Susah Senang jadi Orang Kupang di Tanah Orang

Kalian pasti sudah tahu dimana itu NTT (Nusa Tenggara Timur) kan? Kalau Kupang pasti tahu juga dong? Itu lho daerah yang menjadi ibu kota provinsi NTT dan juga terkenal akan keindahan alamnya seperti Pulau Semau dan Goa Kristal. Namun kali ini saya tidak akan membahas mengenai keindahan alamnya karena sudah cukup banyak situs yang membahas keindahan alam di NTT dan juga Kupang. Yang mau saya bahas di sini adalah orangnya, yaitu orang Kupang.

Ada apa sih dengan orang Kupang? Beberapa pandangan terlanjur melekat pada orang Kupang yang merantau ke tanah orang. Saking melekatnya, pandangan itu sudah tidak bisa dilepaskan dari kami orang-orang Kupang. Ada senangnya dan ada susahnya juga akibat mendapatkan pandangan-pandangan seperti itu.

Pandangan apa saja sih yang sering orang Kupang dapatkan di tanah orang? Berikut beberapa pengalaman yang berhasil saya rangkum mulai dari  pengalaman saya pribadi sebagai orang Kupang kelahiran Jakarta yang berwajah sangat Kupang, pengalaman salah seorang teman, dan pengalaman beberapa saudara saya, yang saya beri judul Susah Senang jadi Orang Kupang di Tanah Orang

Keras

Banyak orang yang berpikir kalau orang Kupang itu keras, baik kelakuannya atau pemikirannya (kepala batu). Tidak 100% salah memang karena kehidupan dan topografi daerahnya-lah yang membuat banyak orang Kupang seperti itu. Kupang merupakan sebuah daerah yang mendapat julukan Negeri Batu Karang. Kenapa bisa mendapat julukan begitu? Karena memang tanahnya dipenuhi karang. Cangkul tanah untuk bercocok tanam, pasti cangkul akan menghantam karang. Gali tanah untuk mencari mata air, pasti mata bor juga akan menghantam karang. Intinya, kesulitan-kesulitan di tempat kami inilah yang membuat kami menjadi orang yang keras.

Tapi perlu diingat, kami ini keras ya bukan kasar (berbeda lho). Dan jangan beranggapan kalau orang Kupang itu keras di semua hal, ada kalanya juga kami ini lembut. Seperti layaknya sebuah lagu, tidak semua nada harus dinyayikan dengan suara yang keras, ada juga yang harus lembut dan sedikit mendayu-dayu. Begitulah kami, keras di satu sisi tapi lembut di sisi yang lainnya. Kalau kalian menyentuh kami dengan tepat, kalian bisa kok melihat sisi lembut dari kami yang keras ini ūüôā

Pemabuk

Banyak orang beranggapan kalau Orang Kupang ini suka mabuk karena kehidupan kami yang akrab dengan Sopi atau Moke. Sebenarnya kami ini bukan suka mabuk, kami ini hanya suka “minum” tapi kadang kebanyakan sehingga mabuk. Tidak semua orang Kupang suka mabuk kok, banyak juga yang bisa hidup tanpa minum sopi ini. Seperti saya contohnya, saya ini tidak suka minum sopi (kalau sedikit).

Bagi orang Kupang, minum Sopi itu tradisi, tradisi yang dilakukan dalam beberapa upacara adat. Minumnya pun hanya 1-2 sloki saja. Oknumlah yang sering menyalahgunakan Sopi ini dan meminumnya hingga mabuk. Kami sendiri punya panduan mudah untuk minum sopi ini agar tidak mabuk yaitu satu botol itu tradisi, dua botol itu emosi dan 3 botol 100% masuk kantor polisi.

Kain Tenun

“Wah, dari Kupang ya mas (sudah tahu Kupang tapi tetap panggilnya mas). Di sana kan kain tenunnya bagus-bagus ya.” Saya senang sekali jika mendapat respon seperti itu ketika ada orang yang tahu kalau saya orang Kupang. Itu tandanya mereka tahu salah satu keunggulan dari daerah saya, yaitu Kain Tenunnya.

Tapi tak jarang rasa senang itu berubah menjadi malesin ketika mereka tahu kalau saya mau kembali ke Kupang (Umumnya saat natal atau Lebaran).¬†¬†“Nanti pulang jangan lupa bawa oleh-oleh Kain Tenun ya, mas (masih tetap mas).”¬† atau “Eh, nanti gue titip Kain Tenun ya kalau lo balik ke Kupang.” (cuma bilang titip tapi transfer juga nggak).

Maaf-maaf aja nih, kain tenun itu harganya tidak murah, apalagi yang ukurannya besar, motifnya rumit dan menggunakan bahan pewarna alami. Jadi tolong mikirlah kalau minta oleh-oleh dan harap transfer kalau mau titip kain tenun. Jangan¬†nggak¬†transfer tapi¬†nanya¬†dengan ngotot “mana kain gue?” sepulangnya saya dari Kupang.

Flores

Sebut saja Mawar: “Dari mana asalnya?”

Gue: “Oh, Saya dari NTT”

Mawar: “Dimananya mas? (Konsisten memanggil mas)”

Gue: “Saya di Kupang-nya”

Mawar: “Oh, Kupang. Flores ya?”

Gue: *Udah males menanggapi*

Kejadian seperti ini tidak 1-2x menimpa saya, tapi berkali-kali. Awalnya saya kira orang itu sudah mengerti kalau saya orang Kupang, tapi kok ya tetap bertanya “Flores ya?”

Kupang dan Flores memang sama-sama berada di wilayah Nusa Tenggara Timur, tapi Kupang bukan Flores dan Flores bukan Kupang. Jangan menyamaratakan kalau semua orang NTT itu orang Flores. Tentu saya tidak suka kalau saya dipanggil orang Flores, karena memang saya buka orang Flores.

Mungkin hal ini juga dirasakan oleh teman-teman saya yang berasal dari daerah Sumatera Utara. “Oh, orang Medan ya?” Ada yang sering mendengar sapaan seperti itu? Padahal tidak semua orang Sumatera Utara itu orang Medan. Ada orang Berastagi, Kabanjahe, Samosir, dan banyak lagi. Mungkin mereka lebih nyaman kalau dibilang Orang Batak ketimbang Orang Medan. Seperti itulah kurang lebih yang saya rasakan.

Hitam

“Mas ini kan Orang Kupang ya, tapi kok kulitnya putih sih?” itulah salah satu pertanyaan yang pernah diterima oleh teman saya orang Kupang yang memang kulitnya sangat putih. Teman saya ini berkulit putih karena memang nenek moyangnya orang Portugis. Seperti yang kita tahu,¬†NTT merupakan salah satu basis Portugis pada masa penjajahan dulu. Jadi jangan heran kalau ada orang NTT, khususnya Kupang, yang kulitnya putih. Umumnya dari perkawinan silang dengan orang-orang Portugis itulah garis keturunan kulit putih berasal.

Memangnya semua orang Kupang itu harus berkulit hitam, berambut keriting, dan mata menyala ya? Jaman sekarang ini, sudah banyak sekali orang Kupang yang terlahir dengan darah campuran dari berbagai daerah lain di Indonesia, bahkan negara lain di dunia. Jadi kalau bertemu orang Kupang yang berkulit putih, kalian tidak perlu bertanya lagi, “Beneran mas/mbak orang Kupang?”

Debt Collector, Satpam atau Jaga Lahan Sengketa

Itulah 3 pekerjaan yang terlihat begitu melekat bagi orang-orang Kupang yang merantau ke tanah orang. Lihat Satpam yang hitam sedikit, langsung menghakimi kalau dia orang Kupang. Melihat gerombolan orang yang duduk di atas sepeda motor matic sambil memegang communicator dan mengawasi kendaraan yang lewat dengan mata elangnya, langsung dikira orang Timor. Padahal belum tentu juga.

Pandangan orang lain yang seperti itu dan tak jarang membuat mereka takut terhadap kami memang tidak bisa kami hilangkan. Hal tersebut memang sudah ada sejak lama. Yang mau saya katakan adalah tidak semua orang Kupang itu kerjanya hanya itu saja. Ada juga yang berkarir sebagai politisi, ada yang jadi pendeta, ustad, pemain sepak bola, petinju bahkan ilmuwan. Stop menilai bahwa pekerjaan yang cocok untuk kami hanya pekerjaan yang lebih mengandalkan fisik saja.

Jadi jangan lagi datang ke rumah saya lalu bilang, “Us, Tolong bantuin gue dong. Ada temen gue yang¬†ngutang¬†ke gue 12 Juta. Lo bisa tolong tagihin nggak?” Gue PNS, bukan tukang tagih utang.

Air Su Dekat

Saya bersumpah, ini joke paling receh, menyebalkan, ngeselin dan paling saya tidak suka ketika seseorang mengucapkannya demi berusaha mengakrabkan diri dengan saya. Ingin rasanya saya pukul wajah orang yang mengatakan itu kepada saya. Namun hal tersebut biasanya saya tahan demi mengubah image orang Kupang itu orang yang kejam, suka memukul, dan menyeramkan. Saya mencoba memaklumi lelucon kelas rendah tersebut.

Akibat dari iklan suatu produk untuk membantu daerah-daerah yang kesulitan air di NTT, semua orang menganggap kalau semua daerah di NTT sulit air. Padahal tidak semua daerah di NTT itu sulit air, hanya beberapa daerah saja. Saya beri tahu ya, daerah kampung halaman saya itu airnya berlimpah-limpah, bahkan sampai tumpah-tumpah. Di daerah Amarasi, tempat nenek saya tinggal, bahkan ada AIR TERJUN. Airnya digunakan bukan hanya untuk bermain, tapi juga mengairi sawah dan dialirkan ke rumah-rumah warga.

Jadi stop ucapkan kalimat yang kalian anggap lelucon itu kepada kami orang NTT. Sapalah kami dengan melihat banyaknya kelebihan dari daerah yang kami miliki seperti keindahan alamnya dan bukan dari kekurangan kami yang bahkan tidak mewakili keseluruhan dari kami seperti sulit air tadi.

******

Itu tadi beberapa hal yang cukup melekat pada kami orang Kupang di tanah orang. Kami senang ketika ada orang lain yang bisa mempercayakan wilayahnya untuk kami jaga, kami senang ketika orang lain bisa tahu adat dan kebiasaan kami, kami senang ketika orang di suatu daerah bisa menerima kehadiran kami dari tempat nun jauh di timur sana.

Dan kami minta juga agar kalian tidak melihat kami dari sisi negatifnya saja, kami ini juga punya banyak sisi positif. Kalau kalian melihat ada yang salah dari kami, maka tegurlah. Kalau kalian melihat sesuatu yang baik dari kami, pujilah. Kami ini sama seperti kalian juga, sama-sama warga Indonesia. Jangan menghakimi sebelum mengenal kami. Cobalah mendekat dan mengakrabkan diri dengan kami.

dan sebagai penutup, ada beberapa hal yang mau saya bagikan mengenai orang Kupang yang mungkin kalian belum banyak tahu

Lucu, Jago Menyanyi dan Romantis

Kalau ada orang paling lucu di Indonesia, itu sudah pasti orang Kupang. Kami ini memang hobi berguyon. Kalau tertawa pun, kami tidak ingin tertawa seorang diri saja. Kami ingin mengajak orang lain agar sama-sama tertawa dengan kita. Canda kami itu juga simple, apalagi kalau sudah ditambah sopi, kami bisa tertawa sampai pagi.

Orang Kupang itu juga punya suara yang magis. Tidak semua orang Kupang memang tapi kebanyakan. Jangan sampai kami menyanyi di depan kalian. Kalau kami sudah menyanyi, apalagi lagu-lagu cinta, kami pasti akan sangat romantis dan kalian pasti klepek-klepek. Hati-hati kepincut kalau mendengar orang Kupang bernyanyi ya.

Orang Kupang itu kalau bersin saja nada dasarnya pasti C mayor, tidak mungkin yang lain. Suara-suara magis milik orang Kupang ini sudah teruji. Sebut saja Abdul Indonesian Idol yang berhasil menghipnotis juri sekelas Maia Estianty atau paduan suara Mazmur Chorale yang menjuarai World Choir Games di Latvia tahun 2014.

Setia

Mengutip kata dari seorang teman bernama Aliwanisu, orang Timor itu orang paling setia dengan pasangannya. Kami tidak akan cari WIL atau PIL kalau tidak kepepet *lah*. Pasangan kami benar-benar akan kami jaga, jadi jangan coba-coba berani colek beta pung maitua. Kalian juga harus jaga benar-benar pasangan kalian agar tidak terpikat dengan kami orang-orang Kupang.

Tidak ada orang Timor yang rumah tangganya bermasalah kecuali Raul Lemos. Untungnya Raul Lemos itu orang Timor Leste yang sudah beda daratan Timor dengan orang Timor Indonesia.

Toleransi Beragama Tinggi

Toleransi beragama kami orang-orang Kupang itu begitu tinggi. Kalau tidak percaya, datanglah ke Kupang saat Lebaran atau saat Natal. Secara fisik, mungkin kalian tidak akan bisa membedakan mana yang Kristen dan mana yang Islam ketika kami sedang Lebaran atau Natalan karena kami semua merayakannya dengan penuh sukacita.

Saat Lebaran, kami tidak segan menjaga Masjid agar saudara-saudara kami yang muslim bisa beribadah dengan nyaman dan begitu pula sebaliknya saat natal. Jadi jangan coba-coba ganggu kami dengan isu-isu agama. Tidak mempan.

Solidaritas Tinggi

Kami orang Kupang juga terkenal akan solidaritasnya yang tinggi. Kalau ada saudara kami sesama orang Kupang yang terkena musibah seperti kecelakaan, kami tidak ragu untuk membantunya. Hal ini saya alami sendiri ketika saudara sepupu saya mengalami kecelakaan. Setibanya di rumah sakit, saya melihat sudah banyak orang Kupang yang membantunya dan bahkan patungan untuk biaya rumah sakitnya.

Jadi jangan pernah coba untuk mengusik orang Kupang. Kalau salah seorang dari kami diusik, siap-siap kalian diserbu oleh saudara-saudara kami yang lain.

Unity is strength… when there is teamwork and collaboration, wonderful things can be achieved.¬†
–Mattie Stepanek

Comments

comments

Powered by Facebook Comments

Darius Go Reinnamah

Seorang pria yang sedang terus belajar menulis. Alasan menulisnya simple saja, karena "tertampar" oleh kalimat dari Pramoedya yang berbunyi: Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian.