Mengenal 4 Ruang pada Candi Siwa di Kawasan Candi Prambanan

Untuk kalian yang pernah pergi ke Candi Prambanan, kalian pasti menyadari kalau ada 3 candi besar di bagian utamanya dengan candi yang berada di tengah sebagai candi utama sekaligus candi terbesar. Itulah Candi Siwa, candi yang akan saya bahas kali ini.

Sebagai informasi tambahan, candi yang berada di sebelah kiri dan kanan Candi Siwa adalah Candi Brahma dan Candi Wisnu. Tepat di depan ketiga candi tersebut terdapat 3 candi lagi yang bernama candi wahana, berisikan patung hewan yang menjadi kendaraan ketiga dewa tadi.

Brahma, Siwa, Wisnu

Candi Siwa ini memiliki tinggi 47 meter atau 5 meter lebih tinggi dari Candi Borobudur. Nama Siwa pada candi ini sendiri merupakan nama yang diberikan oleh para arkeolog, karena sebenarnya candi ini tidak memiliki nama. Berdasarkan prasasti yang ditemukan, komplek Prambanan ini bernama Siwagra. Siwa artinya Dewa Siwa, Gra itu artinya rumah. Jadi candi ini adalah candi yang dibangun untuk menjadi rumah bagi Dewa Siwa. Bila Angkor Wat di Kamboja adalah rumahnya Dewa Wisnu, maka Prambanan ini adalah rumahnya Dewa Siwa.

Lalu kenapa saya ingin membahas Candi Siwa ini? Jawabannya simple saja, karena candi ini spesial untuk saya. Di saat candi yang lain hanya memiliki 1 ruangan saja, candi ini memiliki 4 ruangan yang berisikan tokoh-tokoh dengan cerita masing-masing yang spetakuler. Keempat ruangan tadi juga dibangun terpisah dan menghadap ke 4 arah mata angin utama.

Ada apa saja di setiap ruangannya? Berikut jawabannya:

Dewa Siwa

Sosok Siwa pada Candi Siwa

Di mulai dari ruangan yang menghadap ke timur sekaligus ruang utama dari candi ini, yaitu ruang Dewa Siwa. Ruangan ini memiliki ukuran 8×8 meter dan tinggi yang mencapai 13 meter. Kalau umumnya pada candi-candi Hindu lainnya Dewa Siwa digambarkan dengan Lingga dan Yoni, tidak dengan candi ini. Siwa digambarkan dengan patung yang memiliki 4 tangan, 2 di belakang sebagai lambang penghancur dan 2 di depan sebagai pembangun. Dan patung Dewa Siwa ini adalah patung asli yang usianya sudah lebih dari 1200 tahun.

Pada tahun 2006, ketika gempa menerjang Jogja, Candi Siwa ini hancur cukup parah. Hal itu terlihat dari beberapa bagian patung Siwa yang rusak, bahkan Trisulanya pun hilang. Kalau ingin tahu seberapa parah kerusakan pada Patung Siwa ini, pergilah ke bagian belakang patungnya. Di bagian belakang, terlihat bagaimana semen digunakan untuk merekatkan bagian-bagian yang lepas, sebab hanya bagian belakanglah yang boleh di-make up, sedangkan bagian depannya haruslah tetap orisinil. Di bagian belakang ini jugalah baru kita bisa melihat wujud Lingga yang merupakan simbol dari laki-laki.

Sedikit cerita tentang Dewa Siwa. Dewa Siwa merupakan Dewa Penghancur sekaligus sebagai dewa yang paling tinggi dan paling ditakuti. Penghancur di sini sebenarnya adalah penghancur kejahatan. Namun karena Siwa menggunakan kekuatan bencana alam untuk menghancurkan kejahatan, manusia yang baik pun ikut menerima akibatnya. Akhirnya semua manusia punya “rasa ketakutan” pada Dewa Siwa dan berharap ia tidak datang ketika banyak kejahatan terjadi.

Terlihat beberapa bagian rusak akibat dari gempa tahun 2006

Kurang lebih beginilah gambaran jelas Dewa Siwa dengan 4 tangannya. Pic via ini

Manusia punya harapan kepada Dewa Wisnu, sang pelindung. Tapi Wisnu tidak pernah datang saat manusia membutuhkan. Kenapa Wisnu Sang Pelindung tidak pernah datang? Karena ia hanya punya 10x penjelmaan dan ia sudah menggunakannya sebanyak 9x. Perubahan terakhirnya ini akan ia gunakan bila dunia benar-benar dalam keadaan yang emergency. Selama hal itu belum terjadi, maka Siwa lah yang akan menghancurkan kejahatan-kejahatan ini dengan kekuatannya.

Jadi jangan heran kalau masih ada masyarakat Jawa yang sering menganggap kalau bencana alam itu merupakan hukuman dari Tuhan atau Tuhan sedang marah. Mungkin pemahaman itu berawal dari konsep Dewa Siwa sebagai dewa penghancur ini.

Kembali ke ruangan Dewa Siwa. Hanya di ruangan Dewa Siwa inilah terdapat ukiran seperti ukiran Teratai. Kalian tidak akan menemukannya di ruangan lain pada kawasan Candi Siwa ini. Sampai sekarang, ruangan Dewa Siwa ini adalah ruangan yang paling disakralkan. Kalau ada upacara agama Hindu, hanya golongan Brahmana-lah yang boleh masuk ke sini. Orang biasa bisa menunggu di bawah sampai mereka mendapatkan air suci.

Agastya

Sosok Agastya

Keluar dari ruangan Dewa Siwa dan berjalan sesuai arah jarum jam, maka kalian akan tiba pada sebuah ruangan yang lebih kecil dan berisi patung Agastya. Patung Agastya ini selalu dibuat menghadap ke arah selatan. Ada yang tahu kenapa?

Agastya merupakan perwujudan dari Dewa Siwa. Jadi sebelum datang sebagai Dewa Penghancur, Siwa pernah datang sebagai seorang mahaguru yang mengajarkan tentang kebenaran (Dharma). Jadi Dewa itu sebenarnya sudah mengajarkan tentang yang benar dan yang salah dan para dewa itu berharap agar setiap manusia dapat melakukan kebenaran. Ketika manusia tidak melakukan kebenaran, maka Dewa Siwa akan datang untuk memberikan hukuman. Siwa kini tidak lagi mengajarkan soal kebenaran sebab semuanya sudah diajarkannya dan tertuang dalam kitab suci.

Siwa dalam wujud Agastya di sini digambarkan sebagai seorang yang berasal dari perbatasan Cina dan merupakan seorang messenger. Itulah mengapa wajah patung Agastya ini mirip dengan wajah orang Mongol. Kumisnya panjang, jenggotnya panjang, wajahnya begitu teduh dan bijaksana.

Sedikit lebih dekat

Sosok Agastya secara lebih jelas. pic via ini

Tangan kanan Agastya memiliki mudra (sikap tubuh) seperti Buddha yang melambangkan pengajaran tentang kebenaran. Ada tasbih di tangannya (Tasbih juga dipakai lho oleh umat Hindu).  Di pundaknya ada penyapu lalat yang digunakan untuk memercikkan air suci. Di bagian kanannya terdapat Trisula yang melambangkan Trimurti (Brahma, Siwa, Wisnu).

Ganesha

Patung Ganesha yang mengalami kerusakan cukup parah pasca gempa 2006

Contoh penggambaran sosok Ganesha

Beralih ke ruangan selanjutnya yang menghadap ke Barat, terdapat sebuah patung manusia berkepala gajah atau yang kita kenal dengan nama Ganesha. Mungkin kalian pernah melihat sosoknya menjadi lambang dari suatu universitas negeri terkenal di Jawa Barat atau juga lambang dari suatu tempat bimbingan belajar. Tidak heran sosoknya dijadikan lambang dari tempat-tempat pendidikan tersebut karena Ganesha adalah Dewa Ilmu Pengetahuan.

Tangan kiri Ganesha selalu memegang mangkok yang isinya adalah ilmu pengetahuan. Belalainya selalu masuk ke dalam mangkok tersebut yang artinya ia menyerap ilmu pengetahuan yang ada. Tangan kanannya memegang patahan gading kanannya sendiri yang memang sengaja ia patahkan. Kenapa ia patahkan gadingnya? Karena ketika datang ke dunia, ia menggunakan patahan gadingnya untuk menulis (di batu atau kayu) demi mengajarkan manusia ilmu pengetahuan. Oleh sebab itu Ganesha dijadikan dewa yang sangat penting keberadaannya untuk manusia di dunia.

Di India sendiri, mereka punya kepercayaan kalau doa-doa yang mereka ucapkan kepada para dewa tidak akan pernah diterima kalau tidak melalui Ganesha. Jadi bisa dikatakan kalau Ganesha-lah yang menjadi pintu masuk menuju para dewa.

Durga

Durga yang berdiri di atas kerbau sambil memegang Raksasa Asyura. Piringan yang dia pegang pada salah satu tangannya adalah Cakra

Gambaran Durga melawan raksasa Asyura. Singa merupakan wahana (kendaraan) Durga dan di tangannya terdapat banyak senjata pemberian para dewa. pic via ini

Ruangan yang terakhir atau ruangan yang menghadap ke utara adalah ruangan yang berisikan sebuah patung wanita yang sedang memegang raksasa Asyura. Nama wanita itu adalah Durga. Ketika raksasa Asyura mau dibunuh, ia berubah menjadi kerbau dan oleh karena itu ia diberi nama Durga Mahisasura Mardini yang berarti Durga sang pembunuh raksasa yang berubah menjadi kerbau.

Digambarkan pada patung ini kalau ia memiliki 8 tangan dan kalau dilihat, salah satu tangannya memegang Cakra. Sebenarnya Cakra ini kepunyaan Dewa Wisnu. Tapi kenapa Durga juga bisa punya? Sebab Durga itu tercipta dari kekuatan Brahma, Siwa, Wisnu yang menjadi satu dan semua dewa memberikan senjatanya untuk membunuh raksasa Asyura. Raksasa Asyura ini hanya bisa dikalahkan oleh seorang dewi dan dewi itu adalah Durga.

Kalau boleh diumpamakan, raksasa Asyura ini adalah lambang dari egoisme manusia. Jadi musuh terbesar dari hidup manusia adalah egonya sendiri. Lalu bagaimana untuk bisa membunuh ego itu? Ya manusia perlu senjata dan salah satu senjata yang Tuhan sematkan adalah Cakra. Semua manusia memiliki 7 cakra dan tinggal bagaimana manusia itu mengoperasikan cakra tersebut.

Salah satu cara untuk mengoperasikan cakra adalah dengan melakukan yoga. Ketika Yoga itu dilakukan, manusia akan mampu membuka cakranya sehingga manusia mempunyai kemampuan untuk melihat kebenaran sejati. Mata yang mampu melihat kebenaran ini sering digambarkan dengan mata ketiga, dimana Dewi Durga, Dewa Siwa dan juga Dewa Ganesha memilikii mata itu di dahinya.

Patung Dewi Durga adalah satu-satunya patung wanita yang ada di candi ini dan masyakat beranggapan kalau dialah sosok Roro Jonggrang tersebut.

*****

Relief yang ada pada bagian dinding candi siwa

Itu tadi sedikit cerita mengenai ruangan-ruangan yang ada di Candi Siwa. Selain keempat ruangan tersebut, pada dinding-dinding candi siwa ini juga terukir relief cerita tentang Ramayana. Cerita Ramayana itu tidak berakhir di Candi Siwa ini tetapi diteruskan hingga ke Candi Brahma.

Bagaimana? Cukup seru ya? Semoga ketika kalian datang (kembali) ke Candi Prambanan, khususnya Candi Siwa, kalian jadi sedikit tahu mengenai sosok-sosok dibalik setiap ruangannya.

*Semua patung yang ada di Candi Siwa adalah patung asli

Fire is His head, the sun and moon His eyes, space His ears, the Vedas His speech, the wind His breath, the universe His heart. From His feet the Earth has originated. Verily, He is the inner self of all beings.
–Anonymous

Comments

comments

Powered by Facebook Comments

Darius Go Reinnamah

Seorang pria yang sedang terus belajar menulis. Alasan menulisnya simple saja, karena "tertampar" oleh kalimat dari Pramoedya yang berbunyi: Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian.