• Home
  • /
  • Culture
  • /
  • Nelayan Rote yang Membuat Bingung Angkatan Laut Australia di Ashmore Reef

Nelayan Rote yang Membuat Bingung Angkatan Laut Australia di Ashmore Reef

Hai Voyagers, sudah pernah mendengar nama Ashmore Reef? Pasti belum. Nama tersebut memang terdengar sangat asing di telinga kita karena memang pulau ini (duh jadi ketahuan deh kalau ini nama pulau) bukan berada di Indonesia. Cukup wajar rasanya bila kalian pun belum pernah mendengar nama pulau ini.

Bentuk Ashmore Reef.
Pic via ini

Kisah Singkat

Sebagai informasi, Ashmore Reef merupakan sebuah pulau yang terletak di antara Laut Timor dan perairan utara Australia. Secara geografis, Ashmore Reef ini jauh lebih dekat jaraknya dengan Pulau Rote, NTT, ketimbang dengan Australia. Bahkan daratan terdekat di Australia sendiri, Broome, jaraknya masih sangat jauh dari Ashmore Reef (bisa 3x jarak Pulau Rote ke Ashmore Reef).

Namun percaya atau tidak, meskipun lebih dekat dengan Pulau Rote, tapi Ashmore Reef secara de facto dan de jure berada dalam wilayah kedaulatan Australia. Hal tersebut tertuang dalam MOU yang terjadi tahun 1974 dan didukung oleh UNCLOS tahun 1982 (Bisa dibaca DI SINI). Tahun 1997, terjadi penjanjian ZEE antara Indonesia dan Australia yang diwakili oleh Menlu Ali Alatas (Indonesia) dan Menlu Alexander Downer (Australia). Hal itu semakin mempertegas kalau wilayah ini memang milik Australia.

Peta wilayah Ashmore Reef. pic via ini

Buat yang belum tau dimana Ashmore Reef

Sebelum terjadinya beberapa perjanjian tadi, kepemilikan Ashmore Reef memang sempat menjadi perdebatan, khususnya bagi masyarakat Rote yang memiliki kedekatan emosional dengan Pulau Pasir ini (sebutan lain bagi Ashmore Reef). Mereka menolak kalau pulau itu diklaim milik Australia.

Konon, ada yang bilang kalau dulunya pulau ini merupakan milik Indonesia dan nenek moyang orang Rote banyak yang sudah beraktivitas di pulau ini sejak 400 tahun lalu. Beberapa dari mereka berburu, tinggal dan bahkan mati di pulau ini. Namun pada saat Inggris menjajah Indonesia, pihak Inggris memberikannya kepada Australia tanpa diketahui oleh Hindia Belanda. Polemik itu rasanya tidak perlu lagi diperdebatkan karena secara hukum wilayah ini sudah sah milik Australia.

Cerita Lucu Dari Ashmore Reef

Sejak menjadi bagian dari wilayah Australia dan dijadikan sebagai Cagar alam, Ashmore Reef dijaga ketat oleh Royal Australian Navy (angkatan laut Australia). Meskipun sudah menjadi wilayah Australia, pemerintah Australia tetap memperbolehkan masyarakat Indonesia, khususnya Orang Rote, untuk mengambil ikan di wilayah sekitar Ashmore Reef. Syaratnya mereka hanya boleh melakukannya secara tradisional yaitu dengan tanpa menggunakan kapal motor dan hanya memakai pancingan atau alat tradisional lainnya. Hal tersebut bertujuan untuk tetap menjaga ekosistem pulau ini.

Suatu ketika, Royal Australian Navy pernah menangkap seorang nelayan yang menyelundupkan orang-orang Timur Tengah dalam perahu tradisional miliknya. Ashmore Reef memang kerap dijadikan batu loncatan untuk menuju daratan Australia bagi mereka yang mencari suaka. Namun kali ini usaha yang dilakukan oleh rombongan pencari suaka itu gagal. Inilah salah satu alasan kenapa Ashmore Reef dijaga ketat.

Kira-kira seperti inilah perahu tradisional yang digunakan orang Rote. Pic via ini

Setelah tertangkap, Pihak Australia mengembalikan mereka, nelayan beserta imigran pencari suaka, ke Indonesia. Sebelum benar-benar dikembalikan, pihak Australia meminta pihak Indonesia untuk mengirimkan penerjemah karena mereka ingin menginterogasi nelayan yang membawa orang-orang Timur Tengah ini. Mereka ingin tahu bagaimana bisa perahu yang sangat tradisional ini dan tanpa navigasi bisa tiba di sini dengan selamat.

FYI, perahu tradisional yang digunakan oleh orang Rote ini dibuat dari batang pohon besar yang dilubangi dan dibentuk menjadi perahu. Bukan perahu yang berasal dari kumpulan kayu yang dipotong, dipahat dan disatukan hingga membentuk sebuah perahu kayu yang biasa kalian lihat.

Beberapa saat kemudian, penerjemah pun datang dan terjadilah percakapan antara pihak Australia dan sang nelayan yang dibantu oleh penerjemah. Dalam Bahasa Indonesia, kira-kira beginilah percakapan mereka:

Bagaimana bisa kamu tiba di sini dengan menggunakan perahu kayu yang sangat tradisional ini?” Tanya pihak Australia.

Tentu saja bisa. Nenek moyang kami adalah pelaut dan laut sudah menjadi teman kami sedari kami masih dalam kandungan.” Jawab Nelayan Rote dengan santai.

Tapi kamu kan berangkat malam hari, bagaimana bisa kamu tidak tersasar sedangkan kamu tidak menggunakan alat navigasi apapun (seperti GPS)?”

Kalau malam hari, kami punya bulan yang menerangi kami sekaligus menjadi penunjuk arah buat kami. Jika siang, sang matahari-lah yang akan menjadi penunjuk jalan buat kami.”

Mendengar jawaban yang diterjemahkan oleh si penerjemah, pihak Australia kembali bertanya, “Itu kalau ada bintang. Bagaimana jika mendung dan langit tertutup awan? Apa yang menjadi alat penunjuk arah buat kamu? Lalu bagaimana jika ombak besar datang dan menyerang perahumu ini?”

Jika tidak ada bulan atau matahari, kami menggunakan intuisi dan kata hati kami untuk menuju ke pulau ini. Untuk persoalan ombak, kami tidak pernah takut sebab kami mampu menentramkan ombak.”

Mendengar jawaban itu, pihak Australia nampak semakin kebingungan. Buat mereka jawaban tersebut tidak masuk akal. Tak lama setelah itu, salah seorang dari pihak Australia itu berteriak, “Omong kosong. Sangat tidak mungkin hal itu bisa terjadi.”

Mau disangkal seperti apapun nyatanya mereka, nelayan dan imigran pencari suaka, sudah sampai di Ashmore Reef. Usai berkata seperti itu, pihak Australia membebaskan mereka dengan syarat mereka tidak boleh lagi melakukan aktivitas ilegal seperti ini. Jika hal tersebut kembali dilakukan, maka mereka akan ditangkap dan perahu yang mereka gunakan akan langsung dihancurkan di Ashmore Reef.

*****

Kira-kira seperti itulah sedikit cerita tentang Ashmore Reef yang disampaikan oleh paman saya ketika saya berkunjung ke NTT. Mendengar cerita itu keluar dari mulut orang NTT langsung, membuat saya yakin kalau memang pulau ini dulunya merupakan punya Indonesia dan begitu dekat dengan masyarakat Rote. Kehilangan pulau kecil bukanlah menjadi soal buat elite politik jaman dulu. Sipadan dan Ligitan pun lepas begitu saja, apalagi hanya Pulau Pasir tak berpenghuni macam Ashmore Reef.

Sebagai penutup, saya sedikit tergelitik dengan kebingungan yang dirasakan oleh pihak Australia mengenai cara orang Rote bisa tiba di Ashmore Reef dengan perahu yang sangat sederhana. Mohon maaf, Ibu Sud tidak sembarang dalam membuat lirik lagu. Nenek moyang kami memang seorang penjelajah laut yang ulung. Menerjang ombak mereka tiada takut dan menempuh badai sudah biasa.

Catatan

  • Jarak dari Rote menuju Ashmore Reef kira-kira 4-6 jam dengan menggunakan perahu tradisional.
  • Nama Ashmore diambil dari nama Kapten Samuel Ashmore asal Inggris yang (katanya) menyerahkan pulau ini kepada Australia secara sepihak.

It is not the ship so much as the skillful sailing that assures the prosperous voyage.
— George William Curtis

Comments

comments

Powered by Facebook Comments

Seorang pria yang sedang terus belajar menulis. Alasan menulisnya simple saja, karena "tertampar" oleh kalimat dari Pramoedya yang berbunyi: Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian.