Masjid Wapauwe: Masjid Tertua di Maluku yang Berpindah Sendiri

Usai puas memandangi keindahan lautan di pesisir utara Pulau Ambon dari atas Benteng Amsterdam, saya dengan beberapa orang teman yang melakukan ekspedisi Pulau Kei 4 hari 4 malam & Pulau Ambon 3 hari 2 malam pun bersiap untuk menuju ke tempat selanjutnya. “Kemana lagi kita bung usai dari sini?” Tanya saya kepada driver yang membawa kami. “Nanti kita ke Masjid Wapauwe. Dekat saja dari sini.” Jawabnya.

Setelah mendengar jawaban tersebut, kami pun langsung bergegas masuk ke dalam mobil dan berangkat menuju Masjid Wapauwe. Ternyata benar apa yang dikatakan Bung Carlos, driver kami, bahwa Masjid Wapauwe letaknya tidak jauh dari Benteng Amsterdam. Hanya butuh waktu 3 menit saja untuk merekatkan pantat kami dengan jok mobil sebelum akhirnya kami kembali keluar dan diterima oleh masjid yang cukup kecil ini.

Kedatangan kami ke Masjid Wapauwe segera disambut oleh senyuman manise khas orang Maluku yang keluar dari wajah seorang Marbot Masjid bernama Bung Us. Dengan penuh keramahan ia mempersilahkan kami masuk ke dalam Masjid tertua di Maluku ini. Ya, bukan hanya di Ambon, tapi tertua di Maluku. Dari sinilah, dari penuturan Bung Us inilah pengetahuan kami mulai bertambah mengenai bagaimana Islam bisa masuk ke negeri yang kaya akan rempah-rempah ini dan bagaimana Masjid ini bisa berdiri (sampai sekarang).

jarak dari Benteng Amsterdam ke Masjid Wapauwe

Gerbang masuk Masjid Tua Wapauwe. Pic via ini

Ini dia penampakan masjid Wapauwe

Sejarah Masid

Pada awal 1400an, Perdana Jamilu dari Kesultanan Jailolo di Moloko Kie Raha (Maluku Utara) yang sudah memeluk Islam datang ke Ambon untuk menyebarkan agama yang dianutnya di 5 desa agar semakin banyak orang yang percaya. Kelima desa tersebut adalah Kampung Assen, Wawane, Atetu, Tehala dan Nukuhaly. Lalu pada tahun 1414, ia membangun sebuah Masjid bernama Masjid Wawane di daerah lereng gunung Wawane sebagai bentuk syiarnya. Masjid inilah yang menjadi cikal bakal Masjid Wapauwe.

Selama awal abad ke 14 hingga kedatangan Portugis tahun 1512, Islam berkembang cukup cepat di Wawane. Namun keadaan baik tersebut hanya berlangsung hingga sekitar tahun 1600an. Setelah Belanda masuk dan memukul mundur Portugis, Belanda mengambil alih semua kekuasaan Portugis dan mulai menindas masyarakat Wawane. Merasa mendapat tekanan, pada tahun 1614, Imam Rijalli bersama warga memindahkan Masjid Wawane yang berada di kaki gunung ke Tehala yang jaraknya 6 KM.

Di Tehala, kemudian Masjid ini dibangun kembali di bawah sebuah pohon mangga. Karena dibangun dibawah sebuah Pohon Mangga, maka Masjid ini berubah nama menjadi Masjid Wapauwe. Dalam bahasa daerah setempat, Wapa artinya Mangga dan Uwe artinya di bawah. Itulah asal mula Masjid ini diberi nama Wapauwe.

Ilustrasi Perang Wawane (perang Hitu 1) yang berkecamuk antara 1633-1643.
pic via ini

Kepindahan Misterius Masjid Wapauwe

Selang beberapa waktu, Belanda semakin memperlebar invasinya dan berhasil menguasai Tanah Hitu yang merupakan kerajaan Islam terbesar saat itu di Ambon. Guna mempermudah pengawasan terhadap rakyat jajahannya, lantas Belanda memaksa rakyat di Tehala untuk pindah ke daerah pesisir. Dengan berat hati rakyat pun pergi meninggalkan Tehala beserta Masjid Wapauwe menuju Desa Kaitetu di Leihitu, tempat dimana Masjid Wapauwe berada sekarang, yang lokasinya dekat dengan Benteng Amsterdam.

Di sanalah mereka tinggal tanpa keberadaan Masjid Wapauwe. Sampai beberapa puluh tahun kemudian, lebih tepatnya hari Jumat di tahun 1664 (lupa detil tanggalnya), warga dibuat terkejut. Ketika mereka terbangun dari tidurnya, tiba-tiba saja Masjid Wapauwe sudah ada di tengah Desa Kaitetu. Masjid Wapauwe itu pindah dengan sendirinya lengkap dengan semua instrumen ibadah yang ada di dalamnya seperti mimbar, bedug, dan juga timbangan zakat. Ia berdiri kokoh di tengah pemukiman warga.

Tidak tahu siapa yang memindahkan Masjid Wapauwe ini, namun Tuhan memang selalu punya kuasa yang tidak terpikirkan untuk menunjukkan kebesaran-Nya. Dan kali ini, melalui Masjid Wapauwe, Ia ingin agar warga Kaitetu tetap bisa beribadah dalam rumah-Nya dan menjaga rumah-Nya.

Sampai sekarang tidak ada yang tahu bagaimana Masjid ini bisa berpindah ke Kaitetu ini

Tampak samping masjid dengan bumbungannya

Arsitektur Masjid

Kalau dilihat dari luas bangunannya, Masjid ini tergolong cukup kecil. Luas-nya hanya sekitar 10×10 meter saja. Menurut saya, ini lebih seperti Musholla ketimbang Masjid. Namun yang menarik adalah material kayu yang digunakan untuk membangun Masjid ini. 4 Pilar utama yang ada di dalam Masjid ini terbuat dari Kayu Ulin atau orang lokal menyebutnya dengan Kayu Nani Hitam.

Kayu Ulin adalah kayu yang biasa digunakan para pelaut untuk membuat kapal sebab kayu ulin ini akan semakin kuat bila terkena air. Terbukti sampai sekarang kayu ini masih kokoh berdiri menopang masjid ini. Lalu 12 tiang ruangan dan balok-balok kayu lainnya menggunakan Kayu Merah. Selain keempat kayu yang digunakan sebagai pilar utama tadi, semua kayu sudah mengalami pergantian pada tahun 1991.

Uniknya lagi, Masjid Wapauwe ini dibangun dengan tanpa menggunakan paku dan pasak. Hal inilah yang membuat Imam Rijali bersama beberapa orang lainnya bisa memindahkan masjid ini dari Wawane ke Tehala pada tahun 1614. Masjid ini dibongkar lalu dipasang kembali.

4 Pilar Utama yang masih asli

Pintu Masuk Masjid. Kayu-kayu yang ada di belakangnya merupakan Pelepah sagu

Bagian tertinggi Masjid yang sudah mengalami renovasi

Kalau melihat wujud yang sekarang, sudah banyak perubahan yang terjadi pada Masjid Wapauwe guna menjaganya. Namun perubahan yang terjadi tidak mengubah konstruksi dasarnya. Sebagai contoh, pada tahun 1859 dilakukan penambahan tembok. Jadi kalau dulu Masjid ini bentuknya hanya seperti pendopo dari kayu, kini sudah ada tembok yang terbuat dari campuran pasir, kapur dan putih telur.

Untuk memperbesar area Masjid, ditambahlah serambi di depannya dengan ukuran 6,45 x 4,75 meter. Hal ini tentunya dilakukan guna membuat Masjid ini bisa menampung jamaah lebih banyak. Bagian bumbungan masjid pun sudah mengalami pergantian karena termakan usia.

Bukan Ambon namanya kalau tidak ada sagu. Di Masjid Wapauwe ini, ciri khas sagu ini juga begitu melekat. Jendela yang ada di masjid ini terbuat dari pelepah sagu dan atapnya terbuat dari daun sagu. Pohon sagu ini memang macam pohon kelapa, semua bagiannya bisa digunakan. Kulitnya bisa digunakan untuk dibakar, isinya untuk dimakan, pelepah untuk dinding dan daun untuk atap.

Keindahan lainnya yang tersembunyi berada di setiap sudut Masjid. Kalau kalian ada waktu untuk berkunjung ke sana, lihatlah ke bagian atas dari setiap sudut masjid dan kalian akan menemukan Lafaz Allah dan Muhammad yang diukir di atas kayu. Lafaz tersebut terbalut cantik dengan daun sagu yang mengelilinginya.

Bumbungan lama yang sudah termakan usia

Lafaz Muhammad

Lafaz Allah

Instrumen di dalam Masjid

Selain arsitekturnya yang “tua”, di masjid ini pun tersimpan beberapa instrumen yang tidak kalah vintage-nya. Yang pertama ada mimbar yang diberi warna hijau dan kuning. Mimbar tua ini ikut pindah ke Kaitetu bersamaan dengan pindahnya Masjid Wapauwe. Di depan mimbar ini membentang 2 bendera merah putih berbentuk segitiga yang sudah ada sejak jaman dahulu. Jadi sebelum Indonesia memproklamasikan kemerdekaannya dan menunjukkan bendera kebangsaannya, Masjid ini sudah lebih dahulu merah putih.

Di depan mimbar ada pula Chandelier cantik berwarna perak. Menurut Bung Us, Chandelier ini adalah peninggalan dari Portugis sebab ada ukiran yamg mencirikan portugis di sana. Yang membuat Chandelier ini unik adalah dulunya chandelier ini menggunakan minyak untuk bahan bakar lampunya. Namun setelah dicoba memasukkan fitting lampu ke tempat dimana minyak diletakkan, ternyata fitting itu pas dan bisa dipasang lampu listrik. ALhasil sekarang lampu yang dipasang pada chandelier ini sudah menggunakan lampu listrik. Orang dulu itu visioner sekali ya 🙂

Mimbar Masjid Wapauwe dengan bendera Merah Putih berbentuk segitiga yang sudah ada sejak dulu. Pic via ini

Chandelier peninggalan Portugis

Gantungan berbentuk piringan dari bahan kuningan

Di depan Chandelier terdapat sebuah gantungan yang menyerupai sebuah piringan dari bahan kuningan. Katanya piringan tersebut merupakan peninggalan dari Kerajaan Demak.

Dekat saja dari pintu masuk, terdapat beberapa lemari kaca yang berisikan barang-barang peninggalan seperti Tongkat Khotbah. Tongkat ini dibawa oleh seorang Mubaligh dari tanah Arab  “Tuni Ulama” pada  akhir abad ke 13. Ujung tongkat ini terbuat dari besi yang konon katanya bisa digunakan untuk membela diri apabila mendapatkan serangan saat dulu perang berkecamuk.

Selain tongkat, ada juga alat pembakaran menyan. Dulu alat ini digunakan untuk mengirim hajatan bagi orang-orang tua yang sudah meninggal. Orang sana bilangnya sih “memberi makan”. Sebab bila ritual ini tidak dilakukan, masyarakat Kaitetu (dulu) percaya kalau kemalangan akan menimpa anak-anak mereka. Anak-anak mereka bisa sakit dan hanya membakar menyan itulah yang bisa menjadi obatnya.

Mushaf Alquran tua (1)

Mushaf Alquran Tua (2)

Bedug Masjid

Ada juga Timbangan Zakat Fitrah yang terbuat dari kayu. Namun karena tidak terawat, timabngan ini tidak lagi digunakan dan hanya menjadi bagian dari koleksi Masjid Wapauwe.

Yang paling menarik tentunya adalah Mushaf Alquran tulisan tangan yang usianya sudah sangat tua. Mushaf ini ditulis oleh Muhammad Arikulapessy yang merupakan Imam pertama dari Masjid Wapauwe ini dengan tanpa menggunakan Iluminasi (Hiasan Pinggir). Mushaf ini diperkirakan ditulis pada tahun 1500an.

Timbangan Zakat Fitrah

Alat Pembakaran Kemenyan

Tongkat Khotbah

Ada yang tahu tulisan apa yang menempel pada dinding masjid ini?

Rute ke Masjid Wapauwe

Untuk kalian yang ingin berkunjung ke Masjid ini, dari Bandara Pattimura kalian bisa berkendara ke arah Hitu lalu terus ke Hila. Sesampainya di Hila, kalian akan menjumpai Benteng Amsterdam dan Gereja Tua Immanuel. Letak Masjid Wapauwe tidak jauh dari kedua objek wisata tersebut. Lama perjalanan dari Bandara menuju masjid tua ini kurang lebih 1 jam 30 menit.

Rute menuju Masjid Wapauwe dari Bandara Pattimura

****

Itu tadi sedikit cerita bagaimana Masjid Wapauwe bisa berdiri di Kaitetu. Sampai sekarang, tidak ada yang tahu bagaimana Masjid ini bisa berpindah ke Kaitetu. Dan kalau dihitung dari awal masjid ini dibangun, berarti usianya sudah mencapai 600 tahun. Tua banget kan?

Buat saya, Masjid ini bukan hanya tempat beribadah namun juga saksi sejarah. Ditengah usianya yang semakin menua, ia tetap berdiri gagah. Biarlah tempat ini  menjadi tempat untuk belajar dan tempat bagi umat untuk berserah.

Kalau ke Ambon, jangan lupa mampir ke masjid ini ya.

Selamat jalan-jalan dan selamat belajar 🙂

Tambahan

  • Tidak dipungut biaya untuk mengunjungi Masjid ini. Tapi kalau kamu mau memberikan sumbangan, tersedia kotak sumbangan sukarela dekat dengan pintu masuk masjid. Letakkanlah uangmu di sana.
  • Gunakan pakaian yang sopan saat mengunjungi masjid ini.
  • Sialhkan mendokumentasikan tempat ini, tapi ingat untuk tidak mengganggu jamaah yang sedang beribadah.
  • Untuk pria dan wanita yang ingin sholat namun tidak membawa perlengkapan, tersedia sarung dan mukena yang bisa digunakan secara gratis.
  • Gunakan selalu google maps untuk membantu perjalanan kalian.

I think people often come to the synagogue, mosque, the church looking for God, and what we give them is religion.
–Gene Robinson

Comments

comments

Powered by Facebook Comments

Darius Go Reinnamah

Seorang pria yang sedang terus belajar menulis. Alasan menulisnya simple saja, karena "tertampar" oleh kalimat dari Pramoedya yang berbunyi: Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian.