• Home
  • /
  • Destinasi
  • /
  • Perjalanan Mendebarkan Menuju Air Terjun Oeklofo

Perjalanan Mendebarkan Menuju Air Terjun Oeklofo

Pagi itu, di hari terakhir sebelum keesokan harinya saya meninggalkan kota So’e, saya dan teman perjalanan saya, Diana, memutuskan untuk pergi ke Air Terjun Oeklofo yang berada di Oinlasi, Mollo Selatan, Kabupaten TTS (Timor Tengah Selatan), NTT. Jaraknya kalau menurut Google Maps kurang lebih hanya 3,9 KM atau 13 menit dari tempat saya menginap di pusat kota Soe. Karena kelihatannya cukup dekat, kami jadikanlah objek wisata tersebut sebagai tujuan pertama kami hari itu.

Setelah selesai mandi dan menghabiskan jatah sarapan yang disediakan pihak hotel, saya pun berjalan keluar dari ruang makan menuju tempat dimana motor saya diparkirkan. Motor saya panaskan dan 10 menit kemudian Diana keluar sambil membawa 2 helm untuk perjalanan kami. Secara lahir batin kami sudah siap untuk melakukan perjalanan menuju Air Terjun Oeklofo.

Dengan kecepatan cukup santai, si kuda besi saya ajak membelah kota Soe yang sudah mulai terlihat aktivitasnya pagi itu. Saya pun berpapasan dengan rombongan mama yang terlihat sedang berjalan ke arah Pasar Inpres Soe sambil menenteng keranjang. Beberapa dari mereka melemparkan senyuman saat saya mengarahkan pandangan ke arah mereka. Secara otomatis, saya pun memberikan senyuman terbaik saya untuk membalas senyuman mereka. Sayangnya, senyuman saya tak bisa mereka lihat akibat wajah saya yang tertutup helm full face yang saya gunakan. Tapi gak apa-apa, yang penting saya sudah membalas suatu kebaikan dengan kebaikan tanpa perlu dilihat oleh orang lain.

Rute tempat saya menginap menuju Air Terjun Oeklofo

Pasar Inpres Soe

Suhu di Soe ini berbeda sekali dengan Kupang. Kalau di Kupang panasnya begitu menyengat, di Soe ini justru kebalikannya. Dinginnya masuk menembus kulit hingga menyentuh tulang. Makanya, untuk kalian yang ingin ke Soe, bawalah celana panjang dan jaket tebal. Jangan seperti saya yang mengabaikan pesan tersebut sebelum saya berangkat ke Soe. Alhasil selama berkendara, saya berusaha menahan dingin karena hanya menggunakan jaket tipis dan celana pendek di suhu pagi yang kira-kira 18ºC. Itulah alasan mengapa saya memacu motor saya dengan santai.

Tak beberapa lama setelah mengikuti seluruh arahan dari Google Maps, aplikasi ini pun mengeluarkan suara you have arrived. Your destination is on the right. Apakah setelah kalimat tersebut keluar lantas kami tiba di tujuan? Oh, tentu… tidak. Kalian yang sering menggunakan aplikasi penunjuk arah yang satu ini pasti sering juga mengalami hal yang seperti ini. Dibohongin dan itu sakit.

Ketika menengok ke sebelah kanan, yang saya lihat hanyalah sawah nan luas dengan beberapa petani yang sedang mengurusi padinya. Tidak ingin berspekulasi, Diana pun turun dan menghampiri salah seorang petani untuk menanyakan lokasi dari Air Terjun Oeklofo. Dari petani itulah kami dapatkan informasi kalau kami harus berjalan 200 meter lagi dan memarikirkan kendaraan di satu-satunya rumah yang ada di sana. Nah, di sanalah…. kami harus kembali bertanya.

Sesuai dengan arahan, kami tiba di rumah yang dimaksud dan memarkirkan kendaraan di sana. Apesnya, rumah tersebut tertutup rapat dan tidak ada orang. Kami pun tidak tahu harus bertanya pada siapa. Dari kejauhan, kami melihat seorang bapak tua yang terlihat sedang menjaga tambak. Ya, tepat di depan rumah tersebut ada puluhan tambak ikan. Dengan penuh kehati-hatian kami berjalan pada jalur yang sudah disediakan dan membelah tambak tersebut menuju lokasi bapak tua itu berdiri.

“Selamat siang, Pak. Kalau mau ke Air Terjun Oeklofo ke arah mana ya?” Itulah pertanyaan yang langsung saya tanyakan ketika tiba di depan bapak tua.

“Selamat siang. Oh, lewati saja sawa ini. Lalu nanti kamu akan bertemu dengan pohon kemiri besar dan ikuti saja jalan itu.” Jawab si bapak dengan cepat dan yakin.

Berbekal info dari sang bapak, saya dan Diana pun berjalan menuju Air Terjun Oeklofo.

Perjalanan untuk Kembali

Benar apa yang dibilang si Bapak Tua. Setelah melewati tambak ikan, kami berjumpa dengan sawah yang berlumpur. Tidak seperti tambak yang disediakan jalur untuk berjalan, di sawah ini kami harus membuat jalur sendiri untuk menyeberanginya. Sebagai anak kota yang main ke sawah dan tidak tahu cara membuka jalur, saya rasa kalian tahu apa yang terjadi selanjutnya. Ya, kami penuh lumpur dan kami kotor.

Tambak Ikan yang ada di depan rumah tempat saya memarkirkan kendaraan

Pemandangan sungai dari atas (tempat phon kemiri berada)

Rintangan selanjutnya usai melewati sawah adalah padang ilalang yang tinggi. Hal ini tidak terlalu sulit, hanya saja kami harus berhati-hati kalau tidak ingin menginjak tai sapi. Tempat dimana ilalang-ilalang ini tumbuh memang arena bermain bagi sapi milik warga. Usai mencapai phon kemiri yang dimaksud Sang Bapak, saya tidak melihat adanya jalur. Yang saya lihat adalah jalan menurun yang cukup curam yang berujung pada aliran sungai.

Karena ragu apakah memang itu jalannya, saya dan Diana pun memutuskan untuk kembali kepada sang Bapak Tua. Kami lewati lagi sawah itu, sawah yang membuat kami menjadi kotor dan kini membuat kami menjadi manusia lumpur. Kepada sang bapak tua kami bertanya apa memang rutenya menurun curam seperti itu. Sambil merokok, Bapak Tua itu menganggukkan kepala yang menjadi tanda kalau itu memang jalannya.

Beberapa saat kemudian, setelah rokok itu dia hisap dan asapnya dikeluarkan, si bapak berkata, “Iya, nanti kamu turuni jalan itu dan sesampainya di sungai, nanti kamu naik ke atas. Ikuti saja jalan dan nanti kamu akan tiba di Air Terjun Oeklofo.”

Mendengar jawaban itu saya pun menjadi semakin yakin dan semangat untuk melanjutkan perjalanan. Kali ini tidak pakai balik lagi ke si bapak, karena selain menyita waktu, hal tersebut juga menyita tenaga.

Perjalanan Menuju Ketersesatan

Anak Kota main ke desa dan jalan-jalan ke Air Terjun Oeklofo pakai Sneakers.
Foto diambil sebelum sepatu ditutupi lumpur

Saat sudah siap untuk kembali menemukan jalan meuju Air Terjun Oeklofo, Diana justru tidak mau ikut. Ia sudah terlanjur kesal karena sneakers yang dipakainya penuh lumpur. Dia memutusukan untuk membersihkan sepatunya dan menunggu bersama si Bapak Tua yang kami pun belum tahu siapa namanya.

Bermodalkan keyakinan yang kuat dan dry bag yang berisi drone + air minum ukuran 1,5 L, saya pun melanjutkan perjalanan seorang diri. Setelah melewati pohon kemiri yang tadi dan menuruni jalur yang cukup terjal, tibalah saya di sebuah aliran sungai. Saat melihat ke depan, terdapat sebuah jalur yang cukup menanjak dengan tangga kayu yang sudah tersedia. “Pasti ini jalan naik yang dimaksud si Bapak Tua,” gumam saya dalam hati.

Meskipun sudah yakin kalau harus menaiki jalur yang menanjak itu, entah kenapa kemudian perasaan ini meragu setelah beberapa langkah naik. “Aliran sungai ini pasti berasal dari Air Terjun Oeklofo, lalu kenapa saya harus naik ke sini ya?” Tanya saya. Namun saya berusaha lebih meyakinkan diri saya kalau jalan yang sedang saya lalui inilah yang benar dan menyingkirkan pikiran tentang aliran sungai itu.

Penampakan sungai ketika saya berhasil mencapainya setelah menuruni jalur curam

Setelah berjalan naik, saya bertemu tangga ini. Tangga inilah yang membuat saya yakin kalau jalan saya benar

20 menit berjalan, belum juga terdengar ada suara deburan-deburan air. Justru pepohonan makin lebat dan saya sudah memasuki wilayah perkebunan warga. Di tengah kelelahan yang mendera, saya masih terus berusaha untuk berpikir positif. “Mungkin sedikit lagi di depan,” ucap saya dalam hati. Saya pun mulai mengubah jalur sembari memberi tanda pada jalur yang saya lewati agar nanti bisa kembali sekiranya saya tersesat.

10 menit kemudian yang terjadi adalah saya berada di puncak bukit. Tempat dimana saya bertemu dengan Bapak Tua terlihat jelas dari tempat ini meskipun jauh. “Wah, fix salah jalan ini,” kata saya kepada diri saya sendiri. Beginilah susahnya jalan sendirian, tidak ada teman yang bisa diajak bicara dan bertukar ide. Karena masih penasaran, bukannya kembali, saya justru jalan terus untuk mencari lokasi dari Air Terjun Oeklofo dan bukannya berjalan pulang.

Di saat-saat ingin menyerah, saya justru bertemu dengan satu keluarga yang tidak jauh lokasinya dari puncak bukit. Mereka terlihat sedang  berbagi tugas antara menanam, memasak dan juga menyiapkan pagar untuk batas lahan. Kepada merekalah saya bertanya, “Selamat siang, mau tanya, Apakah ini jalur menuju Air Terjun Oeklofo?”

Tidak satu pun dari mereka menjawab dan justru malah terlihat bingung. Setelah saling tatap, akhirnya mereka menggeleng sebagai jawaban kalau mereka tidak tahu. Tidak menyerah, saya pun menunjukkan gambar Air Terjun Oeklofo yang ada di telepon genggam saya pada mereka. Seketika salah satu dari mereka tersenyum dan berkata, “Oh itu ada di bawah sana. Kaka sudah lewat jauh. Bisa sih lewat sini hanya saja jalurnya curam. Kakak harus menuruni tebing.”

Ternyata, untuk warga lokal, air terjun itu memiliki nama tersendiri yang saya lupa dengan nama apa mereka menyebutnya. Tak ingin jatuh dari pinggir tebing dan masuk halaman depan dari Timor Express, saya pun memutuskan untuk kembali dan mengurungkan niat untuk pergi ke Air . Celakanya, Saya lupa jalur pulangnya. Sendiri, tak tahu jalan pulang, tidak ada makanan, lengkap sudah penderitaan ini.

Saya memutuskan untuk kembali ke puncak bukit dan dari atas sanalah saya akan coba memetakan kira-kira jalur mana yang akan saya lewati untuk bisa pulang. Objektifnya sebenarnya mudah, hanya perlu sampai di aliran sungai saja. Namun bukit itu memiliki sisi-sisi yang curam. Salah jalan, bisa tergelincir dan jatuh tanpa ada yang tahu dan bisa menolong.

Tempat saya tersesat

Air terjun yang terlihat dari pinggir tebing. Tapi gimana turunnya?

Setelah selesai memetakan, dengan Pohon Kemiri besar sebagai patokannya, saya pun perlahan-lahan mulai menuruni bukit itu. Awalnya perjalanan cukup baik, tapi lama kelamaan saya justru menjauhi Pohon Kemiri itu. Saya lantas kembali lagi ke puncak bukit untuk sekali lagi membidik jalur yang tepat. Setelah yakin seyakin-yakinnya, saya kembali turun, tapi kejadian yang sama tetap terjadi, saya kembali menjauhi titik dimana saya tuju. Kejadian seperti ini berlangsung kurang lebih 4x sampai saya ingin menyerah.

Saat terdesak itulah saya tiba-tiba teringat akan telepon genggam saya. Ketika saya melihat layar telepon, Diana ternyata sudah 3x menghubungi saya. Mungkin karena terlalu fokus mencari jalan, saya pun tidak merasakan getaran dari telepon genggam saya. Signal memang kencang di atas bukit ini, bahkan internet pun ada. Waktu saya mencoba menelponnya kembali, saya pun bingung mendeskripsikan dimana saya berada. Sekeliling saya semuanya sama, pohon dan bebatuan.

Kira-kira beginilah kondisi di atas bukit. Cuma pohon dan batu

Bersama dengan Bapak Tua, Diana sudah berusaha mencari saya namun hasilnya tidak ketemu. Pak Tua sudah memiliki firasat kalau saya ini tersasar, maka sebelum Diana menelpon saya, mereka berdua sudah terlebih dahulu berusaha mencari saya. Telepon tersebut sebenarnya hanya ingin memberitahukan kalau mereka berdua sudah berusaha mencari saya namun hasilnya nihil.

Lalu apakah saya bisa kembali ke rumah dimana saya memarkirkan kendaraan? (Pasti  bisa dong ya, buktinya bisa nulis tulisan ini). Bagaimanakah kira-kira cerita saya bisa kembali ke lokasi tambak ikan dan bertemu dengan Diana & Bapak Tua? Baca lanjutan ceritanya di postingan berikut ini ya. Terlalu panjang kalau di post dalam 1 postingan 🙂

*Mohon maaf karena dokumentasi tidak terlalu banyak. Fokusnya menyelamatkan diri jadinya tidak sempat banyak berfoto

Not until we are lost do we begin to understand ourselves
–Henry Thoreau

Comments

comments

Powered by Facebook Comments

Seorang pria yang sedang terus belajar menulis. Alasan menulisnya simple saja, karena "tertampar" oleh kalimat dari Pramoedya yang berbunyi: Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian.