Hanya Punya 1 Hari di Jogja, Ini Daftar Candi yang Bisa Kalian Kunjungi

Wisata Candi – Mendapat libur 1 hari sebelum pulang kembali ke Jakarta pasca outing kantor di Jogja, saya pun tidak ingin melewatkannya dengan hanya menikmati gudeg, lotek atau bakpia-nya saja. Saya ingin melakukan sebuah perjalanan yang bisa memperkaya ilmu pengetahuan saya akan nilai-nilai sejarah. Maklum saja, Jogja itu daerah yang penuh dengan nilai historis. Banyak kejadian-kejadian luar biasa yang terjadi di tempat ini pada masa lalu. Kejadian-kejadian itulah yang turut memberikan andil dalam pemberian gelar “Daerah Istimewa” di depan nama Yogyakarta.

Satu malam sebelum melakukan penjelajahan di hari H, saya akhirnya memutuskan untuk melakukan wisata candi. Ya, saya ingin main ke candi-candi yang ada di wilayah Jogja dan sekitarnya. Bukan hanya sekedar untuk selfie atau mengambil gambar dari bangunan bersejarah itu, tapi juga ingin mendengar kisah-kisah menarik dibalik pembuatannya dan juga relief-relief yang ada di sana.

Candi apa saja yang saya kunjungi dalam 1 hari sisa libur saya di Jogja? Berikut daftarnya:

*Candi yang berwarna hitam adalah candi yang belum saya kunjungi

**Candi yang berwarna-warni adalah candi yang berhasil saya kunjungi

Candi Prambanan

Candi Prambanan
Brahma, Siwa, Wisnu

Pasti sudah banyak yang tahu mengenai Candi yang satu ini. Candi ini kerap dipakai untuk beberapa acara, seperti Prambanan Jazz Festival contohnya. Mungkin kalau kalian datang hanya untuk foto-foto atau selfie, waktu 1 jam merupakan waktu yang lebih dari cukup. Tapi cobalah gunakan guide untuk menceritakan candi Hindu terbesar di Indonesia ini, yang usianya sudah 1200 tahun atau hanya terpaut 30 tahun lebih muda dari Candi Buddha terbesar di Indonesia, Candi Borobudur, pasti waktu 7 hari pun tidak akan habis untuk melahap cerita dari bangunan ini.

Candi Roro Jonggrang, nama lain dari Candi Prambanan yang diberikan oleh warga sekitar, ternyata 5 meter sedikit lebih tinggi dari candi Borobudur. Bangunan utama sekaligus yang tertinggi dari Candi Prambanan adalah yang berada di tengah, yaitu Candi Siwa. Di sebelah kirinya ada Candi Brahma dan di sebelah kanannya merupakan Candi Wisnu. Ketiga Dewa dalam agama Hindu itu kita kenal dengan nama Trimurti.

Di belakang Candi Prambanan ini ada Ramayana Theatre, 1 panggung terbuka dan 1 panggung tertutup yang biasa menampilkan cerita pewayangan dan budaya Jawa. Dan untuk informasi tambahan, sampai saat ini candi yang bisa di renovasi di Prambanan baru sekitar 20 candi dari total 240 candi. Banyak kan?

Candi Lumbung

Candi Lumbung dimana candi utamanya dalam keadaan cukup rusak. Pic via INI

1 km di sebelah utara, terdapat candi berikutnya yaitu Candi Lumbung. Kalau tadi Prambanan merupakan candi yang bercorak Hindu, Candi Lumbung ini bercorak Buddha. Yang saya bicarakan ini Candi Lumbung yang di Prambanan lho ya, yang berada di Klaten, bukan Candi Lumbung yang ada di Magelang. Lucunya, meskipun berada di dalam satu kawasan dengan Candi Prambanan, Candi Lumbung ini “punya” Jawa Tengah, sedangkan Prambanan yang juga masuk di wilayah Jawa Tengah ternyata milik “Jogjakarta”.

Candi Lumbung memiliki 1 candi utama dengan 16 Candi Perwara atau pelengkap. Ke 16 candi Perwara itu menghadap ke candi utama. Sayangnya, candi Utama dari Candi Lumbung ini sudah rusak parah. Bagian atapnya sudah rusak namun relief-relief pada tubuh cand utama masih tetap ada dan bisa dilihat.

Candi Bubrah

Candi bubrah dari kejauhan

Penampakan Candi Bubrah dari dekat

Beranjak sedikit ke sebelah Candi Lumbung ada Candi Bubrah. Mendengar kata Bubrah, saya langsung teringat salah satu spot untuk mendirikan tenda di Gunung Merapi yang bernama Pasar Bubrah. Dalam bahasa Jawa, Bubrah artinya rusak atau kacau. Ya, nama candi ini memang pemberian dari warga karena pertama kali ditemukan candi ini kondisinya rusak parah. Namun setelah di renovasi, kini Candi Bubrah berdiri dengan gagah.

Sama seperti Candi Lumbung, Candi Bubrah juga bercorak Buddha. Hal itu terlihat dari atap candi yang membentuk stupa, bukan Ratna. Candi Bubrah ini hanya memiliki 1 candi utama dan tidak ada candi perwara di sekitarnya. Candi Buddha (Lumbung, Bubrah dan Sewu) dan Hindu (Prambanan) bisa berada dalam 1 kawasan itu seru banget gak sih? Bisa terbayang gak sih harmonisnya hubungan kedua agama itu jaman dahulu?

Candi Sewu

Dwarapala yang menjaga Candi Sewu

Candi utama yang berada di antara Candi Apit

Dari Candi Bubrah, sekarang beralih ke sebelahnya yaitu Candi Sewu. Kalau kalian bertanya lebih tua mana antara Candi Prambanan dengan Candi Sewu, jawabannya adalah Candi Sewu. Ada 249 candi atau 9 candi lebih banyak dari Prambanan dengan detil 1 candi utama, 8 candi apit dan 240 candi Perwara. Namun karena letak candi perwara yang saling berdekatan, meskipun jumlahnya lebih banyak tapi luas wilayahnya lebih kecil dari Prambanan.

Candi Sewu ini memiliki 4 gerbang dengan 2 Dwarapala (penjaga) di setiap gerbangnnya. 4 pintu itu merupakan simbol dari arah mata angin utama yaitu utara, selatan, timur dan barat. Yang dapat terlihat namun tidak akan disadari kalau tidak diamati dengan seksama adalah potongan batu pada Candi Sewu ini lebih kecil dibandingkan Prambanan.

Ukiran-ukiran yang ada di candi utamanya pun hampir sama, yaitu bunga teratai dengan sulur-sulur akarnya yang masih lengkap. Dalam Hindu maupun Buddha, Bunga Teratai ini memiliki arti yang penting. Teratai itu merupakan lambang kesucian. Bunganya tidak terlalu wangi, tidak begitu indah kalau dilihat waktu mekar namun bunga ini dipilih sebagai lambang kesucian sebab ia hidup di 3 alam. Akarnya di tanah, batang dan daunnya di air dan bunganya di udara.

Candi Plaosan

Ini dia candi kembarnya. Sayang satu lagi sedang dibersihkan

Pintu Mausk Candi Plaosan

Agak jauh keluar dari komplek Candi Prambanan, kalian bisa menemukan candi bercorak Hindu-Buddha bernama Candi Plaosan. Kalau bicara soal Candi Plaosan, kita tidak bisa jauh-jauh dari yang namanya cinta karena candi ini terbentuk akibat cinta dari 2 sejoli yang berbeda agama, Rakai Pikatan dari wangsa Sanjaya yang beragama Hindu dan Pramodhawardani dari wangsa Syailendra yang beragama Buddha. Setelah menikah, Rakai Pikatan membangun candi ini. Itulah kenapa candi ini bercorak Hindu-Buddha

Kalau umumnya kawasan candi memiliki 1 candi utama, tidak dengan Candi Plaosan. Candi Plaosan memiliki 2 candi kembar sebagai candi utamanya, dimana tidak ada satu yang lebih tinggi dari lainnya. Hal ini merupakan wujud dari 2 kerajaan yang menjadi satu. Maka puncak dari candi ini pun kombinasi dari stupa dan ratna. Candi ini juga agak unik karena terdapat “jendela-jendela” pada bangunan utama.

Total jika berhasil direnovasi maka akan ada 136 candi di Plaosan ini. Kalau kalian mampir ke sini, kalian pasti bisa menemukan ada huruf-huruf pallawa di beberapa bagian dinding candi. Dan sebagai tambahan informasi, Candi Plaosan dibangun menghadap ke barat di saat candi-candi lain di Jawa Tengah dibangun menghadap ke timur.

Tiket Masuk: Rp 3.000/orang

Candi Sojiwan

Candi Sojiwan dari kejauhan

Candi yang dibangun Raja Balitung untuk menghormati neneknya

Kalau yang ini saya yakin namanya begitu asing di telinga kalian. Kurang lebih 3 KM dari Plaosan jauhnya, kalian bisa mampir ke candi bercorak Buddha lainnya yaitu Candi Sojiwan. Candi Sojiwan merupakan salah satu monumen dari Dinasti Mataram Kuno adad ke 8-10 Masehi. Candi ini didirikan sebagai bentuk penghormatan dari Raja Balitung untuk neneknya Nini Haji Rakryan Sanjiwana yang beragama Buddha.

Candi Sojiwan besarnya mirip seperti Candi Bubrah. Dan yang saya suka dari Candi Sojiwan ini adalah lokasinya yang berada di tengah taman dengan pepohonan yang rindang. Yang unik dari Candi Sojiwan adalah adanya cerita-cerita moral agama dalam bentuk fabel pada relief-relief di kaki Candi Sojiwan. Ada relief serigala dengan banteng, ada relief persahabatan antara tikus dengan ular yang tidak lestari, dan masih banyak lagi.

Tiket Masuk: Seikhlasnya

Candi Ratu Boko

Gerbang Istana Ratu Boko. Pic via INI

Naik lagi ke kawasan yang lebih tinggi, ke daerah perbukitan, 4 Km ke sebelah selatan dari Komplek Candi Prambanan, maka kalian akan tiba di Candi Ratu Boko atau juga biasa disebut Istana Ratu Boko. Istana Ratu Boko ini diperkirakan dibangun pada masa Rakai Panangkaran, salah satu keturunan Wangsa Syailendra (Buddha). Tapi uniknya, di sini ditemukan juga arca Ganesha yang bercorak Hindu. Itulah mengapa tempat ini memiliki sentuhan Hindu-Buddha.

Karena letaknya di perbukitan, udara di kawasan Ratu Boko ini cenderung lebih sejuk. Awalnya tempat ini bukanlah bernama Istana Ratu Boko tapi Abhayagiri Vihara  yang memiliki arti  biara di bukit yang penuh kedamaian. Tidak terlalu banyak yang tersisa dari puing-puing Istana Ratu Boko ini. Yang termegah sekaligus yang menjadi ikonnya adalah Gerbang Ratu Boko yang masih berdiri gagah.

Candi Ijo

Candi Utama dimana di dalamnya terdapat Lingga dan Yoni

Patung nandi yang merupakan kendaraan dari Dewa Siwa. Letaknya di candi Perwara yang tepat berada di depannya

Setelah pembukaan tadi bermain ke Candi Hindu (Prambanan) lalu mampir ke beberapa Candi Buddha, kali ini saya menutup perjalanan candi-candi ini dengan bermain ke Candi Ijo yang bercorak Hindu. Penamaan Candi Ijo dikarenakan letaknya yang berada di lereng bukit yang bernama Gunung Ijo, sedikit lebih ke atas dari Candi Ratu Boko. Candi Ijo memiliki 4 bangunan candi dengan detil 1 Candi Utama yaitu Candi Siwa dengan 3 Candi Perwara di depan bangunan candi utama.

Nah, Candi Ijo inilah yang mirip dengan candi Hindu yang ada di India dimana di dalam Candi Siwa ini Dewa Siwa disimbolkan dengan Lingga dan Yoni. Hanya di Prambanan saja Dewa Siwa digambarkan dengan Patung Dewa Siwa. Tepat di depan Candi Siwa, terdapat Candi Perwara yang berisi patung nandi, sang lembu, yang merupakan kendaraan Dewa Siwa.

Menghabiskan senja di Candi Ijo

Saya memandang matahari terbenam dari Candi Ijo ini. Dengan ditemani angin semilir dan lembayung, saya menikmati momen  tenggelamnya matahari di ufuk barat. Harus diakui, Candi Ijo merupakan salah satu tempat terbaik untuk menikmati sunset. (Sebagai tambahan, candi-candi lain seperti Prambanan, Plaosan, dan Ratu Boko pun juga bagus untuk menikmati matahari kembali ke peristirahatannya)

Tiket Masuk: Rp 5.000/orang

******

Itu tadi beberapa candi yang bisa kalian kunjungi ketika kalian memiliki (hanya) 1 hari libur di Jogja. Ya , meskipun candi-candi yang saya sebutkan tadi ada yang berada di teritorial Jawa Tengah, tapi tidak jauh kok dari Jogja *ngeles*

Mungkin masih ada beberapa candi lagi sebenarnya yang bisa saya nikmati seperti Candi Sari (3 KM dari Prambanan), Candi Barong (3,8 KM dari Prambanan), Candi Banyunibo (5 KM dari Prambanan), Candi Kalasan (1 km dari Plaosan) dan satu candi lagi yang sudah selesai direnovasi tapi belum diresmikan, namanya Candi Kedulan (5 Km dari Plaosan), namun karena terlalu asyik mendengarkan cerita di beberapa candi, jadinya ada beberapa yang terlewat. Tapi tidak apa-apa, biarlah itu menjadi alasan saya untuk kembali lagi ke sini dan lebih memperkaya pengetahuan saya.

Dari candi-candi yang sudah saya sebutkan di atas, mana candi yang sudah pernah kalian kunjungi?

Tambahan

  • Dalam wisata candi yang saya lakukan, saya didampingi seorang pemandu bernama Pak Dwi.
  • Saya membeli paket tiket masuk Komplek Candi Prambanan & Ratu Boko sebesar Rp 75.000.
  • Biaya pemandu di Candi Prambanan adalah Rp 100.000/jam.
  • Apabila ingin menggunakan jasa Pak Dwi sebagai pemandu, silahkan hubungi beliau di nomor 085868162212. Untuk harganya bisa dibicarakan, yang jelas tidak semahal tarif pemandu di Prambanan.

This is my simple religion. There is no need for temples; no need for complicated philosophy. Our own brain, our own heart is our temple; the philosophy is kindness.
–Dalai Lama

Comments

comments

Powered by Facebook Comments

Darius Go Reinnamah

Seorang pria yang sedang terus belajar menulis. Alasan menulisnya simple saja, karena "tertampar" oleh kalimat dari Pramoedya yang berbunyi: Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian.