Budget Jelajah Lampung Tipis-tipis 7 Hari 6 Malam

Buat kalian yang sudah membaca itinerary Jelajah Lampung 7 hari 6 malam, kalian mungkin penasaran akan biaya yang saya habiskan selama di sana (Untuk yang belum membaca itinerary Jelajah Lampung, silakan membacanya DI SINI ya). Dan agar kalian tidak penasaran serta bertanya-tanya, berikut ini saya sertakan rincian biaya sedetail-detailnya dari perjalanan jelajah Lampung tersebut:

Rincian Biaya Jelajah Lampung 7 hari 6 Malam

Penjelasan Umum

  • Biaya di atas tidak termasuk belanja oleh-oleh dan foya-foya dalam bentuk lainnya.
  • Untuk menuju Lampung, saya menggunakan kereta api dari Palembang. Jadi kalau kalian pergi menggunakan moda transportasi lainnya dari kota asal kalian, silakan disesuaikan.
  • Jangan protes kegiatannya tidak banyak tapi kok biaya yang dihabiskan bisa semahal itu. Mahal dan murah itu relatif, kalau kalian bilang itu mahal berarti kalian termasuk dalam kalangan #SobatMisqueen.
  • Untuk mobilitas selama di Lampung, saya kebanyakan menggunakan ojol atau taksi online. Saya juga beberapa kali diantar berkeliling oleh seorang teman dengan menggunakan mobil pribadinya. Jadi kalian tidak akan menemukan biaya sewa mobil atau motor pada rincian biaya di atas.
  • Ingat, biaya di atas itu untuk 2 orang, bukan 1 orang.

Penjelasan Hari Pertama

  • Makan siang yang kami lakukan di hari pertama itu terjadi di dalam Mall, makanya harganya mungkin agak mahal.
  • Makan di Sate Cak Umar itu untuk 2 porsi ya dan dagingnya spesial (tanpa lemak).
  • Menu yang kami pilih di Gelato House adalah 3 scoop.

Penjelasan Hari Kedua

  • Tidak ada rincian biaya di hari kedua karena satu hari itu kami gunakan untuk perjalanan dari Bandar Lampung ke Kiluan dan berakhir di sana dengan hanya bermain di Laguna Gayau.
  • Sebenarnya ada biaya tiket masuk Laguna Gayau dan biaya guide di sana. Namun karena waktu itu saya dibayarin oleh Bang Indra, saya jadi lupa berapa biayanya. Yang jelas biaya masuknya tidak lebih mahal dari sebungkus rokok Marlboro Merah.

Penjelasan Hari Ketiga

  • Ojek Gigi Hiu ini memang mahal. Awalnya saya kira Rp 100.000 itu bolak balik, ternyata sekali jalan. Tapi kalau dilihat dari medan yang luar biasa berat, rasanya wajar banget harga itu ditetapkan. Toh, dengan membayar itu berarti kita telah membantu perekonomian mereka *IMHO*
  • Tidak ada biaya menginap di Teluk Kiluan sebab waktu itu penginapan telah dibayar oleh Bang Indra, teman saya. Saya dan Billy hanya diminta untuk bayar biaya makan seperti yang tertera pada gambar.
  • Tidak banyak biaya yang kami keluarkan di hari ketiga ini, sebab dari Kiluan kami langsung diantar ke rumah salah seorang teman untuk bermalam. Detil kegiatan Jelajah Lampung bisa dibaca DI SINI.

Hari Keempat  dan Kelima

  • Hari keempat dan kelima, aktivitas berfokus di Way Kambas dan ERU (Elephant Response Unit).
  • Detil makanan selama 3 hari 2 malam adalah 2x makan di hari pertama, 3x makan di hari kedua dan 1x makan dihari ketiga (hari keenam).
  • 1x makan di tempat Mas Nandar biayanya adalah Rp 20.000. Rp 20.000 x (6x makan) x 2 orang maka didapatkanlah hasil di atas.

Hari Keenam

  • Untuk transportasi di hari keenam, saya lagi dan lagi diantar jemput oleh Bang Indra sehingga tidak ada biaya transportasi selama di Bandar Lampung

Hari Ketujuh

  • Biaya makan siang yang tertera adalah biaya makan siang di Jakarta pasca saya dan Billy tiba di bandara Soetta.

Kontak

  • Penginapan Kiluan dan Ojek Gigi Hiu Cece Stella → 081279424545
  • Mas Nandar → Silahkan email kami di dailyvoyagers(at)gmail.com

*****




Itu tadi sharing dari saya mengenai pengeluaran Jelajah Lampung 7 hari 6 malam. Jika ada yang belum jelas atau ingin ditanyakan, silakan langsung email ke dailyvoyagers(at)gmail(dot)com atau silakan langsung menuliskannya di kolom komentar ya. Terima kasih 🙂

Hope is like the sun, which, as we journey toward it, casts the shadow of our burden behind us.
–Samuel Smiles


Comments

comments

Powered by Facebook Comments

Darius Go Reinnamah

Seorang pria yang sedang terus belajar menulis. Alasan menulisnya simple saja, karena "tertampar" oleh kalimat dari Pramoedya yang berbunyi: Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian.