Moko: Belis untuk Menikahi Wanita Alor

Kumpulan Moko. Pic via INI

Adakah pembaca dailyvoyagers di sini yang pernah jatuh cinta dengan wanita Alor? Jangan-jangan ada juga yang sedang mengincar atau bahkan sedang menjalin hubungan dengan wanita Alor? Wah, selamat ya buat yang sedang menjalin hubungan dengan wanita Alor dan selamat berjuang untuk kalian yang sedang berusaha untuk merebut hati wanita Alor.

Wanita NTT, secara khusus Alor, memang memiliki paras yang cantik. Senyumnya mampu melelehkan hati yang sekeras batu dan tatapan matanya mampu menentramkan hati yang gelisah. Namun menikahi wanita Alor bukanlah perkara yang mudah. Ada Belis yang terlebih dahulu harus dipersiapkan.

Apa sih Belis itu? Belis merupakan mas kawin yang harus diberikan oleh seorang laki-laki kepada keluarga perempuan yang ingin dinikahinya. Seperti pernikahan pada umumnya, untuk menikahi wanita Alor diperlukan juga mas kawin. Namun yang membedakan, mas kawin tersebut bukanlah dalam bentuk uang, bukan pula dalam bentuk emas, melainkan dalam bentuk Moko. (Adapun persembahan lainnya selain Moko yaitu kain adat)

Dibawa di atas kepala oleh mempelai perempuan dalam tradisi pernikahan masyarakat alor. Pic via INI

Nah lho, apalagi itu? Moko merupakan benda dari zaman pra-sejarah yang terbuat dari bahan perunggu. Fungsi awalnya sebagai alat untuk bunyi-bunyian seperti gendang. Selain dipakai sebagai mas kawin oleh masyarakat Alor, benda ini juga biasa digunakan sebagai alat untuk bayar denda, alat tukar, juga simbol dari status sosial.

Bentuknya ya seperti gendang pada umumnya, hanya saja terlihat lebih kokoh dan lebih berat karena bahannya terbuat dari perunggu. Kalau bisa digambarkan bentuknya ada yang seperti barbel yang didirikan, dimana kedua sisinya, atas dan bawah, memiliki bentuk sama lalu menyempit dibagian tengahnya. Juga Moko ini lebih artistik dari gendang biasa karena terdapat berbagai ornamen atau ukiran pada tubuhnya. Ukuran diameter tabuhannya pun bervariasi, mulai dari 30 cm hingga 70 cm dan tingginya bisa mencapai 100 cm.

Sebelum lanjut pada bagian Moko sebagai Belis dan biar tidak penasaran juga, saya akan coba jelaskan sedikit mengenai sejarahnya ya.

Sedikit Tentang Sejarah Moko

Lucunya, meskipun berada di Alor, Moko ini bukanlah berasal dari Alor. Masyarakat Alor pun tidak pernah memproduksinya karena masyarakat Alor tidak mengetahui tekniknya dan tidak punya bahan bakunya. Menurut beberapa ilmuan, benda unik ini berasal dari Vietnam yang masuk ke Indonesia, secara khusus Alor, melalui jalur perdagangan.

Namun bagi beberapa masyarakat Alor percaya kalau Moko turun begitu saja. Benda ini punya nilai spiritual sehingga bisa didapatkan dari dalam tanah, goa dan beberapa tempat yang tak terbayangkan sebelumnya. Sebagai contoh, ada sebuah Nekara (sebutan lainnya) di Museum 1000 Moko yang didapatkan dari mimpi.

Jadi ada seorang (saya lupa namanya) yang diberi petunjuk lewat mimpi oleh suatu sosok (entah siapa) untuk pergi ke suatu daerah. Awalnya orang tersebut tidak menghiraukan mimpi tersebut. Namun setiap malam sosok tersebut terus datang ke dalam mimpinya dan akhirnya orang itu menuruti apa yang dikatakan sosok tersebut melalui mimpinya. Ketika tiba di daerah yang dimaksud, si penerima mimpi itu langsung menggali tanah dan didapatkanlah Moko sesuai apa yang disampaikan di dalam mimpinya. Pergilah ke museum satu-satunya di Alor apabila kalian ingin melihatnya.

Koleksi dari Museum

Di bagian belakang yang saya bilang bentuknya seperti barbel yang didirikan, bagian atas dan bawahnya sama.
Sedangkan yang di depan, yang besar ini, adalah bentuk lainnya.

Nekara yang ditemukan lewat petunjuk dalam mimpi. Ada beberapa bagian yang rusak pada saat penggalian.

Moko yang didapatkan di dalam tanah itu namanya Malei tana. Dan memang jenis itu bukan digunakan sebagai mas kawin, tetapi seperti alat tukar untuk bahan pokok, menunjukkan status sosial atau untuk bayar denda. Denda seperti apa contohnya? Misalkan terjadi perang antar suku dan ada korban meninggal dari salah satu suku, maka untuk menghentikan pertikaian dan tidak ada lagi hutang darah, digunakanlah Moko Malaitanah ini sebagai alat untuk membayar denda adat tersebut.

Moko setiap daerah, bahkan setiap suku, memiliki motif yang berbeda-beda pada tubuhnya. Seperti dari Pantar contohnya, motif Moko di sana umumnya hanya garis-garis horizontal atau vertikal. Sedangkan yang berasal dari suku Abui atau Kabola yang mendiami Pulau Alor, lebih banyak ukiran bergambar tumbuhan atau hewan seperti bunga atau cicak.

Moko Sebagai Belis

Sejak kapan Moko digunakan sebagai Belis? Sejak jaman dahulu. Kalau yang saya tahu, bahkan sejak jaman Portugis datang ke Indonesia untuk menjajah (tahun 1500an), Moko sudah dipakai sebagai Belis. Namun bisa saja lebih lama dari itu.

Sulit sekali untuk melepaskan adat yang satu ini dari masyarakat Alor karena memang sudah mendarah daging. Kalau ingin menikahi wanita Alor, instrumen Moko ini harus selalu ada. Lalu pertanyaan selanjutnya adalah bagaimana cara mendapatkannya yang tidak ada di luar Alor ini? Salah satunya adalah dengan membeli dari mereka yang memilikinya. Sebagai catatan, Moko bisa diperjualbelikan namun tidak bisa dibawa keluar Alor. Belis ini hanya boleh berada di wilayah Alor.

Coba perhatikan detil tubuhnya. Ada ukiran hewan di bagian bawah dan ada kodok di bagian tabuhannya

Motif manusia yang sedang bermain musik

Ada yang tahu ini gambar apa?

Kesulitan dari membeli Moko ini adalah tidak ada patokan harga yang pasti, tidak ada standar harganya. Karena tidak ada harga yang pasti itulah maka si pemiliknya bisa dengan sesuka hatinya menetapkan harga.  Harganya bervariasi, ada yang berharga 3 jutaan, tapi ada juga yang bisa berharga sekitar puluhan sampai ratusan juta. Seperti di Pantar contohnya, ada yang namanya Moko 7 Anak Panah. Itulah Moko dengan nilai tertinggi di sana yang harga minimalnya adalah Rp 15.000.000

Dan sulitnya lagi, Moko di satu daerah bisa bernilai berbeda nilainya dengan di daerah lain. Sebagai contoh, Moko dari Pantar yang harganya puluhan juta, bisa saja hanya berharga seperti 2 buah pinang di Pulau Alor. Ketiadaan standar harga dan perbedaan nilai inilah yang membuat beberapa orang di Alor harus hidup dengan status tanpa pernikahan alias hidup bersama. Banyak yang memiliki anak namun tidak bisa memiliki akte sebab untuk melakukan pernikahan secara pemerintah, diperlukan pernikahan secara agama dan pernikahan secara agama tidak bisa dilakukan apabila belum ada pernikahan secara adat. Pusing, bukan?

Beruntunglah lelaki yang diwariskan oleh orang tuanya atau mempunyai saudari yang sudah memiliki Moko, sebab ia bisa meminjamnya untuk digunakan sebagai belis yang nantinya bisa dikembalikan kemudian, mungkin ketika anak laki-laki dari saudarinya tersebut ingin menikah. Peminjaman itu bisa terjadi kalau memang Moko yang diminta cocok, kalau berbeda karena daerahnya yang tidak sama ya wasalam.

Milik suku Abui di Desa Takpala. Kalau kalian lihat, terdapat 4 kuping di bagian atas yang berfungsi sebagai pegangan atau tempat untuk memegangnya

Ada yang tahu ini apa? katanya sih ini hewan

Lalu apakah harus ada Moko untuk terjadinya pernikahan? Kalau dulu ya, banyak orang yang harus gagal menikah karena harganya yang terlampau mahal. Rasa “dendam” dari si orang tua yang sudah “membeli” si wanita dengan harga mahal, membuatnya menetapkan harga tinggi apabila ada yang ingin menikahi putrinya.

Mungkin kalau diibaratkan dengan mereka yang berasal dari Batak Toba, dua hati yang saling mencinta harus kandas karena Sinamot. Tapi sekarang tidak lagi, tergantung dari kesepakatan kedua belah keluarga. Bisa saja Moko dibayar di akhir alias hutang. Jadi restu datang dan pernikahan terjadi dulu, namun setelah menikah si lelaki tetap harus mencari Moko yang diminta. Saya rasa ini win win solution.

Tidak peduli kalian lelaki dari Alor atau luar Alor, Moko merupakan hal yang wajib untuk menikahi wanita Alor. Sebanyak apapun uang yang kalian miliki, itu tidak ada harganya apabila kalian para lelaki tidak bisa membawa Moko sesuai yang diminta untuk menikahi gadis Alor pujaan hati kalian.

Penutup

Terlepas dari harga Moko yang “dipermainkan” dan mengalami pergeseran makna, anggaplah kehadirannya sebagai Belis adalah tanda keseriusan cinta, bukti sayang dan simbol penghormatan seorang lelaki kepada wanitanya. Kalau sudah cinta, apapun belisnya saya rasa tidak menjadi soal, ke ujung Alor pun pasti akan dicari.

Saya sendiri menilai Belis adalah bukti cinta yang kelihatan. Maksudnya bagaimana? Sebagai lelaki, pasti kalian sudah melakukan banyak pengorbanan dalam hubungan, namun sebagai orang tua yang anak perempuannya ingin “diambil”, mereka ingin sebuah pengorbanan yang mampu mereka lihat, dan Moko inilah bentuknya.

Lalu perlu diingat, apabila kalian para laki-laki sudah berhasil “membeli” wanitamu, perlakukanlah mereka dengan baik. Muliakanlah mereka. Tetaplah rayu dan puji mereka seperti saat kalian masih berpacaran dulu. Sentuhlah mereka dengan kelemahlembutan. Jangan karena kalian udah memberikan mas kawin dengan harga yang mahal, lalu kalian bebas memperlakukan istrimu dengan semena-mena (seperti pukul atau tampar). Ingat, wanita itu dibesarkan dengan tetes keringat dan air mata oleh orang tuanya. Bagaimana jika anak atau adik perempuan kalian diperlakukan semena-mena, kalian pasti marah kan?

Jadi, masih tertarik dengan wanita Alor? Kalau ya, persiapkan dirimu untuk mendapatkan Belisnya, ya 🙂

Catatan

  • Benda ini sudah tidak dibuat lagi. Seandainya ada Moko yang diproduksi di beberapa daerah lain, seperti jawa atau Bali, maka barang itu tidak bisa dijadikan Belis. Yang bisa dijadikan Belis hanyalah yang berasal dari Alor. Jangan coba-coba memalsukannya sebab para orang tua dulu dan tetua adat mampu membedakan mana yang asli dan yang palsu dari bunyinya, mana yang berasal dari Alor dan mana yang dari luar Alor.
  • Senang sekali membaca berita DI SINI. WVI (Wahana Visi Indonesia) dan beberapa pihak terkait sedang membicarakan mengenai revitalisasi budaya belis ini. Persamaan harga Moko sedang dijajaki agar tidak ada lagi dua sejoli yang tidak bisa menikah hanya karena harga yang terlampau tinggi.
  • FYI, banyak Warga Alor yang mengesampingkan biaya pendidikan demi “menabung” untuk sebuah Moko.

It takes an endless amount of history to make even a little tradition. 
–Henry James

Comments

comments

Powered by Facebook Comments

Darius Go Reinnamah

Seorang pria yang sedang terus belajar menulis. Alasan menulisnya simple saja, karena "tertampar" oleh kalimat dari Pramoedya yang berbunyi: Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian.