Morea dan Air Kehidupan di Negeri Waai

Berkunjung ke Ambon, saya tidak ingin melewatkan kesempatan untuk mampir ke Negeri Waai, Salahutu, Kabupaten Maluku Tengah. Dalam bahasa Ambon, Wai memiliki arti air. Sedangkan Waai, dengan 2 huruf a, mempunyai arti air yang berlimpah. Air dan Negeri Waai memang memiliki hubungan yang sangat erat dan tak bisa terpisahkan. Dari air inilah masyarakat Waai “lahir”.

Sejarah Negeri Waai

Dipercaya bahwa asal-muasal masyarakat di negeri-negeri yang ada di Pulau Ambon adalah dari Pulau Seram, begitu pula dengan masyarakat di Negeri Waai. Sebelum pindah ke tempat yang sekarang, di daerah pinggir pantai, masyarakat negeri Waai tinggal di daerah Pegunungan Salahutu dan memeluk agama Islam.

Pada jaman pendudukan Belanda atas Indonesia (± tahun 1600an), datanglah seorang Pendeta ke Pegunungan Salahatu, tempat dimana masyarakat Waai dulunya tinggal, untuk melakukan pekabaran Injil di Tanah Maluku. Cara unik dilakukan sang Pendeta untuk menyebarkan Agama Kristen.

Saat warga sedang Sholat Jumat, datanglah dua orang pembantu Pendeta dengan membawa sebuah bakul air besar. Bakul tersebut diletakkan di depan Masjid. Usai selesai Sholat, warga menghampiri kedua pembantu pendeta dan mendekati bakul air tersebut. Tiba-tiba saja sang Pendeta yang bernama Hoeden Horen keluar dari bakul air tersebut dan memercikkan air yang ternyata air baptisan kepada warga. Warga yang terkena air percikkan tetap tinggal di negeri Waai dan warga yang tidak kena langsung lari meninggalkan negeri ini.

Ilustrasi negeri di Ambon tempo dulu.
Pic via ini

Versi lain berkata bahwa ketika Pendeta Hoeden Horen memercikkan air kepada mereka yang selesai Sholat, dengan seketika mereka pun menghilang (tidak mati). Warga lain yang melihat kejadian tersebut namun tidak terkena percikan air pun lantas memeluk Kristen. Warga yang menghilang tersebut dipercaya menjadi penjaga negeri ini. Kabarnya, warga yang menghilang akibat percikan air Pendeta Hoeden masih dapat dilihat wujudnya hingga sekarang oleh mereka yang memiliki mata batin.

Singkat cerita, terlepas dari versi cerita mana yang benar, Pendeta Hoeden Horen berhasil menyebarkan Injil di negeri Waai. Pendeta Hoeden kemudian meminta agar masyarakat Waai pindah ke daerah pinggir pantai karena menurutnya kebutuhan hidup masyarakat Waai akan lebih mudah didapat dan terpenuhi di sana.

Masyarakat yang percaya akan omongan Pendeta Hoeden pun berkumpul dan bermusyawarah untuk menentukan tempat tinggal baru bagi mereka. Mereka masih mengalami kebingungan karena belum tahu dimana tempat yang baik untuk mereka bisa tinggal. Petunjuk yang ada hanyalah untuk pindah ke daerah pinggir pantai.

Sumber Air Waiselaka

Ini Sumber air utamanya

Suatu inisiatif pun dilakukan oleh seorang moyang sakti yang dikenal dengan nama Moyang Janis. Ia mengambil sebuah tombak miliknya dan melemparkan tombak tersebut ke daerah dekat pantai. Kemanapun nantinya tombak tersebut tertancap, di situlah masyarakat Waai akan pindah dan menetap. Usai dilempar, diutuslah beberapa orang untuk mencari tombak tersebut dan akhirnya ditemukan. Saat tombak itu dicabut, keluarlah air yang menjadi menjadi sumber mata air bagi warga desa Waai yang sekarang dikenal dengan nama Sumber Air Waiselaka.

Tempat sudah ada, sumber kehidupan (air) juga sudah datang, lalu beberapa warga yang diutus untuk menemukan tombak tadi pun kembali ke pegunungan untuk mengajak warga lainnya turun. Tempat inilah yang kemudian menjadi tempat bagi masyarakat Waai bermukim hingga kini. Inilah alasan mengapa air dan Waai tidak bisa dipisahkan. Air ini lebih dulu ada dibandingkan masyarakat Waai. Air inilah yang “menghidupkan” negeri ini. (FYI, air Waiselaka ini tidak pernah kering meskipun musim kemarau besar datang melanda)

Pembagian Wilayah di Sumber Air Waiselaka

Paling Ujung, Tempat Air Minum. Jernih banget kan?

