• Home
  • /
  • Destinasi
  • /
  • Bangsring: Bukti Nyata Sebuah Kebangkitan Tempat Wisata

Bangsring: Bukti Nyata Sebuah Kebangkitan Tempat Wisata

Jika di Banyuwangi ada sebuah mesin waktu untuk kembali ke masa lalu, sudah pasti warga Bangsring lah yang akan menggunakannya terlebih dahulu. Saya percaya mereka akan masuk ke dalam mesin itu dan berusaha untuk menebus kesalahan-kesalahan yang dilakukan jaman dahulu dengan cara menjaga laut mereka, laut yang menjadi bagian dari nyawa Bangsring. Namun sayangnya waktu itu tidak dapat diputar kembali, yang sudah berlalu biarlah berlalu dan hiduplah di masa sekarang, serta berjuanglah untuk kebaikan di masa yang akan datang.

Bangsring merupakan sebuah desa di wilayah Wongsorejo, Kabupaten Banyuwangi, Provinsi Jawa Timur. Dulu, tahun 50-60an, Bangsring merupakan sebuah daerah yang sangat kaya akan hasil lautnya. Karang-karang segar memenuhi dasar lautnya dan ikan-ikan dari berbagai jenis bermain dengan asyiknya di antara karang-karang tersebut. Namun akhir 70an, kerusakan ekosistem pesisir mulai terjadi. Masyarakat begitu terlena akan kekayaan yang diberikan Tuhan pada mereka sehingga lupa untuk menjaganya.

Atas: Desa Bangsring
Bawah: Rute dari Bandara Banyuwangi ke BUNDER

Penangkapan ikan secara sembarangan pun mulai dilakukan, seperti dengan penggunaan Potasium Sianida dan juga bom. Tak ketinggalan, pengambilan terumbu karang secara berlebihan menjadi salah satu aspek penyumbang hancurnya ekosistem laut di Bangsring. Dalam waktu sekian tahun, Laut Bangsring yang indah merona berubah menjadi laut yang merana.

Namun bukan masyarakat Bangsring namanya kalau menyerah dan hanya meratapi keadaan. Mereka mau bangkit dan berbenah diri. Pada tahun 2008, masyarakat, khususnya nelayan, yang dipelopori oleh Kelompok Nelayan Samudra Bhakti, mulai berusaha “menghidupi” kembali laut mereka. Tahun 2009, dibentuk suatu Zona Perlindungan Bersama (ZPB) atau Marine Protected Area (MPA) sebagai wujud nyata untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas sumberdaya ikan.

Lambat laun, usaha konservasi tersebut mulai membuahkan hasil dan memunculkan harapan baru. Walau masih kecil, namun karang-karang mulai tumbuh di MPA tersebut. Ikan-ikan pun seolah kembali menemukan tempat bermain mereka yang hilang. Pada tahun 2014, dibentuklah mina wisata bahari di Bangsring yang disebut sebagai BUNDER (Bangsring Underwater) guna meningkatkan perekonomian warga. Wisata ini merupakan wisata bahari berbasis edukasi dan konservasi. Jadi pengunjung yang datang untuk berwisata ke Bangsring, tidak hanya mendapatkan kesenangan dari alam, tapi juga ilmu pengetahuan untuk menjaga alam tersebut.

Bangsring Underwater & Rumah Apung

Budi daya terumbu karang

Beberapa Fish Apartements

Daya tarik utama yang kembali coba dibangkitkan adalah keindahan bawah lautnya. Lewat sebuah usaha yang gigih oleh banyak pihak, transplantasi karang dilakukan di Bangsring Underwater, letaknya tepat di bawah Rumah Apung yang lokasinya tidak jauh dari bibir Pantai Bangsring. Bermacam jenis karang diletakkan di atas dasar yang kosong. Kalau kalian bisa menyelam, pada kedalaman 10-15 meter, kalian bisa melihat ekosistem terumbu karang yang coba dihidupkan.

Beberapa fish apartment juga terlihat meramaikan area di sekitar terumbu karang. Diharapkan dengan diletakannya rumah-rumah buatan ini, ikan-ikan akan mampir, tinggal, dan bahkan bertelur di sana. Fish apartment diharapkan bisa menjadi rumah pengganti bagi para ikan. Sambil menunggu karang-karang tumbuh, tak ada salahnya kan ikan-ikan menempati “rumah semi permanen” ini.

Selain itu, di sekeliling Rumah Apung, rumah yang memang dibangun untuk para pengunjung dapat menikmati keindahan laut dari atas, diletakkan beberapa keramba untuk budi daya ikan. Bahkan, ada keramba yang berisi ikan hiu lho. Namun yang saya sayangkan adalah pengunjung diizinkan untuk turun ke dalam keramba dan bermain (bahkan memegang) bersama si Hiu.

Kiranya aturan ini bisa direvisi dan biarlah ikan-ikan itu berenang begitu saja di dalam keramba tanpa kita (manusia) terjun ke dalamnya. Ruang di keramba itu tidak besar lho, kalau ditambah manusia nyemplung ke dalamnya, rasanya ruang gerak ikan akan semakin sempit, belum lagi banyak pengunjung yang berusaha memegang si ikan hiu yang berpotensi membuat ikan itu stress dan mati.

Hiu dalam salah satu keramba

Ini lho bentuk kerambanya

Untuk kalian yang tidak bisa menyelam, kalian tidak perlu khawatir sebab di permukaan sekitar Rumah Apung pun banyak ikan-ikan yang berlalu-lalang. Cukup dengan menggunakan pelampung dan menceburkan diri, kalian bisa melihat ikan lucu nan warna-warni itu dari dekat. Namun yang perlu diperhatikan adalah arus di sekitar Rumah Apung ini cukup deras, jadi tetap berhati-hati saat bermain ya.

Satu lagi yang saya suka dari Bangsring Underwater ini adalah tidak dilupakannya budaya Banyuwangi. Di suatu titik di Bangsring Underwater, terdapat Patung Penari Gandrung. Tari Gandrung merupakan tarian asal Banyuwangi yang pementasannya diiringi oleh alunan musik Gamelan Osing. Penempatan patung ini menurut saya merupakan hal yang kecil tapi sungguh mengena. Siapapun yang meletakkan patung ini, kamu juaraaa.

Rumah Apung tempat para wisatawan menikmati kekayaan laut dari atas

Patung Penari Gandrung

Pantai Bangsring Kini

Membuat daerahnya menjadi daerah wisata bahari, tentunya Bangsring tidak boleh hanya berfokus pada lautnya saja, pada (Bangsring Underwaternya saja). Pembangunan fasilitas penunjang lainnya di Pantai Bangsring pun perlu dilakukan guna membentuk suatu ekosistem wisata yang baik. Dan sepertinya, masyarakat Bangsring sudah menyadari hal tersebut. Mereka sudah membuat suatu tempat wisata yang cukup baik dengan fasilitasnya yang terus berkembang di Pantai Bangsring.

Usai memarkirkan kendaraan di tempat parkir yang sudah disediakan, kalian akan disambut oleh sebuah gerbang masuk kawasan wisata Bangsring. Tidak jauh dari gerbang tersebut, terdapat replika fish apartment yang seolah ingin memberitahu kalau Pantai Bangsring kini sudah menjadi hunian yang nyaman bagi para ikan.

Homestay yang bisa kalian sewa

Beberapa pondok yang ada di pinggir pantai

 

Tak jauh juga dari Gerbang masuk, kini sudah dibangun beberapa penginapan (homestay) sederhana dengan harga yang cukup bersahabat. Dengan adanya penginapan ini, pengunjung yang ingin bangun dengan pemandangan laut memesona di depannya pun bukan lagi hal yang mustahil.

Bagi para pengunjung yang hanya sekedar datang untuk berkunjung dan bermain, di sekitar bibir pantai, tersusun dengan rapi deretan pondok atau bungallow yang bisa digunakan untuk bersantai dengan teman atau saudara. Untuk yang ingin bermain air, kalian tidak perlu khawatir karena di sini tersedia juga fasilitas kamar mandi umum (Shower dan toilet). Kalian bisa menggunakannya, baik untuk sekedar berganti pakaian, atau untuk mandi.

Kiri: Peraturan yang berlaku
Kanan: Replika Fish Apartment

Atas: Tempat Parkir
Bawah: Tiket Masuk

*****

Senang sekali melihat Bangsring yang sudah bangkit kembali. Bangsring yang sekarang sudah lebih dari siap untukmenyokong pariwisata di Banyuwangi dan menyambut wisatawan yang ingin datang ke daerah yang indah ini. Semoga saja keindahan alam di tempat ini dapat terus terjaga dan ikan-ikan serta terumbu karang di sana bisa tumbuh dengan baik.

Salam Lestari 🙂

Fasilitas Lain

  1. Jetski
  2. Scuba Diving
  3. Banana Boat
  4. Kano & Padle
  5. Marine Education

Biaya

  1. Parkir Mobil = Rp 5.000/kendaraan
  2. Parkir Motor = Rp 3.000/kendaraan
  3. Tiket Masuk = Rp 1.000/orang
  4. Kapal dari Pantai ke Rumpah Apung = Rp 5.000/orang
  5. Snorkeling / Freediving = Rp 15.000/orang

Itinerary dan biaya lengkap seputar perjalanan ke Banyuwangi bisa dilihat DI SINI.

When you’re underwater with goggles on, a couple of your senses are taken away, and it becomes this purely visual thing. It’s just you and yourself.
— Mark Foster

Comments

comments

Powered by Facebook Comments

Seorang pria yang sedang terus belajar menulis. Alasan menulisnya simple saja, karena "tertampar" oleh kalimat dari Pramoedya yang berbunyi: Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian.