• Home
  • /
  • Destinasi
  • /
  • Cung Lin Tze, Tempat Peristirahatan Terakhir di Utara Jakarta

Cung Lin Tze, Tempat Peristirahatan Terakhir di Utara Jakarta

Setiap insan yang hidup pasti akan berhadapan dengan kematian. Kita tidak tahu kapan kematian itu akan datang, tapi kita bisa mempersiapkan diri untuk hal tersebut. Jadi sekiranya nanti kematian itu menjemput, kita sudah siap dan tak perlu takut.

Dengan lembut angin membelai wajahku yang cukup berkeringat siang itu dan mengusir rasa panas yang membuntuti selama 1 jam ke belakang. Kehadirannya sungguh tepat, mirip seperti hadirnya oase yang muncul bagi para musafir di padang gurun. Bersama teman-teman Jakarta Walking Tour, saya baru saja berjalan menyusuri kampung pengasinan ikan di Utara Jakarta, Cilincing tepatnya.

Kini kami sudah beranjak ke tempat lain. Kaki ini sudah menapakkan dasarnya di sebuah aula terbuka, aula milik Krematorium Cilincing, krematorium tertua yang ada di Jakarta. Lokasinya tidak begitu jauh dari kampung pengasinan ikan tadi, kurang lebih hanya 10 menit berjalan kaki dari sana. Namun karena cuaca begitu panas, perjalanan kampung pengasinan ikan – Krematorium Cilincing terasa begitu melelahkan. Di aula itulah kami beristirahat sejenak untuk mengisi kembali tenaga kami.

Para Peserta Walking Tour bersama Jakarta Good Guide yang dipimpin oleh Mas Huans

Tempat Kremasi Tradisional yang dijaga seekor anjing. DI tempat ini jenazah dibakar bersama dengan kayu-kayu bakar

Tempat Kremasi model oven

Usai semua peserta berkumpul di aula  tersebut, Mas Huans yang berlaku sebagai guide kami dari Jakarta Good Guide saat itu langsung menjelaskan sedikit mengenai krematorium ini. Saya tidak begitu mendengar apa penjelasannya. Perhatian saya langsung tertuju pada tempat kremasi yang ada di kiri, kanan dan belakang aula ini. Entah mengapa kematian terasa begitu dekat saat melihat tempat-tempat kremasi tersebut. Meskipun terasa begitu dekat, namun saat itu kematian tidaklah begitu menakutkan. Berbeda sekali dengan di rumah, terkadang ketika saya sedang berdiam di kamar, bayangan akan kematian itu datang menghantui dan membuat saya takut.

Rampung memberi sedikit penjelasan, kami dibebaskan untuk berkeliling kawasan krematorium. Ada beberapa gedung di bagian belakang tempat kremasi ini yang bisa kami kunjungi. Saya yang sedari tadi sudah tidak konsentrasi dengan perkataan mas Huans dan lebih sibuk mengamati lingkungan sekitar pun sudah tahu harus mengunjungi bangunan yang mana. Sebuah patung Buddha langsung menarik perhatian saya.

Sebuah Renungan di Rumah Abu Cung Lin Tze

Rumah Penitipan Abu Cung Lin Tze yang didepannya terdapat Patung Buddha berukuran besar

Sang Buddha

Patung Buddha yang besarnya kurang lebih 10x badan saya dengan jubah berwarna kuning sambil memegang Pagoda diletakkan persis di depan sebuah bangunan yang bertuliskan “Gedung Penitipan Abu Jenazah Cung Lin Tze“. Inilah alasan saya tertarik mengunjungi bangunan ini. Warna kuning yang begitu menyala diantara warna-warna di sekitarnya membuat perhatian saya otomatis tertuju ke arahnya.

Saat hendak masuk ke dalam rumah abu, kepala ini tiba-tiba saja mengangguk ke arah Patung Buddha tersebut seolah meminta izin untuk masuk. Saya tidak tahu mengapa saya melakukan hal tersebut. Kejadian itu spontan saja saya lakukan. Lucunya lagi, saya merasa mendapat respon balikan dari Patung Buddha yang diam itu. Wajahnya yang tersenyum seolah menjadi approval untuk saya memasuki bangunan bagi para manusia yang sudah tidak memiliki raga lagi.

Memasuki kolumbarium, saya tidak langsung berkeliling. Kurang lebih selama 5 menit saya terdiam di depan pintu memandangi tempat-tempat penyimpanan abu jenazah yang begitu banyak. Abu-abu jenazah tersimpan rapi dalam wadah dan diletakkan dalam lemari kecil. Sebuah meja berukirkan naga terlihat berada di depan saya. Saat memandang tempat penyimpanan abu itulah saya merasa diri saya begitu kecil dan menyadari kalau hidup ini hanya sementara. Sambil terdiam, saya mengingat kembali apa saja yang telah kulakukan selama hidup ini. “Apakah hidup saya sudah berguna buat orang lain?” gumam saya dalam hati.

Menatap Kematian

Kontemplasi saya terhenti kala suara dari seorang kakek tua meretakkan tembok renungan itu. Suaranya tidak terlalu keras tapi cukup untuk kembali menyadarkan saya. Dengan senyumnya yang hangat ia mempersilakan saya untuk berkeliling. Kakek tua yang saya lupa namanya itu berpesan untuk tidak menyentuh apapun tanpa izin darinya.

Tak ingin berkeliling tanpa ada yang bercerita mengenai tempat ini, saya pun meminta kakek tersebut untuk menemani saya. Setelah perkenalan singkat, barulah saya tahu kalau kakek tersebut adalah penjaga kolumbarium ini. Sambil berjalan pelan, kakek mulai bercita mengenai tempat ini.

Tempat Sang Abu

Umumnya, mereka yang menyimpan abu di Cung Lin Tze ini beragama Kristen dan Buddha. Kakek menjelaskan kalau Rumah Abu Cung Lin Tze ini sudah penuh. Tidak ada lagi abu yang bisa masuk kecuali abu tersebut merupakan bagian dari salah satu keluarga yang terlebih dahulu memiliki tempat di sini. Namun masalah itu sudah teratasi karena di bagian depan, dekat dengan krematorium, sudah dibangun kolumbarium yang baru.

Sambil menunjuk ke arah lemari penyimpanan abu, kakek menjelaskan fungsi huruf dan angka romawi yang terletak di bagian paling atas. Huruf menunjukkan baris sedangkan angka romawi menunjukkan kolom. Terdapat kurang lebih 5 baris dan 30an kolom di Rumah Abu Cung Lin Tze ini. Penggunaan huruf dan kolom ini semata untuk memudahkan penyimpanan dan pengambilan abu bagi keluarga yang ingin berziarah.

Kolumbarium yang baru untuk mengatasi Cung Lin Tze yang sudah penuh

Huruf yang menjadi penanda baris

“Berapa harga penyimpanan abu di tempat ini, kek?” tanya saya penasaran. Dengan tetap melihat ke arah tempat penyimpanan abu, kakek itu bilang kalau harga ditentukan dari posisi penyimpanan abu. Baris A adalah baris paling atas, sedangkan baris E adalah baris paling bawah. Semakin tinggi tempat penyimpanan abu, akan semakin murah harganya. Kenapa? Karena abu akan semakin jauh dari fisik peziarah yang datang. “Kalau di baris D dan E kan dekat tuh, abu dapat dilihat dengan jelas. Si peziarah tidak perlu mendongak ke atas untuk melihat abunya.” tandas kakek.

Tanpa terasa kami sudah tiba di meja berukiran naga. “Nah, orang sering salah di sini. Biasanya mereka yang datang akan menyebut meja ini sebagai meja naga, padahal bukan. Meja ini merupakan Meja Marga Para Leluhur. Meja ini menjadi satu elemen penting bagi peziarah yang datang karena di tempat inilah mereka akan berdoa pada leluhur mereka” ungkap kakek.

Tidak jauh dari Meja Marga Para Leluhur, terlihat juga beberapa ornamen dari kertas yang dibentuk menjadi mobil-mobilan, uang, buah-buahan, rumah dan beberapa bentuk lainnya. Menurut penjelasan kakek, ornamen kertas ini akan dibakar bersama jenazah yang akan dikremasi. Benda-benda tersebut dipercaya dapat membantu arwah dari si jenazah di alam lain nanti.

Meja Marga Para Leluhur

Mobil-mobilan dan emas dari kertas yang akan dibakar bersama jenazah

Pemilik Rumah Abu

Sebelum menyudahi pengenalan akan Rumah Abu Cung Lin Tze ini, kakek bercerita sedikit tentang pemilik dari Rumah Abu ini. Abu dari sang ayah pemilik rumah abu ini disimpan pada baris A kolom XXV. Letaknya persis di depan pintu masuk, depan Meja Marga Para Leluhur,  dan berada di posisi paling tinggi. Ukuran ruang penyimpanan abunya pun paling besar di antara yang lainnya.

Di dalam ruang penyimpanan abunya terdapat sebuah foto dengan 2 lampu yang masing-masing berada di kiri dan kanan foto. Menurut kakek, sejak bangunan ini dibangun (akhir 70an) dan abu diletakkan di tempat itu, lampunya sama sekali belum pernah mati dan belum pernah diganti. Fenomena itu menjadi misteri tersendiri bagi sang kakek. Menurutnya, hal itu merupakan simbol kehadiran dari arwah sang pemilik yang terus menjaga tempat ini.

Abu dari orang tua pemilik rumah abu tepat berada di bawah angka romawi XXV

Tata Cara Berziarah

Untuk kita yang datang bukan untuk berziarah, tata cara untuk masuk gedung ini tidaklah begitu rumit. Kita hanya perlu masuk dan menjaga tingkah laku serta tutur kata kita. Tapi bagi yang ingin berziarah, ada beberapa ritual tambahan yang perlu dilakukan:

  1. Saat masuk, peziarah harus sembahyang.
  2. Usai sembahyang, peziarah meminta izin ke kiri dan ke kanan Dewa Penjaga Pintu (Dewa Penjaga Pintu hanya bisa dilihat oleh orang yang memiliki mata batin).
  3. Selanjutnya, peziarah kembali sembahyang dan meminta izin ke Meja Marga Para Leluhur.
  4. Tidak lupa, peziarah juga harus Sembahyang kepada Dewa Bumi (Letaknya ada di baris paling bawah dengan wadah abu yang besar).
  5. Setelah melewati tahap 1-4, keluarga baru bisa menemui almarhum/ah yang abu jenazahnya disimpan dalam wadah.

Dewa Bumi

*****

Dengan berakhirnya penjelasan mengenai tata cara berziarah, berakhir pula kunjungan saya untuk mengenal Cung Lin Tze, tempat peristirahatan terakhir di utara Jakarta ini. Abu yang disimpan di sini umumnya adalah abu yang akan dilarung atau abu yang memang sengaja disimpan agar keluarga bisa dapat terus berziarah.

Dari tempat ini saya bisa belajar kalau kita tidak ada apa-apanya di dunia ini. Setelah mati, kita yang besar ini hanya akan berubah menjadi butiran abu kecil yang akan hilang terkena hempasan dan terlupakan. Tidak akan ada dari kita yang diingat selain kesan, kesan akan kebaikan atau kejahatan yang sudah kita lakukan.

Lokasi

Jl. Kali Baru Timur IV No.4, RT.7/RW.4, Kali Baru, Cilincing, Kota Jakarta Utara, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 14110 (Dekat dengan Pura Segara)

Waktu adalah kehidupan kita dan setiap orang memiliki waktu yang sama. Ketika kita kehilangan waktu kita, maka sebenarnya kita telah kehilangan kehidupan kita.
— Bhiksu Garbha Virya

Comments

comments

Powered by Facebook Comments

Seorang pria yang sedang terus belajar menulis. Alasan menulisnya simple saja, karena "tertampar" oleh kalimat dari Pramoedya yang berbunyi: Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian.