Itinerary Jelajah Palembang 3 Hari 2 Malam

“Yan, 4 hari di Palembang bisa kemana saja?” Tanya saya pada Omnduut via aplikasi WhatsApp.

“Wah, terlalu lama itu. Bisa mati kutu kamu kalau 4 hari di Palembang. 2 hari saja cukup kalau mau jelajah Palembang.” Jawab Yayan yang langsung ketahuan angkatannya ketika menggunakan kata “mati kutu”.

“Okay, kalau begitu 3 hari 2 malam saja ya biar perjalanan saya menjelajah Palembang tidak terlalu terburu-buru.” Ucap saya menimpa jawaban Yayan.



“Bolehlah. Sebenarnya itu juga sudah terlalu lama.” Sahut Yayan.

Kurang lebih seperti itulah percakapan singkat saya dengan Haryadi Yansyah alias Yayan, sang penguasa Palembang sekaligus pemilik dari Omnduut.com. Kepadanya lah saya berkonsultasi mengenai itinerary dan tempat-tempat apa saja yang ‘wajib’ saya kunjungi selama saya di Palembang. Saya tidak tahu orang yang lebih tepat untuk berkonsultasi soal Palembang selain dia.

Dan berikut ini adalah itinerary saya saat menutup tahun 2018 di Bumi Sriwijaya:

Hari Pertama

Waktu (WIB)Deskripsi
07:30 - 08:00Tiba di Bandara Sultan Mahmud Badaruddin II dan Ambil Bagasi
08:00 - 08:30Perjalanan menuju tempat menginap di daerah Plaju dengan menggunakan LRT
08:30 - 09:00Istirahat, meletakkan barang, santai-santai sejenak
09:30 - 09:45Perjalanan menuju KFC Dermaga (dekat Jembatan Ampera)
09:45 - 10:00Perjalanan menuju Mie Celor H.M. Syafei Z 26 Ilir
10:00 - 10:30Makan Mie Celor
10:30 - 10:35Perjalanan menuju Harum, Toko kue khas Palembang
10:35 - 11:35Ngobrol-ngobrol sambil makan cemilan khas Palembang di Harum
11:35 - 11:45Perjalanan kembali ke Dermaga (KFC)
11:45 - 12:05Perjalanan menuju Pulau Kemaro dengan menggunakan speed
12:05 - 13:30Jelajah Pulau Kemaro
13:30 - 13:45Perjalanan menuju Kampung Arab Al Munawar dengan Speed
13:45 - 14:00Jelajah Kampung Al Munawar
14:00 - 14:10Perjalanan Menuju Pempek Saga
14:10 - 15:00Makan Lenggang sampai Kenyang
15:00 - 15:30Jalan ke Sentra Pempek dan kulineran
15:30 - 15:45Mampir ke Rajo Tantro Cafe
15:45 - 16:00Jalan-jalan di sekitar dermaga (Mamir ke Patung Ikan Belilda, Benteng Kuto Besak dan santai-santai di pinggir sungai)
16:00 - 18:00Mengunjungi Museum SMB2, Main di Jembatan Ampera dan menghabskan sore di Monpera
18:00 - 18:30Menemani teman ibadah di Masjd Agung Palembang
18:30 - 19:30Makan di Martabak HAR
19:30 - 20:00Mampir ke Night Market Sudirman yang hanya buka Sabtu dan Minggu
20:00kembali ke tempat menginap dan istirahat

Setibanya di Bandara Sultan Mahmud Badaruddin 2 dengan menggunakan penerbangan paling pagi, saya dan Billy pun langsung berangkat menuju rumah seorang teman yang letaknya ada di daerah Plaju dengan menggunakan LRT. Cukup senang rasanya karena akhirnya saya bisa mencoba LRT pertama di Indonesia ini. Rumah teman saya dekat sekali dengan Jembatan Ampera. Kami turun tepat di stasiun Polrestabes dan melanjutkan perjalanan dengan ojek online.

Setelah tiba dan meletakkan beberapa barang bawaan di rumah teman saya di daerah Plaju itu, saya pun langsung berkeliling Palembang. Bermodalkan sepeda motor matic milik teman saya, saya & Billy berangkat menuju KFC Dermaga yang letaknya berdampingan langsung dengan Jembatan Ampera. Sebenarnya, saat naik LRT dari bandara tadi, kami pun sudah melintasi jembatan yang menjadi ikon Palembang ini. Jadi ini kedua kalinya kami melewati jembatan itu di hari yang sama.

Bukan untuk makan, namun kedatangan kami ke KFC kali itu hanya untuk memarkirkan sepeda motor kami. KFC Dermaga itu bisa dibilang titik 0-nya untuk melakukan penjelajahan Palembang. Dari KFC, kami berjalan kaki 15 menit menuju Mie Celor 26 Ilir H. M. Syafei.

Mie Celor merupakan salah satu makanan khas Palembang dan Mie Celor Syafei inilah yang paling terkenal. Itulah alasan kenapa saya mau makan di tempat ini. Seperti apa sih Mie Celor itu? Mie Celor merupakan mie berukuran besar (seperti Mie Gomak di Sumatera Utara) yang dicampur dengan kuah santan dan kaldu ebi, lalu di atasnya diberi Taoge, irisan telor rebus, seledri, daun bawang dan bawang goreng. Umumnya ketika mencoba, orang akan suka atau tidak suka (tidak ada yang di tengah-tengah) dan saya masuk dalam kategori yang tidak suka terhadap Mie ini. Rasanya aneh menurut saya.

Atas: LRT Palembang
Bawah: Mie Celor 26 Ilir H. M. Syafei

Atas Kiri: Suasana di Harum
Atas Kanan: Klenteng Hok Tjiong Rio dan Pagoda di Pulau Kemaro
Bawah: Kampung Arab Al Munawar

Usai menghabiskan Mie Celor (meskipun tidak enak, tapi karena sudah pesan ya harus dihabiskan), kami melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki menuju Toko Harum. Tokonya tidak terlalu besar dan hanya 5 menit dari lokasi Mie Celor Syafei. Meskipun tidak terlalu besar, tapi toko ini menyajikan makanan kecil yang enak banget. Menunya ada Ragit, Engkak Ketan, Manan Sahmin, Srikaya, Srikaya Tape, dan masih banyak lagi. Selain enak, harganya pun murah banget. berkisar antara Rp 2.000 – Rp 4.000 per kuenya. Murah kan?

Dari Harum, kami jalan kembali ke KFC Dermaga. Bukan untuk mengambil motor, tetapi kami ingin menuju ke Pulau Kemaro. Nah, untuk menuju ke pulau yang ada di tengah Sungai Musi ini, kami harus menyebrang dengan menggunakan speed, begitulah warga sana menyebut perahu bermesin, dan dari dermaga KFC itulah kami harus naik speed tersebut.

Perjalanan menuju Pulau Kemaro normalnya ditempuh dalam waktu 30 menit. Namun kali itu kami mendapat Nahkoda tua yang berjiwa sangat muda, sehingga kami hanya butuh 15 menit saja. Bapak tua itu cukup ngebut membawa kami membelah sungai Musi. Di sepanjang perjalanan, kami melihat banyak rumah di pinggiran sungai dan yang membuat saya kagum adalah hadirnya Pabrik Pupuk Sriwijaya yang sangat besar di sisi sebelah kiri dari perahu kami.

Pulau Kemaro merupakan pulau kecil nan legendaris yang menjadi tempat beristirahatnya arwah Tan Bun An dan Siti Fatimah. Di atas Pulau ini terdapat sebuah Klenteng bernama Hok Tjiong Rio atau biasa dikenal juga dengan Klenteng Kuan Im yang sudah ada sejak tahun 1962. Di depan klenteng inilah terdapat makan Tan Bun An dan Siti Fatimah. DI tengah pulau, terdapat Pagoda dengan 9 lantai yang hanya dibuka pada waktu-waktu tertentu.

Puas mengambil gambar dan mendengar cerita di Pulau Kemaro, kami kembali melanjutkan perjalanan dengan speed. Tujuan selanjutnya adalah Kampung Al Munawar. Kampung ini merupakan pemukiman orang-orang Arab Palembang dengan arsitektur rumah tempo dulu. Meskipun sudah tua, namun rumah-rumah di sini sangat terjaga dengan baik. Sayangnya, orang-orang di sini tidak terlalu ramah, bahkan cenderung menghindari wisatawan. Selain foto-foto bangunan tuanya, mungkin kalian tidak akan mendapatkan apa-apa lagi.

Jalan-jalan dan berfoto sekian jam rupanya membuat tenaga ini habis dan perut menjadi lapar. Dari Kampung Al Munawar, kami lanjut menuju Pempek Saga dengan menggunakan taks online yang lagi-lagi letaknya tidak terlalu jauh dari KFC Dermaga.  Letak pasti dari Pempek Saga adalah di depan Kantor Walikota Palembang. Oh ya, Kampung Al Munawar menjadi destinasi terakhir yang kami tuju dengan menggunakan speed.

Di Pempek Saga, makanan yang wajib kamu coba adalah Pempek Lenggang atau biasa disebut dengan Lenggang saja. Lenggang milik Pempek Saga dinobatkan menjadi Lenggang paling enak versi Omnduut. Untuk yang belum tau lenggang, ini merupakan jenis pempek yang dimasak dengan cara dipanggang. Bahan dasarnya adalah campuran daging ikan, tepung sagu, air, bumbu dan telur ayam atau telur bebek. Dimakan dengan cuko khas Palembang, lengkap sudah kenikmatan Lenggang ini.

Atas Kiri: Pempek Saga
Atas kanan: Pembuatan Lenggang
Bawah Kiri: Lenggang yang sedang dipanaskan
Bawah kanan: Lenggang siap disantap dengan cuko

Atas: Sentra Pempek Murah
Tengah: Rajo Tantro Cafe
Bawah: Patung Ikan Belida

Perut kenyang, hati senang, perjalanan pun kami lanjutkan kembali. Destinasi berikutnya adalah Sentra Pempek yang jaraknya hanya 5 menit dari Pempek Saga. Di Sentra Pempek ini, kami mencoba berbagai macam jenis pempek dengan harga yang murah, Rp 1.000/buahnya. Kalau ditanya soal rasa sih harus saya akui pempeknya kurang enak. Harga nggak bisa bohong lah ya. Seribu kok mau dapat enak, kalau dapat kenyang mungkin bisa.

Sambil menikmati beberapa pempek yang kami beli di Sentra Pempek, kami pun melangkahkan kaki kami menuju ke bagian pesisir Sungai Musi. Ada satu kafe unik yang kami temui ketika sedang berjalan, namanya Rajo Tantro Cafe yang merupakan cafe bernuansa militer. Kerennya lagi, cafe yang terbuka untuk umum ini terletak di area Bekangdam II Sriwijaya. Letaknya persis di pinggir Sungai Musi. Jadi sembari menyeruput kopi, kami bisa melihat pemandangan kapal-kapal yang berlalu lalang di Sungai Musi.

Berjalan sedikit dari Rajo Tantro Cafe, kami tiba di Patung Ikan Belida. Nah, lokasi patung ini dekat sekali dengan parkiran KFC Dermaga. Tepat di belakang Patung Ikan Belida, terdapat Benteng Kuto Besak yang usianya sudah ratusa tahun. Di sekitar Benteng dan Patung Ikan Belida dapat kalian jumpai banyak pedagang setiap harinya. Ada pedagang makanan, tato, mainan dan masih banyak lagi.

Tahu nggak apalagi yang dekat dengan KFC Dermaga ini? Ada 3 tempat lagi yaitu Museum Sultan Mahmud Badaruddin 2, Monpera dan Masjid Agung Palembang. Dari Patung Ikan Belida, kami melipir ke Museum Sultan Mahmud Badaruddin 2. Sayangnya, ketika kami berkunjung ke sana, museum sedang dalam perbaikan. Padahal di sana tersimpan banyak koleksi tekstil, senjata, pakaian tradisional dan beberapa koin Sumatera Selatan.

Tidak ingin diam dalam kekecewaan, saya dan Billy langsung berjalan ke belakang Museum SMB2 dimana terdapat sebuah taman yang luas dengan Monumen Perjuangan Rakyat alias Monpera dengan tinggi 17 Meter. Monumen ini dibangun untuk mengingat jasa para pahlawan yang berjuang mempertahankan Palembang dari serangan Belanda yang berlangsung 5 hari 5 malam pasca kemerdekaan. Bentuk bangunannya menyerupai bunga melati bermahkota 5.


Atas: Museum SMB2
Bawah: Kawasan Benteng Kuto Besak

Atas Kiri: Monpera
Atas Kanan: Masjid Agung Palembang
Bawah Kiri: Martabak HAR
Bawah Kanan: Night Market Sudirman

Tepat di seberang Monepera, sekaligus menyambut Maghrib, terdapat Masjid Agung Palembang. Masjid ini pun punya sejarah unik sebab terdapat 2 bangunan utama di mana bangunan pertama begitu terpengaruh oleh Arsitektur Cina dan bagian kedua terkesan begitu Eropa. Di sinilah saya menghabiskan senja sembari menemani Billy untuk menunaikan tugasnya.

Malam pun datang, begitu pula dengan rasa lapar. Dari Masjid Agung Palembang, kami berjalan menuju Martabak Haji Abdul Rozak atau yang lebih dikenal dengan Martabak HAR. Jaraknya kurang lebih hanya 10 menit saja dari masjid ini. Yang menjadi sajian utama dari tempat ini tentu martabaknya. Martabak Telur khas Haji Abdul Rozak ini disajikan bersama kuah santan yang tidak begitu kuat dan kentang di atas kuah santan tersebut. Buat saya, rasanya sih biasa saja. Masih lebih enak martabak telur di Jakarta.

Sebelum menutup malam dengan beristirahat, kami masih ingin pergi ke satu tempat lagi yaitu Night Market Sudirman. Bisa dibilang Pasar Malam di Jalan Sudirman ini memang hiburan untuk para warga. Di Pasar Malam ini terdapat banyak kegiatan seperti pentas musik, jualan makanan & minuman, jualan pakaian, atraksi tari dan masih banyak lagi. Untungnya saya datang di hari Sabtu, jadinya saya bisa melihat acara yang satu ini. Sebab Night Market Sudirman hanya buka pada Sabtu dan Minggu malam saja. Oh ya, setiap kali acara ini diadakan, Jalan Sudirman ini akan di blokir sehingga tidak ada kendaraan yang bisa berlalu lalang. Hanya pejalan kaki saja yang diizinkan masuk.

Mengunjungi Night Market Sudirman menjadi kegiatan penutup kami di hari pertama kami menginjakkan kaki di Tanah Palembang. Dari sana kami pun segera berjalan kembali ke KFC Dermaga untuk mengambil motor, lalu langsung tancap gas menuju tempat kami menginap.

Hari Kedua

Waktu (WIB)Deskripsi
07:00 - 10:00Bangun Pagi, Olahraga dan Sarapan
10:30 - 11:00Perjalanan menuju Pempek Sultan dan Pindang Agan
11:00 - 12:00Makan siang di Pempek Sultan dan Pindang Agan
12:00 - 12:15Perjalanan Menuju Masjid Cheng Ho
12:15 - 13:45Menemani teman beribadah + foto-foto di Masjid Cheng Ho
13:45 - 14:00Perjalanan ke Museum Balaputradewa
14:00 - 16:00Jelajah Museum Balaputradewa
16:00 - 16:15Perjalanan ke Es kacang Merah Mamat
16:15 - 16:30Menikmati Es Kacang Merah
16:30 - 17:00 Perjalanan menuju Kawasan Jakabaring Sport City
17:00 - 18:00Menghabiskan Senja di Kawasan Jakabaring Sport City
18:00 - 18:15Perjalanan menuju pempek Vico
18:15 : 19:00Makan Malam di Pempek Vico
19:00 - 19:15Perjalanan menuju Bakmie Terang Bulan
19:15 - 20:00Makan Malam
20:00Perjalanan pulang ke penginapan dan istirahat

Perjalanan di Palembang hari ini benar-benar santai. Sebagian destinasi sudah saya kunjungi di hari pertama kemarin. Pagi ini saya sempat berolahraga terlebih dahulu. Meskipun liburan, tapi olahraga nggak boleh ketinggalan dong. Beruntungnya, hari ini saya dan Billy ditemani oleh Deddy dan Yayan, 2 blogger kece asli Palembang. Namun di perjalanan awal, kami baru ditemani Yayan saja, Deddy datang menyusul kemudian.

Berangkat pukul 11:00 WIB, kami pun makan siang terlebih dahulu di Pempek Sultan dan Pindang Agan. Hidangan yang paling wajib kalian coba di sini adalah pindangnya. Tersedia pindang ikan dan juga pindang daging. Meskipun ada tempat ini menyediakan pempek juga, namun menurut saya rasa pempeknya biasa saja. Pindangnya ini yang juara banget.

Jadi di Palembang ini setiap restoran atau tempat makan punya kekuatannya masing-masing. Kalau mau yang enak Pempeknya, kalian harus ke restoran A. Jika mau Es Kacang Merahnya, maka kalian harus ke restoran B. Tidak ada satu restoran yang menguasai semuanya. Nah, untuk pindang, Pempek Sultan dan Pindang Agan inilah yang terbaik.

Setelah selesai makan, kami bertiga langsung menuju destinasi selanjutnya yaitu Masjid Muhammad Cheng Ho. Kebetulan waktu sholat pun sudah tiba, Billy dan Yayan pun bisa sekalian ibadah. Saat mereka ibadah itulah saya berkeliling masjid dengan sentuhan arsitektur Cina ini.

Yang membuat saya selalu mampir ke Masjid Muhammad Cheng Ho di setiap daerah yang memilikinya adalah warnanya, selain dari arsitekturnya juga tentunya. Jika umumnya masjid didominasi oleh warna hijau, Masjid Muhammad Cheng Ho ini selalu di dominasi warna merah yang merupakan warna kebanggaan warga Chinese. Jarak masjid ini pun tidak terlalu jauh dari Pempek Sultan dan Pindang Agan.

Atas: Tempak Depan Pindang Agan
Kiri: Pindang Daging
Kanan: Pindang Ikan

Masjid Muhammad Cheng Ho Palembang


Selepas menunaikan tugasnya, kami bertiga janjian untuk bertemu dengan Deddy di Museum Balaputradewa. Ada apa sih di Museum Balaputradewa? Museum ini menyimpan banyak sekali koleksi sejarah, tapi yang paling menarik buat saya adalah koleksi arca dan bangunan rumah limas.

Di Museum Balaputradewa, tersimpan sebuah arca batu gajah yang beratnya mungkin mencapai 5 ton. Entah bagaimana membawa arca itu dari Lahat hingga ke Palembang ini. Nah, kalau Rumah Limas ini adalah rumah adat Sumatera Selatan. Yang membuat Rumah Limas di Museum Balaputradewa ini spesial adalah rumah ini masuk sebagai potret gambar pada uang pecahan Rp 10.000 yang lama, berdampingan dengan potret Sultan Mahmud Badaruddin 2 di baliknya. Mengambil gambar rumah limas ini sembari menunjukan uang pecahan Rp 10.000 yang lama di depan rumah limas adalah hal yang wajib dilakukan.

Puas berkeliling museum yang kaya akan nilai sejarah itu, kami mampir Es Kacang Merah Mamat. Konon katanya, Es Kacang Merah Mamat ini yang paling enak di Palembang. Namun menurut Yayan masih lebih enak Es Kacang Merah Vico. Untuk membuktikannya, kami pun berangkat ke sana.

Es Kacang Merah Mamat ini bukan berbentuk restoran. Dagangannya dijajakan di gerobak yang ada di pinggir jalan. Disediakan kursi dan juga terpal apabila pembelinya ingin makan di tempat. Meskipun hanya jajanan pinggir jalan, tapi tempat ini kerap ramai dan tak jarang harus antri untuk membeli. Kalau menurut saya, rasanya sih enak. Maklum, makanan di mulut saya rasanya hanya enak dan enak banget. LOL.

Atas: Bagian Depan Museum Balaputradewa
Bawah: Arca Batu Gajah
Kanan: Rumah Limas

Atas: Gerobak Es Kacang Merah Mamat
Bawah: ini dia Es kacang merahnya yang terkenal

Dari Es Kacang Merah Mamat, kami memacu si kuda besi menuju kawasan Jakabaring Sport City (JSC). Kami ingin menghabiskan senja di sana. Jakabaring Sport City ini kawasan olahraga yang luas sekali. Tepat di kawasan inilah perhelatan akbar Asian Games 2018 diadakan, selain di Jakarta. Saya pun berkeliling kawasan ini untuk melihat fasilitas-fasilitas olahraga yang ada dan ternyata luas banget. Pakai motor pun cukup lelah. Daripada saya yang berkeliling, lebih baik saya menerbangkan drone dan biarkan pesawat nirawak itu yang berkeliaran.

Di kawasan ini saya melihat banyak sekali warga Palembang yang tumpah ruah. Ada yang datang ke sini dengan teman, dengan keluarga, dengan pacar, atau mungkin juga dengan mantan pacar (suami atau istri maksudnya). kawasan Jakabaring ini meang sangat nyaman. Dari drone, saya bisa melihat stadion Gelora Sriwijaya yang penuh warna, ada juga danau buatan yang pada asian games kemarin dijadikan arena perlombaan untuk beberapa olahraga air. Ada juga arena voli pantai, wisma atlet, dan masih banyak lagi. Saya acungi jempol untuk kawasan olahraga yang sangat rapi ini.

Tenggelamnya matahari menjadi tanda kalau kami harus beranjak dari JSC. Lalu kemana tujuan berikutnya? Isi perut tentunya. Kami pun memilih untuk singgah di Pempek Vico. Pempek Vico ini merupakan tempat makan “Pempek Premium”. Maksudnya apa? Ya kualitas pempek dan cukonya jauh lebih baik dari Sentra Pempek yang saya kunjungi di hari pertama. Harga pempeknya pun jauh lebih mahal. Tapi memang ada rasa ya ada harga.

Di Pempek Vico ini, yang wajib kamu coba adalah Pempek Kulit Ikannya. Cuko di Pempek Vico ini juga paling juara, jauh lebih enak dari cuko yang ada di Pempek Sultan dan Pempek Saga. 1 menu lagi yang wajib kamu coba adalah Es Kacang Merahnya yang dicampur alpukat. Duh, sampai ngences saya membayangkannya kembali.

Kawasan Jakabaring Sport City

Atas: Tampak Depan Pempek Vico
Tengah: Es Kacang Merah Alpukat
Bawah: Ragam Pempek dan cuko

Sengaja kami tidak makan terlalu banyak di Pempek Vico ini, sebab masiha da satu tempat makan lagi yang mau kami sambangi. Tempat itu adalah Bakmi Terang Bulan. Kali ini, makanan yang ingin kami santap adalah makanan non halal alias mie babi. Billy dan Yayan tidak bisa makan, jadi mereka berdua hanya menemani saya dan Deddy menuju ke sana.

Malang tak dapat ditolak, saat tiba di sana jam 19:00 WIB ternyata bakmie-nya sudah habis. Baru buka sore hari tapi jam 19:00 WIB sudah habis. Banyak juga penikmat babi di Palembang ya. Untung saja di dekat bakmie terang bulan itu ada satu tempat makan lagi yang menjual mie babi, Bakmi Alun namanya. Di sanalah saya dan Deddy mengisi ruang perut kami yang masih sedikit menyisakan tempat.

 Ditemani hujan gerimis, saya dan Deddy menyantap mie Alun, sambil bersenda gurau dengan Billy dan Yayan. Untunglah, hujannya tidak terlalu lama. Saat hujan mulai mereda, kami pun siap untuk pulang. Di titik inilah kami saling berpisah untuk kembali ke tempat kami masing-masing.

Atas: Deddy dan Yayan sedang asyik ngobrol
Bawah: Mie Babi enak

Hari Ketiga

Waktu (WIB)Deskripsi
07:00 - 10:00Bangun Pagi, Olahraga dan Sarapan
11:00 - 12:00Perjalanan menuju Al Quran Raksasa
12:00 - 14:00Keliling tempat wisata religi Al Quran Raksasa
14:00 - 14:30Perjalanan menuju Pempek Vico
14:30 - 15:30Makan siang yang kesiangan di Pempek Vico
15:30 - 15:40Perjalanan ke Klenteng Candra Nadi Soei Goeat Kiong (Dewi Kwan Im)
15:40 - 16:00Foto-foto di Klenteng
16:00 - 16:15Perjalanan ke Jembatan Ampera
16:15 - 17:00Menghabiskan Sore di Jembatan Ampera
17:00 - 17:15Perjalanan kembali ke penginapan
17:15 - 20:00Rapi-rapi barang dan bersiap untuk perjalanan selanjutnya
20:00 - 20:15Perjalanan Menuju Stasiun Kertapati
21:00Perjalanan menuju Lampung dengan menggunakan Kereta APi

Hari ketiga ini adalah hari terakhir saya dan Billy berada di Palembang. Karena hari terakhir, kami ingin bisa lebih menikmati lagi perjalanan kami. Perjalanan pun baru dimulai pada pada pukul 11:00 WIB, setelah saya berolahraga dan melakukan sedikit sarapan. Kali ini kami hanya berdua menjelajah Palembang.

Tujuan pertama hari ini adalah Al Quran Raksasa atau biasa dikenal juga dengan Al Quran Al-Akbar di daerah Gandus. Dari semua tempat yang sudah saya kunjungi 2 hari kemarin, lokasi Al Quran Al-Akbar inilah yang paling jauh. Jaraknya kurang lebih 22 KM dari tempat saya di Plaju dan dapat ditempuh dalam waktu 45 menit.

Harus diakui, ide membuat Al Quran raksasa ini bagus sekali. Desain tempatnya pun cukup unik. Setiap lembar Al Quran yang dipahat dan diberi warna emas ini dapat diputar sehingga para pengunjung mampu membaca 2 sisinya. Semua surat dalam Al Quran sudah berhasil dipahat, hanya saja belum semuanya terpasang.

Saat saya mengunjunginya (Desember 2018), bangunan tempat ditampilkannya lembaran Al Quran dalam ukuran raksasa ini sedang dalam tahap renovasi. Lahan untuk menampilkan Al Quran raksasa akan diperbesar dan akan dilakukan penambahan bangunan baru.

Puas melihat karya Al Quran raksasa di Gandus, kami pun kembali ke daerah kota untuk makan siang. Sisa-sisa cuko pempek yang masih begitu terasa nikmat di ujung bibir ini membuat kami kembali ke Pempek Vico. Kali ini saya hanya menyantap pempek kulit ikannya saja dan jumlahnya pun lebih banyak. Sedangkan Billy tetap asyik dengan Es Kacang Merah Alpukatnya.

Al Quran Al-Akbar

Atas: Mari makan
Bawah: Dapur tempat masak pempek

Selesai urusan dengan Pempek Vico, kami pun berangkat ke destinasi berikutnya, yaitu Klenteng Candra Nadi Soei Goeat Kiong atau dikenal juga dengan sebutan Klenteng Dewi Kwan Im. Klenteng ini adalah klenteng tertua yang ada di Palembang. Dibangun sekitar tahun 1773.

Selain sebagai tempat beribadah, konon di dalam Klenteng ini terdapat area makam. Uniknya lagi, yang dimakamkan di sini adalah seorang Panglima yang beragama Islam. Sayangnya, waktu saya berkunjung ke sana, kami tidak diperbolehkan masuk untuk berfoto, sehingga kami hanya mengabadikan momen di sana dari luar gedung. Namun pada beberapa kesempatan, seperti Tahun Baru Cina, tempat ini terbuka untuk umum.

Karena tidak bisa mendapat banyak gambar dan cerita, kami pun segera menuju ke ikonnya Palembang. Apalagi kalau bukan Jembatan Ampera. Jembatan merah yang melintang di atas Sungai Musi ini memang begitu gagah. Jembatan ini memang dibangun untuk menyatukan bagian Seberang Ulu dengan Seberang Ilir. Sebelum berubah nama menjadi Jembatan Ampera pada 1966, jembatan ini dulunya bernama Jembatan Soekarno.

Klenteng Dewi Kwan Im

Jembatan Ampera

Bermacam aktivitas bisa kami lihat dari atas jembatan ini. Para nelayan yang mengantarkan tamu dengan perahunya, LRT yang melintas tepat di sebelah Jembatan Ampera, dan tentunya wisatawan lain yang juga mengabadikan momen di atas jembatan ini. Memang belum sah rasanya pergi ke Palembang kalau belum mengambil gambar dengan latar jembatan ini.

Ketika waktu menunjukkan pukul 17:00 WIB, saya dan Billy pun kembali ke tempat kami menginap. Jembatan Ampera itu menjadi tujuan wisata kami yang terakhir hari itu. Tepat jam 21:00 kami harus sudah tiba di Stasiun Kertajati untuk melanjutkan perjalanan ke Lampung dengan menggunakan kereta.

Terima kasih Yayan dan Deddy

*****

Itu tadi sedikit curhatan panjang mengenai perjalanan saya selama 3 hari 2 malam di Palembang. Perjalanan yang bisa dibilang cukup santai. Terima kasih Palembang karena sudah menerima saya dengan sangat baik. Sumpah, kuliner Palembang itu enak banget. Terima kasih juga untuk Yayan dan Deddy yang sudah menemani saya dan Billy berkeliling di Palembang. Sampai jumpa di kesempatan selanjutnya.

Tambahan

  • Perjalanan di atas hanya dilakukan oleh 2 orang, saya dan Billy. Namun selama di Palembang, saya ditemani Yayan dan Deddy.
  • Sebenarnya masih ada Bukit Siguntang dan Taman Purbakala Kerajaan Sriwijaya dan Kampung Kapitan yang bisa dikunjungi. Hanya saja ketika saya datang, Bukit Siguntang sedang ditutup untuk kunjungan. Di sana sedang dilakukan renovasi. Sedangkan Kampung Kapitan dan Taman Purbakala, kami lupa mengunjunginya karena terlalu asyik dengan satu destinasi pada 2 hari awal.
  • Jarak tempat-tempat wisata di Palembang relatif dekat. 2 hari pun sangat cukup untuk mengelilinginya dan rutenya pun jelas dan terdaftar dalam google maps.
  • Palembang ini memang surganya kuliner. Jadi kalau mau datang ke kota ini, niatkanlah dirimu untuk makan banyak.

RINCIAN BIAYA JELAJAH PALEMBANG → DI SINI

Adventure may hurt you but monotony will kill you.
–Unknown

Comments

comments

Powered by Facebook Comments

Darius Go Reinnamah

Seorang pria yang sedang terus belajar menulis. Alasan menulisnya simple saja, karena "tertampar" oleh kalimat dari Pramoedya yang berbunyi: Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian.