• Home
  • /
  • Culture
  • /
  • Huta Siallagan: Batu Kursi Eksekusi (3)

Huta Siallagan: Batu Kursi Eksekusi (3)

→sebelumnya (Batu Kursi Persidangan (2))

Kematian merupakan peristiwa yang pasti mendatangi setiap mereka yang hidup, hanya saja tidak tahu kapan kematian itu akan datang. Lantas bagaimana perasaanmu kalau kamu tahu dalam beberapa hari kedepan kamu akan meninggal tapi tidak bisa berbuat apa-apa untuk mempersiapkannya? Takut? Bingung? Pasrah? Mungkin seperti itulah perasaan yang berkecamuk pada terpidana mati yang akan dipancung di hari penghakimannya.

Jarak dari Batu Kursi Persidangan menuju Batu Kursi Eksekusi tidaklah begitu jauh. Usai menjalani masa tahanan (pemasungan), terpidana mati akan dibawa ke Batu Kursi Eksekusi guna dipotong lehernya. Matanya akan ditutup oleh ulos selama perjalanan menuju Batu Kursi Eksekusi dan juga saat dipancung.

Hal itu harus dilakukan guna mencegah adanya kontak mata dengan orang-orang yang hadir untuk melihat proses pemancungan di Batu Kursi Eksekusi. Entahlah, mungkin ada rasa bersalah juga pada mereka yang hadir untuk menonton prosesi tersebut dan agar tidak dihantui & diingat oleh arwah si terpidana maka terpidana dibuat tidak bisa melihat.

Peralatan

Sebelum masuk ke dalam tahapan pemancungan, terlebih dahulu saya akan menjelaskan beberapa properti yang akan digunakan selama prosesi ini selain dari pedang yang digunakan algojo dan batu kursi eksekusi itu sendiri:

  1. Buku sakti & Kalender Batak
    Selain bersemedi di bawah Pohon Hariara, ada satu lagi cara yang digunakan untuk menentukan hari baik dan hari tidak baik untuk memancung si terpidana mati. Cara tersebut adalah dengan menggunakan buku sakti orang Batak dan kalender Batak.
    Kalender Batak terdiri dari 12 bulan dan 1 bulan hanya terdiri dari 30 hari. Angka tidak digunakan dalam kalender batak dan yang ada hanyalah simbol. Terdapat hanya 2 simbol dalam Kalender Batak yaitu hari baik atau hari tidak baik.

    Kalender Batak

    Buku Sakti orang Batak namanya Pustaha Laklak. Ditulis dengan menggunakan aksara batak pada kertas yang berbahan dasar kulit kayu, ukuran asli dari buku ini bisa mencapai 2 meter panjangnya dan kurang lebih 30 cm lebarnya.
    Pustaha Laklak tidak hanya digunakan untuk menentukan hari baik dan hari tidak baik saja. Buku ini juga bercerita mengenai  astronomi, obat-obatan, dan arti dari sebuah mimpi. Buku in kaya akan ilmu pengetahuan.
    Sebelum melakukan pemancungan, dukun akan membaca mantra-mantra sakti pada Pustaha Laklak dan melihat kalender Batak apakah hari ini baik untuk melakukan pemancungan atau tidak. Bila tidak baik, maka akan dicari hari apa yang baik sebagai waktu eksekusi.

    Pustaha Laklak

    (Konon tinggal sedikit orang Batak yang bisa membaca aksara batak ini. Perlu adanya proses transliterasi pada buku ini agar banyak orang bisa membacanya) 

  2. Tongkat Tunggal Panaluan
    Suatu ketika ada sepasang suami istri yang akhirnya memiliki keturunan setelah sekian lama sang istri tidak juga mengandung. Saat melahirkan, ternyata anak mereka kembar dizigotik. Menurut adat orang Batak dulu, si anak laki-laki harus dipisahkan dari kembarannya yang perempuan karena mereka berbeda kelamin. Namun orang tuanya tidak melakukan adat tersebut dan tetap membiarkan mereka tumbuh bersama.
    Saat dewasa, ternyata benar, kedua bersaudara tersebut ternyata saling mencinta. Mereka pun melakukan hubungan terlarang. Usai peristiwa tersebut, si laki-laki memanjat pohon Si Tua Manggule untuk memakan buahnya. Saat sedang memanjat, si anak laki-laki terhisap ke dalam pohon tersebut. Melihat saudaranya terhisap, si anak perempuan datang ke pohon tersebut dan berusaha untuk menolong. Namun usahanya tidak berbuah hasil dan justru membuatnya ikut terhisap.

    Tongkat Tunggal Panaluan (tengah) dan pedang yang digunakan untuk memotong leher terpidana (kanan)

    Singkat cerita, orang tua si anak datang bersama orang-orang kampung dan beberapa orang sakti untuk menolong mereka. Orang-orang sakti yang berusaha melepaskan mereka (lagi-lagi) ikut terhisap. Akhirnya ada orang sakti yang mampu mampu membelah pohon tersebut dan saat dibelah yang keluar adalah darah.
    Untuk mengenang kejadian tersebut, dibuatlah Tongkat Tunggal Panaluan yang berisikan pahatan wajah dari mereka yang terhisap oleh pohon si Tua Manggule. Kurang lebih seperti itulah sejarah singkat dari Tongkat Tunggal Panaluan.
    Selain untuk menangkal ilmu hitam, Tunggal Panaluan biasa digunakan oleh raja batak jaman dahulu untuk memanggil dan juga menghentikan hujan.

Proses Pra  Pemancungan

Menjelang ajalnya, terpidana akan direbahkan ke salah satu batu yang paling besar di bagian belakang arena eksekusi. Masih dengan mata tertutup ulos dan badan yang kini sudah tanpa pakaian, ia akan dipukuli dengan menggunakan tongkat raja yang bernama tongkat Tunggal Panaluan hingga tubuhnya lemas. Pemukulan tersebut ditujukan untuk melepaskan semua ilmu hitam yang ada di tubuh si terpidana.

Peragaan proses pemukulan pada terpidana hingga lemas. Pic via ini

Denah Batu Kursi Eksekusi

Tahap sadis bagian pertama baru saja selesai, tapi tahap sadis berikutnya sudah menanti. Setelah yakin ilmu hitam yang ada di tubuh terpidana hilang, badan terpidana akan diiris-iris dan disayat-sayat kemudian disiram dengan ramuan dan cairan asam. Tidak hanya sampai di situ, jeruk nipis lantas akan diberikan pada bagian sayatan tadi. Entah bagaimana rasanya bila saya yang ada di posisi tersebut. Membayangkan proses ini saja badan saya sudah lemas. Padahal ini baru awal dan belum memasuki proses potong leher.

Terpidana memang harus dibuat benar-benar lemas agar saat proses pemancungan nanti ia tidak bisa banyak bergerak dan melawan. Ia dibuat sampai tidak mampu lagi berteriak di tengah kesakitan yang sedang dialaminya. Terlihat kejam memang, tapi itulah prosesi yang harus dilaluinya atas kejahatan yang sudah dilakukannya.

Proses Pemancungan

Tempat dimana terpidana dipancung

Kurang lebih Seperti inilah posisi terpidana saat akan dipancung.
pic via ini

Ilmu hitam sudah hilang, kini saatnya memindahkan terpidana ke atas batu pemancungan atau batu eksekusi. Tugas berat sudah menanti Algojo. Karirnya dipertaruhkan di sini. Algojo yang akan melakukan tugasnya harus bisa memutuskan leher terpidana dalam 1 kali tebasan. Apabila dalam 1 kali tebas ternyata leher terpidana tidak copot dan tidak mati, maka algojo akan mendapatkan hukuman dari Raja Siallagan.

Terbayang betapa tajamnya pedang yang digunakan untuk menebas si terpidana ini. Saya rasa salah satu tujuan dari harus tercapainya kematian dalam satu kali tebasan adalah untuk mencegah rasa sakit yang berlebih lagi dari si terpidana.

Pasca Pemancungan

Kepala kini sudah terpisah dari badannya. Salah seorang pembantu raja akan mengambil piring Batak untuk meletakkan sedikit darah segar terpidana di atasnya. Piring batak yang sudah berisi darah kemudian akan ditempatkan di atas meja beserta dengan kepala terpidana. Badannya akan kembali diletakkan di atas batu dimana ia dipukuli sebelum dipenggal.

Tubuh yang sudah tidak bernyawa itu kemudian dibelah dua. Jantung dan hati akan dikeluarkan dari dalamnya. Kedua anggota tubuh yang sudah tak lagi bekerja itu lantas diiris tipis-tipis dan dicampurkan ke dalam darah yang berada di atas piring. Dengan tambahan sedikit bumbu, campuran hati, jantung dan darah tadi dipersembahkan kepada raja dan orang-orang berilmu yang hadir di situ.

Sudah saya jelaskan sebelumnya kalau terpidana mati sudah bukan lagi manusia melainkan binatang. Raja dan orang-orang berilmu lalu memakan dan meminum darah tersebut. Tujuan diminumnya darah dan dimakannya hati serta jantung adalah untuk menambah kekuatan ilmu hitam yang ada pada raja dan orang-orang berilmu di kerajaan.

Kurang lebih mungkin seperti inilah penampakan dukun kerajaan

Tidak hanya dikonsumsi sendiri, Raja pun kemudian akan menawarkan daging (jantung & hati) dan darah tersebut kepada rakyatnya yang hadir pada proses pemancungan.  Raja akan bertanya, “siapa yang mau makan daging dan darah ini?”

Apakah yang akan kamu lakukan jika pertanyaan tersebut dihadapkan kepada kamu? Apakah kamu akan meminumnya?  Kapan lagi kan bisa mencoba “Sup Jantung Kuah Darah Asam Manis” 🙂

Kalau saya hidup pada jaman itu dan ditanya seperti itu oleh raja, maka saya akan menjawabnya dengan (logat batak), “Maaf raja. Tak kuat dan tak berani aku makan dan minum darah orang itu. Takut tingginya nanti kolestrolku setelah makan orang  ini.”

Menurut keturunan Raja Siallagan ke-17 yang menjadi pemandu saya, tidak semua orang Batak jaman dahulu mau makan orang. Rakyat bisa menolak permintaan raja tersebut dan raja tidak akan marah.

Tujuan raja bertanya seperti itu kepada rakyatnya adalah dia ingin melihat siapakah diantara sekian banyak rakyatnya yang punya nyali dan bisa dijadikan sebagai Hulubalang. Raja ingin tahu siap sih “jagoanu” di Huta Siallagan ini.

Di bagian akhir, badan dari terpidana yang sudah mati akan dibuang ke danau dan kepalanya diletakkan tergantung pada gerbang masuk Huta Siallagan. Tujuan kepala tersebut digantung adalah agar setiap orang yang melihat kepala tersebut bisa belajar dan tidak melakukan hal bodoh yang bisa membuat diri mereka dipancung.

*****

Begitulah kurang lebih kisah dibalik Batu Kursi Eksekusi dan latar belakang kanibalisme di Tanah Batak. Tidak semua orang dapat dimakan dan tidak semua orang Batak juga suka makan manusia. Ketidaktahuan orang Belanda jaman dahulu akan latar belakang peristiwa kanibalisme inilah yang membuat stigma soal “orang Batak suka makan orang” terlanjur menyebar dan terlalu dieskpos.

Peristiwa pemenggalan dan makan orang ini berakhir pada awal abad ke 19 saat kedatangan pendeta asal Jerman yang tidak mau disebutkan namanya ini (dibaca: Nomenssen) melakukan pekabaran injil di tanah Batak. Raja yang sudah memeluk agam Kristen lantas menghentikan praktek ini dan menggantinya dengan hukuman lain.

Punishment is not for revenge, but to lessen crime and reform the criminal.
— Elizabeth Fry

Comments

comments

Powered by Facebook Comments

Seorang pria yang sedang terus belajar menulis. Alasan menulisnya simple saja, karena "tertampar" oleh kalimat dari Pramoedya yang berbunyi: Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian.