Itinerary Ulin Ka Majalengka dan Sekitarnya

Bicara soal Jawa Barat, kali ini saya akan mengesampingkan Bandung untuk sesaat. Pada Weekend Getaway yang dilakukan oleh rombongan pekerja kantoran ibu kota yang butuh hiburan guna mengatasi kepenatan agar kepala tidak meledak, berangkatlah kami menuju Majalengka pada awal Desember 2017 kemarin.

Selama di Majalengka, kami tidak hanya bermain di kabupaten tersebut tetapi kami juga berkunjung ke Cirebon, Kuningan dan daerah di sekitarnya. Mau tau seperti apa keseruannya dan tempat apa saja yang kami kunjungi? Berikut ini adalah rinciannya:

Hari Pertama

Waktu (WIB)Deskripsi
22:00 - 23:00Perjalanan dengan menggunakan Elf dari Meeting Poitn Semanggi ke Meeting Point UKI
23:00 - 04:00Perjalanan dari UKI menuju Majalengka

Beranjak dari Plaza Semanggi menuju UKI, semua masih berjalan dengan lancar. Namun semua mulai berubah saat negara api menyerang alias kala Elf memasuki kawasan Bekasi. Perjalanan pada Jumat malam membuat kami harus mengambil resiko kalau kami akan bermacet-macetan sepanjang Bekasi. Saya lebih memilih tidur ketimbang harus melek ketika Elf berusaha membelah kemacetan. Malam pun berlalu dengan penuh keheningan di dalam Elf yang berisi 18 orang (termasuk supir) menuju Majalengka itu.

Hari Kedua

Waktu (WIB)Deskripsi
04:00Tiba di Majalengka (daerah Bongas)
04:00 - 07:00Tidur malam yang kepagian
07:00 - 09:30Perjalanan dari tempat menginap di Majalengka menuju Cigugur di Kuningan
09:30 - 10:00Menikmati terapi ikan di Cigugur
10:00 - 10:15Perjalanan ke Curug Putri Palutungan
10:15 - 10:30Treking dari Parkiran Curug Putri ke lokasi Air Terjun
10:30 - 11:20Main Air di Curug Putri Palutungan
11:20 - 12:00Perjalanan dari Curug Putri menuju Ipukan Taman Nasional Gunung Ciremai
12:00 - 12:10Treking ke Curug Cisurian
12:10 - 12:45Main di Curug Cisurian
12:45 - 13:25Main di Curug Cipayung
13:25 - 14:00Perjalanan kembali ke parkiran di Pukan dan ganti baju
14:00 - 15:30Perjalanan ke Rumah Makan Pak Kayol
15:30 - 17:30Makan siang yang kesorean
17:30 - 19:00Perjalanan kembali ke tempat menginap di daerah Bongas
19:00 -24:00Acara Bebas
24:00Tidur

Tangan Helena menepuk paha saya yang dengan seketika langsung membangunkan saya. Pukulan tersebut merupakan tanda kalau elf sudah tiba di Majalengka, lebih tepatnya di daerah Bongas, kecamatan Sumberjaya. Satu per satu keluar dari Elf dan mengambil beberapa barang bawaan yang diletakkan di bagian belakang. Tersadar setelah tertidur sekian jam dan langsung diminta untuk bergerak cepat membuat konsentrasi kami belum pulih 100%. Dengan pelan kami berjalan di tengah kegelapan pagi menuju rumah salah seorang teman (yang juga ada dalam rombongan kami) dan melanjutkannya dengan tidur beberapa jam lagi.

Tepat jam 6, kami terbangun dengan sarapan seadanya yang sudah tersaji di hadapan. Teman pemilik rumah ternyata sudah bangun lebih dahulu dan mencarikan makanan untuk kami. Tidak semua terlihat langsung menyantap hidangan yang sudah ada di depan mata. Beberapa orang terlihat memilih untuk mandi. Kamar mandi yang terbatas membuat kami harus bergantian. Beberapa orang sarapan dan beberapa orang lagi mandi terlebih dulu.

Setelah semua siap, kami kembali ke dalam Elf untuk melanjutkan perjalanan ke destinasi pertama yaitu Obyek Wisata Cigugur di Kuningan. Jarak Majalengka ke Kuningan ternyata tidak begitu jauh karena memang 2 kabupaten ini bertetangga.

Elf yang kami gunakan untuk berkeliling Majalengka

Objek Wisata Cigugur

Di Cigugur kami menikmati terapi ikan alami dan mengenal ikan langka atau yang biasa disebut dengan ikan Dewa. Seperti apa sih terapi ikan alami itu? Ya mirip seperti terapi kaki yang ada di mall-mall terkenal. Kami hanya perlu memasukkan kaki ke dalam kolam dan ikan-ikan kecil akan menghampiri untuk memakan kulit-kulit mati yang ada di kaki kami.

Selama proses ikan menikmati sumber makanan dari kaki kami, ikan-ikan dewa yang ukurannya besar-besar akan berkeliling di sekitarnya untuk mengawasi apakah ikan-ikan kecil ini bekerja dengan baik atau tidak. Ikan Dewa ini kalau dilihat-lihat semacam supervisor yang sedang mengawasi anak buahnya bekerja. Kenikmatan lain yang bisa ditemui di Objek Wisata Cigugur adalah harga masuknya yang murah. Hari gini siapa sih yang gak senang terapi ikan dengan harga murah, betul kan?

Sel-sel kulit mati sudah terangkat, kaki menjadi ringan, jalan menjadi lebih segar, lalu kami meneruskan perjalanan ke Curug Putri. Kalau tadi hanya kaki yang dibasahkan, sekarang waktunya untuk seluruh badan.

Gini lho kira-kira terapi ikan

Rombongan Ikan Dewa

Curug Putri bisa dibilang curug semi buatan. Kenapa? Karena jalan masuk menuju lokasi air terjun dari parkiran sudah mengalami banyak sentuhan tangan manusia. Tangga berbatu yang dibuat lengkap dengan pegangan sangat memudahkan perjalanan untuk tiba di lokasi air terjun. Curahan air ke dalam kolam penampung yang tidak begitu dalam membuat siapapun cukup aman untuk bermain di sini.

Puas bermain air? Oh belum. Dari Curug Putri, dengan pakaian basah di badan yang berusaha dikeringkan secara alami, rombongan melanjutkan perjalanan ke Ipukan yang masuk ke dalam kawasan Taman Nasional Gunung Ceremai. Di Ipukan ini ada 2 Curug lagi yang akan kami sambangi. Kedua Curug tersebut adalah Curug Cisurian dan Curug Cipayung. Layaknya Kabupaten Kuningan dan Majalengka, mereka pun tetanggaan.

Curug yang pertama kami hampiri adalah Curug Cisurian. Rutenya mirip seperti ke Curug Putri, tidak begitu sulit. Kedalaman kolam penampung di Curug Cisurian juga cukup dangkal. Perbedaan antara Curug Cisurian dan Curug Putri ada pada ketinggian air terjun. Curug Cisurian jauh lebih tinggi sehingga curahan air dari atas lebih deras dan lebih indah untuk dilihat serta diabadikan. Curug yang satu ini juga aman untuk semua usia.

Perjalanan menuju Curug Putri Palutungan

Inilah pemandangan Curug Putri

Usai bermain di Curug Cisurian, kami lanjut menuju Curug Cipayung. Dari segi jarak sebenarnya lebih dekat Curug Cipayung dari Curug Cisurian kalau titik awalnya adalah parkiran di Ipukan. Kami sengaja memilih rute yang lebih jauh terlebih dahulu agar kembali ke parkiran lebih ringan.

Rute menuju ke Curug Cipayung ternyata lebih curam dan licin. Untuk menuruninya, kami harus melipir di pinggir tebing batu yang basah dan lembab.  Selain itu, jalurnya juga cukup kecil sehingga harus bergantian bila ada yang mau naik dan ada yang mau turun. Kesulitan selama turun akan digantikan dengan keindahan saat mencapai dasar tangga. Berbeda dengan 2 air terjun sebelumnya, air terjun bertingkat langsung nampak di depan mata. Tanpa basa-basi, kami langsung main air lagi.

Curug Cisurian

Perjalanan menuju Curug Cipayung

Love at Curug Cipayung

Perut mulai menunjukkan alarmnya yang berarti kalau sudah waktunya untuk diisi. Demi menjaga stabilitas cacing-cacing yang ada di perut, dari Ipukan kami bertolak ke Rumah Makan Pak Kayol di Cirebon. Tidak terlalu spesial menu di rumah makan ni sebenarnya, hanya saja waktu itu hujan dan kami sudah malas mencari-cari rumah makan lainnya. Alhasil, rumah makan inilah yang terpilih.

Perut kenyang, hati senang, muka riang dan kami siap kembali bergoyang. Sayangnya, Rumah Makan Pak Kayol merupakan spot terakhir kami hari itu. Kami pun kembali ke homestay untuk beristirahat dan mempersiapkan untuk perjalanan hari esok.

Hari Ketiga

Waktu (WIB)Deskripsi
06:00 - 08:00Berangkat menuju Pasar Muara Jaya + Sarapan
08:00 - 09:00Perjalanan menuju Panyaweuyan dengan menggunakan Mobil Bak terbuka
09:00 - 10:00Foto-foto di Panyaweuyan
10:00 - 10:20Perjalanan menuju Curug Muara Jaya
10:20 - 10:35Pendaftaran dan dilanjutkan dengan Treking ke Curug Muara Jaya
11:00 - 12:55Perjalanan kembali ke Pasar Muara Jaya (Agak lama karena hujan)
12:55 - 13:20Perjalanan ke Saung Syuro untuk makan siang
13:20 - 14:45Makan siang
14:45 - 15:45Perjalanan menuju Curug Sempong
15:45 - 16:10Treking menuju Curug Sempong
16:10 - 17:15Main air
17:15 - 17:45kembali ke parkiran + ganti Baju
17:45Perjalanan kembali ke Jakarta

Tujuan awal kami ke Majalengka sebenarnya ingin menghadiri Festival Durian. Namun kabar pagi yang kami terima membuat kami harus mengurungkan niat tersebut. Persiapan yang kurang matang dari panitia membuat durian habis dalam sesaat dan tidak berjalan sesuai rencana. Agar tidak berlarut dalam kekecewaan, kami pun memilih untuk pergi ke destinasi wisata lain yang kali ini ada di Majalengka.

Mobil bak yang digunakan menuju Panyaweuyan

Ini Lho lekukan-lekukan indah dari sawah di Argapura

Pagi-pagi benar kami sudah sarapan dan menuju Pasar Muara Jaya. Di sana kami harus berganti kendaraan dari Elf menjadi mobil bak terbuka alias mobil sayur. Hal itu dikarenakan tempat yang ingin kami tuju, Panyaweuyan, tidak bisa dilalui oleh Elf yang terlalu besar dan berat. 17 orang pun numplek jadi satu di atas mobil bak tersebut.

Ada apa sih di Panyaweuyan? Di sana ada sawah. Lalu mungkin dari kalian akan berpikir, “Jauh-jauh cuma liat sawah?” Eitts, tunggu dulu. Sawah di sini bukan sembarang sawah, sawah di sini itu artistik. Tiap jalurnya memiliki lekukan dan pesona yang memikat hati layaknya Nella Kharisma. Terletak di dataran tinggi dan udaranya yang segar membuatnya sebagai nilai tambah yang membuat kami betah berlama-lama di tempat ini.

Menuruni jalur yang sempit dan berkelok-kelok dari Argapura menuju Argamukti, akhirnya mobil bak yang kami tumpangi tiba di Parkiran Curug Muara Jaya. Hari ini kami masih tetap ingin main air. Trekking pada jalur tangga yang menurun membawa kami tiba Curug Muara Jaya. Dari jauh Curug ini terlihat sangat gagah dan indah. Namun tidak dari dekat. Curug ini kotor dan sangat dipenuhi sampah. Niat untuk main air pun kami urungkan dan memutuskan kembali ke parkiran.

Curug Muara Jaya yang penuh dengan Sampah

Baca Juga: Pulau Bawean, Surga Kecil di Utara Jawa Timur

Perjalanan dari Curug Muara Jaya menuju Pasar Muara Jaya cenderung lebih santai karena jalurnya menurun, tidak seperti saat berangkat dimana kami harus berpegangan kuat karena jalurnya yang sangat amat menanjak. Setibanya di Pasar Muara Jaya, waktu sudah menunjukkan pukul 13:00 WIB, waktu yang tepat untuk makan siang. Saung Syuro yang berkonsep lesehan dengan pemandangan sawah ala-ala-nya menjadi pilihan kami.

Sebelum kembali ke Jakarta, kami berdiskusi sejenak setelah makan dan diputuskan kalau kami masih akan mengunjungi satu spot main air lagi. Segera setelah tagihan makan siang dibayarkan, kami bertolak menuju Curug Sempong.

Kalau boleh berpendapat, Curug Sempong merupakan curug terbaik dari semua curug yang kami kunjungi baik hari ini atau kemarin. Curug ini masih sangat alami dan “perawan”. Untuk tiba di Curug Sempong dari parkiran, kita harus berjalan turun melewati jalur tanah yang licin selama kurang lebih 25-30 menit. Nyamuk-nyamuk nakal menemani perjalanan kami (rutenya sedikit melewati kebun warga).

Asyiknya lagi, kedalaman air di curug ini cukup dalam sehingga kami bisa berenang. Terdapat 2 tingkat di Curug Sempong ini. Tingkat yang pertama (paling bawah) memiliki kedalaman kurang lebih 2-2,5 meter dan tingkat yang kedua memiliki kedalaman kurang lebih 6 meter.  Buat yang berjiwa adventure, curug ini pas banget buat jadi playground kalian.

tingkatan paling bawah di Curug Sempong.
Airnya memang begini ya warnanya, bukannya kotor.

Tingkatan kedua dari Curug Sempong

Kami tidak bisa bermain terlalu lama di Curug Sempong ini, padahal tempatnya asyik banget. Kami berpacu dengan waktu untuk kembali ke Jakarta (takut sewa elfnya overtime dan jadi nambah biaya). Usai berganti pakaian, kami kembali ke Elf dan mengucapkan selamat tinggal pada Majalengka dan sekitarnya.

Terima kasih Majalengka dan sekitarnya karena sudah menjadi tempat “pelarian” akhir pekan kami. Hatur nuhun.

Rincian Biaya

Berikut ini rincian pengeluaran kami selama kurang lebih 3 hari 2 malam menjelajah Majalengka dan teman-temannya:

Rincian Biaya Ulin Ka Majalengka & Sekitarnya

Keterangan:

  • Perjalanan dimulai dari Jakarta ke Majalengka dan berakhir kembali di Jakarta.
  • Total peserta shared cost kali ini adalah 17 orang.
  • Elf yang kami sewa adalah kapasitas untuk 20 orang.
  • Pengeluaran di atas tidak termasuk biaya untuk foya-foya pribadi seperti membeli cemilan dan oleh-oleh
  • Ada beberapa spot dimana tidak semua peseta ikut turun sehingga saya tidak menuliskan biaya per orangnya (hanya biaya total).
  • saya tidak merekomendasikan kalian untuk ke Curug Muara Jaya karena curugnya sangat kotor.

****

Itu tadi sedikit sharing tentang rincian perjalanan kami selama ulin ka Majalengka. Semoga informasi ini berguna ya.

Happy Traveling 🙂

Many a calm river begins as a turbulent waterfall, yet none hurtles and foams all the way to the sea.
— Mikhail Lermontov

Comments

comments

Powered by Facebook Comments

Darius Go Reinnamah

Seorang pria yang sedang terus belajar menulis. Alasan menulisnya simple saja, karena "tertampar" oleh kalimat dari Pramoedya yang berbunyi: Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian.