Asal Mula Terciptanya Ganesha dan Mengapa Ia Berkepala Gajah

Saya berani bertaruh pasti kalian sudah pernah mendengar nama Ganesha, kan? Itu lho, salah satu dewa yang ada dalam mitologi Hindu. Ganesha merupakan seorang dewa berbadan manusia dan berkepala gajah. Dia mendapat banyak julukan yang salah satunya adalah Dewa Ilmu Pengetahuan.

Digambarkan kalau tangan kiri Ganesha itu selalu memegang mangkok yang isinya tidak lain adalah ilmu pengetahuan. Belalainya diilustrasikan selalu masuk ke dalam mangkok tersebut yang artinya ia selalu menyerap ilmu pengetahuan. Tangan kanannya divisualisasikan memegang patahan gading yang ternyata adalah patahan dari gadingnya sendiri. Jadi kalau kalian perhatikan dengan teliti, ia hanya memiliki 1 gading saja yaitu gading di sebelah kiri.

Patahan gading yang ada dalam genggaman tangan kanannya itu ia gunakan untuk menulis, entah itu di batu, kayu, dan lain sebagainya untuk mengajari manusia ilmu pengetahuan. Jadi tidak heran kan kalau Ganesha ini digunakan sebagai lambang dari salah satu universitas negeri ternama di Indonesia dan juga salah satu tempat bimbingan belajar?



Patung Ganesa yang ada di dalam Candi Siwa di Prambanan

Contoh penggambaran sosok Ganesha. Pic via ini

Di India sendiri, Ganesha merupakan dewa yang sangat penting. Beberapa umat Hindu di India percaya kalau mereka belum sembahyang kepadanya, maka doa-doa mereka kepada dewa yang lain tidak akan diterima atau didengar. Dia lah yang menjadi pintu masuk untuk menuju dewa-dewa lainnya.

Itu tadi sedikit cerita pembuka tentang Ganesha yang pasti kalian juga sudah banyak tahu. Tapi adakah dari kalian yang tahu kenapa dewa yang satu ini berkepala gajah? Saya yakin tidak banyak yang tahu. Awal mulanya, ia pun ‘terlahir’ normal. Hanya saja sebuah peristiwa harus terjadi yang membuatnya harus memiliki kepala dari seekor gajah.

Sebenarnya ada banyak versi mengenai proses terciptanya Dewa yang satu ini, namun saya akan mencoba menceritakan salah satunya yang saya tahu.

Proses Tercipta dan Matinya Ganesha

Dewa Siwa dan Dewi Parwati. Trisula itulah yang digunakan Dewa Siwa untuk membunuh Ganesha. Pic via ini

Dikisahkan bahwa Dewa Siwa dan istrinya, Dewi Parwati, yang sudah menikah sekian lama belum juga dikarunia keturunan. Suatu hari, Dewa Siwa harus keluar dari rumahnya (kerajaannya) untuk melakukan suatu tugas. Ia pun harus meninggalkan istrinya seorang diri.


Dalam kondisi sendiri dan kesepian akibat ditinggal oleh sang suami, Dewi Parwati pun mengumpulkan dakinya ketika mandi, lalu mencampurnya dengan tanah dan dibentuknya lah suatu patung kecil. Dewi Parwati lantas bermeditasi dan hiduplah patung itu menjadi manusia dan diberi nama Ganesha.

Tidak seperti anak lainnya yang harus melewati fase seorang bayi, Ganesha sudah langsung tumbuh seperti anak berusia 2 tahun. 2 tahun berselang, ketika usianya hampir 4 tahun, ayahnya pun pulang usai menyelesaikan tugasnya. Ketika ingin masuk dan menemui istrinya, Dewa Siwa dihalangi oleh Ganesha. Ia memang ditugaskan oleh ibunya untuk berdiri di depan pintu masuk ketika ibunya sedang mandi. Dipesankan oleh ibunya kalau ia tidak boleh membiarkan  siapapun masuk tanpa seizin dirinya.

“Siapakah dirimu menghalangiku masuk padahal di dalam istriku sedang mandi?” Tanya Dewa Siwa kepada Ganesha.

“Aku adalah anak dari wanita yang ada di dalam dan aku tidak akan mengizinkan siapapun masuk tanpa izin dari ibuku.” Jawab Ganesha dengan penuh keyakinan.

Mendengar jawaban itu murkalah Dewa Siwa. Dalam hatinya mungkin ia bertanya bagaimana istrinya bisa memiliki seorang anak sedangkan ia tidak pulang sekian lama karena menjalankan tugas. Untuk menanyakan hal tersebut, ia harus bertemu dengan Dewi Parwati. Namun Ganesha menghadangnya dan pertempuran pun tidak dapat dielakkan.


Sudah dapat diketahui hasil dari pertempuran itu, Dewa Siwa lah yang menjadi pemenangnya. Ganesha harus mati dengan kondisi leher yang terputus akibat dihunus oleh trisula milik Dewa Siwa.

Mengetahui hal tersebut, sedihlah hati Dewi Parwati. Ia pun mencoba untuk menyambungkan badan dan kepala Ganesha tapi usahanya sia-sia. Ia tidak dapat hidup kembali. Satu-satunya cara untuk membuat Ganesha hidup kembali adalah mereka harus mencari kepala manusia yang masih balita untuk menggantikan kepalanya.

Hidup Kembali

Untuk mendapatkan kepala manusia, tentunya harus ada leher balita yang dipenggal. Proses pemenggalan tersebut bisa dilakukan, hanya saja dengan syarat bahwa balita itu harus diculik ketika sedang tidak berada dalam pelukan ibunya saat tidur. Nah, mungkin dari sinilah asal muasal kenapa orang tua di India, Bali atau Jawa memiliki kebiasaan untuk tidak meletakkan bayi di dalam baby box. 

Saya rasa, orang dulu memiliki ketakutan akan cerita-cerita dari jaman yang lebih lampau mengenai hal ini. Bayi-bayi akan selalu tidur bersama orang tuanya. Bahkan ada kepercayaan dimana gunting atau benda-benda tajam harus diletakkan di bawah bantal si bayi untuk mengusir roh-roh jahat yang datang untuk mengganggu atau bahkan mengambil si anak.

Kembali lagi ke cerita Ganesha. Karena tidak bisa menemukan bayi atau balita yang tidurnya terpisah dari ibunya, maka dicarilah kepala hewan sebagai penggantinya. Rupanya beberapa hewan pun tidur bersama ibunya atau dalam kata lain terus dalam pengawasan ibunya (meskipun tidak dipeluk). Satu-satunya hewan yang saling beradu punggung atau saling membelakangi adalah gajah. Itulah alasan mengapa Ganesha memiliki badan manusia dan berkepala gajah.

Sejak hidupnya kembali Ganesha, ia pun mendapat julukan lain yaitu Dewa Keselamatan.

*****

Yap, itu tadi sedikit cerita mengenai asal muasal terciptanya Sang Dewa Ilmu Pengetahuan dan mengapa ia berkepala gajah. ASal muasal ketertarikan saya mengenai cerita Ganesha ini datang ketika saya berkunjung ke dalam salah satu ruangan yang ada di dalam Candi Siwa di kawasan Candi Prambanan.

Seperti yang saya bilang di awal, sangat mungkin terjadi perbedaan versi cerita. Namun dari cerita di atas saya bisa belajar untuk menjadi seperti Ganesha yang memegang teguh perintah ibunya. Ketika ia sudah berjanji untuk mematuhi perintah ibunya, kepercayaan tersebut terus ia jaga meskipun resiko kematian yang harus diterimanya.

Forgive others not because they deserve forgiveness, but because you deserve peace

Comments

comments

Powered by Facebook Comments

Darius Go Reinnamah

Seorang pria yang sedang terus belajar menulis. Alasan menulisnya simple saja, karena "tertampar" oleh kalimat dari Pramoedya yang berbunyi: Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian.