Bukit Gibeon: Rumah Doa di Toba Samosir

Puas berjalan-jalan di Pulau Samosir pada hari sebelumnya, kini berangkatlah saya ke arah Selatan menyusuri Jl. Siborong-borong (Jl. Lintas Tengah Sumatera) dari Parapat dengan menggunakan motor (sebutan untuk mobil bagi orang Sumatera Utara) sejauh ± 13 KM.

Di sebuah simpang tiga (pertigaan), saya menepi ke arah kiri jalan dan menghentikan laju motor sebentar untuk bertanya dimanakah letak Bukit Gibeon. Penuh kehangatan, boru Manurung yang saya tanya mengarahkan motor saya untuk berbelok ke arah kanan. “Kurang lebih 3 KM lagi lah kalian sampai.” Jawabnya dengan penuh semangat dan logat bataknya yang kental.

Langit terlihat sangat cerah siang itu dan awan putih memayungi kami dari atas sana. Sesuai dengan arahannya, motor saya pacu dengan cukup cepat di jalan aspal sepi yang membelah perkebunan luas entah milik siapa. Rutenya agak menanjak dan tanaman-tanaman di perkebunan terlihat menari indah terkena hembusan angin.

Bibi (adik perempuan dari mama) pernah bercerita kalau di Bukit Gibeon terdapat sebuah gereja megah yang pasti aku akan senang melihatnya. Namun dibalik itu, ada alasan lain yang membuat saya benar-benar ingin mengunjungi Bukit Gibeon. Hal tersebut adalah karena namanya, Bukit Gibeon. Nama itu mengundang rasa penasaran dalam hati saya.

Rute Parapat – Bukit Gibeon

Menurut sejarah Alkitab, Gibeon merupakan tempat dimana Kemah Pertemuan Allah dibuat oleh Musa. Di sanalah Tuhan menampakkan diri kepada Raja Salomo setelah ia mempersembahkan korban bakaran (2 Tawarikh 1:1-13). Lantas akan seperti apakah Bukit Gibeon di Kabupaten Samosir ini?

Di pertengahan jalan, dari kejauhan sudah nampak 3 atap bangunan berwarna ungu yang menyerupai kastil dengan 3 Salib di bagian atasnya. Sudah jelas bangunan tersebut pastilah gereja yang diceritakan bibi saya tempo lalu.

Kekaguman pun datang dari pengelihatan akan atap gereja tadi. Meskipun belum melihatnya secara utuh, namun saya sudah bisa membayangkan besaran kira-kira dari gereja tersebut.

Tiba-tiba saja dalam diri ini muncul pertanyaan yang secara tidak sadar saya jawab sendiri, “Siapa yang mau bergereja di atas bukit yang jauh dari jalan raya ini? Ah peduli apa soal ini. Jika  Tuhan sudah mengizinkan rumahNya dibangun disini, maka ia akan memimpin umatNya untuk bisa memasuki rumahNya. Apalah dayaku untuk meragukan diriNya”

Akhirnya sebuah gerbang bertuliskan “Bukit Gibeon” terlihat setelah berkendara selama kurang lebih 15 menit dari persimpangan tadi.  Ternyata di Bukit Gibeon ini tidak hanya berdiri sebuah gereja melainkan banyak bangunan lain yang masuk ke dalam wilayah yang disebut PSBG (Pusat Seminar Bukit Gibeon). Ada apa saja di dalam PSBG ini?

Gerbang Masuk Bukit Gibeon

Kawasan Seminari

Sebelum memasuki wilayah PSBG, setiap pengunjung (termasuk saya) diminta untuk mematuhi beberapa peraturan yaitu tidak boleh merokok, dilarang menginjak rumput dan memetik bunga, dilarang bermesraan atau berfoto mesra, tidak boleh berbaju ketat dan tidak boleh menggunakan celana pendek atau rok pendek. Untuk syarat yang terakhir, apabila pengunjung menggunakan bawahan pendek, pihak PSBG telah menyediakan kain berwarna ungu untuk diikatkan di pinggang guna menutupi bagian pinggang ke bawah.

Baru sampai di bagian depan ini saja saya sudah salut dengan peraturan yang ada. Memang seharusnya seperti inilah kita berperilaku jika ingin masuk ke dalam Rumah Tuhan. Andai saja peraturan ini bisa diterapkan dengan baik di gereja-gereja yang ada di perkotaan dimana masih banyak jemaat yang berbaju mini ketika beribadah dan merokok di sekitar gereja baik sebelum atau pasca ibadah, pasti suasana bergereja akan lebih indah.

Proses screening pakaian sebelum masuk e dalam wilayah seminari.
orang dengan jas ungu merupakan siswa dan siwai yang bertindak sebagai petugas

saya yang harus masuk dengan menggunakan kain penutup berwarna ungu karena menggunakan celana pendek

Bagian pertama atau saya menyebutnya sebagai bagian depan merupakan kawasan pembelajaran. Bukit Gibeon  ini sebenarnya adalah kawasan seminari yaitu lembaga pendidikan bagi calon rohaniawan Kristiani, dimana terdapat gereja di dalamnya.  Seminari diambil dari bahasa latin yang artinya benih, jadi di tempat inilah dipersiapkan banyak calon Pelayan Tuhan yang siap ditempatkan di penjuru Indonesia.

Fasilitas di Seminari ini terlihat cukup lengkap. Sembari berjalan menuju gereja yang ada di bagian belakang, di bagian kiri dan kanan saya melangkah, saya bisa melihat beberapa bangunan seperti asrama putra, asrama putri, aula umum, toilet, pantry dan juga ruang belajar bagi para siswa dan siswi.

Asrama Putra dan Asrama Putri

Aula yang digunakan untuk berkumpul. Dari sini nampak Rumah Doa Segala Bangsa

Masa pembelajaran di seminari ini adalah 4 tahun dimana 2,5 tahun pembelajaran di Bukit Gibeon dan selama 1,5 tahun  mereka akan diletakkan di tengah-tengah jemaat untuk melayani. Setelah lulus, para siswa akan mendapatkan gelar evangelist dan bebas untuk memilih denominasi gereja dimana mereka ingin melayani.

Beruntungnya, saya datang ketika siswa/i sedang memasuki musim liburan sehingga tempat ini dibuka untuk umum pada hari biasa (weekdays). Kalau sedang memasuki musim pengajaran, Pusat Seminari Bukit Gibeon hanya dibuka pada akhir pekan saja yaitu pada hari sabtu dan minggu.

Menara Doa

Menara Doa dengan Menorah pada bagian puncaknya

Menara Doa dari sudut yang berbeda

Semakin berjalan ke dalam, semakin kaki ini bersemangat melangkah. Memasuki kawasan tengah Bukit Gibeon, dalam hati saya langsung berucap, “mungkin seperti ini ya rasanya masuk ke dalam wilayah Buckingham Palace.” Aneka tumbuhan dan tamannya begitu terawat, komposisi bangunan sangat rapi dan yang pasti udaranya sangat segar karena terletak di atas bukit (ditambah lagi tidak boleh merokok di sini).

Setelah melewati kawasan pembelajaran, sebelum tiba di gereja, ada sebuah gedung  tinggi dengan 3 lantai yang terletak persis di sebelah taman. Gedung tersebut bernama Menara Doa. Di atas gedung ini terdapat sebuah Menorah atau yang biasa disebut dengan Kaki Dian.

Menorah merupakan bagian dari perangkat Kemah Suci, yaitu sebuah tempat untuk meletakkan pelita yang berguna untuk menerangi bait suci. Dengan diletakkannya Menorah sebagai simbol di atas menara doa ini diharapkan setiap orang yang melihatnya akan mengingat bahwa manusia harus selalu hidup dalam terang.

Sayangnya, tempat ini bukan untuk  umum melainkan sebagai tempat doa untuk para Staff dan juga siswa/i yang memperoleh pengajaran di tempat ini. Tempat berdoa untuk para jemaat sudah disediakan tidak jauh dari Menara Doa ini.

Rumah Doa Segala Bangsa

Akhirnya saya bisa melihat keseluruhan bangunan gereja. Inilah daya tarik utama yang membuat banyak orang datang ke tempat ini. Pemilihan nama Rumah Doa Segala Bangsa sebagai nama gereja merupakan pilihan yang bijak. Siapapun orangnya, dari manapun asalnya, bagaimanapun bentuknya, berhak untuk berdoa, beribadah dan mendapat pelayanan di tempat ini.

Warna ungu mendominasi bagian atap bangunan gereja. Tidak hanya gereja sebenarnya, semua atap bangunan di kawasan PSBG ini berwarna ungu. Ungu merupakan lambang kehormatan, kekayaan dan keagungan. 3 Salib yang terletak di atas puncak tiap menara gereja melambangkan penyaliban Kristus di Bukit Golgota bersama kedua penjahat di sisiNya.

Penampakan penuh dari Rumah Doa Segala Bangsa

Tampak Depan dari Rumah Doa Segala Bangsa

Rumah Doa Segala Bangsa merupakan Gereja dengan desain eksterior termegah yang pernah saya lihat. Dari depan, gereja ini terlihat sangat gagah bak sebuah istana. Dindingnya begitu kokoh, ukiran-ukiran pada dinding begitu detil dan penggunaan kaca patri pada jendela menambah kesan artistik pada bangunan ini.

Menurut penjaga di sini, kalau malam hari lampu salib akan menyala dan tulisan “Rumah Doa Segala Bangsa” akan bersinar terang. Mendengar penjelasan tersebut, pikiran ini langsung berfantasi mengenai keindahan tempat ini di malam hari dengan taburan bintang di atasnya. Pastilah beruntung apabila saya bisa mengambil gambar gereja ini di malam hari.

Rumah Doa Segala Bangsa dan Menara Doa

Demi mengobati rasa penasaran saya tentang siapa saja yang beribadah di sini, saya pun memberanikan diri untuk bertanya padanya. “Siapa saja yang beribadah di sini dan apakah ibadah di sini selalu penuh mengingat tempat ini jauh dari jalan raya dan pemukiman warga?” Tanyaku.  “Ya siapa saja yang mau bisa beribadah di sini dan percaya atau tidak, ibadah di sini selalu penuh.” Jawab petugas tersebut dengan cukup tenang.

Sayang sekali saya tidak bisa masuk ke dalam gereja karena gereja hanya dibuka saat jam ibadah, yaitu setiap hari sabtu dan minggu. Padahal ingin sekali rasanya bisa masuk ke dalam bangunan ini dan melihat bagaimana interiornya.

Ruang Doa

Ruang Doa yang terletak di belakang Gereja Rumah Doa Segala Bangsa

RUang doa berada di sebalh kiri dan kanan dari jalan utama ini

Bagian akhir dari kawasan seluas 4 hektar ini adalah Ruang Doa, tempatnya persis di belakang gereja. Ada 8 ruang doa dengan berbagai ukuran yang bisa kita gunakan untuk menyerahkan segala keluh kesah kita dan mengucap syukur kepadaNya. Tujuan utama dibukanya tempat ini memang sebagai tempat berdoa, pemandangan indah dan arsitektur yang akbar hanyalah bonus saja.

Buat pengunjung yang mau berdoa, dipersilahkan masuk ke dalam ruang doa yang kosong. Apabila membutuhkan bantuan untuk didoakan, kita bisa meminta bantuan petugas di sini untuk masuk dan berdoa bersama-sama. Petugas dapat dengan mudah terlihat di kawasan ini dengan pakaiannya yang berwarna ungu.

Sosok Dibalik Bukit Gibeon 

D.L. Sitorus semasa hidup. pic via ini

Penasaran dengan siapa yang menyulap “tanah mati” sekian hektar ini menjadi “Ladang Tuhan”, saya pun menarik salah seorang petugas yang ternyata seorang siswi yang sedang mendapat giliran untuk jaga. Dari dialah saya tahu kalau tanah dan bangunan di Bukit Gibeon ini adalah milik D.L. Sitorus. Tidak hanya Kawasan seminari ini saja, tapi dari bagian depan tempat saya bertanya pada boru Manurung tadi ternyata juga milik D.L. Sitorus (total luas tanahnya kurang lebih 20 Hektar).

Siswi tersebut juga menjelaskan kalau semua pendanaan di Bukit Gibeon ini berasal dari kantong pak D.L. Sitorus. Para siswa dan siswi yang belajar di sini tidak dipungut biaya sama sekali. Seragam, buku-buku, asrama, makan, uang kuliah, semua dibiayai oleh D.L. Sitorus. Mereka hanya perlu belajar dan mengikuti semua aturan yang sudah ditetapkan. Saat praktek melayani ke jemaat, tempat tinggal mereka selama melayani pun akan dicarikan oleh D.L. Sitorus.

****

Terjawab sudah pertanyaan saya akan rupa Bukit Gibeon di Kabupaten Toba Samosir ini. Tidaklah heran kalau tempat ini diberi nama Bukit Gibeon seperti tempat dimana Kemah Suci didirikan oleh Musa. Kiranya tempat ini tetap bisa menjaga “kesuciannya” dan semakin banyak orang yang boleh datang ke sini.

Keterangan:

  1. Waktu Kunjungan ke Pusat Seminari Bukit Gibeon:
    1. Sabtu = 14:00 – 17:30 WIB
    2. Minggu dan Hari libur lainnya = 13:00 – 17:00 WIB
  2. Jam Ibadah di RUmah Doa Segala Bangsa:
    1. Sabbat (Sabtu) = 10:00 WIB – selesai
    2. Ibadah Minggu = 08:30 WIB – selesai
    3. Hari-hari Besar Kristen (Sesuai Kesepakatan).
  3. Pengunjung yang diperkenankan masuk adalah ia yang beragama Kristen.
  4. Patuhi semua aturan yang ditetapkan kalau kamu tidak ingin diusir keluar dari wilayah ini.
  5. D.L. Sitorus sudah meninggal, Bukit Gibeon kini diurus oleh istri dan anak-anaknya.

The only difference between your local college and a Christian seminary is that the latter is more honest.
— Dennis Prager

Comments

comments

Powered by Facebook Comments

Darius Go Reinnamah

Twitter: @dgoreinnamah | IG: @dgoreinnamah | FB: dgoreinnamah | youtube: Darius Alexander Go Reinnamah | http://goreinnamah.com