Di bagian tengah adalah tempat untuk mandi dan bermain air

Di bagian akhir ada tempat untuk mama mencuci

Secara utuh, Sumber Air Waiselaka merupakan suatu aliran sungai yang bermuara di laut. Namun dari aliran air tersebut, warga membagi sumber air ini menjadi  3 bagian yaitu sumber air untuk minum di bagian paling ujung, sumber air untuk mandi dan anak-anak bermain di bagian tengah, dan yang terakhir adalah sumber air yang digunakan untuk mencuci oleh para mama di negeri Waai.

Tidak ada batasan khusus antara sumber air minum dengan sumber air untuk mandi. Hanya perbedaan dasar sungai lah yang memisahkannya. Dasar dimana air menjadi tempat untuk minum lebih tinggi dan memiliki permukaan yang cekung, sedangkan dasar sungai untuk mandi permukaannya lebih rendah dan datar. Batas antara tempat mandi dengan tempat para mama untuk mencuci dipisahkan oleh pagar kayu berukuran kecil. Luas aliran sungai pun semakin menyempit ketika memasuki wilayah untuk mencuci.

Dari ketiganya, tempat dimana air menjadi sumber air minum memiliki warna air yang paling bersih dan paling jernih. Semakin ke hilir, air agak sedikit butek karena sudah terkena deterjen dan sabun cuci.

Wisata Morea Waai

Ini lho yang namanya Morea

Seorang Pawang sedang bersama Morea

Bersamaan dengan keluarnya air di Sumber Air Waiselaka setelah tombak dicabut, muncul pula binatang air yang bernama Morea. Kulitnya licin seperti belut namun ukuran tubuhnya jauh lebih besar. Panjangnya bisa mencapai 1,5 – 2 meter dengan berat lebih dari 10 Kg. Kulit Morea berwarna abu-abu dengan corak hitam yang bermotif seperti seragam tentara Amerika.

Selama lebih dari 300 tahun, Morea dan masyarakat Waai sudah hidup berdampingan. Warga percaya kalau Morea ini merupakan nenek moyang mereka dan pelindung bagi mereka. Bukan suatu kebetulan Morea muncul bersamaan dengan keluarnya sumber air. Itulah alasan mengapa keberadaan hewan ini begitu dijaga. Tidak ada seorang pun yang boleh mengambil hewan ini atau bahkan membunuhnya. Sangsi adat atau mistis siap berlaku bagi mereka yang melanggarnya.

Percaya atau tidak, Morea hidup di ketiga wilayah pembagian tadi. Ya, kamu tidak sedang salah membayangkan. Morea terkadang muncul ketika masyarakat Waai sedang mandi dan yang paling hebatnya adalah Morea tetap bisa tetap hidup di daerah air yang sudah bercampur dengan deterjen dan air cucian.

Tempat untuk membayar tiket, jasa pawang dan membeli telur

Morea di tempat mama mencuci

Para mama pun santai saja dan tidak terganggu saat sedang mencuci dengan keberadaan Morea yang terkadang keluar dari bebatuan yang ada di pinggir sungai. Kehidupan mereka sungguh harmonis. Melihat potret ini saya jadi berpikir, Manusia dengan Morea saja bisa hidup rukun, tapi kenapa sesama manusia justru terkadang malah berantem ya?

Hidup berdampingan dengan Morea ternyata membawa keuntungan juga dari segi pariwisata bagi masyarakat Negeri Waai. Keberadaannya mengundang banyak rasa penasaran, baik dari warga Maluku sendiri atau dari luar Maluku, untuk datang dan melihat hewan endemik Maluku ini. Rasa penasaran tersebut dilihat sebagai peluang dan kemudian dibukalah Sumber Air Waiselaka ini sebagai daerah tujuan wisata dengan menarik biaya retribusi bagi setiap orang yang ingin melihat Morea.

Untuk melihat Morea Waai, kamu harus menyiapkan kocek sebesar Rp 2000/orang untuk biaya masuknya. Sedangkan untuk turun ke Sumber Air Waiselaka dan bermain bersama Morea, kamu harus merogoh kocek tambahan sebesar Rp 50.000 untuk sang pawang dan Rp 5.000 untuk setiap telur ayam yang akan diberikan kepada Morea.

Cara Memanggil Morea

Morea yang sedang bersembunyi di celah batu

Gerombolan Morea di tempat mencuci

Meskipun saya sudah pernah berjumpa dengan Morea di Negeri Larike, namun saya tetap antusias ketika berkesempatan untuk melihat mahluk ini kembali. Saya percaya kalau akan ada pengalaman berbeda meskipun melihat mahluk yang sama, toh tempatnya juga lain.

Menang benar, tempat yang berbeda memiliki cara pemanggilan yang berbeda pula. Untuk memanggil keluar Morea di Negeri Waai dari tempat persembunyiannya di lubang-lubang yang ada di dasar dan pinggir sungai, kita perlu menggunakan telur ayam mentah. Kalau di Negeri Larike, kita harus menggunakan ikan mentah. Itulah  alasan mengapa kamu harus membeli telur ayam. Tidak hanya manusia yang butuh telur, tetapi Morea juga.

Kulit telur akan dikupas sedikit bagian atasnya lalu dicelupkan ke air. Kemudian sang pawang akan menjentikkan jarinya ke permukaan untuk memancing Morea keluar. Mendengar suara jentikan dan mencium bau amis dari telur, sudah pasti Morea akan keluar. Saat itulah para pengunjung bisa melihat Morea dan bahkan memegangnya. Untuk yang berani dan mampu, kamu bahkan bisa mengangkatnya lho, tapi tetap dengan pengawasan dari sang pawang ya.

Seorang Pawang yang merupakan keturunan asli negeri Waai sedang mencoba memberi makan Morea

Morea sedang asyik menyantap telur

Upaya mengangkat Morea yang akan berakhir sia-sia karena kulitnya sangat licin

Tidak sembarangan orang bisa memanggil Morea keluar dari sarangnya. Hanya orang pilihan dan asli keturunan Negeri Waai yang bisa memanggil hewan ini. Saya pernah mencoba menjentikkan jari saya ke permukaan beberapa kali dan kalian tahu apa yang terjadi? Hanya menimbulkan kebisingan dan Moreanya tidak keluar dong.

Berdasarkan pengalaman saya, Morea terbesar ada di sumber air minum. Ukurannya bisa sampai 2 meter dan sangat gemuk. Namun sayangnya di sana hanya terdapat ±2 Morea saja. Beranjak ke area pemandian, kamu bisa bertemu dengan ±5 morea, dengan ukuran yang lebih kecil tentunya. Paling aneh dan paling mengejutkan kalau menurut saya adalah keberadaan Morea di area tempat mencuci. Kok ya bisa morea-morea ini betah di area air cucian? Jumlah mereka di lubang-lubang sekitar tempat mencuci bisa mencapai lebih dari 6 ekor.

Untuk kalian yang mau mampir untuk melihat Morea di Negeri Waai, tempat ini buka dari pagi (sekitar 7:30 WIT) sampai dengan matahari terbenam (sekitar 18:00 WIT). Jadi atur jadwalmu dengan benar ya ketika mau berkunjung ke sini. Kamu Juga tidak perlu khawatir tidak bisa melihat Morea ini. Mereka tinggal di sumber air dan selalu lapar. Meskipun sudah banyak pengunjung sedari pagi yang memberi mereka telur, mereka tidak akan pernah kenyang. Morea akan selalu keluar saat disuguhkan telur mentah.

Cara Menuju ke Sumber Air Waiselaka

Rute menuju Sumber Air Waiselaka dari Kota Ambon

Saya kurang mengerti, apakah ada atau tidak transportasi umum yang langsung menuju Waai. Namun yang saya tahu, ada angkutan umum dari kota Ambon menuju ke Negeri Tulehu, negeri yang berbatasan langsung dengan Negeri Waai. Dari sana, kamu bisa langsung melanjutkan ke Sumber Air Waiselaka dengan menggunakan ojek.

Kalau tidak ingin repot, kamu bisa langsung menyewa mobil dan mengendarainya menuju negeri Waai. Cukup nyalakan GPS dan ketikkan “Waai” pada searchbar, maka sistem navigasi akan langsung mengarahkan kamu ke sana. Oh ya, sebagai tambahan, di Ambon sudah ada taksi dan ojek online lho. Kamu juga bosa memanfaatkan hal tersebut.

*****

Itu tadi cerita tentang asal Negeri Waai dan bagaimana Morea serta Air menjadi sumber kehidupan bagi masyarakat ini. Selain datang langsung untuk menikmati sumber air ini, beberapa pipa air juga terpasang untuk dialirkan langsung ke beberapa rumah warga yang ada di Waai dan tempat lainnya. Air ini sungguh menjadi sumber berkat & kehidupan.

Ingat, jika berkunjung ke Ambon, jangan lupa mampir ke negeri ini untuk bermain bersama Morea ya. Sempatkan juga untuk ngobrol dengan warga sekitar dan rasakan serunya mendengar cerita-cerita yang keluar dari mulut mereka

Catatan

Ada hal kecil yang perlu diperhatikan ketika bertemu dengan Morea di Negeri Waai. Hewan ini hewan yang sangat jinak, namun kalau salah dalam melakukan gerakan, bisa-bisa tangan kita diserangnya. Jangan pernah memasukkan tanganmu ke dalam air (di depan kepala Morea) dengan posisi telapak tangan yang menghadap ke atas seperti orang sedang meminta. Posisi tangan itulah yang digunakan oleh sang pawang untuk memegang telur dan memberinya mereka makan.

Bila melihat posisi tangan seperti itu, Morea menganggap sedang akan diberi makan dan secara otomatis Morea akan menghampiri tangan tersebut dan “menyambarnya”.

I love seeing new places and meeting new people. I’m sort of addicted to traveling. 
–Earin Heatherton

Comments

comments

Powered by Facebook Comments

Darius Go Reinnamah

Seorang pria yang sedang terus belajar menulis. Alasan menulisnya simple saja, karena "tertampar" oleh kalimat dari Pramoedya yang berbunyi: Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian.