Es Dawet Telasih Bu Dermi: Es Dawet Hits di Pasar Gede Hardjonagoro

Berkunjung ke Solo, atas rekomendasi seorang teman, saya menyempatkan diri untuk kulineran di Pasar Gede Hardjonagoro, pasar tertua yang ada di Solo. Usai menikmati lezatnya Babi Kuah di bagian luar Pasar Gede, saya pun masuk ke area dalam pasarnya untuk memburu minuman yang sudah terkenal seantero Solo, apalagi kalau buka Es Dawet Telasih Bu Dermi.

Usut punya usut, Es Dawet Telasih Bu Dermi ini merupakan dawet favoritnya Pak Jokowi lho. Semasa menjabat menjadi wali kota Solo, Pak Jokowi sering banget minum es dawet di sini. Jadi nggak heran dong ya kenapa es dawet yang satu ini begitu terkenal atau lebih terkenal dari es dawet lainnya yang ada di area dalam Pasar Gede.

Masuk dari gerbang depan, dimana terdapat tulisan Pasar Gede, saya yang saat itu pergi bersama Helena langsung dibuat pusing oleh ramainya penjual dan pembeli di dalamnya. Dengan hanya berbekal info Es Dawet Telasih Bu Dermi, tanpa mengetahui lokasi persisnya, saya pun terpaksa ngubek-ngubek area pasar yang cukup luas seperti namanya itu untuk menemukan lokasinya.



Pasar Gede Hardjonagoro 1

Pasar Gede Hardjonagoro

Pasar Gede Hardjonagoro

Gerbang Masuk Pasar Gede Hardjonagoro

Es Dawet Telasih Mbah Genduk

Malah ketemu kompetitor

Setelah ngubek-ngubek pasar 10 menit, yang ketemu justru para pesaingnya seperti Dawet Telasih Mbah Genduk dan Dawet Telasih Bu Siswo. Nggak mungkin juga dong saya tanya kepada mereka dimana letak Es Dawet Bu Dermi *Ya menurut ngana?*.

Tak kunjung ketemu karena memang pasarnya pasarnya besar dan didorong juga oleh hasrat untuk segera memuaskan dahaga akan kelezatan Es Dawet Telasih Bu Dermi yang terus terbayang-bayang dalam kalbu, Helena pun bertanya kepada salah seorang penjual buah yang lokasinya tidak jauh dari pintu masuk.

Rupanya, dari pintu masuk ini kami harus langusng belok kiri. Berjalan sekitar 4 blok, lalu beloklah ke arah kanan. Letak Dawet Bu Dermi ini berada di tengah, bersebelahan dengan Kios Sabar Menanti Bu Sri Bima Jaya yang menjual oleh-oleh khas Solo dan berada di seberang  blok Jamu Racikan. Melihat tulisan “Dawet Telasih Bu Dermi” berwarna kuning pada papan berlatar hijau yang menggantung, rasa senang tak terkira segera menghampiri diri ini. Dengan berjalan lebih cepat, saya dan Helena segera menuju lapak Bu Dermi.

Ketemu juga Es Dawet Telasih Bu Dermi

Ketemu juga Es Dawet Telasih Bu Dermi

Es Dawet Telasih Bu Dermi

Ramenya kayak begini

Jalan di Pasar Gede

Jalan di Pasar itu kecil dan lapaknya tidak terlalu besar

Yang cari jamu-jamuan, ada juga lho di Pasar Gede

Letaknya tidak jauh dari blok jamu-jamuan

Menyantap Es Dawet Telasih Bu Dermi

Karena saya datang pada hari biasa, bukan weekend, keadaan Dawet Bu Dermi tidak terlalu ramai. Di lapak yang berukuran tidak terlalu besar inilah, mungkin hanya berukuran sekitar 3×3 meter, Es Dawet Telasih legendaris ini dijajakan. Hanya tersedia 1 kursi panjang yang muat maksimal untuk 3 orang di bagian samping bagi pelanggan yang ingin menikmati dawet ini. Dan ketika saya datang, kursi tersebut sudah dipenuhi oleh pengunjung lainnya. Terpaksa saya dan Helena harus berdiri, sambil menunggu mereka selesai.

Waktu memesan, saya dan Helena dilayani langsung oleh ibu Rut Tulus Subekti atau  yang lebih akrab dipanggil Bu Uut. Wanita cantik ini adalah generasi ketiga yang meneruskan usaha dawet ini. Berkat tangan dinginnya lah Es Dawet yang sudah ada sejak tahun 1930-an ini masih tetap bertahan.


Semua bahan-bahan yang diperlukan untuk membuat Es Dawet Telasih ada di depan Bu Uut. Setelah Helena bilang ia ingin memesan 1 porsi, dengan cekatan Bu Uut mengambil mangkok kecil dan meramu ketan hitam, tape ketan, jenang sumsum, biji telasih, gula, santan dan sedikit es batu untuk disajikan menjadi Es Dawet Telasih yang fenomenal ini.

Bu Uut

Bu Uut sedang melayani beberapa pembeli

Dawet Telasih Bu Dermi

Kalau nggak kebagian tempat duduk, ya terpaksa minum sambil berdiri

Bu Uut

Semua bahan ada di depan bu Uut. Santan, Jenang Sumsum, telasih, dll

Ketika sendok berisikan Es Dawet Telasih ini masuk ke mulut, saya langsung jatuh cinta dan menyatakan ini Es Dawet paling enak yang pernah saya makan. Manisnya pas banget, nggak terlalu manis seperti janji-janji yang pernah diucapkan mantanmu dulu. Memasukkan ketan hitam dan jenang sumsum ke dalam es dawet ini pun jenius sekali menurut saya. Ketan hitam dan jenang sumsum ini menambah kenikmatan dari es dawet ini.

Yang paling spesial tentunya kehadiran biji telasih. Jujur, biasanya saya tidak suka dengan biji telasih. Namun entah bagaimana, di Es Dawet Telasih Bu Dermi ini saya bisa suka banget. Menyeruput es dawet ini langsung menghilangkan rasa haus yang menyerang saya waktu itu. Saking enaknya, Helena yang biasanya beli sesuatu cukup dengan hanya 1 porsi, kali ini dia nambah sampai 2 porsi.

Sekarang saya tahu mengapa es dawet ini selalu ramai, terutama di akhir pekan, dan para pembelinya rela mengantri dan berdiri di area jalan pasar yang sempit itu, berjibaku dengan para pengunjung pasar lainnya. Ternyata es dawet ini memang luar biasa enak, bukan hanya mengandalkan label “favoritnya Pak Jokowi” saja.


Harga satu porsi Es Dawet Telasih Bu Dermi ini adalah Rp 9.000. Murah, kan? Buat kalian yang ingin mencicipi Dawet Bu Dermi ini, ia buka sedari pagi hingga pukul 15:00 WIB. Kalian wajib banget mencoba kuliner yang satu ini apabila bertandang ke Solo.

Ini hasil jadinya

Ini hasil jadinya

Ketannya itu enak banget

Ketannya itu enak banget

Sempat kebagian tempat duduk

Sempat kebagian tempat duduk

Dibungkus juga bisa lho

Dibungkus juga bisa lho

Perjalanan ke Solo dari Jakarta

Oh iya, perjalanan ke Solo dari Jakarta untuk mencicipi Dawet Bu Dermi ini saya lakukan dengan menggunakan kereta api. Alasan utamanya karena sepanjang perjalanan dari Stasiun Gambir, saya bisa menyanyikan lagu Stasiun Balapan milik Didi Kempot. Receh banget ya alasannya?

Lirik dan nada “Ning Stasiun Balapan, Kuto Solo sing dadi kenangan” terus menggema di dalam pikiran saya. Mendengarnya dan kerap menyanyikannya di rumah sedari kecil, akhirnya kemarin bisa juga mendarat langsung di stasiunnya, Stasiun Solo Balapan.

Untuk membeli tiket kereta api kemarin, saya mempercayakannya pada pegipegi.  Alasan saya simple saja, karena tampilan antar muka aplikasi pegipegi ini user friendly banget dan pengoperasiannya gampang. Warna oranye pada aplikasi pegipegi menimbulkan efek ceria bagi para penggunanya. Selain itu, diskonnya juga banyak banget. Buat kalian yang ingin merencanakan bepergian dengan menggunakan kereta api, aplikasi pegipegi sudah paling cocok deh untuk memesannya.

pegipegi1

1. Pilih ikon kereta api
2. Tentukan stasiun awal dan tujuan, tanggal keberangkatan dan jumlah penumpang

pegipegi2

3. Pilih kereta yang tersedia
4. Isi detil penumpang

Untuk memesan tiket kereta, kalian hanya perlu login ke dalam aplikasi ini. Kemudian, pilih ikon “kereta api” dan tentukan stasiun asal dan stasiun tujuan, tentukan tanggal keberangkatan serta jumlah penumpangnya. Kalau sudah, daftar kereta api yang masih tersedia akan muncul dan kalian tinggal memilih kereta yang kalian inginkan.

Selanjutnya, detil pemesanan akan muncul. Periksa dengan baik, jangan sampai ada yang terlewat. Kalau memang perlu mengubah tempat duduk, ubahlah sebelum masuk pada bagian pembayaran. aplikasi pegipegi menyediakan fitur untuk memilih bangku kereta api.

pegipegi3

5. Periksa lagi detil keberangkatannya dan bahlah kursi jika perlu
6. Pilih lokasi duduk yang kalian inginkan

pegipegi4

7. Periksa lagi detil penumpang dan detil kereta
8. Pilih pembayaran

pegipegi5

9. Masukkan detil kartu kredit (jika menggunakan kartu kredit)
10. Lakukan pembayaran

Pegipegi juga memiliki banyak opsi untuk pembayaran. Kalau saya lebih memilih untuk menggunakan kartu kredit. Jika sudah melakukan pembayaran, pesanan tiket kereta api kalian akan masuk ke dalam bagian “pesanan” pada aplikasi pegipegi. Tiketnya juga bisa dilihat di email yang kalian daftarkan. Ketika tiket sudah berada di genggaman, maka tinggal tunggu waktu untuk berangkat :)a

Bagaimana? Mudah, kan?

Food, to me, is always about cooking and eating with those you love and care for.
–David Chang

Comments

comments

Powered by Facebook Comments

Darius Go Reinnamah

Seorang pria yang sedang terus belajar menulis. Alasan menulisnya simple saja, karena "tertampar" oleh kalimat dari Pramoedya yang berbunyi: Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian.