5 Tempat yang Bisa Kamu Kunjungi di Pulau Samosir Cukup Dengan 1 Hari

Aneka budaya tersaji dalam lanksap indah sarat sejarah. Lahan subur terbentang dan tradisi dari leluhur terjaga erat. Pemandangan eksotis sudah terlihat dari kejauhan. Sekeping keindahan Indonesia tersimpan di tanah ini. Itulah Pulau Samosir, pulau penuh pesona yang terletak di tengah danau kaldera terbesar di dunia, Danau Toba.

HORASSS!!! 

Tidaklah berlebihan kalau Daily Voyagers mengatakan bahwa Pulau Samosir masih menjadi primadona wisata tanah Batak. Kunjungan wisata ke Pulau ini selalu ramai, baik oleh wisatawan lokal atau mancanegara. Sembari berjalan-jalan di Pulau Samosir, tidak ada salahnya juga kalau voyagers belajar sejarah serta adat budaya di Tanah Batak ini. Berikut sudah Daily Voyagers rangkum 5 tempat wisata belajar yang bisa kamu kunjungi di Pulau Samosir cukup dengan 1 hari:

Pertunjukan Sigale-gale

Jalan menuju pertunjukan Sigale-gale

Sigale-gale sedang dipersiapkan

Sajian pertama dari Pulau Samosir yang bisa kalian nikmati adalah Pertunjukan Sigale-gale. Terletah tidak jauh dari Dermaga Tomok, salah satu gerbang masuk Pulau Samosir, tempat pertunjukan Sigale-gale ini bisa voyagers temukan dengan menyusuri pasar pernak-pernik dan oleh-oleh khas Tomok. Sebuah plang dengan Tulisan “Sigale-gale” akan menjadi penanda kemana kalian harus melangkahkan kaki.

Sigale-gale merupakan sebuah seni tari yang berasal dari tanah Batak dimana tarian tersebut dilakukan oleh sebuah boneka kayu yang digerakkan oleh seorang dalang. Boneka dengan tinggi 1, 5 meter yang terletak di atas peti mati ini didandani persis layaknya seorang manusia dengan menggunakan pakaian serta tak lupa ulos yang menjadi kebanggan orang Batak melintang di bahunya.

Diiringi alunan musik Gondang khas Batak yang diperdengarkan melalui permainan suling, gendang dan juga gong, Sigale-gale akan menari bak seorang penari tradisional profesional. Tangannya dapat meliuk-liuk dan kepalanya dapat bergoyang ke kiri dan ke kanan.

Cerita Sigale-gale bermula ketika seorang Raja Batak kehilangan anak kesayangannya di medan perang. Sejak kematian anaknya, raja menjadi pemurung dan sakit-sakitan. Tidak ada obat atau dukun yang mampu menyembuhkan penyakit hati dari sang raja. Dengan sebuah inisiatif, para tetua kerajaan membuat sebuah boneka kayu yang menyerupai anak raja yang meninggal, si Manggale. Roh si Manggale dipanggil masuk untuk mengisi boneka kayu tersebut.

Menari bersama Sigale-gale

Sosok Dalang dibalik menarinya Sigale-gale

Sejak dipanggil masuk, Boneka Sigale-gale ini menari tiada henti selama 7 hari 7 malam. Melihat hal tersebut, raja menjadi senang dan kondisi fisiknya mulai membaik. Dari peristiwa inilah legenda Sigale-gale ini berasal.

Jaman dulu, tari Sigale-gale dilaksanakan untuk kegiatan tertentu seperti upacara kematian. Namun sekarang Sigale-gale lebih acara untuk menarik kunjungan wisatawan ke Pulau Samosir. Boneka Sigale-gale tidak mau menari seorang diri, ia harus ditemani oleh banyak orang. Untuk itu, jika voyagers ingin melihat boneka ini bergoyang, maka kalian harus juga ikut menari.

Salah satu syarat untuk ikut menari Sigale-gale ini adalah dengan menggunakan Ulos. Umumnya Ulos sudah disediakan tidak jauh dari boneka Sigale-gale, voyagers hanya perlu mengambil dan menggunakannya. Dibagian akhir tarian, voyagers akan diminta untuk memasukkan uang sukarela ke dalam kantong baju Boneka Sigale-gale atau ke dalam kotak donasi. Tarian akan ditutup dengan meneriakkan HORAS sebanyak 3x.

Terdapat 3 pertunjukkan Sigale-gale di Tomok ini. Saran Daily Voyagers, pilihlah yang paling atas (dekat Makam Tua Raja Sidabutar)

Biaya Masuk: Rp 5.000/orang

Makam Tua Raja Sidabutar

Kompleks Makam Tua Raja Sidabutar

Makam kecil berisi tulang belulang

Kalau voyagers pernah berkunjung ke Sumatera Utara, mungkin kalian akan bingung melihat makam-makam besar yang tersebar di Provinsi yang berbatasan langsung dengan Aceh ini. Dilengkapi dengan atap yang megah dan sekelilingnya yang berbalut keramik atau dibentuk menyerupai Rumah Bolon di bagian atasnya, makam-makam orang batak dibuat begitu besar dan gagah. Sangatlah Berbeda dengan kondisi makam-makam di Jakarta sini yang bentuknya semua sama.

Awalnya Daily Voyagers bingung kenapa makam-makam ini dibuat begitu besar. Namun kebingungan itu hanya bertahan selama beberapa hari sampai akhirnya Daily Voyagers melihat langsung Makam Tua Raja Sidabutar ini. Ternyata budaya makam besar ini sudah ada dari jaman dahulu.

Raja Sidabutar dipercaya sebagai orang yang pertama kali menginjakkan kaki di Pulau Samosir. Makamnya sendiri sudah berusia sekitar 460 tahun. Ada 3 raja yang dimakamkan di komplek ini dimana 2 raja pertama masih menganut animisme dan yang terakhir sudah menganut agama Kristen.

Makam yang terletak di paling belakang

Makam sebelah kiri merupakan makam setelah menerima kekristenan dan yang kanan merupakan makam yang masih menganut aliran animisme

Raja yang masih menganut animisme, jenazahnya diletakkan di dalam peti batu besar yang sudah dipersiapkan sendiri lengkap dengan ukiran-ukirannya. Peti batu tersebut tidak dikubur tetapi dibiarkan saja di atas tanah.  Setelah kekristenan masuk, barulah jenazah dikuburkan di dalam tanah.

Ada juga kuburan batu-batu berukuran kecil di kompleks makam Raja Sidabutar ini. Itu bukanlah makam bayi melainkan tempat mengumpulkan atau meletakkan tulang-belulang. Mungkin ini sama dengan Geriten yang ada pada masyarakat Karo.

Untuk masuk ke dalam kompleks makam Raja Sidabutar yang letaknya tidak jauh dari lokasi pertunjukan Sigale-gale ini, voyagers harus mengenakan ulos yang sudah disediakan oleh pihak penjaga makam. Bagi yang tidak menggunakan ulos, konon roh Raja Sidabutar akan hadir dalam mimpi orang tersebut.

Biaya masuk: Seikhlasnya

Museum Batak

Tampak Depan dari Museum Batak

Di Museum Batak ini voyagers bisa berfoto dengan menggunakan pakaian adat Batak

Terletak tidak jauh dari Makam Tua Raja Sidabutar, Museum Batak menyimpan banyak sekali kekayaan tanah ini. Beberapa peninggalan Raja bisa voyagers liat di sini seperti tongkat sakti raja batak atau yang biasa disebut Tunggal Panaluan, peralatan perang, ulos jaman dahulu, artefak dan bahkan boneka Sigale-gale pun ada di sini.

Sebenarnya museum ini hampir sama seperti museum pada umumnya, hanya saja penggunaan Rumah Bolon sebagai media penyimpanan benda-benda peninggalan ini membuat museum menjadi Batak banget. Pada bagian akhir perjalanan voyagers di museum ini, terdapat tempat penjualan souvenir. Beberapa replika dari benda-benda yang ada di museum ini bisa voyagers beli di sini.

Biaya Masuk: Gratis

Batu Persidangan Siallagan

Rumah Bolon yang ada di Batu Persidangan Siallagan

Batu Prasasti

Dulu, masyarakat Batak terkenal akan kanibalismenya. Hal itu tidak sepenuhnya benar dan tidak sepenuhnya salah juga. Ada orang Batak yang makan orang dan ada juga yang tidak.

Orang Batak jaman dulu tidak sembarangan dalam memilih korban untuk dimakan, ada kriteria khusus seperti apa orang yang boleh dimakan dan untuk tujuan apa orang tersebut dimakan. Untuk mengetahui seperti apa asal usul kanibalisme di Tanah Batak, datanglah ke kompleks Batu Persidangan Kerajaan Siallagan.

Selain mengetahui asal usul kanibalisme, disini voyagers juga bisa melihat tempat dimana penjahat kerajaan diadili jaman dulu. Keturunan Raja Siallagan akan menceritakan bagaimana leluhurnya dahulu menindak dan menghakimi seorang penjahat.

Lokasi dimana persidangan terhadap penjahat terjadi

Lokasi pemotongan kepala

Hampir mirip seperti kondisi persidangan sekarang, penjahat jaman dulu di daerah ini juga disidang dengan didampingi oleh pengacara, bahkan sampai 2 pengacara. Tidak heran kenapa kini  banyak orang Batak yang aktif di dunia hukum (jadi hakim, jaksa, pengacara), sebab dari ratusan tahun lalu mereka sudah akrab dengan persidangan dan beradu argumen mengenai hukum-hukum adat Batak.

Di komplek kerajaan ini juga terdapat Rumah Bolon yang menjadi rumah adat Masyarakat Toba. Sayangnya rumah ini bukan lagi rumah asli karena kebakaran pernah melanda wilayah ini dan melalap habis semua Rumah Bolon di sini. Rumah Bolon dibangun ulang dengan menggunakan atap seng dan sudah menggunakan paku (Rumah Bolon yang asli atapnya menggunakan ijuk dan tidak menggunakan paku sama sekali saat proses pembuatannya).

Untuk bisa ke sini dari Tomok, voyagers bisa menggunakan angkutan umum di Pulau Samosir dengan biaya Rp 5.000. Setelah menemukan Plang bertuliskan “Stone Chair Siallagan”, voyagers hanya perlu berjalan sejauh 300 meter untuk tiba di lokasi.

Biaya Masuk : Rp 8.000/orang

Museum Huta Bolon Simanindo

Makam Raja yang terletak di depan Pintu Masuk Huta Bolon

Rumah Bolon di Museum Huta Bolon yang berjumlah 3 buah

Huta dalam bahasa Batak artinya Kampung dan Bolon memiliki arti Besar, sedangkan Simanindo merupakan salah satu kecamatan yang ada di Pulau Samosir. Museum Huta Bolon Simanindo merupakan sebuah kampung tradisional batak yang berisi rumah Bolon (rumah adat Batak) warisan dari Raja Sidauruk. Tempat ini sudah menjadi museum sejak tahun 1969.

Untuk bisa  memasuki kawasan Museum, terlebih dahulu voyagers harus membayar tiket yang telah ditentukan. Tidak jauh dari loket, masih di wilayah bagian luar, voyagers bisa melihat 5 makam besar raja-raja batak yang berbaris rapi.

Kawasan Huta Bolon sangatlah besar namun gerbang masuknya hanya ada 1 dan sangat kecil, hanya muat satu orang. Kalau ada 2 orang, yang satu mau keluar dan yang satu mau masuk, maka mereka harus melakukannya bergantian.

Memasuki gerbang, voyagers akan dibuat terpukau dengan pemandangan kampung tadisional. Di sebelah kiri pintu masuk, voyagers dapat melihat terdapat 3 rumah Bolon. Rumah yang paling kiri merupakan tempat bagi para staff, rumah yang ditengah atau rumah raja merupakan rumah yang bisa voyagers masuki, dan yang terakhir, rumah paling kanan merupakan rumah tempat penjualan souvenir khas Batak.

4 Sopo yang terletak di seberang Rumah Bolon

Inilah Kawasan Huta Bolon

Foto diantara 2 Rumah Bolon

Tepat di depan rumah raja, terdapat 4 lumbung atau yang dalam bahasa Batak dikenal dengan istilah Sopo. Didalam salah Lumbung terdapat sebuah Losung yaitu alat tumbuk padi tradisional.

Halaman kosong membentang luas diantara Rumah Bolon dan Sopo. Terlihat sebuah Borotan atau pohon suci berdiri tegak sebagai pemanis di tengah halamannya. Pohon ini dulunya sering digunakan sebagai tempat untuk menyembelih kerbau ketika diadakan acara Mangalahat Horbo.

Voyagers juga bisa melihat pertunjukan Sigale-gale di Huta Bolon ini. Jadwal penampilan boneka kayu menari ini adalah pukul 10.30 WIB setiap harinya. Pastikan kalian tidak datang telat kalau ingin menyaksikan pertunjukan ini. Menurut Daily Voyagers, pertunjukan Sigale-gale terbaik ada di tempat ini.

Letak Museum Hota Bolon merupakan yang terjauh di antara 4 lainnya. Dibutuhkan kurang lebih 40 menit dengan angkutan umum untuk bisa tiba di tempat ini.

Biaya masuk: Rp 10.000 namun kalau ada pertunjukkan Sigale-gale biayanya menjadi Rp 50.000

*****

Itu tadi 5 tempat di Pulau Samosir versi Daily Voyagers yang bisa kalian kunjungi dalam 1 hari Semoga informasi di atas bisa membantu voyagers yang ingin berkunjung ke Pulau Samosir.

Catatan:

  1. Waktu berangkat paling baik adalah pukul 08:00 WIB dan pulang 15:00 WIB.
  2. Untuk menyeberang bisa menggunakan kapal feri atau kapal khusus penumpang dari dari Pelabuhan Ajibata, Parapat. Lama penyeberangan kurang lebih  1 jam.
  3. Kalau mau lebih cepat, bisa sewa speedboat dengan kapasitas hingga 12 orang. Biaya Sewa Rp 750.000.
  4. Untuk berpindah dari Tomok ke Batu Persidangan Siallagan atau Museum Huta Bolon Simanindo, voyagers bisa menggunakan angkutan umum di Pulau Samosir.
  5. Kalau ingin menginap di Samosir, voyagers bisa menginap di daerah Tuktuk.
A people without the knowledge of their past history, origin and culture is like a tree without roots.
— Marcus Garvey

Comments

comments

Powered by Facebook Comments

Darius Go Reinnamah

Twitter: @dgoreinnamah | IG: @dgoreinnamah | FB: dgoreinnamah | youtube: Darius Alexander Go Reinnamah | http://goreinnamah.com

You may also like...