Jeniper: Si Manis dari Kuningan

Saat tiba pertama kali di salah satu kantor pemerintahan Kabupaten Kuningan untuk urusan kerja, saya yang ditemani beberapa orang rekan langsung disambut oleh Bapak Kepala Pemerintahan tersebut. Sambutan berlangsung tidak begitu meriah karena memang kunjungan kerja saya kali itu hanya untuk menerbitkan sebuah Sertifikat Digital yang akan digunakan pada aplikasi perizinan mereka.

Dalam waktu 2 jam, beberapa Sertifikat Digital sudah berhasil diterbitkan dan bersamaan dengan hal tersebut, maka pekerjaan saya sudah selesai saat itu juga. Sebelum pulang, Pak Kepala tiba-tiba bertanya kepada saya, “Sudah tiba di Kuningan kan? Sudah bertemu dengan Jeniper belum?”

Saya yang saat itu memang merasa belum pernah bertemu dengan sosok bernama Jeniper pun menggelengkan kepala sebagai tanda kalau saya belum berjumpa dengannya.

Pak Kepala lantas langsung merespon gelengan kepala saya dengan berkata, “Kalau begitu, jangan pulang dulu ya. Tunggu sekitar 15 menit biar nanti bawahan saya bawa Jeniper ke sini untuk kamu coba.”

Mendengar ucapan Pak Kepala tersebut, beberapa pertanyaan langsung hinggap di dalam kepala ini. “Apakah iya si Jeniper itu sosok yang sepenting itu sampai saya harus berjumpa dengannya?” , “Memangnya kenapa kalau saya tidak berjumpa dengan Jeniper?” , “Kenapa tiba-tiba Pak Kepala ingin mempertemukan saya dengan Jeniper?” dan pertanyaan lainnya yang hanya saya biarkan berputar-putar di dalam kepala.

Menangkap kata Jeniper pertama kali, yang ada di otak saya adalah sesosok wanita putih, tinggi dan cantik keturunan Eropa yang berambut pirang dan memiliki kaki jenjang yang menggoda. Dugaan saya nama wanita tersebut bernama Jennifer. Namun karena Pak Kepala itu orang Sunda dan umumnya orang-orang Sunda memiliki kesulitan bila bertemu dengan kata yang mengandung huruf “F” atau “V”, maka berubahlah huruf “F” itu menjadi “P” dan dipanggillah ia dengan nama Jeniper.

Terserahlah yang mau dipertemukan dengan saya itu nanti sosoknya seperti apa. Kalau seperti Jeniper Lopez ya Alhamdulilah, jika seperti Jeniper Anniston ya puji syukur, kalau seperti Jeniper Love Hewit ya gak nolak. Tapi semeleset-melesetnya dari 3 perkiraan saya tadi, paling tidak mirip Jeniper Dunn lah.

Kebingungan saya tidak berhenti sampai di situ. Masih ada bagian dari ucapan Pak Kepala yang membuat saya bertanya-tanya yaitu ketika tadi dia bilang “…… bawa Jeniper ke sini untuk kamu COBA”. Kok dicoba? Cobanya gimana nih? Ya masa iya kayak gitu. “Baru pertama ketemu kok langsung di service beginian”, pikir saya dalam hati.

Pertemuan yang Tidak Diharapkan

Untungnya bawahan dari Pak Kepala cepat datang sehingga pertanyaan-pertanyaan tadi tidak dibiarkan betengger terlalu lama di kepala ini. Bawahannya datang dengan membawa sebuah kotak kardus berukuran tidak begitu besar, namun tidak begitu kecil juga. Diletakkannya kotak tersebut di depan saya dan Pak Kepala langsung mempersilakan saya untuk membuka kotak tersebut sambil berkata, “Itu ada si Jeniper di dalam. Sok atuh kotaknya dibuka dan dicoba Jenipernya”

Didorong rasa penasaran dan rasa kesal yang jadi satu karena ternyata Jeniper bukanlah sesosok wanita cantik yang bernama Jennifer, saya pun segera membuka kotak tersebut. Dengan cepat saya merobek bungkus kotak dan mengeluarkan isinya.

Ternyata eh ternyata, Jeniper merupakan minuman kemasan khas Kuningan yang biasa dijadikan oleh-oleh. Jeniper merupakan akronim dari Jeruk Nipis Peras, yakni minuman rasa jeruk nipis yang mengandung vitamin B1 dan vitamin C yang tinggi. Pantas saja Pak Kepala tadi meminta saya untuk mencobanya. Tak disangka, ternyata Pak Kepala sungguh peduli akan kesehatan saya sehingga memberikan saya minuman yang kaya akan khasiat ini. Sekarang saya tahu kenapa saya harus berjumpa dengan Jeniper.

Sejarah Jeniper

Si Jeruk Nipis Peras.
Pic via ini

Jeruk Nipis Peras ini rupanya sudah ada sejak tahun 1996. Bermula dari percobaan selama 1 tahun yang dilakukan oleh sosok bernama (Alm) Kardono Sastrasuhadja untuk membuat minuman dari sari jeruk nipis, akhirnya lahirlah sebuah formula yang cocok untuk menghasilkan sari jeruk nipis yang pas.

Awalnya formula sari jeruk nipis ini digunakan oleh beberapa pelaku usaha di Kuningan, namun tidak berhasil. Walhasil, Kardono bersama sang istri, Ny Tien pun membuat Industri rumahan di kediaman mereka dan menamakan produk mereka JENIPER. Perjuangan suami istri tesebut tidak sia-sia karena kini Jeniper sudah menjadi icon minuman populer di bumi Ceremai dan juga salah satu minuman kebanggan Indonesia. (sumber: ini)

Buat saya, penamaan Jeniper kepada produk ini merupakan suatu hal yang jenius. Namanya terkesan kebule-bulean tapi tetap meninggalkan unsur kedaerahan yang khas dengan masyarakat Sunda.

Jenis Jeniper

Ada 2 jenis yang bisa kalian coba atau beli sebagai oleh-oleh. Yang pertama adalah kemasan langsung diminum dan yang kedua adalah kemasan sirup.

Untuk kemasan langsung minum, bentuknya adalah botol berukuran 120 ml dan dijual dalam bentuk paket. Paket pertama berisi 10 botol dan yang paket kedua berisi 20 botol.

Edisi minum langsung
pic via ini

Kemasan Sirup
Pic via ini

Sedangkan untuk kemasan sirup, ukuran tiap botolnya kurang lebih mampu menampung hingga volume 650 ml. Ada 3 pilihan paket yang bisa kalian beli untuk kemasan sirup ini. Paket dus berisi 3 botol, isi 6 botol dan isi 12 botol. Untuk cara minumnya sama seperti sirup pada umumnya. Tuangkan sedikit sirup pada gelas, lalu tambahkan air secukupnya. Jangan sampai sirupnya yang lebih banyak dari airnya karena nanti akan telalu manis. Cukup kamu aja yang manis banget, Jenipernya jangan *apasihhh*

Untuk harganya sendiri, kemasan langsung minum dihargai sekitar Rp 5.000/botol dan Rp 25.000/botol untuk kemasan sirup.

Manfaat Jeruk Nipis Peras

Sudahkah kamu minum ini?

Jeniper ini banyak sekali manfaatnya. Itulah mengapa kita disarankan untuk mengkonsumsi minuman ini setiap harinya. Berikut ini beberapa manfaat dari Jeniper:

  • Menyeimbangkan Asam Lambung
    Asam Lambung yang tidak seimbang dapat menyebabkan penyakit maag. Dengan meminum Jeniper maka sari jeruk nipis yang masuk ke dalam tubuh akan berubah menjadi alkaline yang mampu menyeimbangkan asam lambung.
  • Meningkatkan Sistem Imun
    Vitamin C yang terkandung di dalam minuman ini akan membantu tubuh untuk tetap terjaga dari berbagai serangan penyakit.
  • Menurunkan Berat Badan
    Untuk para wanita atau pria yang ingin menurunkan berat badan, coba minum ini deh. Kandungan serat pangan yang ada di dalamnya bisa membantu kita untuk menghilangkan lemak dalam tubuh.
  • Kebugaran
    Minuman ini dipercaya dapat mengembalikan kebugaran sebab mengandung vitamin C yang tinggi.
  • Mengobati Panas Dalam dan Sariawan
    Gejala panas dalam dan Sariawan bisa dikurangi dengan mengkonsumsi minuman ini secara rutin
  • Memperlancar Pencernaan
    Saat ini banyak sekali produk obat bagi masalah pencernaan yang mengandung sari jeruk nipis di dalamnya. Kenapa begitu? Karena kandungan serat dan asam yang cukup tinggi dalam sari jeruk nipis memang mampu menyembuhkan berbagai macam masalah pencernaan
  • Detoksifikasi Alami
    Flavanoid bernama Hesperidin yang ada di dalam jeruk nipis terbukti mampu menurunan kadar kolestrol dan trigliserida.

****

Itu tadi sosok dibalik nama Jeniper. Sekarang sudah pada tau kan? Jadi kalau nanti kalian ada kesempatan untuk mampir ke Kuningan, jangan lupa untuk beli minuman ini ya. Hadiahkan orang-orang yang kalian sayang dengan minuman kesehatan yang bermanfaat bagi tubuh.

Seperti harapan Pak Ridwan Kamil, kita doakan juga agar minuman ini bisa Go Internasional dan semakin dikenal banyak orang.

Buat yang ingin tahu lebih banyak soal Jeniper, jangan ragu untuk kunjungi langsung website-nya. Mereka buka pemesanan secara online juga lho.

Alamat Toko Jeniper

Jl. Raya Ciawigebang No. 116, Ciawigebang, Kabupaten Kuningan. 45591

Website

Disini

Instagram

@jeniperofficial

The excitement of vitamins, nutrition and metabolism permeated the environment.
— Paul D. Boyer

Comments

comments

Powered by Facebook Comments

Seorang pria yang sedang terus belajar menulis. Alasan menulisnya simple saja, karena "tertampar" oleh kalimat dari Pramoedya yang berbunyi: Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian.