Rekomendasi Tempat Kuliner Palembang di Bumi Sriwijaya (Bagian 1)

Berkunjung ke Palembang tidaklah lengkap kalau kalian hanya mengunjungi tempat wisata tanpa mencicipi kuliner yang ada di sana. Memiliki penduduk yang begitu majemuk (ras Melayu, India, Cina, Arab) tentu berdampak pula pada karakter kuliner Palembang. Bermacam makanan lezat dengan berbagai varian bentuk dan rasa siap memuaskan mulut dan perut kalian.

Lho, memangnya ada sebanyak itu ya kuliner Palembang? Biar kalian tidak penasaran, berikut daftar kuliner Palembang yang wajib dicicip bila kalian pergi ke Bumi Sriwijaya:

Mie Celor H.M. Syafei Z. 26 Ilir

Kuliner Palembang bukan hanya Pempek saja dan untuk mengawali perjalanan kuliner Palembang kali ini, marilah kita mampir ke  Mie Celor H.M. Syafei Z. 26 Ilir.



Rumah makan ini merupakan salah satu yang tertua di Palembang. Didirikan tahun 1970 oleh H. Muhammad Syafei, Mie Celor 26 ilir ini mampu membuktikan keperkasaannya di dunia kuliner Indonesia, khususnya Palembang, dan bertahan hingga sekarang.

Untuk kalian yang penasaran seperti apa sih rupa dan rasa dari Mie Celor itu, saya akan mencoba menjelaskannya. Mie Celor merupakan mie berukuran besar (kalau di Sumatera Utara itu seperti Mie Gomak) yang dipadu dengan nikmatnya kuah santan dan lezatnya kaldu ebi. Tidak berhenti sampai di situ, Mie Celor biasa disajikan dengan tambahan sedikit tauge, irisan telur rebus, bawang goreng, daun seledri, dan daun bawang.

Penampakan dari Kedai Mie Celor H.M. Syafei Z. 26 Ilir di Jl. Merdeka

Di sinilah Mie Celor dibuat

Mie Celor siap antar

Penampakan Mie Celor dari atas

Dari segi tampilan, Mie Celor ini sungguh menggugah selera. Tapi bagaimana dengan rasanya? Buat saya, rasanya biasa saja, tapi ini hanyalah penilaian subjektif. Sedangkan menurut penuturan beberapa orang teman, mie ini sangat enak. Daripada terjebak dalam bermacam opini masyarakat, lebih baik kalian datang langsung dan buktikan sendiri.

Untuk bisa mencicipi Mie Celor autentik milik H.M. Syafei, kalian bisa menemukannya di 3 lokasi, yaitu:

  • Jl. KH. Ahmad Dahlan No.2, Talang Semut, Bukit Kecil, Kota Palembang.
  • Jl. Merdeka No.54, Talang Semut, Ilir Bar. I, Kota Palembang.
  • Jl. Mujahidin No.699, Talang Semut, Bukit Kecil, Kota Palembang.

Memang banyak tempat yang menjual Mie Celor, tapi Mie Celor yang paling enak ya milik H. M. Syafei ini. Ketiga tempat itu kini dikelola langsung oleh anak-anak H.M. Syafei. Kalian bisa mengunjungi yang mana saja tanpa  perlu takut rasanya akan berbeda, sebab ciri khas bumbunya terus dipertahankan dan tidak berubah.

Beginilah penampakan asli Mie Celor. Ngiler, kan?

Fokus pada Mie Celornya ya

Pasca menyantap Mie Celor

Kuran glebih seperti inilah penampakan bagian dalam dari Mie Celor milik H.M. Syafei di Jl. Merdeka

Harga: Rp 15.000 – Rp 20.000 / porsi

Buka: Setiap hari dari pukul 06:00 – 17:00 WIB

Harum

Dari kuliner Palembang yang berat, sekarang masuk pada bagian yang ringan. Tidak jauh dari Mie Celor H.M. Syafei Z. 26 Ilir yang berada di Jl. Merdeka, kalian bisa menjumpai sebuah toko yang menjual kue-kue kecil bernama Harum yang lokasi persisnya berada di 

Makanan kecil yang dijual di sini bukan kue sembarangan, karena makanan-makanan ini adalah kue khas Palembang. Toko yang ukurannya tidak terlalu besar ini menjajakan banyak varian makanan dengan nama yang unik dan rasa yang lezat. Diantaranya kalian bisa mencoba:

Toko Harum

Meilih kue yang siap untuk dimakan

  • Ragit

    Ini lho ragit. pic via INI

    Ragit itu merupakan sebuah makanan seperti dadar gulung atau biasa juga dibentuk segitiga dengan kuah kare. Kudapan ini diadopsi dari kebudayaan kuliner Timur Tengah yang menambah warna pada warisan kuliner khas Palembang.

  • Celimpungan

    Ini dia penampakan Celimpungan. Pic via INI

    Makanan yang satu ini berbahan dasar dari adonan sagu. Kudapan yang juga mencampurkan ikan didalamnya ini dibentuk bulat-bulat dan berkuah santan.

  • Bluder

    Ini lho Bluder

    Sebuah roti hasil akulturasi dari kudapan zaman kolonial Belanda. Bentuknya kecil dan dibuat tanpe pengawet buatan.

  • Engkak Ketan

    Engkak Ketan

    Kue kecil yang berbahan mentega dan telut. Yang membuatnya menjadi spesial adalah adanya tambahan parutan kelapa di atasnya.

  • Srikaya Tape


    Yang hijau itu Srikaya saja, sedangkan yang dibelakangnya, yang berwarna kuning, barulah srikaya ketan

    Salah satu varian srikaya yang ditambahkan tape sebagai bahan dasarnya guna menambah cita rasa.

  • Manan Sahmin

    Manan Sahmin

    Sebuah kue yang terbuat dari Ubi sebagai bahan pembuatan utamanya.

  • Dadar Jiwo

    Dadar Jiwo

    Kudapan antik berisi pepaya muda dan di atasnya diberi Gelondo sebagai inti dari kudapan ini. Biasa juga disebut sebagai Gulungan Kuning.

  • Kue Kojo

    Kue Kojo

    Sebuah kue bolu yang beraroma Pandan dan kue ini sekaligus menjadi penanda bahwa bangsa Melayu turut mempengaruhi aktivitas keseharian masyarakat Palembang Jaman dahulu.

Sebenarnya Harum ini juga menjual Pempek yang mereka sebut sebagai Pempek Tabok. Namun saya tidak merekomendasikannya. Untuk Pempek, lebih baik di tempat lain karena spesialisasi dari Harum ini terletak pada kue kecilnya.

Selain nikmat untuk makan di tempat, kue-kue kecil ini juga cocok untuk dibawa pulang untuk dijadikan oleh-oleh. Oh ya, Kalau kalian makan di tempat, jangan lupa coba Es Sugu alias Susu Gula Merah sebagai minumannya ya. Itu enak banget. Dan kalau ditanya apa yang menjadi kue favorit saya di Harum, jawabannya jatuh kepada Kue Kojo dan Srikaya (tanpa tape).

Semoga Toko Harum ini terus harum namanya dan terus memberikan pengalaman “manis” pada pelanggannya.

Harga: Rp 2.000 – Rp 4.000 / kue
Buka: Setiap hari dari pukul 09:00 – 22:00 WIB

Sentral Kampung Pempek

Okay, sekarang waktunya masuk ke bagian Pempek. Ada sedikit saran dari saya untuk menikmati kuliner Palembang berupa pempek ini, yaitu mulailah dari yang murah ke yang mahal (Premium). Kenapa? Agar kalian memulai dari yang kurang enak dan menutupnya dengan yang paling enak. Memang tidak semua makanan yang harganya murah itu tidak enak dan belum tentu juga yang mahal itu pasti enak. Tapi dalam hal pempek di Palembang, umumnya yang harganya mahal itulah yang enak.

Untuk mencoba pempek dengan kualitas yang tidak terlalu bagus dan harganya yang murah, mampirlah ke Sentral Kampung Pempek Palembang yang letaknya tidak jauh dari Harum. Terletak di 

Beginilah kondisi Sentral Pempek Palembang

Rame banget, kan? Jalanya pun dipakai tempat parkir

Salah satu toko di Sentral Palembang


Sentral Kampung Pempek ini umumnya akan selalu ramai. Bukan hanya ramai oleh pembeli dan penjual di setiap tokonya, tapi juga kendaraan di jalanan. Tak jarang kemacetan terjadi karena jalan yang seharusnya menjadi tempat kendaraan untuk berlalulalang dijadikan tempat parkir.

Karena sering ramai, ada sedikit tips agar kalian dilayani di tempat ini, yaitu dengan terus mendekati si penjual. Kalau kamu hanya berteriak “Bu, saya mau beli” dari balik kaca gerobak tempat pempek dijual, jangan harap kalian akan dilayani, yang ada malah kalian dicuekin. Lalu bila kalian sudah dilayani, lebih baik kalian beli untuk bawa pulang dari pada dimakan di sana.

Toko lainnya

Kalau mau belanja kerupuk juga bisa kok

Untuk rasa, tidak perlu ditanya lagi ya seperti apa. Karena harganya murah, tolong jangan banyak mau.

Harga: Rp 1.000/pempek

Buka: Setiap hari dari pukul 07:00 – 23:00 WIB

Pempek Saga Sudi Mampir

Masih membahas pempek, namun pada kesempatan kali ini kita sedikit naik kelas dan langsung akan membahas Pempek Premium yang ada di Pempek Saga Sudi Mampir. Seperti yang sudah saya jelaskan sebelumnya, pempek itu banyak variannya dan yang menjadi pamungkas dari Pempek Saga alias yang wajib kalian coba adalah Pempek Lenggang-nya, atau biasa disebut juga dengan Lenggang saja.

Bagi yang jarang makan pempek, mungkin nama lenggang ini terdengar asing, tidak seperti saudaranya, pempek kapal selam, yang lebih akrab ditelinga. Sedikit gambaran, pempek lenggang merupakan jenis pempek yang dimasak dengan cara dipanggang. Cara membuatnya adalah dengan meletakkan campurang daging ikan, tepung sagu, air, bumbu yang sudah diolah dan telur ayam atau telur bebek di atas daun pisang yang sudah dibentuk, lalu kemudian dipanggang.

Ini lho tempat kuliner Pempek Saga Sudi Mampir

Kurang lebih dalamnya seperti ini

Kurang lebih seperti inilah pembuatan Pempek Lenggang

Untuk soal rasa, Lenggang dari Pempek Saga Sudi Mampir ini adalah yang terbaik. Ingat, kalau mau makan pempek yang jenis lenggang, haruslah kalian ke Pempek Saga Sudi Mampir, jangan ke tempat lain. Untuk soal ukuran, Lenggang milik Pempek Saga ini cukup besar. Makan 2 pun sudah cukup kenyang.

Dan perlu diingat, pempek yang nikmat itu tidak hanya fokus pada rasa pempeknya, tapi juga rasa cukonya. Cuko milik Pempek Saga ini masuk dalam kategori yang cukup enak kalau menurut lidah saya. makan cuko tanpa pempeknya pun cukup nikmat buat saya.

Sebagai teman makan Lenggang yang nikmat, tak ada salahnya kalian memesan Es Kacang Merah + Alpukat.  Tidak ada kata lain yang bisa mendeskripsikan kenikmatan kombinasi Lenggang + Es Kacang Merah Alpukat selain kata MAKNYOSSS.

Bagi kalian yang mau mampir ke rumah makan ini, letaknya persis di seberang Kantor Walikota Palembang.

Lenggang sedang dipanaskan

Lenggang sudah siap untuk disantap

Jangan lupa ya, makannya harus pakai cuko biar lebih enak

Tambahin Es Alpukat dan atau Es Kacang Merah ya biar kenikmatannya lebih maksimal

Harga: Rp 20.000/porsi

Buka: Setiap hari dari pukul 10:00 – 22:00 WIB 

Martabak HAR

Martabak HAR merupakan singkatan dari Martabak Haji Abdul Rojak. Nama itu diambil dari nama pemiliknya, Haji Abdul Rojak, yang merintis usaha ini sejak tahun 1947. Dan selama kurang lebih 72 tahun ini, sudah ada kurang lebih 8 gerai Martabak HAR yang tersebar di seluruh Palembang. Saya sendiri sudah mencoba salah satunya, yaitu yang berada di 

Kalau boleh berpendapat, Martabak HAR ini pembuatannya kurang lebih mirip seperti martabak telur yang biasa kalian jumpai di pinggiran jalan tempat kalian tinggal. Namun karena Haji Abdul Rojak ini berasal dari India, martabak buatannya ini agak berbeda, ada sentuhan India di dalamnya. Ia memadukan kentang dan kuah kari terpisah untuk dimakan bersama dengan martabak buatannya. Tak lupa juga disediakannya sambal pedas manis.

Tampilan depan kedai Martabak HAR di jl. Sudirman

Bagian dalamnya. Sederhana tapi nyaman

Asyik juga nongkrong sambil makan Martabak HAR

Beginilah proes pembuatannya

Rasanya sendiri tidak terlalu enak buat saya, namun lagi-lagi ini penilaian subjektif dari saya. Mungkin memang taste-nya tidak cocok di lidah saya. Kalau martabak ini memang tidak enak menurut netizen, tentu bisnis makanan ini tidak bisa bertahan hingga sekarang kan?

Selain Martabak, terdapat beberapa menu lainnya yang bisa kalian nikmati di setiap kedai Martabak HAR. Untuk makanannya ada Nasi Kebuli, Kare Ayam, Kambing Guling, Sate Ayam, Nasi Telur Bulat dan Nasi Samin. Untuk minumannya, kalian bisa mencoba Es Kacang Merah atau Es Campur. 

Martabak HAR ini cocok banget lho menjadi teman untuk dimakan sambil ngobrol-ngobrol bersama teman-teman.

Martabak sedang digoreng

Nih, biar lebih dekat lihatnya

Martabak siap diantar

Selamat makan

Harga: Rp 5.000 – Rp 30.000

Buka: Setiap Hari dari pukul 07:00 – 20:30 WIB

*****

Itu tadi beberapa rekomendasi Tempat Kuliner Palembang di Bumi Sriwijaya versi saya. Sebenarnya masih ada beberapa tempat lagi, namun saya akan menambahkannya di postingan yang terpisah karena terlalu panjang rasanya berada dalam satu postingan.

Dan dari 5 tempat yang saya sebutkan di atas, adakah yang sudah pernah kalian kunjungi? Kalau belum, silahkan jadikan tulisan ini sebagai referensi ketika kalian mau kulineran di Palembang ya. Oh ya, untuk mengunjungi setiap tempat yang saya sebutkan di atas, silahkan nyalakan aplikasi penunjuk arah pada smartphone kalian ya. Navigasinya jelas banget kok.

Untuk mengetahui daftar tempat Kuliner Palembang, silahkan klik link INI ya.

Culinary tradition is not always based on fact. Sometimes it’s based on history, on habits that come out of a time when kitchens were fueled by charcoal.
–Alton Brown

Comments

comments

Powered by Facebook Comments

Darius Go Reinnamah

Seorang pria yang sedang terus belajar menulis. Alasan menulisnya simple saja, karena "tertampar" oleh kalimat dari Pramoedya yang berbunyi: Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian.