Huta Siallagan: Rumah Bolon (1)

Berkendara selama 30 menit dengan menggunakan kreta (sebutan untuk sepeda motor bagi masyarakat Sumatera Utara) dari Dermaga Tomok ke arah kanan, maka tibalah saya di sebuah huta (kampung) yang masih menjaga warisan budaya nenek moyangnya dengan sangat baik. Di kampung ini tersimpan deretan rumah adat Batak yang penuh dengan keunikan serta memiliki banyak nilai filosofis dibalik pembuatannya.

Kampung tersebut bernama Huta Siallagan. Memasuki kawasan Huta Siallagan yang dikelilingi oleh tembok pelindung  setinggi 1,5 meter dengan pintu masuknya yang sangat kecil, sebuah patung batu dengan senyum datar sudah berdiri tegap menyambut kehadiran saya. Perkenalkan, ia adalah  Pangulubalang, sebuah patung penjaga yang melindungi warga dari serangan roh-roh jahat yang ingin memasuki wilayah Huta (kampung).

Melewati Pangulubalang, di sebelah kiri dari arah masuk, deretan rumah yang didominasi warna coklat sudah berjajar rapi bak kumpulan pelajar yang sedang berbaris di tengah lapangan. Itulah rumah Rumah adat Batak atau yang biasa di sebut dengan Rumah Bolon.

Pintu Masuk Huta Siallagan

Halo, Nama aku Pangulubalang. Kamu siapa?

Bagi orang Batak, rumah bukan sekedar tempat untuk berteduh, bukan pula tempat yang hanya digunakan untuk merebahkan diri ketika lelah sudah datang pasca bekerja di ladang. Rumah bagi orang batak merupakan sebuah identitas. Rumah menjadi simbol kebanggan dan kebudayaan sebab dari dalam rumah kayu inilah awal dari sebuah kehidupan.

Baca juga: 5 Tempat wisata di Pulau Samosir yang Bisa Kamu Kunjungi dalam 1 hari

Baik secara sadar atau tidak, ukuran rumah adat Batak sebenarnya sudah mewakili namanya, Bolon. Bolon dalam bahasa batak artinya besar. Ya, rumah adat Batak memang besar-besar seperti yang ada di Huta Siallagan ini. Namun Rumah Bolon di Huta Siallagan merupakan hasil pembuatan ulang dan tidak menampilkan ukuran asli dari Rumah Bolon yang sebenarnya.

Sekitar tahun 1923, kebakaran besar melanda Huta Siallagan. 3 Rumah Bolon yang masing-masing ukurannya 4x lebih besar dari 1 Rumah Bolon yang ada sekarang ini habis dilahap si jago merah. Demi menjaga kebudayaan dan kebanggan orang Batak, terutama marga Siallagan, maka dibangunlah kembali Rumah Bolon dengan ukuran yang lebih kecil dan jumlah yang lebih banyak. Kalau dulu 1 rumah bisa menampung 4 keluarga, Rumah Bolon yang ada di Siallagan kini hanya menampung 1 keluarga saja.

Rumah Bolon yang ada di Huta Siallagan

Sebnarnya ada 8 Rumah Bolon tapi yang tertangkap kamera cuma 7

Filosofi

Orang-orang Batak jaman dahulu merupakan arsitektur handal. Dalam membangun rumah, mereka memperhatikan tidak hanya segi estetika tetapi juga makna, nilai-nilai kehidupan serta kekuatan bangunan. Salah satu hal yang membuat Rumah Bolon istimewa adalah rumah ini dibangun dengan tanpa menggunakan paku sama sekali dan penuh dengan ukiran-ukiran yang memiliki makna.

Bentuk Rumah Bolon juga dibuat menyerupai bentuk kerbau dan terbagi atas 3 bagian. Punggung kerbau adalah atapnya yang melengkung, badan kerbau adalah bagian tengah rumah dan kaki kerbau merupakan tiang-tiang penyangga rumah. Percaya atau tidak, Rumah Bolon selalu dibangun menghadap ke arah gunung. Orang dulu percaya kalau berkat akan selalu tercurah dari tempat yang lebih tinggi.

Bagian Atas (Atap)

Runcing Belakang selalu 1 jengkal lebih tinggi dari runcing depan

Atas: Rumah Bolon yang masih menggunakan Ijuk sebagai atap
bawah: Rumah Bolon kekinian dengan atap berbahan seng.

Atap Rumah Bolon kalau dilihat sekilas maka bentuknya terlihat seperti perahu. Beberapa orang mempercayai kalau hal tersebut karena orang Batak itu asalnya dari Cina Selatan dan mereka dahulu lama melaut.

Terdapat 2 runcing di bagian atap Rumah Bolon, runcing depan dan runcing belakang. Runcing depan melambangkan orang tua dan runcing depan melambangkan anak. Cobalah perhatikan dengan seksama, mungkin kalian akan menyadari kalau runcing depan dan runcing belakang tingginya tidak sama.

Runcing depan memang selalu lebih rendah 1 jengkal dibandingkan runcing belakang. Hal itu dibuat bukan tanpa alasan, tetapi juga dengan harapan. Orang Batak berharap agar orang tua dapat membimbing anaknya dan kelak ketika dewasa nanti anaknya bisa lebih sukses dan lebih tinggi derajatnya dibandingkan orang tuanya.

Atap rumah Bolon dulu terbuat dari ijuk (kini sudah diganti dengan menggunakan seng) dan bagian atap ini juga dikenal dengan istilah Benua Atas atau tempat para dewa.

Bagian Tengah 

Inilah 3 bagian utama dari Rumah Bolon.
Pic via ini

Bagian tengah rumah (Benua Tengah) merupakan pusat aktivitas. Di bagian tengah rumah berbahan dasar kayu inilah orang Batak akan tidur, berkumpul, makan dan melakukan beberapa aktivitas lainnya. Untuk masuk ke dalam rumah, saya harus melalui tangga dari bagian bawah yang jumlah anak tangganya selalu ganjil (3,5,7) dan masuk melalui pintu yang kecil dan agak pendek.

Pintu kecil bukan menunjukkan kalau orang Batak itu tubuhnya kecil-kecil atau pendek. Tujuan dibuat pendek agar setiap orang yang mau masuk harus menundukkan kepala sebagai wujud penghormatan kepada mereka yang berada di dalam.

Mungkin akan ada pertanyaan, “Lalu bagaimana memasukkan barang yang besar ke dalam Rumah Bolon atau bagaimana caranya mengeluarkan peti dari dalam rumah saat ada pesta kematian di dalam rumah?”

Semua barang yang ada di dalam Rumah Bolon kebanyakan barang tradisional yang dirakit dan di pasang di bagian dalam. Itulah sebabnya kamu tidak akan pernah menemukan sofa mewah atau kulkas 3 pintu di dalamnya. Saat ingin mengeluarkan peti mati dari dalam rumah pada upacara kematian, maka dinding bagian tengah depan akan dijebol. Itulah penjelasan yang saya dapat dari keturunan Siallagan ke 17 yang berhasil saya wawancara.

Ini lho bagian dalam rumah dimana ada dapur, tungku, alat tenun, tempat menyimpan kayu. semua jadi satu di sini

Ini lho yang namanya Sopo, tempat menyimpan beras

Di dalam rumah Bolon juga biasa tersimpan singa-singa, yaitu sebuah gorga atau topeng kayu yang dipercaya dapat menangkal kuasa jahat yang dikirim orang lain seperti contohnya santet.

Rumah Bolon tidak memiliki sekat-sekat antara ruang satu dengan ruang yang lain, jadi semua aktivitas bisa terlihat. Entah kenapa di dalam pikiran ini langsung terbersit pertanyaan, “Bagaimana cara mereka memperoleh keturunan (berhubungan seks) ya kalau ruangan ini tidak ada  sekatnya? masa iya keliatan?”

Daripada penasaran dan bikin saya susah tidur nantinya, saya pun langsung menayakannya kepada keturunan Raja Siallagan yang menjadi pemandu saya. Menurut penjelasannya, orang Batak itu terkenal dengan “pengertiannya yang tinggi”. Kalau tengah malam dilihat ada yang bergerak-gerak dalam sarung tanpa suara ya mereka sudah mengerti mereka sedang ngapain.

Ada pula yang melakukannya di Sopo, yaitu tempat menyimpan beras. Lagi-lagi, kalau ada yang melihat sepasang suami istri tengah malam keluar dari Rumah Bolon menuju Sopo, orang Batak sudah paham apa yang ingin mereka perbuat. Tahu sama tahu lah istilahnya.

Bagian Bawah (Kolong)

Kolong rumah.Biasa digunakan sebagai tempat menyimpan hewan ternak

Ciri khas rumah adat Batak, baik itu rumah adat Karo atau Toba yaitu bertipe rumah panggung atau rumah yang memiliki kolong. Bagian kolong ini biasa digunakan untuk menyimpan ternak seperti hewan babi, kerbau atau juga kambing.

Ada juga manusia yang layak untuk tinggal di bagian kolong ini namun saya akan ceritakan pada postingan selanjutnya.

Ukiran

Pada umumnya, di bagian depan rumah adat orang Batak Toba kita bisa melihat bermacam ukiran dengan motif dan nama yang berbeda-beda. Ukiran-ukiran itu disebut dengan Gorga. Gorga terdiri dari tiga warna yaitu putih, merah dan hitam. putih melambangkan surga dan kesucian, merah melambangkan dunia (tempat manusia hidup) dan hitam melambangkan kematian atau dunia orang mati.

Ada banyak sekali gorga pada Rumah Bolon, namun saya akan coba menjelaskan arti salah satunya yang merupakan favorit saya. Namanya adalah Gorga Boras Pati dan Adop Adop.

Gorga Boras Pati dan Adop Adop dilambangkan dengan 2 cecak dan 4 buah payudara. Apa sih arti cecak? Kenapa cecak? Tidak ada hewan lain? Kenapa payudaranya ada 4? Apa payudara wanita batak jaman dahulu ada 4?

Tenang, harap semua tenang. Silahkan ambil dulu kopimu, duduk dengan santai dan saya akan menjelaskannya pelan-pelan.

Inilah contoh Gorga, ukiran yang terdapat pada Rumah Bolon

Ini Dia nih Gorga Boras Pati dan Adop Adop yang terdapat pada pilar

Seperti kita tahu, cecak bisa merayap di langit-langit, dinding dan juga lantai. Cecak juga bisa ditemukan di rumah mewah, rumah gubuk, hotel dan tempat-tempat misterius lainnya. Hal itu mau menunjukkan kalau orang Batak harus bisa hidup seperti cecak. Orang Batak harus bisa hidup dimanapun dan dalam kondisi seperti apapun. Orang Batak memang terkenal sebagai perantau sejati. Kamu pasti punya teman orang Batak kan?

4 payudara melambangkan kesuburan, bukan artinya perempuan dulu memiliki 4 payudara. Pria Batak jaman dulu umumnya akan memilih wanita dengan payudara besar sebagai istrinya karena menurutnya wanita dengan kriteria tersebut bisa memberikan keturunan sebanyak-banyaknya. Bagi orang Batak, harta bukan dinilai dari seberapa banyak mobil yang ia punya, bukan dinilai dari seberapa luas tanah yang mereka miliki, tapi dilihat dari berapa banyak anak yang mereka punya (banyak anak banyak rezeki).

Pada Gorga Boras Pati dan Adop Adop, Cecak akan selalu mengarah kepada payudara. Apa itu artinya? Kemana pun orang Batak pergi merantau, ia harus selalu ingat kepada kampung halamannya terutama pada ibunya. Jangan pernah ia lupa pulang karena kesuksesan yang didapat bukan murni 100% dari usaha kita tetapi ada doa dan restu ibu yang membungkusnya.

****

Itu tadi rumah adat orang Batak atau Rumah Bolon yang setiap sudutnya kalau mau kita telaah pasti memiliki arti. Setelah mendengarkan semua penjelasan mengenai Rumah Bolon dari keturunan ke-17 Raja Siallagan dan mengambil beberapa gambar, saya pun diajak untuk ke tempat selanjutnya yaitu Batu Kursi Persidangan yang letaknya persis ada di depan Rumah Bolon Raja.

→berlanjut ke postingan selanjutnya Batu Kursi Persidangan (2)

Lokasi:

Huta Siallagan, Siallagan-Pindaraya, Kec. Simanindo, Ambarita, Simanindo, Kabupaten Samosir, Sumatera Utara 22395

We are not makers of history. We are made by history.
— Martin Luther King, Jr.

Comments

comments

Powered by Facebook Comments

Darius Go Reinnamah

Twitter: @dgoreinnamah | IG: @dgoreinnamah | FB: dgoreinnamah | youtube: Darius Alexander Go Reinnamah | http://goreinnamah.com

You may also like...