• Home
  • /
  • Tips
  • /
  • Inilah Contoh Kecurangan pada Kuis di Instagram

Inilah Contoh Kecurangan pada Kuis di Instagram

Hari yang ditunggu akhirnya datang juga. Sebuah akun milik salah satu perusahaan yang menyediakan layanan pemesanan tiket pesawat dan hotel secara online, sebut saja Pagi__pagi, akan mengumumkan pemenang dari kuis di Instagram yang mereka adakan sejak seminggu lalu. Kuisnya simple saja, peserta harus memposting sebuah gambar saat traveling dan menceritakan tentang gambar tersebut, lengkap dengan hashtag yang sudah perusahaan itu persiapkan. 10 orang dengan gambar dan caption paling menarik akan memenangkan kuis tersebut.

Sebagai salah seorang peserta yang juga menunggu pengumuman tersebut, hati ini berdebar tak karuan. Kalau diibaratkan, rasanya mirip seperti menunggu jawaban dari si dia saat kutembak dulu. Pokoknya hati ini gelisah dibuatnya. Perlahan, aku mulai menggerakan jari-jemariku dan membuka aplikasi Instagram. Tangan ini mulai bergetar hebat kala mengetikkan huruf per huruf dari nama akun perusahaan tersebut di kolom pencarian. Saat nama akun itu muncul, berat rasanya jempol ini untuk menekan akun tersebut, sebab apa yang akan terjadi kemudian adalah aku akan melihat sebuah postingan dari akun tersebut yang berisi daftar nama pemenang dari kuis yang diadakannya.

kuis di Instagram
Kiri: Syarat dan ketentuan yang berlaku
Kanan: pemenang

Pemenang kuis yang mencurigakan
Kiri: pengumuman bahwa dialah pemenangnya
Kanan: Gambar yang membuat dia menang

Hati ini antara siap dan tak siap. Takut namaku berada di dalam daftar tersebut, tapi sekaligus takut juga kalau namaku tidak ada di daftar tersebut. Sedikit memutar kembali waktu ke belakang, aku masih ingat sekali peraturan kuis di Instagram yang diadakan perusahaan itu. Ada 3 bagian yang penting:

  • Boleh posting lebih dari satu foto yang berbeda, asalkan foto liburan milik kamu sendiri, serta sesuai syarat dan diposting sesuai periode kompetisi.
  • Akun Instagram kamu tidak boleh di-private.
  • Kontes ditutup Rabu, 17 Oktober 2018 pukul 23:59 WIB ya!

Itulah 3 poin dari 6 poin peraturan yang dikeluarkan untuk kuis di Instagram tersebut.

Kembali ke pengumuman kuis di Instagram. Ketika aku masuk ke akun tersebut, aku memandang pada 3 kotak di baris pertama yang ada di postingannya. Di postingan paling kiri, pada kotak yang kecil yang berisi sebuah gambar itu, samar-samar aku bisa melihat sebuah tulisan yang berbunyi “Selamat untuk 10 pemenang favorit”. Hati ini semakin tak menentu melihat tulisan kecil itu. Tak ingin terus dibuat gundah, segera aku menekan gambar tersebut.

Saat melihat hasilnya, hati ini sedikit kecewa. Namaku ternyata tidak ada di dalamnya. Dari 10 tempat yang tersedia, namaku tak kebagian tempat sedikitpun. Namun tak apa, yang penting kini aku sudah tak penasaran lagi. Aku sudah berusaha dan kalau belum menang, tandanya aku harus lebih berusaha lagi.

Rasa penasaran berganti dengan rasa penasaran yang lain. Aku pun ingin tahu seperti apa sih karya-karya para pemenang. Satu per satu nama pemenang yang tertulis pada postingan tersebut aku telusuri. Karya-karya mereka memang luar biasa bagus, gambarnya cantik dan captionnya menggelitik. Ingin rasanya aku ucapkan selamat satu per satu pada mereka. Wajar rasanya kalau aku belum menang.

Namun keanehan muncul pada 2 akun terakhir yang aku periksa. Keduanya melanggar peraturan kuis yang dibuat oleh perusahaan tersebut, tapi tetap menang. Akun yang pertama menang dengan menggunakan postingan pada bulan Agustus, padahal jelas-jelas di peraturan disebutkan kalau postingan harus diposting sesuai dengan periode kompetisi, dimana hal tersebut berarti pada bulan Oktober.

Pemenang berikutnya yang juga mencurigakan: akunnya digembok, padahal sesuai peraturan itu tidak boleh

Percakapan dengan Netizen bagian 1

Akun yang kedua menang dengan akun yang di private. Ya, gambar gembok itu muncul jelas saat saya mengunjungi halaman milik akun tersebut. Yang tadinya saya ingin memberi selamat, tiba-tiba saja ingin mengumpat. Bukan terhadap 2 akun yang dimenangkan oleh akun perusahaan tersebut, tapi mengumpat pada aktor dibaliknya, yang menentukan siapa yang akan menjadi pemenangnya, yang menyelipkan 2 pemenang yang tidak jelas. Kok bisa ya perusahaan sekelas pagi__pagi melakukan kesalahan yang seperti ini?

Saya pun masih berusaha untuk berpikir positif. Kemudian saya memposting kekesalan saya di Instastory dan beberapa follower saya pun menanggapi postingan tersebut. Ada yang bilang hal tersebut hal yang biasa. “Ah, kayak gak tau aja. Udah permainan itu. Paling juga yang dimenangkan orang-orang circle-nya mereka.” Ucap salah satu akun. Ada juga akun lain yang curhat kalau dia pun pernah merasakan hal yang sama, dicurangi oleh akun yang mengadakan kuis di Instagram. Setelah mendapat respon -respon tersebut, saya pun teringat akan peristiwa yang lebih lalu.

Jadi sebetulnya ini bukan pertama kali saya dicurangi, melainkan yang kedua. Dulu saya juga pernah mengikuti kuis instagram yang diadakan oleh sebuah portal berita, sebut saja namanya Cumpalan. Waktu itu akun tersebut mengadakan kuis berhadiah ke Sumba untuk mengunjungi suatu daerah terpencil di sana. Acara tersebut juga didukung oleh salah satu pabrikan motor terkenal asal Jepang.

Saya masih ingat betul, waktu itu peserta diminta untuk memposting kegiatan sosial apa yang pernah dilakukan saat melakukan traveling. Posting gambar disertai dengan caption yang mendukung gambar tersebut. Gambar dengan caption yang menarik (dan nyambung tentunya) akan dipilh panitia dan berhak untuk mendapat kesempatan untuk pergi ke Sumba. Kalau tidak salah waktu itu dicari 10 pemenang.

Percakapan dengan Netizen bagian 2

Percakapan dengan Netizen bagian 3

Syarat lain yang diminta oleh akun portal berita tersebut adalah peserta harus bisa mengendarai sepeda motor di medan yang berat, karena selama di Sumba, pemenang akan mengendarai sepeda motor yang sudah dipersiapkan oleh pabrikan motor terkenal asal Jepang tadi.

Singkat cerita, kuis pun berakhir. Dipilihlah 10 orang pemenang dari kuis tersebut. Saat saya memeriksa satu per satu para pemenang, percaya atau tidak percaya, gambar dan caption tidak ada yang nyambung. Gak nyambung kok bisa menang ya? Sebuah akun pun protes di kolom komentar dari akun portal berita tersebut. Namun kalian tahu apa yang didapat oleh akun yang protes tersebut? Serangan dari akun anonymous yang intinya menyudutkan si pemrotes tersebut. Benar tapi disalahkan. Gila kan?

Dari 10 akun pemenang tersebut, mereka punya kesamaan, yaitu semuanya adalah anak-anak motor yang memang sudah berpengalaman, tidak hanya di jalan raya, namun juga di sirkuit. Hal tersebut saya ketahui setelah melihat postingan mereka satu per satu dimana mereka kerap memposting aktivitas mereka kala mengendarai si kuda besi. Mau kasih hadiah yang sudah tahu pemenangnya dari awal kok perlu diadakan kuis seperti itu sih? Ya langsung saja berikan hadiahnya dari awal kepada mereka. Kzl

Apa sih yang Mereka Cari?

Sebenarnya apa sih yang diinginkan oleh si pembuat kuis penuh rekayasa itu? Mungkin salah satunya adalah publikasi gratis. Ketidakadaan dana untuk promosi atau kemalasan untuk mengeluarkan sejumlah uang kemudian dibungkus dengan cantik dalam balutan kuis di Instagram yang seolah menawarkan hadiah jutaan rupiah, hadiah berlimpah atau iming-iming lainnya. Padahal yang menang ya circle mereka juga, yang kita tidak tahu apakah hadiah tersebut benar diberikan atau hanya sekedar kedok semata.

Hashtag yang sudah mereka tetapkan tentunya membuat para peserta yang mengikuti kuis di Instagram itu akan memposting dengan menggunakan hashtag tersebut. Secara tidak langsung, para peserta sudah mengenalkan produk pada pengguna instagram lainnya, peserta berusaha membuat kuis yang diadakan oleh brand tersebut menjadi trending, dan juga memudahkan pencarian konten tersebut bagi pengguna instagram lainnya.

Modal sedikit tapi publikasi selangit, mungkin itu motonya. Tapi ada beberapa hal yang mungkin mereka lupa bahwa banyak yang peserta korbankan di luar sana untuk mengikuti kuis instagram tersebut. Mereka memutar otak untuk merangkai caption yang bagus, membuang waktu untuk untuk mengedit gambar, atau mungkin juga mencari moment yang tepat untuk mengambil gambar yang akan diunggah. Mereka mungkin lupa itu.

Para peserta tidak mengharapkan kemenangan, mereka hanya mengharapkan kuis di Instagram yang berjalan dengan jujur dan mekanisme yang jelas. Kalau ada akun-akun, apalagi akun perusahaan besar, yang mengadakan rekayasa kuis di Instagram seperti yang saya contohkan di atas, rasanya saya ingin ngajak admin-nya atau siapapun yang bertanggung jawab atas kuis tersebut untuk ngopi.

Doa saya untuk pelaku kuis-kuis penuh rekayasa di Instagram, semoga azab-azab sinetron Indosiar yang judulnya panjang-panjang itu tidak menghampiri kalian.

Kalau Begitu, Ada Gak Sih Kuis di Instagram yang Jujur?

Jawabannya banyak banget. Masih banyak akun-akun jujur yang memang mengadakan kuis secara benar, tidak melanggar peraturan yang sudah mereka buat sendiri. Saya sendiri masih suka menemukan dan mengikuti kuis-kuis di Instagram yang jujur kok. Ya meskipun saya tidak menang dalam kuis tersebut, tapi paling tidak yang menang pada kuis di instagram tersebut memang orang yang layak menang, bukan orang titipan yang dibuat menang.

Lalu muncul pertanyaan, bagaimana cara membedakan kuis di Instagram yang hanya rekayasa dan tidak? Saya sendiri tidak tahu jawabannya, tapi saya bisa memberi saran kuis di Instagram macam apa yang bisa kamu ikuti:

  1. Peraturannya Jelas dan Rinci
    Ya, semakin jelas peraturan yang dibuat, maka semakin mudah bagi para peserta untuk memahami mekanisme dari kuis itu. Kalau peraturannya saja tidak jelas, kemungkinan pemenangnya siapa pun tidak jelas. Contoh, hindari kuis di instagram yang hanya meminta kalian untuk me-repost gambar yang mereka minta dan melakukan tagging terhadap 3 -5 teman kalian. Kalau cuma seperti itu tanpa ada effort lain, lalu apa poin penentu kemenangan dari kuis tersebut? Pemilihan pemenang kuis macam itu pasti berdasarkan asas suka-suka dari si pembuat kuis.
  2. Kenali Jurinya
    Saya sendiri beberapa kali mengikuti kuis di Instagram yang jelas siapa jurinya. Misalnya ada lomba menulis di Instagram dan jurinya adalah Trinity. Ikutilah lomba tersebut. Siapa sih traveler yang tidak kenal Trinity? Jam terbang dan kredibilitasnya saya rasa sudah tidak perlu diragukan. Pemilihan pemenang yang dia lakukan kemungkinan besar sangat objektif. Atau misalnya ada lomba fotografi dan jurinya adalah Arbain Rambey, maka jangan ragu untuk mengikuti lomba tersebut. Kenapa? Karena jelas jurinya siapa. Tidak harus selalu orang terkenal yang menjadi jurinya, tapi paling tidak pada lomba tersebut tertulis siapa juri yang akan memberikan penilaian.
    Kalau kuis yang diadakan oleh suatu akun di Instagram tidak menyertakan siapa jurinya, saya sih sekarang mulai malas untuk megikutinya.
  3. Tanya pada Teman
    Ya, cara ini lumayan bagus. Jika kamu ingin mengikuti suatu kuis di Instagram, cobalah bertanya pada teman atau followermu apakah ada yang pernah mengikuti kuis yang diadakan oleh perusahaan atau brand tersebut. Kalau memang ada dan ternyata kuis itu hanya bohong-bohongan, maka kamu tidak perlu capek-capek untuk mengikuti kuis tersebut. Tapi kalau memang testimoni dari teman kamu itu bagus, ya tidak adal salahnya kamu mencobanya

Ya, itu tadi sedikit unek-unek dari dalam diri saya mengenai adanya kuis di Instagram yang penuh rekayasa atau kecurangan. Pesan penutup dari saya untuk netizen yang ingin mengikuti kuis di Instagram, berhati-hatilah. Dan untuk akun-akun yang suka mengadakan rekayasa penuh kecurangan pada kuis di Instagram, kalau ingin berbohong, lakukanlah dengan bagus, jangan sampai ada celah. Mau berbohong kok levelnya masih kayak anggota hewan yang nabrak tiang listrik.

Honesty is for the most part less profitable than dishonesty. 
–Plato

Comments

comments

Powered by Facebook Comments

Seorang pria yang sedang terus belajar menulis. Alasan menulisnya simple saja, karena "tertampar" oleh kalimat dari Pramoedya yang berbunyi: Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian.