• Home
  • /
  • Destinasi
  • /
  • Menikmati Bentangan Sawah nan Indah di Bukit Panyaweuyan

Menikmati Bentangan Sawah nan Indah di Bukit Panyaweuyan

Sedari kecil kita sudah diperkenalkan dengan yang namanya sawah. Sawah bukanlah menjadi hal yang asing di telinga anak-anak Indonesia karena di sawah itulah tumbuh salah satu kekuatan ekonomi indonesia yang bernama padi, cikal bakal dari beras, makanan pokok warga Indonesia.

Masih membekas dalam ingatan saya pada mata pelajaran menggambar kala sekolah dasar dulu. Ketika diminta menggambar pemandangan alam, mayoritas teman-teman saya (termasuk saya) pastilah menggambar 2 gunung yang merupakan representasi dari Gunung Sindoro dan Gunung Sumbing, lengkap dengan 2 sawah di bagian depan yang terletak di kiri dan kanan jalan. Kalian pasti tahu template gambar yang saya maksud kan?

Kini sawah bukan lagi hanya sekedar sawah. Sawah mulai merambah menjadi sebuah kekuatan wisata. Oleh sebab itulah hadir istilah yang namanya Agrowisata, sebuah jenis wisata yang tidak kalah dengan wisata bahari atau wisata budaya.

Gambar Legendaris.
Pic via ini

Tegalang Rice Terrace.
Pic via ini

Salah satu daerah yang sawahnya paling terkenal sebagai daerah agrowisata adalah Bali, lebih tepatnya di daerah Tegalalang. Ketika kalian ketikkan kata kunci “Tegalalang” di mesin pencari, maka ratusan bahkan ribuan foto dengan gambar sawah akan berseliweran di layar komputer atau laptopmu. Itulah Tegalalang Rice Terace, sebuah daerah di utara Ubud yang penuh dengan Subak (Sawah khas Bali) yang menjadi wisata utama di sana.

Bagaimana bisa sawah menjadi tujuan wisata? Tentu saja hal tersebut pastinya ada peran serta dari pihak pemerintah, swasta dan warga yang mengemas sawah tersebut menjadi suatu hal yang menarik untuk dibagikan. Lalu pertanyaan selanjutnya adalah apakah kita harus ke Bali untuk melihat sawah dengan cita rasa seni yang tinggi itu? Jawabannya TIDAK.

Pesona Bukit Panyaweuyan

Bukit Panyaweuyan

Buat kalian (terutama warga Jakarta) yang ingin menyaksikan sebuah kawasan dengan bentukan sawah yang rapi dan memukau tanpa pergi ke daerah yang terlalu jauh, kalian bisa mampir ke Majalengka. Ya, saya tidak sedang salah menyebut. Majalengka bukan hanya dikenal sebagai daerah penghasil genteng saja atau sebagai daerah yang terkenal akan “goyangannya” saja. Di sana juga terdapat sawah memesona dengan pola yang unik.

Berlokasi di Desa Argamukti, Argapura (bukan Argopuro lho ya), Kabupaten Majalengka, Bukit Panyaweuyan berdiri sebagai salah satu wisata favorit di Majalengka. Panyaweuyan sendiri berasal dari kata Saweuy yang dalam bahasa lokal memiliki arti jaring untuk menangkap burung. Namun, kini bukan hanya burung yang berhasil dijaring, tetapi juga manusia.

Terletak di kaki Gunung Ceremai membuat Bukit Panyaweuyan memiliki kemiringan yang cukup terjal. Akan tetapi, warga sekitar sukses membuka lahan di daerah tersebut dan menyulap tanah yang merupakan sumber kehidupan menjadi daerah persawahan yang eksotis dan berestetika.

Menghabiskan waktu dengan kamu. Iya kamu

Seorang Pekerja terlihat sedang menyirami sawahnya

Karena kemiringan lahan, tentunya metode persawahan yang digunakan adalah terasering. Cara yang satu ini dipilih karena memiliki beberapa manfaat seperti mencegah longsor, mengurangi tingkat kecuraman lereng, juga mempermudah proses distribusi air pada tanaman yang ditanam di area sawah.  Tanaman yang di tanam pun beragam, bukan hanya padi. Ada daun bawang, ubi jalar dan lainnya.

Keindahan yang ditawarkan oleh sawah di Panyaweuyan berbeda dengan Subak di Tegalalang Bali. Perbedaan lokasi sawah juga mempengaruhi bentuk sawah serta cara penanaman. Kalau di Tegalalang, di tiap tingkatannya, lahan cenderung besar dan lekukan tiap tingkatnya tidak begitu beraturan. Sedangkan di Panyaweuyan, setiap tingkatannya hanya terdiri dari satu baris dan lekukannya sangat rapi. Pola tumbuhnya tanaman dikondisikan dengan sangat ciamik sehingga sangat memanjakan mata.

Terlihat beberapa Gubuk yang kerap dijadikan tempat beristirahat oleh para petani

Pemandangan gunung yang ada di sekitar Bukit Panyaweuyan

Mirip swah panyaweuyan kan? tinggal di-ijoin aja.
Pic via ini

Bila diibaratkan maka bentuk sawah di Panyaweuyan seperti model rambut cornrow yang sering digunakan para Rapper Amerika. Saya menduga, jangan-jangan para rapper tersebut mendapat inspirasi dari Panyaweuyan ini ya. *Bisa jadi*

Keunggulan lainnya dari sawah Panyaweuyan adalah pemandangan di sekitarnya. Terletak di ketinggian 400 – 600 MDPL membuat kita bisa melihat beberapa gunung dari bukit ini, tidak hanya Gunung Ceremai. Namun jika keberuntungan sedang tidak menghampiri kalian, maka gunung-gunung tersebut akan bersembunyi dibalik kabut yang menutupinya.

Berada di daerah sawah Panyaweuyan membuat diri ini seperti masuk ke dalam sebuah negeri dongeng. Udara sejuk akan memeluk erat tubuhmu, sinar matahari akan menyapamu, matamu akan dimanjakan dengan lukisan-lukisan alam, telingamu akan mendengar tanaman-tanaman yang saling berbisik dan hatimu akan dipenuhi dengan ketentraman.

Manfaat Mengunjungi Persawahan di Bukit Panyaweuyan

Berbahagia bersama teman-teman

Buat kalian yang merupakan perindu-perindu wilayah pedesaan. Kalian wajib untuk mengunjungi Panyaweuyan. Kenapa?

  1. Relaksasi
    Hijaunya tanaman, udara yang segar dan atmosfer yang nyaman di area persawahan akan memberikan efek tenang kepada hati dan pikiran.
  2. Memicu Kebahagiaan
    Ketika hati dan pikiran sudah tenang, energi positif mulai masuk dan membentuk sel-sel kebahagiaan dalam diri kita. Salah satu kebahagiaan yang jelas terlihat adalah senyuman.
  3. Melepas Rindu
    Untuk kalian yang besar di pedesaan dan kini tinggal di perkotaan, pemandangan dan nuansa di Panyaweuyan bisa sedikit mengobati rindumu akan kampung halaman.
  4. Memacu Kreatifitas dan Tumbuh Kembang Anak
    Buat kalian yang membawa si kecil, kalian bisa memperlihatkan bahwa dunia tidak hanya gadget dan gedung tinggi saja. Ada juga bentangan alam yang berbentuk sawah. Biarkanlah pikirannya berinajinasi melihat potret alam ini dan ajarkan juga ia cara untuk menjaga alam.
  5. Fotografi
    Objek yang begitu indah sungguh sayang apabila tidak diabadikan dan diwartakan. Siapkan kameramu dan abdikanlah pemandangan di Bukit Panyaweuyan.
  6. Membantu Ekonomi daerah Wisata
    Yang ini sudah pasti. Dengan kalian datang, kalian sudah menambah pemasukan untuk warga sekitar baik itu lewat jasa sewa kendaraan, parkir dan biaya masuk kawasan.

Rute Menuju Bukit Panyaweuyan

Pasar Muara Jaya. Tempat untuk naik mobil Kol Gundul

Untuk menuju ke Bukit Panyaweuyan, kalian bisa memulainya dari Pasar Muara Jaya, Majalengka. Apabila kalian bepergian dengan menggunakan Elf atau bus, kalian harus berganti kendaraan di sini karena jalur menuju Panyaweuyan sangat menanjak dan berliku tajam. Elf atau mobil yang lebih besar dan panjang lainnya ditakutkan tidak bisa mengikuti patahan jalan yang tersedia.

Sebagai ganti kendaraan, kalian bisa menyewa mobil bak terbuka atau warga biasa menyebutnya dengan mobil Kol Gundul. Duduklah di bagian bak tersebut dan nikmati serunya 1 jam perjalanan menuju Panyaweuyan. Mobil akan melaju melewati rumah warga, perkebunan, hutan pinus dan masih banyak pemandangan seru lainnya.

Setibanya di wilayah persawahan, kendaraan akan diparkirkan dan kalian harus melanjutkannya dengan berjalan kaki. Nikmatilah momen-momen berjalan kaki dimana kalian akan membelah persawahan!

Harga sewa mobil Kol Gundul adalah Rp 250.000 (PP) dan satu mobil kol gundul bisa menampung hingga 15 orang.

Ini nih serunya naik mobil bak

Salah satu pemandangan yang akan kita lewati saat menuju Bukit Panyaweuyan

Waktu yang Tepat

Berdasarkan pengalaman, waktu yang cukup baik untuk mengunjungi Panyaweuyan adalah sekitar bulan November – Desember. Pada bulan-bulan tersebut tanaman sedang hijau-hijaunya sehingga kombinasi antara warna hijau tanaman dengan coklatnya tanah akan membentuk suatu perpaduan yang sempurna.

Untuk jam sendiri, tibalah di sana sekitar pukul 06:00 – 09:00 WIB. Pada jam tersebut matahari belum terlalu menyengat, udara masih cukup sejuk dan sawah sudah mulai bangkit dari kabut yang menyelimutinya.

Perhatian!!!

Selalu perhatikan langkah kalian saat melewati are persawahan. Jangan hanya demi foto cantik dan eksis di dunia maya lantas kalian menginjak-injak tanaman yang sedang ditanam.

In the city, we work until quitting time. On the farm, we work until the job is finished.
— John Bytheway

Comments

comments

Powered by Facebook Comments

Seorang pria yang sedang terus belajar menulis. Alasan menulisnya simple saja, karena "tertampar" oleh kalimat dari Pramoedya yang berbunyi: Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian.