• Home
  • /
  • Trip
  • /
  • #HHIRACE4 bersama Hitchhiker Indonesia (Bagian 2)

#HHIRACE4 bersama Hitchhiker Indonesia (Bagian 2)

 → Cerita sebelumnya←

Setelah mendapat clue tersebut, saya dan Ayu pun berusaha menebak tempat apakah yang dimaksud. Dugaan sementara adalah Indom*ret. Namun sebelum berpikir lebih jauh tentang tempat apakah itu, kami harus terlebih dulu memastikan apakah ada St*rbucks di daerah Gadog yang lokasinya di sebelah kiri jalan raya atau tidak.

Dengan langkah yang pasti, Ayu pun berjalan menghampiri seorang tukang ojeg dan bertanya kepadanya. Usai mendapat konfirmasi kalau memang warung kopi mahal itu ada, kembali kami membentangkan spanduk “numpang dong” + “Gadog” di pinggir jalan raya yang saat itu kondisinya sedang gerimis.

Baru sebentar kami membentangkan spanduk, kira-kira 15 menit, sebuah mobil Avanza berhenti dan langsung mempersilahkan kami masuk. Perbincangan seru pun dimulai dari sebuah perkenalan. Nama driver kali ini adalah Pak Ujang, seorang pria berumur sekitar 40 tahun yang memiliki 1 istri. Melihat kami membentangkan spanduk “numpang dong”, spontan ia langsung memberi tumpangan kepada kami.

“Mau diantar kemana?” Tanya Pak Ujang.

“Ke St*rbucks di Gadog. Pak Ujang tahu?” tanyaku menjawab pertanyaannya.

“Oh, tahu kalau itu sih” Jawabnya dengan penuh keyakinan.

Tahu kemana harus mengantar kami, ia pun perlahan memacu kendaraannya semakin cepat. Sambil menyetir dia bercerita kalau dulunya ia adalah seorang karyawan swasta sebelum akhirnya beralih menjadi seorang supir taksi online. Mempunyai mobil sendiri memang tujuannya sejak lama dan alhamdulilah cita-citanya itu terwujud berkat usahanya dan juga dorongan dari istrinya. Awalnya, Pak Ujang narik menggunakan mobil milik temannya. Namun karena harus berbagi hasil dengan temannya yang punya mobil, Pak Ujang merasa pendapatannya tidak maksimal.

“Kalau punya mobil sendiri kan enak, meskipun pendapatan harus dipotong untuk bayar cicilan tapi rasanya lebih puas. Selain itu, saya juga tidak perlu pusing lagi untuk sewa mobil ketika hari raya. Tau sendiri kan harga sewa mobil pas hari raya? tinggi banget” ujar Pak Ujang.

Terima kasih Pak Ujang untuk tumpangannya

Ternyata jarak st*rbucks dari Lampu Merah Ciawi, tempat kami mencari tumpangan, tidaklah begitu jauh. Tujuan yang sudah di depan mata membuat perbincangan saya dan Ayu dengan Pak Ujang harus berakhir. Sebelum turun tidak lupa kami mengucapkan banyak terima kasih untuk kerelaannya mengantar kami. Terima kasih Pak Ujang, sampai bertemu di lain kesempatan.

Kaki sudah berdiri tepat di depan st*rbucks, itu tandanya kami harus memecahkan misteri “Merah, Biru, & dibawahnya 5 huruf” dan “belanja” yang ada pada clue. Kami masih sepakat kalau yang dimaksud dalam clue tersebut adalah Indom*ret Gadog (di logonya terdapat warna merah dan biru).

Tepat di sebelah st*rbucks ternyata terdapat Alfam*rt yang setelah kami amati di logonya juga terdapat warna merah dan biru. Kami pun bingung. Tak ingin larut dalam kebingungan, apakah tempat yang dimaksud Indom*ret atau Alfam*rt, saya dan Ayu memutuskan untuk “menggeledah” semua toko waralaba dengan warna tersebut untuk mencari stiker #HHIRACE4 yang sudah dipersiapkan oleh panitia. Pencarian dimulai dari Alfam*rt ini.

Stiker #HHIRACE4 yang berhasil ditemukan

Lelah, itulah yang kami dapatkan setelah berkeliling Alfam*rt selama 10 menit dan berujung dengan tidak ditemukannya stiker #HHIRACE4. Meskipun sudah lelah, berhenti mencari tidak ada dalam opsi kami. Dari Alfam*rt, kami berjalan menuju Indom*ret yang jaraknya kurang lebih 250 meter.

Pucuk dicinta, ulam pun tiba. Ternyata tim #3 sudah terlebih dahulu tiba dan mereka belum beranjak dari tempat dimana stiker itu berada. Kali ini saya dan Ayu tidak perlu susah payah untuk mencari keberadaan stiker tersebut. Terima kasih lho tim #3 yang sudah bantu kami menemukan stikernya 🙂

Tumpangan #4 (Indom*ret Gadog – Pom Bensin)

Handphone kembali berdering yang artinya ada sebuah notifikasi baru sudah masuk. Dari pesan yang masuk itu kami diminta menuju ke Pom Bensin pertama setelah Indom*ret, lokasinya dekat dengan Hokben. Baru saja bertemu, kami harus kembali berpisah dengan tim #3. Kami berjalan saling menjauh guna mencari tumpangan masing-masing.

Nasib mujur menjumpai saya dan Ayu. Kami lebih dahulu mendapatkan tumpangan karena memang kami berdiri sekitar 300 meter sebelum tim #3. Ialah seorang pemuda bernama Taufik yang mengizinkan mobilnya untuk kami masuki. Saat itu ia sedang menuju ke arah Cisarua untuk menjemput tamunya, jadi ya sekalian saja ia mengangkut kami. Tidak ada rasa curiga sama sekali dari wajahnya saat mempersilakan kami masuk.

Tim #1 dan #3 yang kali ini menumpang mobil yang sama

Namun yang namanya jodoh, mau seperti apapun usahanya untuk dipisahkan pastilah bertemu kembali. Begitulah yang terjadi antara tim #3 dan tim #1. Melihat tim #3 yang bergaya meminta tumpangan seperti yang saya dan Ayu lakukan sebelumnya membuat Taufik tidak tega. Ia pun mengangkut mereka juga. Kini tim #1 dan tim #3 berada dalam satu mobil yang sama dan menuju lokasi yang sama pula.

Tidak terlalu banyak perbincangan di mobil tumpangan kali ini. Selain sudah cukup pagi (sekitar pukul 02:30 WIB), jarak yang cukup dekat (lihat di google maps) membuat saya tidak ingin bertanya terlalu banyak. Keheningan pun sedikit menemani perjalanan kami hingga tiba di Pom Bensin yang dimaksud. Terima kasih mas Taufik untuk tumpangannya. Tak lupa kami berempat berfoto bersama mas Taufik di depan mobilnya.

Setibanya di Pom Bensin, panitia langsung menjemput kami dan membawa kami ke Indom*ret di sebelah pom bensin untuk ngopi-ngopi cantik sembari menunggu tim #2 yang masih tertinggal jauh di belakang.  Sambil menunggu itulah panitia bercerita kalau mereka tidak menyangka kami akan tiba secepat ini. Perkiraan mereka kami akan tiba sekitar pukul 06:00 WIB (kenyataannya kami tiba pukul 02:40 WIB).

Karena tidak ada plan B, maka beristirahatlah kami semua di Indom*ret tersebut hingga waktu menunjukkan pukul 06:00 WIB.

Istirahat dengan kondisi seadanya

Tumpangan #5 (Gadog – Cimori Riverview)

16 Februari 2018 pukul 06:00 WIB

Usai tidur seadanya, dengan hanya terduduk di atas kursi yang tersedia di Indom*ret, pukul 06:00 WIB kami pun bangun. Mata masih mengantuk, badan masih pegal karena tidur dalam posisi duduk, but show must go on. Formasi #HHIRACE4 kini kembali lengkap, ada tim #1, tim #2 dan tim #3.

Petunjuk selanjutnya kembali di kirim melalui whatsapp dan kami pun dipersilahkan untuk memecahkan clue tersebut sambil sarapan. Kami bebas untuk memilih mau sarapan dimana dan secara resmi lomba kembali dimulai. Tim #2 memutuskan untuk berpisah. Tinggallah saya dan Ayu berbagi sarapan dengan tim #3.

Full team *pura-pura segar*

Clue kedua #HHIRACE4

Sambil makan, kami mencoba untuk memecahkan petunjuk tersebut. Berbagai macam spekulasi pun dilontarkan. Ada yang bilang tempat yang dimaksud itu adalah Cimori River View dan ada pula yang mengatakan kalau tempat yang dimaksud adalah Patung Sapi Ken Dedes (setelah melakukan googling). Keduanya masih berada di wilayah Cisarua dan terdapat kali dengan jembatan di dekatnya. Untuk Sumatera Baratnya sendiri sudah pasti rumah makan Padang.

Tim #3 pun berangkat terlebih dahulu. Mereka memutuskan untuk langsung menuju ke Patung Sapi Ken Dedes. Sekitar 20 menit berlalu, akhirnya tim #3 mendapatkan tumpangan. Melihat mereka sudah mendapatkan tumpangan, saya dan Ayu langsung berjalan dan kembali membentangkan spanduk “Numpang Dong” + “Cisarua”. Kali ini merupakan waktu tercepat kami bisa mendapatkan tumpangan. Kurang dari 5 menit, sebuah mobil Mobilio Hitam berhenti tepat di depan kami dan langsung membukakan pintunya untuk kami.

Kejadian lucu langsung terjadi di sini. Pak Arif yang merupakan pengemudi pada kendaraan kali ini bercerita kalau tadi dia sudah melihat kami membentangkan spanduk tapi tidak berhenti. Karena penasaran, dia kembali berputar dan memutuskan untuk mengangkut kami. Sebenarnya yang dilihat Pak Arif adalah tim #3 (karena baju kita sama), bukan kami. Sebab kami benar-benar baru saja membentangkan spanduk tersebut dan beruntungnya tim #3 sudah mendapatkan tumpangan. Jadilah kami yang menumpang mobil Pak Arif.

Pak Arif ini orang yang paling penasaran dengan aktivitas yang kami lakukan. Ia bertanya cukup banyak hal terkait hitchhiking dan #HHIRACE4 ini. Yang saya salut adalah istri dan anaknya yang masih kecil tidak keberatan kalau kami menumpang di mobilnya. Dia bercerita kalau ia jadi ingat masa sekolahnya dulu dimana ia juga sering menumpang kendaraan orang lain.

Lalu saya pun bertanya, “Apa bapak tidak takut memberi tumpangan kepada kami?”

“Ya, saya sih tujuannya berbuat baik saja. Saya mencoba berpikir positif dan saya yakin insya-Allah tidak akan terjadi apa-apa dengan saya.” ujarnya.

Terima Kasih Pak Arif untuk tumpangan dan pelajaran hidupnya

Setibanya di Cimori, Pak Arif langsung memberhentikan kendaraannya karena kami memutuskan untuk memeriksa lokasi ini terlebih dahulu sebelum menuju Patung Sapi Ken Dedes. Kami pamit dan tak lupa mengucapkan terima kasih untuk tumpangannya. Kami berhenti tepat di depan Rumah Makan Padang yang letaknya di seberang Cimori. Permasalahan selanjutnya adalah kami tidak menemukan adanya jembatan dan sungai. Kedua objek tersebut letaknya ada di dalam Cimori. Masa Iya kami harus masuk ke dalam Cimori? Kalau patung sapinya sih sudah tersenyum lebar kepada kami sedari kami tiba.

Agar tidak bingung yang berkepanjangan, kami berkonsultasi dengan warga sekitar. Kami bertanya dimanakah letak Patung Sapi yang ada jembatan dan sungainya.

“Ya ini mas. Jelas Cimori ini. Itu Patung sapi melotot (sambil menunjuk ke arah patung sapi). Jembatan dan sungai ada di dalamnya dan mas berdiri tepat di warung padang.” Jawab salah seorang yang kami tanya.

“Tapi kalau menjurus ke 8 huruf yang dimaksud, bisa jadi Patung Sapi yang dimaksud adalah patung sapi KEN DEDES. Masih agak jauh mas dari sini dan masih masuk wilayah Cisarua.” Jawab teman dari pria yang sebelumnya menjawab.

Sudah yakin kalau tempat yang kami tuju salah, kami langsung berniat untuk membuka spanduk “numpang dong” kembali. Baru saja spanduk itu ingin kami bentangkan, ternyata Pak Arif kembali berhenti di depan kami. Sambil membuka kaca mobilnya ia memberikan uang Rp 10.000 kepada saya sambil berkata, “Mas, tadi uangnya jatuh di dalam mobil saya.”

Mendengar kalimat itu dan melihat perbuatan yang begitu nyata ini, saya percaya kalau orang baik itu masih banyak. Padahal itu hanyalah uang Rp 10.000 tapi Pak Arif memutuskan untuk berputar dan mengembalikan uang yang bukan miliknya tersebut. Terima kasih pak untuk pelajaran yang luar biasa tersebut. Jarang-jarang hati saya bisa tersentuh seperti ini.

Tumpangan #6 (Cimori River View – Patung Sapi Cisarua)

Spanduk sakti “Numpang Dong” + “Cisarua” kembali kami kibarkan. Tak lama berselang, sebuah angkot biru berhenti di depan kami. Ayu pun segera menjalankan tugasnya untuk bernegosiasi.

“Ayo neng. Cisarua kan?” tanya si pengemudi.

“Iya bang, tapi kita pengennya numpang” sahut Ayu.

“Ya udah, Ayo naik. Tapi mbaknya yang duduk di depan ya”

“Okay” (sambil memberikan tanda kepada saya untuk duduk di belakang)

Mas yang saya lupa namanya. Terima kasih mas untuk tumpangannya

Kalau biasanya saya duduk di depan, kali ini Ayu menggantikan posisi saya. Meskipun begitu, saya tidak pernah sedikitpun mengalihkan pandangan dari si pengemudi. Saya takut terjadi yang tidak-tidak kepada Ayu. Di tengah kekhawatiran saya, mereka justru berbincang seru dan ternyata si pengemudi tahu tujuan yang kami maksud (kerena memang itu rute angkotnya).

Setelah saya pikir-pikir, rasanya si supir bukan ingin macam-macam kepada Ayu, tapi lebih memiliki perasaan takut kepada saya. Untuk itulah dia meminta Ayu untuk duduk di depan. *maafin muka saya yang serem ya bang. udah bawaan lahir*

Tepat di depan Patung Sapi Ken Dedes kami diturunkan. Lagi-lagi, tim #3 sudah sampai terlebih dahulu. Keputusan tepat mereka lakukan dengan tidak ‘mampir’ ke Cimori. Namun kali ini mereka belum menemukan lokasi stiker itu berada. Karena baru sampai, saya meminta Ayu untuk bersantai sejenak dan membiarkan tim #3 yang mencari stiker tersebut. Nanti kalau mereka sudah dapat, kami hanya perlu mengikutinya dari belakang. Simple kan?

ini nih patung sapi yang dicari-cari

Stiker terakhir berhasil ditemukan

Tak jauh dari Patung Sapi itu terdapat sebuah rumah makan padang yang di depannya nampak sebuah tiang listrik berwarna oranye. Saat sedang berjalan menuju ke arah tiang listrik itu, tim #3 menemukan stiker #HHIRACE4 dan langsung berfoto dengan stiker tersebut.

Melihat gaya aneh dari tim #3, saya dan Ayu langsung menghampiri mereka untuk berfoto juga dengan stiker #HHIRACE4. Tidak disangka ternyata clue itu merupakan clue terakhir dari #HHIRACE4 kali ini.

Penjemputan dan Selesainya #HHIRACE4

Tim #1 dan #3 yang sudah menyelesaikan misi terlebih dahulu dibawa menuju ke penginapan setelah sebelumnya menunggu Ejie yang tertinggal cukup jauh di belakang. Letak penginapan yang sudah disewa oleh panitia untungnya tidak jauh dari lokasi kami menemukan Patung Sapi.

Tiba di penginapan. Pic via ini

Seperti layaknya sebuah perlombaan, pastilah ada pemenangnya dan #HHIRACE4 kali ini dimenangkan oleh Tim #3 (Helena dan Nugo). Kriteria pemenang ditentukan berdasarkan kecepatan mencapai titik yang diminta, banyaknya kendaraan yang ditumpangi dan juga laporan kepada panitia tentang kendaraan yang ditumpangi.

Terima kasih Hitchhiker Indonesia yang sudah mengadakan #HHIRACE4 yang seru ini. Dari perjalanan hitchhiking ini saya dapat belajar banyak hal mulai dari berbagi, pantang menyerah, kerja sama tim, berpikir positif dan masih banyak lagi.

Ditunggu ya #HHIRACE selanjutnya. Salam jempol!!!

Keseruan lainnya di event #HHIRACE4

They Told me I could be anything, so I became a Hitchhiker
— Unknown

Comments

comments

Powered by Facebook Comments

Seorang pria yang sedang terus belajar menulis. Alasan menulisnya simple saja, karena "tertampar" oleh kalimat dari Pramoedya yang berbunyi: Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian.