling yang letaknya masih jauh di bawah. Perlahan namun pasti kami berjalan melewati satu per satu anak tangga yang sudah rapi terbangun lengkap dengan pegangan di sisi sampingnya. Saat melewati anak tangga tersebut, sisi kiri merupakan jurang dan sisi kanan merupakan tebing yang sangat tinggi. 20 menit dibutuhkan untuk bisa sampai ke bawah.

Langkah kami hentikan ketika kami tiba di Pura Taman Panca Gangga. Kalau menurut info yang kami dapat di internet, tepat di sebelah Pura inilah seharusnya letak dari Kolam Tembeling itu. Namun kami bingung karena kami tidak menemukan kolam tersebut. Yang nampak di sebelah Pura Taman Panca Gangga hanyalah kubangan air yang sangat jernih. Masih penasaran, kami terus berjalan hingga ke pantai untuk mencari kolam tersebut namun hasilnya nihil.

Kami saling memandang satu sama lain dan bertanya apakah kami salah jalan, namun rasanya tidak. Dengan perasaan kecewa kami kembali ke parkiran dan melanjutkan ke destinasi berikutnya. Saat kembali itulah kami bertemu dengan seorang warga dan bertanya apa benar ini lokasi dari kolam Tembeling. Warga tersebut mengatakan kalau ini memang benar lokasi dari kolam Tembeling. Hanya saja Kolam tembeling ini sudah hancur pada Januari 2017.

Kolam Tembeling sebelum terkena longsor.
Pic via ini.

Keindahan sebelum kehancuran.
pic via @gembelyahud

Kondisi Kolam sekarang pasca diterjang longsor

Pada awal tahun 2017 terjadi hujan lebat yang menerjang Klungkung. Akibat hujan deras tersebut, terjadilah longsor di daerah Tembeling. Bebatuan yang letaknya tepat di atas tebing berjatuhan dan mengisi kolam ini. Wadah tersebut kini bukan lagi berisi air tapi tanah. Sejak peristiwa tersebut Kolam Tembeling bisa dibilang sudah tidak ada. Kini Tembeling lebih banyak digunakan sebagai tempat untuk peribadatan. Bagian Pura dirapikan dan dibuatlah keran-keran untuk mengeluarkan mata air yang masih keluar dari dinding tebing ini.

Mendengar jawaban tersebut, rasa penasaran kami pun sirna sudah. Pencarian yang kami lakukan tadi akhirnya terjawab. Minimnya informasi di Internet mengenai Kolam Tembeling yang hancur akibat hantaman longsor membuat kami belajar kalau kami harus lebih teliti lagi ketika mencari informasi. Usai mengucapkan terima kasih kepada Bli tersebut kami pun kembali melanjutkan perjalanan (masih dengan daki yang menempel di badan).

Beruntunglah kalian yang pernah merasakan berendam di kolam alami Tembeling ini karena sekarang Kolam Tembeling ini tinggal cerita.

Air Suci Pura Taman Panca Gangga dan keran berbentuk patung yang dibuat pasca longsor untuk mengaliri air

Keran untuk mengaliri air dari kolam yang berada di Pura Taman Panca Gangga

Informasi yang minim di Internet mengenai Kolam Tembeling yang sudah hancur akibat longsor

Keindahan Lainnya

Meskipun Kolam Tembeling sudah tiada, namun Tembeling masih memiliki pantai yang tidak kalah indah dibandingkan pantai di Nusa Penida lainnya. Pantai ini kami temukan saat berusaha mencari Kolam Tembeling yang ternyata sudah tiada. Berjalan terus menuruni anak tangga dari (bekas) Kolam Tembeling, kita akan bertemu dengan 2 pantai dengan karakteristik yang berbeda.

Pantai pertama, pantai yang berada di sebelah kiri dari anak tangga, merupakan pantai dengan bebatuan yang berlumut. Kombinasi warna bebatuan yang mulai keungu-unguan dan warna lumut yang berwarna hijau menjadi latar yang cukup elok, baik untuk berfoto atau sekedar untuk bersantai sembari menikmati pemandangan.

Pantai yang kedua berada di sebelah kanan anak tangga dimana kita harus melewati sebuah goa terlebih dahulu untuk tiba di sana. Pantai ini jauh lebih unik lagi karena di sini terdapat banyak batu bersusun yang entah oleh siapa diatur sedemikian apiknya. Kita pun bisa mencoba untuk menyusun batu-batu tersebut karena di tempat ini batu dapat dengan mudahnya disusun bertingkat menyerupai Pyramid atau Menara Tokyo.

Sayangnya, Ombak di kedua pantai ini sangat kencang sehingga tidak memungkinkan untuk kita bermain air di sini.

Pantai pertama yang berisi batu keunguan

Batu Bersusun di pantai kedua

Catatan

  • Kami tidak tahu berapa biaya tiket untuk masuk ke objek wisata ini karena kami datang waktu masih pagi sekali di saat tidak ada petugas sama sekali.
  • Untuk menuju ke sini cukup nyalakan google maps dan ikuti saja arahannya, niscaya kamu akan tiba di tempat ini.
  • Carilah informasi yang akurat mengenai suatu objek wisata sebelum mengunjunginya agar tidak terjadi hal seperti yang kami alami.

This life is like a swimming pool. You dive into the water, but you can’t see how deep it is.
— Dennis Rodman

Comments

comments

Powered by Facebook Comments

Darius Go Reinnamah

Seorang pria yang sedang terus belajar menulis. Alasan menulisnya simple saja, karena "tertampar" oleh kalimat dari Pramoedya yang berbunyi: Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian.