• Home
  • /
  • Tips
  • /
  • Mahameru & Resiko Kematian Demi Sebuah Pencapaian

Mahameru & Resiko Kematian Demi Sebuah Pencapaian

Bagi sebagian pendaki, pengalaman terbaik ketika mendaki gunung adalah bisa berada di puncaknya. Dari titik tertinggi itulah kenikmatan ultimate dari suatu pendakian menurut mereka bisa dirasakan. Bisa dibilang hal tersebut memang ada benarnya. Cakrawala terlihat jelas tanpa ada penghalang, udara dingin memeluk tubuh dengan erat, angin berhembus lepas dan membelai wajah dengan lembut, matahari menyapa begitu dekat, kumpulan awan mengitari dan menghiasi setiap sisi, dan masih banyak lagi.

Kenikmatan-kenikmatan seperti itulah yang selalu dirindukan dan membuat puncak seolah menjadi sebuah keharusan. Perasaan lelah yang menghantui sepanjang perjalanan pendakian pun hilang dalam sekejap tatkala kaki ini menapakkan dasarnya di sebuah titik yang bernama puncak.

Namun mendaki hingga ke puncak bukanlah sesuatu yang mudah dan tanpa resiko. Ada banyak hal yang harus dikorbankan diantaranya waktu, tenaga dan perasaan. Tak jarang resiko yang harus dihadapi untuk bisa tiba di puncak gunung adalah kematian.  Kalau tidak percaya, coba saja googling sudah berapa korban yang yang menjadi “santapan” saat berusaha menggapai sebuah puncak (Puncak gunung mana saja).

Salah satu puncak gunung yang kerap “memakan korban” adalah Mahameru, titik tertinggi dari Gunung Semeru. Beberapa pendaki dari dalam dan luar negeri sudah banyak yang merasakan “kejamnya” rute ke dan dari Mahameru, bahkan ada yang tidak kembali kala berusaha turun dari Mahameru dan jasadnya pun tidak bisa ditemukan. Meskipun begitu, Mahameru tidak pernah sepi peminat. Statusnya sebagai atap tertinggi pula Jawa selalu mengundang para pendaki untuk menggapai singgasana yang dipercaya sebagai puncak para dewa, tempat dimana dewa-dewa berkumpul untuk mengatur dunia.

Berada di Puncak Semeru yag dikelilingi awan

Tim Summit Attack Semeru

Beginilah suasana puncak yang kerap dirindukan

Sudah tahu resiko untuk menggapai Mahameru adalah kematian, lalu kenapa banyak yang tetap nekat melakukan? Sebenarnya pendakian yang dianjurkan di gunung Semeru hanyalah sampai Kalimati, bukan sampai mahameru. Melewati titik itu, atau dengan kata lain ketika pendaki berusaha untuk sampai ke puncak, maka resiko ditanggung sendiri. Proteksi asuransi pun tak berlaku lagi bila sudah melebihi Kalimati.

Namun memang dasar manusia, semakin dilarang semakin dicoba. Ada perasan puas apabila berhasil melampaui sesuatu. Kala berhasil kembali dan “melawan kematian”, maka akan ada memori yang tak terlupakan dan layak untuk bisa diceritakan. Semuanya kembali lagi pada pribadi masing-masing. Mau muncak atau tidak, keputusan ada di tangan kalian.

Nah, buat kalian yang ingin menginjakkan kaki di Mahameru, seperti apasih resiko kematian yang menghantui ketika berusaha untuk mendaki dan turun kembali? Saya akan berusaha membaginya ke dalam 3 bagian penting.

Pendakian Kalimati – Mahameru

Pendakian menuju Mahameru dari Kalimati harus dilakukan pagi-pagi sekali, antara pukul 23:00 – 02:00 WIB. Lamanya perjalanan antara 5-8 jam tergantung dari kekuatan dan kecepatan pendaki. Rasa kantuk pasti mengiringi dan udara yang dingin juga akan terus menyertai. Saat melakukan pendakian, hal yang perlu diperhatikan adalah KONSENTRASI, tolong dicatat KONSENTRASI. Berkonsentrasi di saat kelelahan, tangan yang membeku karena kedinginan atau suasana yang gelap karena minim penerangan memang sulit dilakukan, tapi itulah yang harus dipertahankan.

Perjalanan menggapai Mahameru bukanlah perjalanan yang ringan. Kalau memang meragu, sedari awal lebih baik diurungkan. Perjalanan sungguh akan berat, terutama setelah melewati batas vegetasi. Menurut pendapat saya pribadi, perjalanan pendakian baru benar-benar dimulai setelah melewati batas vegetasi.

Batas vegetasi terlihat jelas

Kurang lebih beginilah gelapnya perjalanan menuju Puncak Semeru

Jalur yang tadinya tanah dan dipenuhi pepohonan akan berubah menjadi jalur berpasir yang dipenuhi bebatuan. Jalur pendakian pun menjadi tidak jelas sebab jalur yang pernah dilewati seseorang akan terhapus dengan sendirinya ketika pasir-pasir itu turun dan menutupinya. Kerja sama dan saling tidak menyusahkan menjadi kunci yang menemani konsentrasi.

Mengapa saya bilang konsentrasi itu penting? Sebab banyak kematian yang terjadi saat mendaki terjadi karena hilangnya konsentrasi. Jadi sudut kemiringan menuju Mahameru itu cukup curam. Tenaga ekstra diperlukan sebab medannya juga berbeda dari jalur tanah. Pada medan berpasir, kaki akan tenggelam ditelan oleh pasir saat menginjakkan telapaknya. Setiap berhasil naik 3 langkah, maka kalian akan turun satu langkah. Cara mendaki pun harus zig zag dan tidak bisa lurus ke atas. Terbayang kan banyaknya tenaga yang dibutuhkan?

Saat mendaki, kalian juga harus menajamkan pendengaran dan fokus pada ucapan dari orang yang ada di depan kalian karena bisa tiba-tiba saja bebatuan dari atas jatuh dan menggelinding ke arah kalian. Ukuran batunya bisa bervariasi, kawan. Mulai dari yang kecil hingga yang besar. Jangan kira yang kecil tidak berbahaya. Batuan kecil yang menggelinding dengan kecepatan tinggi bisa merusak rahang atau bahkan melubangi kepala kalian. Bila kalian fokus, pasti kalian bisa menghindari bebatuan tersebut.

Saat mulai terang, kurang lebih seperti inilah jalur pendakiannya

Pemandangan matahari terbit menjelang puncak

Kalau sudah lihat bendera ini, tandanya kamu sudah berada di Mahameru

Beberapa kejadian kematian yang terjadi saat pendakian umumnya karena terkena batu tadi. Sang pendaki tidak mendengar adanya peringatan dan *boom* batu menghajar dirinya. Bahkan, ada yang saking lelahnya melakukan pendakian, sampai-sampai pendaki tersebut duduk sebentar yang mengakibatkan ketiduran. Lelah, duduk sebentar, lalu angin sepoi-sepoi datang dan terjadilah proses yang namanya ketiduran. Niatnya sih memang cuma duduk, tapi malah ketiduran. Makanya saya bawel banget soal KONSENTRASI saat melakukan pendakian. Tidak boleh lengah sedikitpun.

Saat sedang awas saja masih bisa terkena longsoran batu, apalagi bila ketiduran, kan? Makanya dari awal saya sudah katakan kalau pendakian itu berat, kawan. Pikirkan baik-baik sebelum melakukan agar tidak menyusahkan dan menjadi batu sandungan. Kebijaksanaan dan kesadaran diri yang tinggi benar-benar diperlukan.

Puncak

Setibanya di puncak, keindahan akan menyambut kalian. Nikmatilah pemberian yang Tuhan berikan itu karena kalian sudah bisa mencapainya. Namun ingat, tetaplah berkonsentrasi. Gunung Semeru merupakan gunung yang aktif dengan sebuah kawah bernama Jonggring Saloka yang akan meletus setiap 15 menit sekali. Letusannya akan menghasilkan abu putih cantik yang akan membumbung tinggi lalu hilang tertiup angin.

Terkadang, letupan dari kawah tersebut tidak hanya membawa material pasir tetapi juga batu. Itulah yang wajib diwaspadai. Jangan terlena karena keindahan di atas sana, terlalu sibuk berfoto atau selfie sehingga tidak waspada. Pernah ada sebuah cerita kalau seseorang pernah terkena lontaran batu di bagian kepala. Tidak besar, hanya kecil saja. Namun hantaman tersebut langsung membuatnya tak bernyawa dalam seketika.

Selain batu, yang perlu diwaspadai adalah racun yang ada di puncaknya. Batas pendaki bisa berada di Puncak Mahameru adalah hingga pukul 09:00 WIB. Lewat dari jam tersebut, angin akan berubah jalur ke arah pendakian dengan membawa serta gas beracun. Tentunya akan sangat berbahaya apabila kalian (pendaki) masih berada di sana. Salah satu aktivis terkenal yang mati akibat menghirup racun di puncak Mahameru adalah Soe Hok Gie. Kalian pasti sudah tahu kisahnya dimana ia meninggal bersama salah seorang sahabatnya.

Beginilah dahsyatnya letupan kecil di Mahameru

Letusan dari kawah Jonggring Saloka

View this post on Instagram

Status gunung api di Indonesia dibagi ke dalam 4 tingkatan yaitu aktif normal, waspada, siaga dan awas, dimana Aktif merupakan status yg paling rendah (tingkat 1) dan awas merupakan status yang tertinggi (tingkat 4) Lalu dimana status Gunung Semeru sekarang berada? Gunung Semeru berada pada level 2 yaitu waspada. Apa artinya waspada? Artinya di Gunung Semeru terjadi aktivitas Seismik dan kejadian-kejadian Vulkanik, namun tidak akan terjadi erupsi dalam waktu dekat. (Tolong dibenarkan jika salah) Salah satu kejadian vulkanik yg paling mudah dan sering dilihat adalah terjadinya letusan, bukan magmatik, yang mengandung material abu, uap dan gas. Letusan ini terjadi kurang lebih setiap 15 menit sekali. Setiap kali letusan ini akan terjadi, puncak Semeru akan bergetar dan muncul suara ledakan yang cukup keras, baru setelah itu asap perlahan keluar dan membumbung tinggi lalu hilang tertiup angin. #Semeru #beautiful #Indonesia #wanderlust #nature #happiness #amazing #ranukumbolo #sunrise #tbt #Travel #Traveling #gopro #Traveler #holiday #Instatravel #explorer #instadaily #instagood #visitIndonesia #Heaven #vacation #instagunung #id_pendaki #Love #ExploreIndonesia #goprohero5 #mountainesia #idcorners #DailyVoyagers

A post shared by D Go Reinnamah – Peranginangin (@dgoreinnamah) on

Turun Kembali ke Kalimati

Kalau saat mendaki jalurnya mengerucut ke satu titik, maka saat kembali jalurnya menyebar ke banyak titik. Para pendaki harus berkonsentrasi pada satu jalur lurus yang ia lalui tadi saat mendaki agar bisa kembali menuju Kalimati. Salah sedikit maka Blank 75 siap menanti.

Apa sih blank 75 itu? Blank 75 adalah sebuah jurang dengan kedalaman kurang lebih 75 meter. Zona tersebut biasa juga disebut sebagai zona tengkorak sebab sudah banyak pendaki yang tersasar ke jurang tersebut, terjatuh, lalu mati. Blank 75 berada di kanan jalur pendakian dari Puncak Mahameru.

Jalur pasir tidak seperti jalur tanah yang kalau sudah dilewati pendaki maka jalurnya akan jelas terlihat. Di jalur pasir, jejak pendaki bisa saja tertutup dengan cepatnya oleh longsoran pasir di atasnya. Kalau sudah begitu, semua jalur seolah sama. Inilah yang membuat banyak pendaki pemula sulit untuk mengetahui jalur untuk kembali, apalagi bila ia hanya seorang diri (tertinggal oleh rombongannya).

Jalur yang berada di sebelah kanan para pendaki inilah jalur yang mengarah menuju Blank 75

Bila sedang cerah, Kalimati akan terlihat jelas dari atas sini.
Namun bila hujan dan berkabut, gambar gunung di depan pendaki itu tidak akan terlihat

Berjalanlah bersama guna saling menjaga dan mengurangi resiko tersasar

Keadaan bisa diperburuk bila datangnya kabut dan hujan besar. Jarak pandang menjadi terbatas dan jalur turun bahkan sama sekali tidak terlihat. faktor inilah yang paling sering membuat si pendaki seolah berjalan lurus padahal meyerong ke kanan dan berakhir di Blank 75.

Selain bahaya dari jalur yang berkabut dan tak terlihat yang bisa mengarahkan pendaki ke Blank 75, ancaman lainnya masih datang dari longsoran batu, persis seperti saat mendaki. Justru saat turun ini saya bilang lebih berbahaya sebab pendaki akan membelakangi arah jatuhnya longsoran batu. Tetap waspada dan pasang telinga. Dengarkan setiap peringatan yang ada. Bila hal tersebut kalian lakukan, niscaya kalian akan tetap terjaga.

Inilah suasana turun. Tetap bersama dan saling menjaga

View this post on Instagram

Bila cuaca sedang bagus, tidak ada kabut yang menutupi jalan turun dari Mahameru menuju Kalimati, tidak juga sehabis hujan, beginilah asyiknya perjalanan turun dari Mahameru. Kalau saat mendaki kita harus berusaha setengah mati, saat turun itu effortless banget. Inilah yang membuat waktu tempuh saat turun dari Mahameru kurang lebih hanya 2 jam (pendakian bisa 6-7 jam). Duh, jadi kangen pengen muncak lagi nih. Siapa nih yang sudah pernah merasakan serunya "nyerosot" begini? #Semeru #beautiful #Indonesia #wanderlust #nature #happiness #amazing #ranukumbolo #gnfi #tbt #Travel #Traveling #gopro #Traveler #holiday #Instatravel #explorer #instadaily #instagood #visitIndonesia #Heaven #vacation #instagunung #id_pendaki #Love #ExploreIndonesia #goprohero5 #mountainesia #idcorners #DailyVoyagers

A post shared by D Go Reinnamah – Peranginangin (@dgoreinnamah) on

*****

Itu tadi beberapa resiko kematian yang harus kalian hadapi bila ingin menggapai Mahameru. Memang tidak ada yang mudah untuk melihat keindahan dari puncak, bukan? Persiapkan semuanya dengan baik mulai dari fisik, perlengkapan pendakian, pengetahuan akan pendakian dan juga mental. Jangan lupa juga kerja sama tim. Dengan memperlengkapi diri menggunakan elemen-elemen yang saya sebutkan tadi, rasanya perjalanan yang terkesan menakutkan akan menjadi menyenangkan.

Lalu yang terakhir yang ingin saya coba sampaikan adalah puncak bukan segalanya dan ia tidak akan kemana-mana. Kembali ke rumah dan bertemu dengan orang-orang yang disayang adalah prestasi terbaik dari sebuah pendakian. Untuk apa bisa sampai puncak tapi tak bisa kembali dan merasakan hangatnya pelukan yang bernama RUMAH? Naik gunung bukan soal berlomba siapa yang bisa mendaki lebih tinggi, tapi lebih sebagai cara untuk lebih mengenal diri sendiri. Bila kalian terlalu memaksakan dan berakhir menyusahkan, tandanya kalian tak mengenal siapa kalian.

Info Tambahan

  • Ingat, kamu harus mendapatkan istirahat yang cukup sebelum melakukan pendakian. Usahakan tidur cukup dan jangan coba-coba untuk tidak tidur sebelum summit.
  • Jangan mendaki ke puncak sambil mendengarkan musik.
  • Gunung Semeru adalah gunung api aktif yang bisa meletus hebat kapan saja.
  • Saat mendaki atau saat turun, usahakan membuat satu barisan agar bisa saling mengawasi satu sama lain.
  • Saat mendaki, cobalah mendaki dengan cara zig-zag.
  • Jika mendaki membutuhkan waktu 5-8 jam, maka turun hanya perlu 2 jam. Tapi ingat untuk terus konsentrasi.
  • Setiap orang wajib membawa air (minimal 1,5 liter) dan cemilan sendiri saat melakukan summit attack.
  • Jangan lupa berdoa.

Seorang teman pendaki pernah bertanya, “Lebih mudah membawa turun mayat atau pendaki yang cedera?”
–Anonymous

Comments

comments

Powered by Facebook Comments

Seorang pria yang sedang terus belajar menulis. Alasan menulisnya simple saja, karena "tertampar" oleh kalimat dari Pramoedya yang berbunyi: Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian.