• Home
  • /
  • Destinasi
  • /
  • Mengenang Masa Kecil Papa di Air Terjun Tesbatan

Mengenang Masa Kecil Papa di Air Terjun Tesbatan

Saat masih duduk di bangku SMA, aku ingat sebuah momen seru bersama papa, momen dimana kami begitu akrab dan ia semangat sekali bercerita tentang tempat tinggalnya di Desa Tesbatan, Amarasi, Nusa Tenggara Timur, tempat dimana dia menghabiskan separuh masa mudanya. Aku ingat sekali itu adalah hari sabtu, hari dimana aku libur sekolah. Papa tiba-tiba saja memanggilku untuk duduk di sebelahnya. Dengan semangat berapi-api, dia berbicara soal Air Terjun Tesbatan.

“Di desa papa yang cukup kering itu, ada sebuah air terjun yang tidak pernah kering, namanya Air Terjun Tesbatan. Di sanalah papa sering bermain bersama teman-teman”, ujarnya. “Suatu saat, kamu harus pergi ke sana dan melihat oase di Desa Tesbatan itu”.

Beberapa tahun setelah percakapan itu, saya sempat 1 kali ke NTT bersama papa, hanya saja waktu itu keperluannya untuk mengantar jenazah sepupu saya, bukan untuk berlibur. Jadi kami tidak bisa pergi bersama ke Air Terjun Tesbatan itu. Sampai papa meninggal di tahun 2014, kami tidak pernah bisa pergi bersama untuk bermain di Air Terjun itu. Setelah mengingat kembali ucapan papa, saya baru menyadari kalau kalimat yang dia ucapkan adalah “kamu harus pergi ke sana” dan bukan “kita harus pergi ke sana”.

Perjalanan Ke Desa Tesbatan

Perjalanan Kupang – Tesbatan

Libur lebaran 2018 kemarin, akhirnya saya kembali ke Kupang setelah sekian lama tidak mengunjungi kota dengan julukan Kota Kasih itu. Setibanya di Kupang, saya langsung bertolak ke Desa Tesbatan, desa dimana nenek saya tinggal. Dengan bermodalkan motor pinjaman dari salah seorang saudara, saya pergi sejauh 55 KM menuju desa itu. Perjalanan terbilang seru karena tidak ada macet sama sekali di sana dan rutenya berliku bak kehidupan percintaan anak-anak muda jaman sekarang.

Kedatanganku kali ini mengejutkan nenek yang sedang tertidur di kursi tua kesayangannya. Seolah tidak percaya, dia mengusap matanya beberapa kali untuk memastikan benar cucunya dari “Jakarta Coret” yang datang. Usai yakin, ia lalu bangun dari kursinya dan memeluk erat diriku dengan pelukan paling hangat. Aku memang sengaja untuk tidak memberi tahunya terlebih dahulu kalau aku akan kesana. Jika aku memberi kabar, pasti nenek akan heboh persiapannya. Anggapan kalau cucunya yang tinggal di ibu kota ini (padahal di Tangerang) adalah orang sukses dan perlu disambut setiap kali datang terus ada dia kepalanya. Terima kasih nek untuk doamu itu dan maaf tidak memberi tahu sebelumnya.

Persiapan membuat makan siang oleh sepupu dan tanteku

Sadar jika aku sudah melakukan perjalanan yang jauh, nenek pun langsung menawari aku untuk makan siang. Dari tempat ia berdiri, ia berjalan pelan menuju dapur di bagian belakang. Sayang sekali, makanan ternyata belum tersedia dan harus dimasak terlebih dahulu. Dengan cepat nenek menyuruh salah seorang sepupuku untuk memasak makanan. Disela-sela obrolan nenek dan sepupuku itu, aku pun teringat akan tujuan utamaku yaitu pergi ke Air Terjun Tesbatan. Sambil menunggu makanan siap untuk disajikan, alangkah baiknya aku bermain ke sana. Aku pun segera bertanya kepada nenek kemana arah menuju air terjun tersebut.

Usai mendapat arahan singkat dari nenek, aku langsung bergegas menuju Air Terjun Tesbatan. Aku meninggalkan nenek untuk sementara guna melihat seperti apa tempat bermain papa yang pernah diceritakannya sebelum ia meninggal. Aku sudah tidak sabar.

Bukan Hanya Satu, tapi 2 Kejutan.

Pemandangan pedesaan khas Amarasi berupa jalan yang besar, tanah-tanah yang dipenuhi karang, dan rumah-rumah yang tak saling berhimpitan, membuatku memacu kendaraan dengan cukup lambat. Aku ingin bisa menikmati suasana yang tak bisa kutemui ketika aku berada di Jakarta. Terlihat sebuah Masjid dan sebuah Gereja yang berdiri berhadapan menyapaku ketika aku melaluinya. Sebuah pemandangan yang menenangkan jiwa.

Setelah 10 menit berlalu, akhitnya aku bertemu dengan Tugu Desa Tesbatan. Sesuai instruksi nenek, motor kuarahkan ke kanan melewati tugu tersebut. Tugu itulah yang menjadi acuan untuk menuju Air Terjun Tesbatan.

Aku benar-benar terkejut sesudah melewati tugu tersebut. Di kiri dan kanan jalan, sawah-sawah dengan pola unik dan warnanya yang beragam menghipnotisku untuk segera menghentikan kendaraan dan berdiri sepanjang hari memandanginya. Aku tidak menyangka kalau di Kupang, di daerah yang terkenal panas dan kering, daerah dengan tanahnya yang keras, bisa hadir pemandangan sawah seperti di Pulau Jawa.

Tugu Desa Tesbatan yang menjadi acuan untuk ke Air Terjun Tesbatan

Area Sawah di Desa Tesbatan

Untung saja aku belum 100% terhipnotis oleh keindahan sawah itu. Kalau sampai 100%, mungkin aku tidak akan jadi pergi Ke Air Terjun Tesbatan. Nampaknya tembok niat yang tebal untuk mengunjungi tempat bermain papa berhasil menangkal kuasa magis dari sawah itu.

Suara motor yang sempat tidak terdengar karena tertutup oleh kekagumanku akan sawah ini berhasil menyadarkanku dari lamunan. Tidak pakai lama, aku pun berpamitan kepada sawah nan indah itu dan berjanji akan kembali untuk bermain di sini. Perjalanan dilanjutkan dengan ditemani banyak pertanyaan di kepala, yang salah satunya adalah “Kok bisa ada sawah cantik nan subur di tanah seperti ini?”

Belum sempat menemukan jawabannya, sebuah gerbang yang tak terurus dengan papan bertuliskan “Selamat Datang di Kawasan Air Terjun” segera menyingkirkan pertanyaan tersebut. Fokusku kali ini langsung beralih dan tertuju pada Air Terjun Tesbatan. Memasuki gerbang, aku pun tiba di lokasi parkir dari Air Terjun Tesbatan.

Cantik kan?

Gerbang Masuk Air Terjun Tesbatan

Seorang pemuda dengan senyum manis dan kulit kehitaman menghampiriku setelah aku selesai memarkirkan motor. Dengan lembut dia berkata, “Uang tiket masuknya kak.”

“Berapa?” Tanyaku sambil mengeluarkan dompet.

Bukannya menjawab, pria yang usianya lebih tua dariku itu justru bertanya kembali, “Wajah kakak ini tidak asing, kakak dari mana?”

“Papa saya asli Tesbatan. Kalau saya sendiri lahir dan besar di Jakarta.” Jawabku.

Seolah masih penasaran, pria itu bertanya lagi, “Siapa nama papanya?”

“Jacobus. Jacobus Go Reinnamah.” Jawabku dengan tegas dan jelas.

“Oh, itu beta pung om (Om saya). Kalau begitu, kakak sonde (tidak) usah bayar. Kakak masuk saja ikuti jalan ini, nanti kakak tiba di Air Terjun Tesbatan. Selamat bersenang-senang”

Daerah pedesaan memang terkenal akan persaudarannya yang kuat. Meskipun aku jarang sekali ke sini, namun karena mereka mengenal papa dengan baik, lantas aku diberi privilege lebih untuk bisa masuk tanpa harus membayar. Dari sebuah nama, benang silsilah dapat ditarik dan dirajut hingga membentuk sesuatu yang disebut dengan KELUARGA.

Air Kehidupan

Rute menuju Air Terjun Tesbatan

Usai menyusuri jalan tanah dengan jurang di sebelah kiri yang merupakan tempat aliran air dari Air Terjun Tesbatan selama kurang lebih 15 menit, aku pun tiba lokasi utama. Rasanya hari itu kejutan tak henti-hentinya datang. Seperti seorang anak kecil yang sangat senang karena mendapat hadiah dari saudara-saudaranya ketika berulangtahun, seperti itulah perasaan yang aku rasakan. Sesudah tadi mendapat sambutan dari sawah yang memesona, bertemu saudara yang membiarkanku masuk tanpa harus bayar, kini lukisan alam yang menawan tersaji di hadapanku.

Total Air Terjun Tersbatan ini memiliki 4 tingkatan dan di tingkatan keempat (yang paling atas), rombongan anak-anak sudah berkumpul di dalam kolam yang menjadi wadah bagi air terjun. Mereka terlihat senang bermain di kolam dengan kedalaman kurang lebih 1,5 meter itu. Air mengucur deras dan tidak ada kesedihan yang nampak dari wajah mereka.

Melihat seorang anak kecil, aku tiba-tiba teringat akan papa. Anak kecil itu naik ke salah satu batu dan dengan tiada takut, kemudian ia berlari dan melompat ke dalam kolam. Air biru yang memenuhi kolam pun berhamburan yang diiringi oleh tepuk tangan dan sorak sorai dari beberapa orang temannya yang sudah menunggu di pinggir kolam. Aku rasa seperti itulah kehidupan papa waktu muda. Berjalan jauh sekian kilometer bersama teman-teman, menyusuri hutan, menyatu dengan alam dan berakhir dengan sukacita di air terjun ini.

Air Terjun Tingkat Keempat, tempat dimana anak-anak berkumpul

Perjalanan turun ke tingkat kedua

Tak ingin mengganggu anak-anak yang asyik bermain air, aku pun turun ke air terjun di tingkatan ketiga. “Terus saja bung, turun ke bawah. Di bawah lebih bagus lagi,” sebuah suara lantang yang datangnya dari belakang mengagetkanku. Rupanya suara itu berasal dari salah satu sepupuku yang diutus nenek untuk menemaniku. Bersamanya aku turun perlahan ke tingkat yang kedua karena tingkat ketiga tidak  terlalu banyak yang bisa dilihat.

Di tingkat kedua ini, tempatnya jauh lebih tenang dan pemandangannya lebih indah. Tempat ini cocok sekali untuk berkontemplasi. Suara air yang jatuh, angin yang berhembuh, daun-daun yang bergoyang, semuanya bersatu membentuk harmoni yang menyegarkan jiwa. Melepaskan keletihan yang membelenggu dan membuka tabir-tabir kesedihan yang menyelimuti perasaan ini.

Aku sempat duduk berdiam sejenak di salah satu akar pohon yang ada di pinggir air terjun tingkat kedua. Mata kupemkan dan kubiarkan imajinasi di dalam kepalaku terbang bebas di sini. Entah bagaimana, aku tiba-tiba saja seolah bisa membayangkan papa hadir di sebelahku. Ia kemudian berjalan ke air terjun, menengok ke belakang sebentar, lalu kembali mengarah ke depan dan menghilang menembus air terjun. Bersamaan dengan itu lalu aku membuka mata dan tersenyum. Dalam hati aku berkata, “Aku sedang bermain di tempatmu kecil dulu, pa.”

Tempat yang kugunakan untuk merenung

Wujud air terjun di tingkat kedua

Dari saudaraku yang menemaniku ini aku tahu kalau ternyata air dari Air Terjun Tesbatan ini mengalir hingga ke persawahan tadi. Pantas saja sawah dan area di sekitarnya terlihat subur sekali. Ternyata air kehidupan dari tempat ini mengaliri tempat tersebut. Tidak hanya itu, rumah nenek yang cukup jauh dari air terjun ini pun kebagian air karena pemerintah sengaja memasangkan pipa-pipa besi ke rumah warga agar semua penduduk Desa Tesbatan bisa mendapatkan manfaat dari air terjun ini.

Puas merenung, memandangi keindahan air Terjun Tesbatan, dan sedikit membasahi wajah & kaki dengan aliran dari sumber mata air yang tak pernah kering ini, aku pun kembali ke parkiran. Rasa-rasanya sudah terlalu lama aku pergi dan nenek pasti sudah menanti kedatanganku.

Benar saja, usai sampai di parkiran, telepon genggamku di dalam kantong langsung berdering. Rupanya, selama berada di kawasan air terjun, signal terhalang oleh lebatnya pepohonan di sana dan baru aktif kembali sekarang. Setelah aku angkat, ternyata itu adalah sepupuku yang berkata kalau makanan sudah siap dan nenek ingin makan bersama cucunya.

Pemandangan tingkat pertama dan kedua dari Air TerjunTesbatan

Dengan melewati rute yang sama seperti berangkat tadi, aku kembali berjumpa dengan sawah yang indah tadi. Janjiku kutepati untuk kembali ke area ini. Meskipun tak lama, tapi aku bersyujur bisa mempir ke tempat yang bersejarah bagi kehidupan papa. Tidak semua orang tua bisa membagikan cerita masa kecilnya kepada anaknya dan aku beruntung karena papa mau membagikan itu dan “mewariskan” Air Terjun Tesbatan ini untuk aku. Terima kasih juga karena kau sudah hadir selama aku bermain di Air Terjun Tesbatan meskipun dalam wujud yang tidak nyata.

Setibanya di rumah nenek, ia sudah menungguku di depan rumahnya. Dengan tangan terbuka dan senyum diantara kulit-kulit wajah yang sudah mengendur, ia berkata dalam bahasa kupang yang bunyinya kurang lebih begini, “Kamu mirip sekali papamu. Mari masuk karena makanan sudah siap.”

A father is a man who expects his son to be as good a man as he meant to be.
— Frank Clark

Comments

comments

Powered by Facebook Comments

Seorang pria yang sedang terus belajar menulis. Alasan menulisnya simple saja, karena "tertampar" oleh kalimat dari Pramoedya yang berbunyi: Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian.