Ijen Shelter: Penginapan Nyaman di Kaki Gunung Ijen

Kalau kalian bertanya tempat menginap apa yang enak, nyaman dan murah untuk menuju Gunung Ijen, saya akan dengan lantang dan pasti menjawab IJEN SHELTER. Hal tersebut bukan karena saya dibayar oleh mereka, tapi karena saya sudah menginap di sana dan merasakan bagaimana nikmatnya menginap di IJEN SHELTER.

Usai berkeliling Taman Nasional Baluran yang saat itu sedang menguning, saya dan beberapa teman memutuskan untuk kembali menuju ke penginapan. Berkeliling sabana yang siang itu begitu panas membuat kami kehilangan banyak tenaga. Lelah tapi menyenangkan, letih tapi menggembirakan. Kira-kira seperti itulah yang kami rasakan. Namun untuk benar-benar langsung menuju ke penginapan bukanlah ide yang bagus. Perut harus diisi terlebih dahulu sebelum badan ini bisa diistirahatkan.

Jarak dari Taman Nasional Baluran ke Ijen Shelter

Usai menyantap makanan di salah satu restoran di pusat kota Banyuwangi, dengan hanya bermodalkan aplikasi penunjuk arah pada smartphone, kami mengarahkan kendaraan kami menuju Licin. Ya, kalian sedang tidak salah baca. Licin merupakan kecamatan dimana penginapan kami yang bernama Ijen Shelter berada. Alamat lengkapnya berada di Jl. Raya Lijen, Kelurahan Banjarsari, Kecamatan Licin, Kabupaten Banyuwangi.

Pepohonan dan rumah-rumah warga khas pedesaan menghiasi perjalanan kami menuju Ijen Shelter. Alasan kami (saya, Billy, Monika, Randi & Chris) tidak ragu menekan tombol booking pada salah satu aplikasi pemesanan hotel dan penginapan adalah karena konsep rumah pohon yang ditawarkan oleh Ijen Shelter.

Saat sedang asyik menikmati hijaunya pepohonan, kami harus berhenti sejenak di pinggir jalan karena aplikasi penunjuk arah mengatakan kami sudah tiba di lokasi, padahal kami belum tiba di lokasi. Terdapat sebuah gang yang cukup kecil (hanya muat 1 mobil) dengan sebuah papan bertuliskan “Ijen Shelter”. Kami pun segera menuju ke dalam gang tersebut.

Kurang lebih 10 menit lamanya kami menyusuri gang yang cukup sempit dengan panjang 300 meter itu. Rasa kecewa menemani saya dalam proses penyusuran jalan kecil tersebut. Saat itu saya berpikir, “Kenapa letaknya di pelosok seperti ini? Kenapa lokasinya tidak dipinggir jalan raya utama? Saya pasti sudah salah pilih penginapan.”

Gerbang masuk Ijen Shelter

Parkiran

Sebuah gerbang kayu bertuliskan Ijen Shelter menjadi penanda kalau kami sudah tiba di parkiran penginapan tersebut. Secara perlahan kami keluar dari mobil dan menurunkan semua barang bawaan. Seorang berwajah indo dengan senyum hangatnya terlihat telah menanti kedatangan kami. Ia adalah Daniella, perempuan berdarah Jerman yang merupakan pemilik dari Ijen Shelter .

“Selamat datang dan silahkan masuk. Kamar sudah siap dan kalian bisa langsung menuju ke sana. Ikuti saja jalan berbatu ini dan kalian akan sampai di rumah pohon. Kalau ada apa-apa jangan ragu untuk hubungi saya ya.” katanya dengan penuh semangat dan keramahan. Berhubung sudah lelah, kami langsung berjalan menuju ke rumah pohon sesuai dengan arahannya.

Ijen Shelter ini ternyata cukup luas. Sepanjang perjalanan menuju rumah Pohon saya terpukau dengan tata letak tempat-tempat di Ijen shelter ini dan ketenangan yang ditawarkan. Saya pun dengan segera menarik kembali ucapan saya tadi dan bersyukur karena sudah memilih untuk menginap di sini. Adapun beberapa tempat di Ijen Shelter adalah seperti berikut:

Rumah Pohon

Tampak Belakang yang juga merupakan pintu masuk menuju rumah pohon

Inilah penampakan rumah pohon diambil dari bawah tebing landai tempat ia dibangun.
Pic via FB Ijenshelter

Jujur, alasan utama kami memilih penginapan ini adalah karena konsep rumah pohonnya. Memang tidak seperti Rumah Pohon Suku Korowai yang terletak di atas pohon dengan ketinggian 35 – 40 meter, namun rumah pohon ini cukup besar dan sanggup untuk menampung hingga 5 orang. Rumah pohon memiliki kesan sederhana tapi mewah, menyatu dengan alam dan memberikan ketenangan. Ijen Shelter sukses menghadirkan semua itu dalam rumah pohonnya.

Letak rumah pohon bergaya yang Rumah Using dengan kombinasi kayu dan jerami sebagai atapnya ini menambah keunikan tempat menginap yang satu ini. Letaknya yang berada di pinggir tebing dan terdapat aliran sungai di bawahnya membuat kami tak jarang mendengar suara aliran air yang diselingi oleh suara jangkrik dan katak yang saling bersahutan. Pepohonan di sekitar rumah membuat suasana lebih segar. Betul-betul seperti sedang berada di alam liar.

Teras

Inilah pemandangan awal kala kakimu pertama kali menginjakkan rumah pohon

Ingin rasanya berbaring terus

Pertama kali menginjakkan kaki di Rumah Pohon, saya langsung terpikat dengan terasnya. Peletakkan dua bantal malas di ujung yang mengapit sebuah meja bundar membuat saya ingin rasanya berbaring di sini terus tanpa harus masuk ke dalam kamar. Kalau saja saat itu ada kopi panas yang tersaji di atas meja, pasti saya benar-benar takkan beranjak dari teras ini.  Penggunaan tali yang diikat pada kayu sebagai pagar teras membuat kesan yang simple tapi aman.

Bagaimana dengan pemandangannya? Silahkan kalian lihat dan nilai sendiri. Dengan pepohonan dan langit sebagai atapnya, kami seolah diajak untuk bersyukur atas kenyamanan seperti ini yang seringkali sulit kami dapatkan di perkotaan.

Kamar

Inilah penampakan kamar di rumah pohon. Terdiri dari 4 tempat tidur di bagian bawah dan 1 di bagian atas

Pojok Kanan Atas merupakan letak satu tempat tidur yang terpisah

Saat membuka pintu kaca, 3 tempat tidur ( 2 single bed dan 1 double bed) di bagian bawah langsung terlihat. Di belakangnya terdapat tembok kayu dengan sedikit lukisan simple sebagai latarnya. Sebuah tangga terlihat menuntun ke bagian atas yang merupakan tempat dimana 1 single bed lainnya berada. Ya, rumah pohon ini sanggup memuat 5 orang di dalamnya.

Di setiap kasur sudah diletakkan kelambu di bagian atasnya guna mencegah serangga masuk & mengganggu saat kami tertidur, baik saat siang ataupun malam. Uniknya di sini tidak disediakan selimut melainkan sleeping bag alias kantong tidur. Semua barang bisa diletakkan pada kursi kayu yang ada di ujung depan rumah pohon. Tersedia juga 1 handuk untuk setiap tamu yang akan menginap di sini. Benar-benar nyaman 🙂

Kamar Mandi

Kamar mandi yang terletak di samping kamar

Bagian dalam kamar mandi

Dari semua bagian rumah pohon, hanya kamar mandi ini yang sedikit berbeda. Pintu dan kerangka atap masih menggunakan kayu, tapi temboknya terbuat dari batu granit. Tenang saja, penggunaan batu ini tidak mengurangi kesan “alam” dari rumah kayu ini. Justru perpaduannya menciptakan nuansa yang istimewa.

Dari segi luas ruangan, kamar mandi ini sangat nyaman karena cukup luas. Tempat pancuran terpisah agak jauh dari kloset duduk yang disediakan. Untuk yang suka mandi dengan menggunakan air hangat, kalian tidak perlu khawatir karena Ijen Shelter menyediakan water heater. Kalau hanya ingin menyikat gigi atau sekedar cuci muka, terdapat sebuah wastafel yang terbuat dari wajan di depan pintu kamar mandi.

Restoran & Taman

 

Sebelum mencapai Rumah Pohon, kami bisa melihat adanya sebuah taman yang luas dengan restoran bambu yang cukup besar. Namun karena kami harus meletakkan barang-barang di Rumah Pohon terlebih dahulu, kami pun harus menunda niat untuk mampir ke restoran tersebut.

Alih-alih merebahkan diri di kasur dan mendapat dekapan hangat darinya setelah meletakkan barang seperti rencana awal, kami justru langsung menuju restoran ini. Mata ini sudah terlanjur melihat indahnya taman dan restoran ini di perjalanan tadi. Terlalu sayang rasanya menggunakan waktu untuk beristirahat. Badan yang tadinya lemas pun seketika bersemangat kembali.

Luas kan tamannya?

Jangan lupa difollow ya

Beberapa meja kayu yang menambah kenyamanan bersantai di taman

Bermacam makanan dan minuman bisa dipesan di sini. Kami pun bisa memilih ingin makan di dalam atau di luar. Jika ingin makan di luar maka terdapat beberapa kursi kayu dengan berbagai bentuk untuk kami duduk. Tentulah kami memilih untuk bersantai di bagian luar. Membunuh waktu dan menghabiskan senja di taman ini adalah salah satu kegiatan yang wajib dicoba kala menginap di Ijen Shelter.

Restoran ini juga bisa disewa untuk acara lho, seperti arisan, reuni angkatan, rapat, dan beberapa kegiatan lainnya. Pihak Ijen Shelter juga menyediakan sound system dan beberapa alat musik untuk yang mau menyumbang suara di tempat ini. Taman yangluas juga cocok digunakan untuk membuat api unggun di malam hari.

Area Panahan

2 jomblo yang sering gagal menembak hati wanita terlihat sedang berlatih

Nah, salah satu fasilitas yang unik dari Ijen Shelter adalah disediakannya area panahan. Terdapat 2 busur dengan beberapa anak panah dan 2 papan target yang bisa digunakan untuk bermain. Lokasinya tepat berada di belakang restoran. Buat kalian yang sering memanah hati wanita tapi sering meleset, rasanya kalian bisa mencoba berlatih di tempat ini.

Ruang Sholat

ruang sholat

Buat yang beragama Islam dan ingin melakukan ibadah Sholat, Ijen Shelter juga menyediakan tempat sholat outdoor yang bisa dijumpai di bagian belakang arena memanah, tidak jauh dari restoran.

Testimonial

Selama saya menginap di Ijen Shelter, meskipun hanya satu malam, saya merasa sangat kerasan. Daniella orangnya sangat ramah dan tidak ragu untuk mengobrol & melayani para tamunya. Staff di sini pun orangnya sangat santun dan kerjanya cukup cepat.

Daniella juga orangnya cukup fleksibel. Ketika saya dan teman-teman check out jam 12 malam untuk melihat api biru di Kawah Ijen, ia mengizinkan kami untuk mengubah jatah sarapan kami menjadi makan malam. Sesuatu hal yang kecil tapi cukup mengena di hati saya.

kamar yang waktu itu sedang dibangun

Dapur milik Ijen Shelter

Buat kalian yang mau menginap di Ijen Shelter, kalian bisa merogoh kocek sebesar Rp 500.000 per malamnya untuk menginap di rumah pohon (itu biaya menginap saya November 2017). Cukup murah bukan? Biaya tersebut sudah termasuk dengan sarapan dan fasilitas free wifi yang bisa kalian dapatkan di sini.

Sejauh ini hanya ada 1 rumah pohon di sini. Jadi kalian harus beradu cepat dengan tamu yang lain dalam hal memesan kamar apabila ingin menginap di sini. Proses pembangunan kamar lainnya sedang berlangsung ketika saya berkunjung ke sini. Semoga saja kamar kedua tersebut kini sudah rampung dan sudah bisa disewakan juga.

Untuk yang ingin berkeliling Banyuwangi namun belum memiliki itinerary dan atau sewa kendaraan, kalian bisa menghubungi Ijen Shelter karena mereka juga memiliki paket wisata untuk berkeliling Banyuwangi. Enak kan?

Saran

Penginapan bagus bukan berarti tanpa kekurangan, ada beberapa masukan untuk Ijen Shelter:

  1. Rasanya perlu meletakkan kipas angin di dalam penginapan. Apabila matahari sedang menyengat dan tidak ada angin yang berhembus maka kondisi di dalam rumah pohon menjadi cukup panas.
  2. Access point untuk wifi rasanya perlu diperbanyak karena yang saya rasakan kemarin signal wifi hanya sampai di taman dan tidak menyentuh area rumah pohon.

Untuk voyagers yang ingin menginap, berikut beberapa saran yang bisa saya berikan:

  1. Pesanlah dari jauh-jauh hari apabia ingin menginap di tempat ini karena rumah pohon hanya ada 1 (satu lagi sedang dibangun). Pesan bisa dilakukan melalui booking.com
  2. Jangan ragu untuk bertanya kepada Daniella sebelum kamu memesan. Dia akan dengan senang hati menjawab pertanyaan kamu sesuai dengan kemampuannya.
  3. selain pengguna Telk*****, jangan harapmendapat signal internet. Kalau hanya sekedar signal telepon sih ada.

Kontak

Daniella → 081236028474 

Nilai

Untuk skala 10, saya memberikan nilai 9 untuk Ijen Shelter.

A man travels the world over in search of what he needs and returns home to find it.
— George A. Moore

Comments

comments

Powered by Facebook Comments

Darius Go Reinnamah

Twitter: @dgoreinnamah | IG: @dgoreinnamah | FB: dgoreinnamah | youtube: Darius Alexander Go Reinnamah | http://goreinnamah.com

You may also like...