Sagu Gula: Identitas Orang Ambon

Sagu merupakan salah satu panganan pokok bagi orang Indonesia Timur, Ambon salah satunya. Sagu sudah mendarah daging di dalam kehidupan mereka. Mencoba melepaskan sagu dari orang Ambon ibarat mencoba memisahkan Novak Djokovic dari keju. Tidak akan bisa.

Pagi itu maskapai kebanggaan Indonesia yang membawaku ke Ambon dari Jakarta mendarat dengan sempurna di landasan pacu Bandara Pattimura. Bak seorang raja, seorang penjemput yang juga seorang supir sudah siap di pintu kedatangan sembari memegang kertas putih bertuliskan namaku di atasnya. Penuh senyum dan sapa, pria hitam manis tersebut kemudian langsung mengajakku ke tempat dimana ia memarkirkan kendaraannya.

Dibawanya mobil melaju dengan cepat namun santai. Ambon waktu itu sedang dalam suasana natal, berbagai ornamen natal terpasang di kiri dan kanan jalan. Mulai dari pohon natal hingga salib dengan berbagai ukuran. Aku membayangkan pasti indah sekali malam di kota Ambon saat natal ini karena lampu-lampu natal warna-warni akan berpijar menerangi kegelapan malam.

Tanpa terasa mobil sudah melewati Jembatan Merah Putih, sebuah jembatan persatuan yang menjadi kebanggan sekaligus ikon kota Ambon. Jembatan ini dinamakan Merah Putih sebab ini merupakan wujud perdamaian antara kubu Merah dan kubu Putih pasca kerusuhan Ambon tahun 1998.

Jembatan Merah Putih

Jarak Lahat – Amahusu

Satu jam perjalanan dari Bandara Pattimura di Laha, akhirnya aku tiba di Kampung Wakan, Amahusu. Waktu kala itu baru menunjukkan pukul 10:00 WIT. Baru saja aku membuka pintu mobil, asap berwarna putih yang tidak begitu tebal terlihat membumbung tinggi ke atas dari salah satu rumah. Agar tidak semakin larut dalam rasa penasaran akan asap tersebut, aku menutup pintu mobil dan bergegas menuruni tangga menuju ke rumah dimana asap itu berasal.

Seorang oma tua terlihat sedang mencungkil sesuatu keluar dari wadahnya dan wanita lebih muda yang ada di sebelahnya sibuk mengipas kayu bakar yang menyala agar apinya tidak padam. Tidak ingin mengganggu aktivitas mereka, aku pun hanya memperhatikan kedua wanita tersebut dari jarak yang agak jauh. Setelah berhasil mengeluarkan sesuatu tadi dari wadahnya, sang oma memerintahkan wanita disebelahnya untuk memanaskan wadah itu kembali di atas kayu bakar yang ia kipasi.

“Nyong, kemari. Coba dulu ini. Pasti belum sarapan toh?” tanya oma yang ternyata ditujukan kepadaku. Dengan sedikit ragu tapi mau, aku menghampiri oma yang sudah meletakkannya di atas sebuah papan kayu. “Ayo, nyong dimakan. Panas-panas lebih enak” pinta oma. Berhubung perut juga sudah lapar, aku langsung menyambarnya tanpa bertanya nama dari makanan tersebut.  Satu lempeng yang sudah tersaji aku makan dan kemudian disusul dengan satu lempeng lagi dan lagi hingga tak tersisa.

Oma Silooy dengan penuh kecakapan mengeluarkan sagu dari dalam vorna

Sagu Gula ronde pertama yang sudah matang dan siap saya santap

“Enak sekali ini Oma. Dong pung manis beda. Apa dia pung nama?” tanyaku.

“Ini Sagu Gula, nyong. Makanan asli dari Maluku” jawab Oma dengan penuh semangat.

Harus diakui memang Sagu Gula buatan oma ini sangat manis, namun manisnya tidak terlalu tajam, sedikit berbeda dari manisnya gula yang ditaruh pada minuman. Mungkin ini alasan kenapa orang-orang Ambon itu manis, sedari kecil mereka sudah disuguhi dengan Sagu Gula 🙂

Penasaran bagaimana cara pembuatannya dan ditambah dengan keinginan lidah ini untuk mencicipinya lagi, aku pun meminta oma untuk menunjukkan cara membuat Sagu Gula ini.

Cara Pembuatan

Sebelum masuk ke tahap pembuatan, aku berkenalan terlebih dahulu dengan oma dan dari perkenalan tersebut aku tahu kalau namanya adalah Tin Silooy. Umurnya tidak bisa dibilang muda lagi, ia sudah menginjak 74 tahun.

Kembali lagi ke tahap pembuatan. Dengan semangat dan aura keibuan yang begitu kuat, Oma Tin menjelaskan kepadaku semua prosesnya dengan pelan dan terperinci. Pertama, diambilnya wadah untuk meletakkan sagu dan gula yang disebut dengan vorna. Satu vorna terdiri atas 14 lempeng, 7 baris di bagian kiri dan 7 baris di bagian kanan. Vorna yang kosong kemudian dipanaskan dengan posisi menelungkup di atas api yang menyala. Tidak perlu terlalu lama, cukup 15- 20 menit saja. Oh ya, kalau tidak ada kayu bakar, bisa juga menggunakan kompor. Penggunaan api kompor untuk memanaskan vorna tidak akan mengubah rasa Sagu Gula.

Vorna yang dipanaskan dengan menggunakan kayu bakar

ini lho Gula Saparua dan sagu halus yang digunakan untuk membuat Sagu Gula

Yang hebat dari vorna ini adalah ia tidak mudah retak atau pecah ketika dipanaskan, padahal vorna ini terbuat dari tanah liat yang biasanya akan retak ketika sudah beberapa kali dipanaskan. Apabila sudah cukup panas, vorna akan diangkat dan diletakkan di atas kayu. Proses selanjutnya adalah memasukkan sagu yang sudah dihaluskan ke dalam vorna. “Jangan sampai terlalu penuh, sisakan sedikit ruang di bagian tengah sagu untuk meletakkan gula” ujar Oma Tin. Proses ini harus dilakukan dengan cepat agar suhu vorna masih cukup panas untuk membuat sagu mengeras.

Gula yang dipakai juga tidak bisa sembarangan karena akan berpengaruh pada rasa. Oma Tin bilang kalau gula yang dipakai haruslah gula Saparua. Setelah sagu dan gula diletakkan di atas lempeng-lempeng vorna dengan rapi, Oma Tin menutup vorna dengan menggunakan daun pisang dan papan kayu di bagian atasnya. Proses ini dilakukan guna menjaga agar panas tidak keluar lewat bagian atas dan panas di dalam vorna tersebar merata. Diamkan selama kurang lebih 10 menit agar sagu dan gula benar-benar menyatu dan matang.

Ketika dirasa sudah cukup, Oma mengangkat daun pisang dan kayu lalu dikeluarkannya Sagu Gula dari dalam vorna dengan mencungkilnya menggunakan bambu yang sudah dipotong kecil dan diruncingkan. Harus hati-hati ketika mengeluarkan Sagu Gula dari dalam vorna karena vorna masih dalam keadaan yang cukup panas. Terlihat sekali kalau Oma Tin adalah “pemain lama”. Dia tidak membutuhkan alat bantu untuk memegang vorna yang masih panas itu. Telapak tangannya seolah sudah sangat akrab dengan panasnya vorna.

Sagu Gula siap untuk ditutup daun pisang

Vorna kosong yang berada di tengah dengan 2 vorna berisi sagu di bagian kiri dan kanannya yang sedang ditutup daun pisang dan kayu

Kini Sagu Gula sudah tersaji dan siap untuk disantap. Kalau dilihat sekilas, sagu gula ini memang terlihat seperti Kue Rangi. Namun dari segi tekstur dan rasa, keduanya sungguhlah berbeda. Proses menyantap Sagu Gula yang masih hangat ini semakin sempurna karena aku menikmatinya sambil ditemani teh hangat dan pemandangan Pantai Ambon yang berada langsung di belakang rumah Oma Tin.

Oma kemudian menyuruh perempuan disebelahnya yang ternyata menantunya untuk kembali membuat Sagu Gula. Rasa-rasanya dia sudah tahu kalau aku tidak akan cukup kenyang dengan porsi satu vorna saja. Sebelum dipanaskan kembali, vorna harus dibersihkan. Caranya mudah, cukup gunakan kuas yang dicelupkan ke dalam air lalu oleskan pada dasar lempeng-lempeng vorna guna mengusir sisa-sisa sagu yang masih menempel.

Curhatan Oma

Peletakkan gula Saparua sebelum vorna ditutup dengan daun pisang yang dilakukan oleh menantu oma

Sagu Gula dengan bambu yang digunakan untuk mencungkil Sagu keluar dari vorna

Dibiarkannya menantunya menyiapkan Sagu Gula seorang diri dan Oma Tin memutuskan untuk menemaniku. Sembari aku menikmati Sagu Gula ronde kedua, Oma Tin bercerita tentang pengalamannya membuat Sagu Gula ini. Kemampuannya sudah sangat teruji dan tidak perlu diragukan sebab ia sudah membuat sagu gula sejak usia 17 tahun. Hal tersebut berarti Oma Tin sudah melakukannya selama 57 tahun dan akan terus melakukannya sampai akhir hayatnya.

Oma berkisah kalau tahun 80an, dia dan keluarga pernah diterbangkan langsung dari Ambon ke Jakarta. Salah satu istri pejabat pada jaman orde baru meminta oma untuk membuat Sagu Gula langsung pada acara pernikahan anaknya. Tidak tanggung-tanggung, biaya pembelian sagu, tiket pulang pergi pesawat sekeluarga, serta akomodasi di Jakarta ditanggung semua oleh pejabat tersebut.

Yang agak lucu adalah ketika oma bilang kalau yang dibawa ke Jakarta bukanlah sagu yang sudah halus seperti saat oma membuat sagu gula tadi. Pohon sagu yang baru ditebang bulat-bulat, bahkan masih ada daunnya, itulah yang dibawa langsung menuju Jakarta. Setibanya di Jakarta barulah sagu tersebut dihaluskan. Dibutuhkan 3x proses penghalusan untuk bisa mendapatkan sagu yang halus dan pas.

Baca juga: Rincian Biaya Baronda Maluku Tengah & Ambon 6 Hari 5 Malam

“Sekarang ini su seng bisa lai (sudah tidak bisa lagi) masak Sagu Gula di gedung Jakarta. Kalau ada api besar di dalam gedung, nanti air dari atap keluar vor (untuk) kasih mati api.” tutur oma. Seketika itu juga aku langsung tertawa mendengar penjelasan oma dengan logat Ambonnya yang aku rasa begitu polos.

Diusianya yang sudah tidak muda lagi ini, oma masih sanggup berjalan dengan baik. Bahkan saya sempat melihat oma masih sanggup untuk mengangkat kursi. Kemampuannya membuat sagu gula didapatnya dari orang tuanya dan kini oma meneruskannya kepada anak-anak dan menantunya.

Oma yang baru saja memberikan Sagu Gula kepada beberapa orang yang datang ke rumahnya

Foto Bersama Oma Tin Silooy

“Sekarang su seng banyak lai (sudah tidak banyak lagi) nyong yang mau buat Sagu Gula.” ujar Oma. Oma ingin agar Sagu Gula ini jangan sampai hilang tergerus oleh modernisasi makanan yang sudah banyak masuk ke Ambon. Karena Sagu Gula ini bukan hanya sekedar makanan tapi juga jati diri orang Ambon.

Tidak setiap hari Oma Tin membuat Sagu Gula seperti ini, hanya hari-hari besar saja atau ketika ada pesanan. Seperti saat aku datang ini contohnya, oma memasak karena aka ada bantuan pemberian alat musik untuk sanggar musik di rumahnya oleh suatu badan milik pemerintah. Sebagai makanan untuk para tamu, oma memilih untuk menghidangkan Sagu Gula kepada kami dan juga beberapa anggota DPRD yang juga turut datang.

Telisik punya telisik, Sagu Gula Oma Tin ini sudah sampai Belanda lho. Hebat kan? Sagu Gula ini memang bisa bertahan 5-7 hari tanpa bahan pengawet. Untuk memanaskannya kembali, kita hanya perlu meletakkannya di dalam magic com. Jadi bisa banget untuk dibawa pulang lho.

Jenis Sagu Lainnya

Sagu Vorna: sagu yang setelah dipanaskan lalu dijemur dan dikeringkan hingga mengeras

Hasil olahan sagu tumang yang kita kenal dengan nama Papeda.
Pic via ini

Berbagai macam olahan dapat dibuat dari sagu. Ada lagi jenis lainnya yang bernama Sagu Vorna. Sediki berbeda dengan Sagu Gula, proses pembuatan Sagu Vorna sedikit lebih panjang. Setelah dikeluarkan dari dalam vorna, Sagu Vorna lantas akan dijemur hingga kering dan benar-benar mengeras. Sagu Vorna ini usianya lebih panjang lagi dibandingkan Sagu Gula, bisa sampai berbulan-bulan.

Cara memakannya pun beda. Sagu Vorna haruslah direndam di dalam teh hangat sebelum disantap agar sagu tersebut dapat cair. Kalau mau dimakan seperti itu tanpa dicelupkan juga boleh. Tinggal nanti akhirnya dilihat, apakah sagu Vorna yang patah atau gigimu yang patah.

Jenis lainnya yang sudah cukup akrab ditelinga orang Indonesia adalah Sagu Tumang. Olahan Sagu Tumang yang disiram dengan air panas akan menghasilkan sebuah makanan yang kita kenal dengan nama Papeda.

****

Terima kasih Oma Tin untuk waktunya dan pengetahuannya yang menambah pengetahuanku akan khasanah kuliner Indonesia. Kiranya Oma Tin Silooy diberkati umur panjang sehingga terus dapat menyajikan Sagu Gula untuk banyak orang dan juga Sagu Gula ini terus dapat lestari hingga beberapa puluh bahkan ratus tahun kedepan.

Nothing is better than going home to family and eating good food and relaxing.
— Irina Shayk

Comments

comments

Powered by Facebook Comments

Seorang pria yang sedang terus belajar menulis. Alasan menulisnya simple saja, karena "tertampar" oleh kalimat dari Pramoedya yang berbunyi: Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian.